Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisuda, Gengsi Baru dan Pikap Hitam
Tiga setengah tahun di Sukaasih ternyata berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Lapangan semen Universitas Jayasakti hari ini dipenuhi oleh tenda-tenda putih, balon warna-warni, dan aroma bunga sedap malam yang dipadukan dengan bau keringat ratusan wisudawan.
Ghea berdiri di depan cermin kecil kamarnya, merapikan topi toga hitam yang bertengger di kepalanya. Di lehernya, melingkar selempang satin kuning bertuliskan nama lengkap dan predikat kelulusannya: Ghea Anindita, S.Bns. - Cumlaude.
Meskipun lulus dengan nilai terbaik di jurusannya, tidak ada buket bunga raksasa atau kiriman papan bunga mewah dari keluarganya di Solaria. Ayahnya hanya mengirimkan satu pesan singkat tadi pagi:
“Selamat atas kelulusannya, Ghea. Tiket pesawat pulang ke Solaria dan kunci apartemen baru kamu sudah Papa siapkan. Kamu bisa pulang besok pagi dan mulai bekerja di perusahaan Papa.”
Ghea menatap layar ponselnya datar, lalu mengetik balasan dengan cepat:
“Makasih, Pa. Tapi Ghea gak akan pulang sebelum bisa beli mobil sport pakai hasil keringat Ghea sendiri di sini.”
Ghea meletakkan ponselnya kasar. Gengsinya terlalu besar untuk pulang sebagai "anak yang sudah dimaafkan". Dia ingin pulang sebagai pemenang yang berhasil membuktikan diri tanpa nama besar ayahnya.
Saat dia membuka pintu kamar untuk berangkat ke area wisuda, dia berpapasan dengan Arkan yang baru saja turun dari lantai atas. Cowok itu juga sudah mengenakan jubah toga lengkap. Bahunya yang tegap membuat jubah wisuda yang murah itu terlihat seperti setelan desainer ternama. Di lehernya juga melingkar selempang serupa: Arkanaditya Surya, S.Bns. - Cumlaude.
Mereka saling pandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya kompak mendengus sinis.
"Muka lo tegang amat, mirip manekin toko baju yang dipasangin toga," ejek Arkan sambil berjalan mendahului Ghea melewati lorong sempit kosan.
"Heh, tiang listrik! Mulut lo ya, di hari bahagia kayak gini masih aja cari ribut!" semprot Ghea kesal, menghentakkan kakinya mengejar langkah lebar Arkan. "Lagian lihat tuh selempang gue! Nama gue dipanggil pertama pas wisuda nanti karena IPK gue lebih tinggi dari otak kaku lo!"
Arkan melirik selempang Ghea sekilas, lalu menaikkan sudut bibirnya. "Cuma beda nol koma nol sekian aja bangga. Yang penting kan kita sama-sama lulus. Dan yang paling penting... siapa yang bakal bertahan hidup setelah ini tanpa duit dari bokap masing-masing."
Ghea menaikkan dagunya menantang. "Gue gak akan balik ke Solaria. Gue bakal bangun bisnis kopi gue sendiri di sini!"
"Bagus deh. Gue juga mau mulai bisnis logistik UMKM gue," sahut Arkan lempeng. "Kita lihat aja nanti, siapa yang bakal gulung tikar duluan dan nangis-nangis minta tiket pulang ke Solaria."
Upacara wisuda berjalan lancar, namun bagi Ghea dan Arkan, upacara itu hanyalah formalitas sebelum perang yang sesungguhnya dimulai.
Malam harinya, suasana kosan Bu Retno kembali sepi. Ghea yang sedang duduk di tangga koridor bawah untuk mencari angin segar, tidak sengaja mendengar suara Arkan yang sedang menelepon seseorang di dekat jemuran lantai dua. Suara cowok itu terdengar sangat frustrasi.
"Nggak bisa kurang lagi, Pak? Saya butuh mobil pikap itu minggu depan buat angkut barang UMKM pertama saya... Iya, saya tahu itu harga pasaran, tapi modal saya belum cukup kalau harus bayar uang muka segitu... Oke, makasih, Pak."
Arkan menutup teleponnya dengan helaan napas yang sangat berat. Dia mengacak rambutnya kasar, lalu menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas lantai dua.
