Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Namun ia tidak ingin luluh dan kembali menyakiti putrinya. Ia tidak sampai hati melihat sang putri seperti orang yang mentalnya terguncang
"Pergilah Rizal! Tidak ada Hanna disini" usir Hanum, ia muak melihat wajah orang yang sudah menyakiti hati putrinya
"Aku mohon Bu, beri tahu aku dimana Hanna!"
Hanum hendak bicara namun dari dalam rumah terdengar suara tangisan bayi. Rizal jelas saja bertanya suara bayi siapa itu
"Itu suara putriku? Mereka ada didalam?" Rizal bangkit lalu mengusap air matanya
"Itu bukan putrimu, sekarang pergi!" Usir Hanum mengingat tidak ada Hanin disini
"Jangan bohong Bu! Hanna dan putri kami ada disini kan? Dimana mereka? Apa ada didalam" Rizal sudah hendak masuk namun Hanum mencegah
"Hanna!" Teriak Rizal "Sayang! Aku ada diluar! Keluarlah! Aku minta maaf"
"Jangan berteriak Rizal! Atau ibu akan teriak karena kamu sudah mengganggu disini!" Hanum memberi ancaman namun Rizal mengabaikannya, ia masih berteriak memanggil nama istrinya
"Sayaang"
Hanum masih terus mencegah saat sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah. Seorang pria dan wanita keluar dan menghampiri mereka
"Ada apa Bu?" Tanya Hanin lalu menatap tajam pada Rizal "Mau apa lagi kamu kesini? Pergi!"
"Dimana Hanna? Aku mendengar suara tangisan bayi, itu pasti putri ku!" Rizal tidak lagi memelas, ia akan berjuang untuk mendapatkan istri serta putrinya kembali
"Tidak ada mbak Hanna disini! Sekarang pergi!" Usir Hanin
"Jangan bohong Hanin! Aku mendengar suara tangisan bayi!"
"Itu bukan bayi kamu! Itu bayi tetangga" Jawab Hanin asal namun jelas saja Rizal tidak percaya
"Ibunya pergi karena sakit, jadi mereka menitipkan bayinya disini" Ujar Hanin asal
"Jangan bohong Hanin, aku yakin itu putriku" Rizal mendesak ingin masuk namun Hanin berusaha mencegah
Melihat semua itu dokter Rama yang berada disana karena mengantar Hanin. Keduanya baru kembali dari Singapura setelah mengurus keperluan Hanna selama disana
"Apa anda tidak mendengar? Mereka meminta anda untuk pergi!" Ujar dokter Rama dengan suara teramat dingin
"Anda siapa? Sebaiknya tidak ikut campur! Ini masalah keluarga" Rizal menatap tajam pada pria tampan yang kini berdiri dihadapannya sebagai tameng
Hanum memilih untuk masuk, ia khawatir karena sang cucu belum juga berhenti menangis, mungkin Wati belum terbiasa mengurus Eleanor
"Aku mohon Hanin, biarkan aku bertemu Hanna dan bayi kami sebentar saja!" Rizal kembali memelas
Namun semua itu tidak berpengaruh bagi gadis seperti Hanin, ia benar-benar tidak terima saat tahu apa yang telah menimpa kakaknya
"Sebaiknya kamu pergi! Apa wanita mura___ itu saja tidak cukup? Sampai kamu mengusik mbak Hanna lagi"
"Aku akan meninggalkan semuanya, asalkan izinkan aku bertemu Hanna sebentar saja!" Ucap Rizal penuh permohonan
"Tolong mengertilah Rizal! Tolong biarkan kakakku menenangkan dirinya, demi Tuhan pergi dari sini!" Hanin ikut mengatupkan kedua tangannya didepan dada
"Ayo dokter!" Setelah mengatakan itu, Hanin bersama dokter Rama masuk kedalam rumah meninggalkan Rizal yang enggan untuk pergi
"Aku akan terus disini sampai aku bisa bertemu kamu lagi Hanna!" Ucap Rizal setelah pintu rumah tertutup
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, kamu hanya milikku selamanya!"
