“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bazar Tahunan!
.......
.......
...🍓🍓🍓...
“Jenar, ayo! Bapak sudah ditunggu Pak Kades di balai desa!”
Suara bariton itu berasal dari Subangkit, sang Camat sekaligus orang nomor satu di wilayah tersebut. Pagi ini, ia dijadwalkan hadir secara resmi memenuhi undangan Rakata, Kepala Desa Sukojati, untuk membuka Bazar Rakyat tahunan menyambut bulan Suci Ramadhan.
“Sebentar, Pak! Sedikit lagi!” sahut Jenar dari lantai atas, suaranya melengking memecah keheningan pagi.
Jenaria Puspita, putri tunggal Pak Camat, memang dikenal sebagai kembang desa. Baginya, acara ini bukan sekadar undangan protokoler, melainkan panggung utama untuk memikat hati Raka. Ia tidak akan membiarkan sehelai rambut pun mencuat berantakan atau lipstiknya kurang presisi satu milimeter pun.
Di ruang tamu, Rani—ibu Jenar—tampak mondar-mandir gelisah. Ia tampil anggun dalam balutan dress simpel dengan hijab senada yang melambai lembut mengikuti langkah kakinya yang tak bisa diam.
“Bu, jangan mondar-mandir terus. Bapak pusing melihatnya,” protes Subangkit sambil bercermin, membetulkan letak pecinya agar benar-benar simetris.
“Anakmu itu dandannya kelamaan, Pak!” Rani menunjuk ke arah tangga dengan raut gemas.
Tak lama, sosok yang ditunggu- tunggu muncul. Jenar turun dengan langkah anggun. Dress satin selutut yang sengaja dijahit khusus membungkus apik tubuhnya. Rambut hitamnya tergerai indah, berpadu dengan riasan wajah yang flawless.
Subangkit tertegun sejenak sebelum tersenyum lebar. “Cantik sekali kamu, Nduk. Benar-benar tidak malu-maluin jadi anak Camat,” puji Subangkit penuh kebanggaan.
Jenar mendekat, menyandarkan kepalanya manja di bahu sang ayah sambil memamerkan senyum terbaiknya. “Tentu dong, Pak ... anak siapa dulu?”
“Sudah, sudah! Ayo berangkat, nanti keburu dimulai acaranya,” potong Rani penuh semangat. Meski tadi sempat mengomel, binar matanya tak bisa menyembunyikan rasa bangga. Ia sudah tak sabar ingin segera memamerkan pesona keluarganya di depan warga Sukojati.
Mereka pun bergerak menuju mobil dinas berplat merah yang sudah terparkir di halaman. Selama perjalanan tiga puluh menit, Rani tak henti-hentinya mengingatkan Jenar untuk menjaga sikap, sementara gadis itu hanya tersenyum malu-malu menatap kerumunan warga dari balik kaca mobil. Di kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana Raka akan terpesona melihatnya hari ini.
Begitu mobil berhenti di pelataran Balai Desa, Raka sudah berdiri tegak menyambut di barisan depan. Sinar matahari pagi yang mulai terik menyinari seragam dinas cokelatnya yang rapi, memberikan kesan wibawa yang kuat.
"Selamat datang, Pak Subangkit, Bu Rani," sapa Raka dengan suara bariton yang tegas. Ia menjabat tangan sang Camat dengan penuh hormat, lalu memberikan anggukan sopan pada Rani.
“Terima kasih, Pak Kades. Acaranya luar biasa meriah ya,” sahut Rani dengan nada anggun, membalas sapaan itu sambil menebar senyum pada warga yang mulai berbisik kagum melihat kedatangan mereka.
“Mari Pak, Bu, saya antar ke tempat duduk VIP,” sela Lukman, asisten Raka, yang langsung mengarahkan Subangkit dan Rani menuju barisan depan.
Namun, Jenar tetap bergeming di tempatnya. Ia sengaja membiarkan orang tuanya berjalan jauh lebih dulu, menciptakan ruang agar ia bisa berduaan dengan Raka di tengah hiruk-pikuk bazar yang mulai ramai.
“Mas Raka?” panggilnya lirih.
Pria yang dipanggil itu menoleh, menatap Jenar dengan ekspresi datar namun tetap menjaga kesopanan sebagai tuan rumah. “Ya, Mbak Jenar? Ada yang bisa saya bantu?”
Jenar melangkah merapat, memangkas jarak hingga aroma parfum mahalnya menyeruak. Ia menatap pemuda yang tiga tahun lebih tua darinya itu dengan binar manja.