Ghea yang mendengarnya dari bawah tertegun. Dia tahu Arkan sedang merintis bisnis logistik yang dia beri nama Arka-Logistics. Ide bisnis itu sangat genius, menghubungkan para pelaku UMKM di Sukaasih dengan jaringan pengiriman yang lebih murah. Tapi, untuk memulai, Arkan butuh setidaknya satu armada operasional: sebuah mobil pikap bekas.
Dan dari percakapan tadi, uang tabungan Arkan dari hasil kerja kerasnya di fotokopi Ko Acong dan sisa uang beasiswa ternyata masih jauh dari kata cukup untuk membayar uang muka mobil tersebut.
Ghea terdiam. Pikiran tentang bagaimana Arkan selalu melindunginya selama kuliah—mulai dari memperbaiki laptopnya yang rusak hingga membelikannya kipas angin baru di hari pertama—tiba-tiba melintas di kepalanya.
Si tiang listrik itu... selalu sok kuat di depan gue, padahal dia sendiri lagi pusing, batin Ghea. Dada Ghea berdenyut tidak nyaman. Rasa tidak tega kembali menguasai dirinya.
Ghea segera berdiri dan masuk ke kamarnya. Dia mengambil buku tabungan bank lokal yang dia gunakan selama kuliah. Di sana tertera seluruh sisa uang beasiswanya, ditambah upah kerjanya di kafe yang dia hemat mati-matian selama bertahun-tahun. Totalnya ada sekitar delapan juta rupiah.
Itu adalah seluruh uang pertahanan hidup Ghea untuk beberapa bulan ke depan sebelum bisnis kopinya berjalan.
Ghea menarik napas dalam-dalam. "Ah, bodo amat. Anggap aja ini investasi... atau bayar utang budi," gumamnya pelan.
Keesokan paginya, Ghea pergi ke dealer mobil bekas "Sukaasih Motor" yang letaknya di dekat pasar tradisional. Dia menemui pemilik dealer, seorang pria paruh baya bernama Pak Joko.
"Permisi, Pak. Saya mau tanya tentang mobil pikap hitam bekas yang kemarin ditanyakan sama cowok tinggi namanya Arkan," kata Ghea langsung pada intinya.
Pak Joko mengernyit heran. "Oh, Mas Arkan? Iya, kemarin dia telepon nanya pikap hitam keluaran tahun 2015 itu. Tapi uang mukanya kurang lima juta, Neng. Jadi belum bisa saya lepas."
Ghea membuka tasnya, mengeluarkan amplop cokelat tebal berisi uang tunai sebesar lima juta rupiah—lebih dari setengah tabungan hidupnya.
"Ini uangnya, Pak. Tolong kekurangan uang mukanya ditutup pakai ini," kata Ghea sambil menyodorkan amplop tersebut ke atas meja kayu Pak Joko.
Pak Joko terelalak. "Lho, Neng ini siapanya Mas Arkan? Kok mau bayarin?"
"Saya... saya cuma temen sekelasnya, Pak. Tapi tolong banget, jangan pernah kasih tahu Arkan kalau uang ini dari saya. Kalau dia tahu, dia gak bakal mau terima mobilnya," pinta Ghea dengan wajah memohon yang sangat serius. "Bapak bilang aja... ada promo diskon khusus lulusan baru dari dealer Bapak, atau bilang aja harga uang mukanya salah hitung. Pokoknya bikin alasan apa aja asal dia percaya kalau harganya emang turun!"
Pak Joko menatap amplop cokelat itu, lalu menatap Ghea dengan senyum geli yang hangat. "Oalah, anak muda zaman sekarang ya. Baik banget kamu, Neng. Ya sudah, bapak bantu. Kebetulan bapak juga suka sama kegigihan Mas Arkan itu. Tenang saja, rahasia aman di tangan Bapak."
"Makasih banyak ya, Pak!" ucap Ghea lega sebelum buru-buru pamit pergi.
Sore harinya, Arkan berjalan pulang dari kampus dengan wajah lesu. Langkah kaki Arkan mendadak terhenti ketika melihat sebuah mobil pikap hitam bekas—dengan kondisi bodi yang masih cukup mulus—sudah terparkir rapi di depan gerbang kosan Bu Retno.
