NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan

"Gila!" Juan bergumam setelah ditinggal sendiri.

Pria itu tidak pernah berpikir akan memanfaatkan keadaan sang istri seperti ini. Dan yang lebih parah, perasaanya sama sekali tidak menyesal.

Ia menghela napas pelan. Mencoba untuk berpikir lebih jernih sebelum bergerak ke arah nakas. Mengambil ponsel yang tergeletak dan menekan nomor bibi Yu.

"Pindahkan semua barang nyonya ke kamar saya! Sekarang!" pintanya sembari menatap pintu kamar mandi dengan wajah sedikit cemas.

Tidak butuh waktu lama, pintu telah diketuk dari luar. Pria itu membukanya, menyingkir dan membiarkan bibi Yu dan dua orang pelayan lain masuk dengan terburu-buru.

"Cepatlah! Susun dengan rapi!" titah Juan saat melihat para pelayannya bolak balik menyusun pakaian ke dalam wardrobe.

"Tuan, barang-barang nyonya yang lain ditaruh ke mana?" tanya seorang pelayan bernama Anya Su. Wanita itu menatap sekotak produk perawatan milik Ailin dan kembali memandang sang tuan.

Sementara Juan memutar pandangan, mengerutkan kening saat menyadari kamarnya yang begitu kosong. Hanya ada satu meja nakas di samping tempat tidur, tidak mungkin ia menaruh barang-barang Ailin di sana. Sementara jika memindahkan meja dari kamar Ailin di lantai atas pun sepertinya tidak lagi cukup waktu.

"Minta bantuan paman Chen untuk memindahkan meja dari kamar Lili! Cepat!" titah Juan akhirnya, kamar Lian adalah yang terdekat dengan kamar ini. Pasti masih sempat.

Bibi Yu mengangguk mengiyakan. Wanita itu berlari kecil keluar kamar untuk mencari sang suami. Sedangkan Juan menatap pintu kamar mandi dengan harap-harap cemas.

Hingga meja mulai dibawa masuk, Juan menahan napasnya. Meja dengan warna merah muda itu membuatnya mengerutkan kening.

"Apa tidak ada yang lain?"

"Hanya ada ini, Tuan."

Juan menghembuskan napas berat. Ingin mengganti yang lain, namun suara air dari dalam kamar mandi telah berhenti.

"Sudahlah! Taruh di sana dan susun secepatnya!" titahnya dengan buru-buru.

Ia sendiri juga cepat-cepat menekan tuas menuju pintu kamar mandi. Dan benar saja, sesaat kemudian pintu telah terbuka. Ailin keluar dari sana dengan kimono kebesaran di tubuhnya. Bahkan panjangnya menjuntai hingga ke lantai.

"Kakak bohong! Katanya ada kimono milikku," ucap wanita itu saat baru saja keluar dari kamar mandi. Tangannya menggenggam kimono di depan dada karena takut melorot.

Sementara Juan yang sempat terpaku itu baru teringat akan para pelayan yang belum keluar. "A,aku ...."

"Sudahlah! Enggak papa, aku akan segera ganti pakaian saja!" Wanita itu mulai melangkah pergi, membuat Juan kelabakan sendiri.

"ARGHH." Di dalam kepanikan, muncul sebuah ide tidak masuk akal. Pria itu menarik kuat kulit di sekitar lututnya. Saat Ailin menoleh, terlihat sang suami tengah memegang kaki kanannya.

"Kakak, Kakak kenapa?" tanya Ailin panik, wanita itu segera kembali menghampiri Juan.

"Ka-kiku."

"Kaki? Kakimu kenapa?" Ailin menunduk sedikit, posisinya membelakangi bagian luar. Sehingga wanita itu sama sekali tidak menyadari ada yang ingin keluar dari ruangan itu.

Hanya Juan yang sadar dan melirik tajam saat para pelayan itu mulai berjalan. Bibi Yu yang peka segera membawa yang lain mundur. Untungnya kamar mandi memiliki lorongnya sendiri, hingga bibi Yu dan yang lainnya masih bisa bersembunyi.

"Sa-kit." Juan mengerutkan kening, di dalam hati tidak percaya akan ada hari di mana ia bermain drama seperti ini.

"Sakit? Di mana?" Ailin yang percaya itu semakin panik. Sementara Juan justru memberi kode dengan tangan. Meminta bibi Yu dan yang lainnya keluar diam-diam.

"Di sini." Juan menunjuk lututnya sendiri. Ailin segera menurunkan tubuh, berjongkok di depan sang suami dan mulai mengangkat celana panjang itu.

"Kamu ngapain?" Juan yang sedari tadi fokusnya ke arah para pelayan, refleks kaget saat merasakan celananya yang ditarik. Tangannya bergerak untuk menahan Ailin.

"Lihat kakimu yang sakit, Kak. Memangnya apa lagi?" tanya wanita itu dengan wajah bingung.

"Oh, i-iya."

"Sakit? Di sini?" Ailin menekan ruam merah di lutut sang suami. Namun pria itu tidak bereaksi apa pun.

"Kak?"

"Ah?"

"Sakitnya di sini?"

"Hem, ya. Di sini."

Ailin mengelus ruam itu, lalu meniupnya pelan.

"Kamu!" Juan yang akhirnya bisa bernapas lega setelah tahu para pelayan telah berhasil keluar, baru menyadari kakinya tengah ditiup dengan hangat.

"Kenapa? Aku tiup agar enggak sakit lagi." Ailin berkata dengan polos.

"Enggak, enggak papa. Sudah enggak sakit lagi."

"Benarkah? Apa semanjur itu tiupanku?"

Juan terdiam, bingung ingin menjawab apa hingga sebuah suara teriakan di luar membuat kata-kata yang berada di ujung mulut itu kembali tertelan.

"KAK! KAK JUAN! KELUAR!"

"Itu adikmu? Jangan bilang dia mau membalas karena aku menjambak rambutnya?" Ailin memandang ke arah pintu yang tertutup, wanita itu tidak menyadari kimononya tidak ditahan lagi.

Juan yang menyadari kerah kimono sang istri mulai bergeser langsung mengalihkan pandangan. Dengan gerakan cepat ia menarik bagian kain itu hingga kembali rapi.

"Biar aku yang keluar. Kamu gantilah pakaian!"

Sementara Ailin yang ditinggal ingin menangis rasanya. "Haishh. Memalukan sekali!"

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!