“Panggil ‘Adek’ saja sih, Mas, jangan ‘Mbak’. Kayak sama siapa saja,” rengeknya halus, bibirnya melengkung membentuk senyum yang ia harap bisa meluluhkan kekakuan pria itu.
Raka hanya tersenyum tipis. Ia tidak menanggapi permintaan itu, membuat Jenar sedikit gigit jari.
Tak mau menyerah, Jenar melanjutkan, “Habis acara Mas ada acara nggak? Kalau nggak ada, mampir ke rumah ya. Bapak bilang mau bicara sesuatu ... tapi sebenarnya, aku juga pengen Mas mampir.”
Raka terdiam, alisnya sedikit mengerut seolah tengah menimbang alasan untuk menolak secara halus. Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibirnya, seorang anggota Banser datang terburu-buru dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Raka.
Seketika, raut wajah Raka berubah serius. Ada kilat kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Mbak Jenar, saya tinggal dulu, ya. Ada urusan mendesak,” pamit Raka lugas.
Tanpa menunggu jawaban, Raka langsung melangkah pergi mengikuti anggota Banser tersebut, meninggalkan Jenar yang masih mematung di tempatnya.
Gadis itu menghentakkan kaki ke tanah dengan kesal, napasnya memburu. Namun, sedetik kemudian ia langsung menetralkan ekspresi wajahnya, dengan langkah malas dan dagu yang kembali terangkat, ia berjalan menuju deretan kursi VIP di mana kedua orang tuanya sudah menunggu.
Sementara itu, di rumah kayu yang mulai menua suasana terasa jauh lebih sunyi. Diana berdiri terpaku di depan sebuah cermin kusam yang permukaannya sudah mulai berjamur. Ia menatap pantulannya sendiri yang kini hanya mengenakan daster rumahan sebatas lutut dengan motif bunga-bunga kecil.
“Sudah siap, Nduk? Ayo, kita berangkat sekarang,” ajak Mbok Sarmi yang muncul dari balik tirai kamar sambil menenteng tas anyaman.
Diana menoleh, tangannya refleks meremas pinggiran dasternya yang tipis. “Mbok ... aku di rumah aja ya?”
Mbok Sarmi menghentikan langkahnya. Ia menatap ibu muda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada gurat iba di wajah rentanya melihat betapa rapuhnya wanita di hadapannya ini.
“Nduk,” ucapnya lembut namun tegas, mendekat beberapa langkah. Tangannya yang keriput mengelus lengan Diana yang terasa dingin. “Kamu sudah hampir satu bulan mengurung diri di rumah ini. Badanmu saja sudah makin kurus.”
Ia menghela napas pelan.
“Ayo ikut. Biar kamu tahu kegiatan warga di sini kalau mau puasaan. Biar hatimu juga sedikit terhibur, tidak melamun terus.”
Melihat semangat Mbok Sarmi yang sudah ia anggap seperti nenek sendiri, Diana akhirnya menyerah, mendekap Galeo dalam gendongan jariknya. Ia memastikan kepala bayi itu bersandar nyaman di dadanya, lalu melangkah ragu mengikuti Mbok Sarmi keluar rumah.
Langkah demi langkah, akhirnya dua wanita beda generasi itu sampai di pelataran Balai Desa. Benar saja, suasana sudah sangat ramai. Musik gamelan sayup-sayup terdengar mengiringi pertunjukan seni yang baru saja dimulai di panggung utama.
Berderet stan makanan tradisional, tumpukan pakaian, hingga hasil bumi yang segar berjejer rapi. Keriuhan warga yang bertransaksi menciptakan atmosfer yang hangat. Sejenak, Diana terpana. Di Jakarta, kemeriahan seperti ini tidak pernah ia temukan.
Namun, kekagumannya tak bertahan lama. Begitu ia melangkah masuk, bisik-bisik mulai merayap di antara punggung-punggung warga.
“Waduh, siapa itu yang jalan sama Mbok Sarmi?”
“Dengar-dengar anak majikannya dulu. Kasihan, habis ditinggal mati suaminya, jadi mau menenangkan diri di sini,” sahut yang lain dengan suara yang sengaja dipelankan, namun tetap sampai ke telinga Diana.
Kata 'suami' dan 'mati' itu seketika membuat langkah Diana terhenti. Dadanya mendadak sesak. Predikat janda yang disematkan warga seolah menjadi beban baru yang menghimpit bahunya.
Sejujurnya, Diana bukan ingin menutup diri, tapi ketakutan itu selalu menghantuinya seperti bayangan. Ia terus bertanya-tanya: Bagaimana jika mereka tahu Galeo lahir tanpa pernikahan? Bagaimana jika ia diusir lagi seperti saat orang tuanya membuangnya dulu?