Di kursi kemudi, Pak Joko sedang duduk sambil mengunyah permen karet. Begitu melihat Arkan, beliau langsung turun dari mobil.
"Mas Arkan! Untung kita ketemu di sini," sapa Pak Joko ramah.
Arkan mengernyit bingung. "Pak Joko? Kok... mobil ini dibawa ke sini? Kan saya sudah bilang uang muka saya belum cukup, pak."
Pak Joko tertawa renyah, menepuk bahu Arkan dengan akrab. "Nah, itu dia, Mas! Begitu saya balik ke kantor tadi siang, bos saya bilang dealer kami lagi ada promo 'Subsidi Wirausaha Muda' buat lulusan baru Jayasakti minggu ini. Jadi, uang muka yang kemarin saya sebutkan itu dipotong diskon lima juta rupiah! Uang tabungan Mas Arkan yang kemarin didepositokan itu sudah langsung pas buat bawa pulang mobil ini hari ini!"
Arkan membelalakkan matanya, menatap mobil pikap itu dengan tidak percaya. "Serius, Pak? Ada promo potongan sampai lima juta? Kok... kok saya gak pernah dengar ada promo begitu?"
"Ah, Mas Arkan ini gimana. Kan promonya baru dirilis tadi pagi khusus buat melariskan stok akhir bulan!" bohong Pak Joko dengan sangat lancar, sesuai instruksi Ghea. "Ini kuncinya, Mas. Selamat ya, semoga bisnis logistiknya sukses!"
Pak Joko menyerahkan kunci mobil logam itu ke telapak tangan Arkan yang masih gemetar karena syok sekaligus bahagia yang luar biasa. Setelah menandatangani beberapa berkas serah terima, Pak Joko langsung pamit pulang menggunakan ojek.
Arkan berdiri mematung di samping pikap hitamnya. Tangannya mengusap kap mesin mobil itu dengan perasaan campur aduk. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Akhirnya, langkah pertamanya untuk mandiri benar-benar bisa dimulai hari ini.
Tepat saat itu, pintu gerbang kosan terbuka dan Ghea berjalan keluar dengan gaya santai, membawa kantong sampah plastik di tangannya.
Begitu melihat Arkan yang sedang senyum-senyum sendiri di depan pikap hitam, Ghea langsung memasang wajah judes andalannya untuk menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap.
"Heh, tiang listrik!" panggil Ghea ketus. "Ngapain lo elus-elus mobil rongsokan itu? Mau lo loak ya karena gak punya duit buat makan?"
Arkan langsung menyembunyikan senyumnya, berbalik menatap Ghea dengan gaya angkuh andalannya, lalu memutar kunci mobil di jari telunjuknya.
"Rongsokan lo bilang?" ejek Arkan sombong. "Lihat nih. Ini namanya armada pertama Arka-Logistics. Berkat kejeniusan gue nego sama pemilik dealer, gue dapet diskon gede yang gak akan bisa didapetin sama otak manja kayak lo. Sebentar lagi, bisnis gue bakal jalan, dan lo bakal tetep jadi pengangguran yang kerjaannya cuma buang sampah."
Ghea memutar bola matanya malas, menahan tawa geli di dalam dadanya sekuat tenaga melihat betapa sombongnya Arkan saat ini, sama sekali tidak menyadari bahwa separuh tabungan hidup Ghea sudah berpindah ke laci dealer demi roda mobil hitam tersebut.
"Halah, sombong banget! Palingan itu mobil mogokan yang bakal bikin lo encok di pinggir jalan!" semprot Ghea galak, lalu melempar kantong sampahnya ke tempat pembuangan dengan kasar sebelum masuk kembali ke dalam kosan.
Arkan mendengus sinis menatap kepergian Ghea, lalu kembali menatap mobilnya dengan senyum lebar.
Di bawah langit senja Sukaasih yang mulai menggelap, babak baru perjuangan mereka baru saja dimulai. Mereka siap saling menjatuhkan dengan kata-kata, saling bersaing dalam bisnis, tanpa pernah tahu bahwa langkah kaki mereka bisa terus melangkah maju hanya karena mereka saling menopang dari balik bayangan.