Rizal sudah bertekad untuk bertemu istrinya, pria itu masuk kedalam mobil lalu keluar dari pekarangan rumah keluarga istrinya
Namun Rizal tidak pulang, pria itu memilih untuk memantau rumah mertuanya dari seberang jalan, ia memarkirkan mobilnya dibawah sebuah pohon mangga
Dari sini ia dapat melihat siapa saja yang keluar dan masuk kedalam rumah itu. Dengan begini ia bisa bertemu lagi dengan istrinya
Ia sangat yakin jika Hanna akan memaafkannya, mereka saling mencintai dan ia bisa melakukan apa saja agar Hanna mau kembali
"Bagaimana semuanya nak? Mbakmu baik-baik saja kan?" Tanya Hanum, wanita paruh baya itu ikut bergabung dengan Hanin serta dokter Rama yang sudah lebih dulu berada disana
"Semuanya berjalan dengan lancar Bu, mbak Hanna sudah menjalani terapi pertamanya dan sekarang mulai terlihat perubahannya!" Jelas Hanin membuat sang ibu mengucap syukur
"Alhamdulillah, ibu seneng dengernya" Hanum tersenyum "Tapi gak apa-apa kan kalau Hanna ditinggal sendiri disana?"
"Tidak perlu khawatir Bu, Hanna tinggal di apartemen saya dan ada seorang asisten rumah tangga yang saya pekerjakan. Dia orang kepercayaan saya"
Rama menjawab dengan senyum manisnya. Tentu saja hal itu membuat Hanum benar-benar merasa tenang
"Terima kasih dokter, saya tidak tahu bagaimana jadinya jika malam itu Hanna tidak bertemu dengan dokter"
"Tidak masalah Bu, sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter" Rama mengulas senyumnya, entah kenapa ia mulai nyaman berada ditengah-tengah keluarga ini
"Setelah urusan aku dikampus selesai, aku akan nyusulin mbak Hanna lagi kok Bu. Ibu tenang aja" Hanum mengangguk mendengar ucapan putri bungsunya
***
Rizal berada disana hingga langit berubah gelap, namun tak ada tanda-tanda penghuni rumah keluar
Tak lama pintu dibuka, seorang pria keluar ditemani seorang gadis berhijab dan itu adalah Hanin
"Siapa laki-laki itu? Apa dia pacarnya Hanin?" Gumam Rizal saat melihat dua orang itu mengobrol didepan rumah
Lalu pria tampan itu masuk kedalam mobilnya dan Hanin kembali kedalam rumah
Sementara itu jauh ditempat yang berbeda, seorang wanita tengah menatap langit yang penuh dengan bintang dari atas balkon apartemen
Hanna tengah menatap jauh kedepan, kekosongan melanda hatinya. Ia kehilangan semuanya
Ia kehilangan suaminya, seorang putra dan kini ia jauh dari putrinya. Bahkan sejak saat dilahirkan ia belum pernah menimang bayi kecilnya itu
Ada rasa sesak dalam hatinya saat mendengar suara tangisan putrinya, bayi kecil yang selalu ia nantikan kehadirannya dan kini ia abaikan
"Maafkan Mama nak, setelah Mama sembuh, kita akan kembali bersama. Mama akan selalu memeluk kalian, Mama akan menjemput Fathan dan kita akan bersama lagi"
Ya, Hanna bertekad untuk sembuh, ia harus kembali waras demi anak-anaknya. Melupakan orang-orang yang telah menyakitinya dan melanjutkan hidup demi anak-anak nya
Ia akan melakukan rangkaian terapi dari seorang psikiater. Ia akan mengikuti semua arahannya lalu kembali bersama keluarganya, bersama orang-orang yang menyayangi nya
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.