Hatinya mencelos, membayangkan jika keramahan warga ini seketika berubah menjadi makian jika mereka tahu kebenarannya.
Mbok Sarmi yang menyadari perubahan raut wajah wanita di sampingnya segera menarik lengan Diana, membawanya menepi menuju sebuah stan yang menjajakan baju-baju anak dari bahan kaus sederhana. “Sudah, jangan dipedulikan. Kamu aman sama Mbok!”
****
Acara demi acara berlangsung meriah, sejenak Diana mulai menikmati suasana yang belum pernah ia temui di ibu kota. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Galeo, bayi mungil yang baru berumur satu bulan lebih itu, tiba-tiba menangis rewel. Suara tangisannya yang melengking segera menjadi pusat perhatian di tengah jeda acara panggung.
“Kamu kenapa, Sayang? Kok tiba-tiba nangis sih?”
Diana mulai panik. Ia berusaha menenangkan putranya dengan berbagai cara. Ia bahkan sedikit membuka kancing dasternya untuk memberikan ASI, namun Galeo menolak mentah-mentah sambil terus meronta dalam gendongan.
“Nduk, Galeo kenapa?” Mbok Sarmi segera mendekat begitu mendengar tangis sang bayi yang tak kunjung reda. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening cucu angkatnya itu. “Loh, kok badannya panas begini?”
“Nggak tahu, Mbok. Tadi pagi nggak apa-apa kok,” sahut Diana dengan suara bergetar.
Suara sound system panggung yang menggema ditambah riuh pengunjung yang semakin padat membuat suasana terasa mencekam. Di tengah kepanikan itu, sebuah bayangan tinggi jatuh menaungi mereka dari sisi kiri. Sosok pemuda berseragam cokelat itu mendekat dengan raut serius.
“Mbok Sarmi … ada apa?”
Mbok Sarmi menoleh cepat. “Pak Kades … ini, cucu saya tiba-tiba badannya panas sekali.”
Diana mendongak. Matanya menyipit, berusaha memfokuskan pandangan di bawah terik matahari. Jantungnya mencelos. Wajah itu … wajah pemuda yang menabraknya tempo lalu. Dan, dia … adalah Pak Kades?
“Kalau begitu saya antar ke klinik ya. Kasihan bayinya kalau tidak segera ditangani,” tawar Raka sigap.
Diana refleks menggeleng, egonya masih mencoba melindungi rahasianya. “Nggak perlu, Pak … saya bisa sendiri.”
“Nduk … sudah, biar diantar Pak Kades saja. Kasihan Galeo daripada rewel terus, nanti makin parah,” potong Mbok Sarmi cemas.
Diana ragu. Ia menatap Raka, lalu berganti menatap Galeo yang wajahnya mulai memerah karena demam. Akhirnya, ia mengangguk pasrah. Ia berjalan mengikuti langkah lebar Raka menuju parkiran Balai Desa khusus pegawai.
Dengan gerakan canggung, Diana naik ke boncengan motor sang Kepala Desa. Motor itu perlahan membelah kerumunan warga, membuat ratusan pasang mata menatap dengan penuh tanya. Sosok Pak Kades yang dikenal kaku kini membonceng seorang wanita asing berdaster batik yang mendekap erat bayinya.
Di sudut lain, Jenar yang sedari tadi berjalan mencari keberadaan Raka, mendadak mematung. Matanya membulat sempurna saat melihat pemuda incarannya justru berboncengan dengan wanita lain—wanita yang bahkan tidak berdandan sama sekali.
Tangannya mengepal kuat, menahan badai cemburu yang siap meledak di tengah kemeriahan bazar.
“Sial … siapa wanita itu?”
...Halo, Sahabat Pembaca! ❤️...
...Bab ini lumayan panjang, sekitar 1.500 kata, nih! Hehe. Semoga kalian tidak bosan dan tidak capek membacanya, ya....
...Di bab ini, akhirnya muncul karakter baru yang bakal bikin suasana di Desa Sukojati makin seru. ...
...Semoga kalian tetap setia mengikuti perjalanan Raka, Diana, dan Jenar....
...Oh ya, aku mau sedikit berbagi kabar. Saat ini aku masih dalam masa pemulihan pasca patah tulang, jadi aku garap pelan-pelan yaa....
...Terima kasih banyak untuk kesabaran dan dukungan kalian selama ini ✨...
...Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, ya! Aku sangat menantikan feedback dari kalian. 🍓...