Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gempuran Obsidian dan Kerinduan di Balik Senjata
Lampu-lampu kota London tampak seperti butiran berlian yang berserakan di bawah kaki langit yang kelam, namun bagi Alistair Thorne, pemandangan dari helikopter tempur yang membawanya menuju Obsidian Tower hanyalah target operasional. Di dalam kabin yang bising, Alistair duduk kaku, namun pikirannya masih tertinggal di teater tua—pada rasa hangat bibir Sloane dan desahan lembut yang masih terngiang di telinganya.
Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan jemari yang terbungkus sarung tangan taktis hitam. Sebuah gerakan yang sangat tidak administratif bagi seorang penguasa The Obsidian Order.
"Tuan Thorne, kita akan memasuki zona udara terlarang dalam tiga menit. Semua unit Iron Crest dan pasukan Isabella sudah berada di posisi bawah," lapor Marcus melalui interkom.
Alistair tersentak dari lamunannya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang mematikan. "Lanjutkan prosedur. Jangan beri mereka waktu untuk melakukan kalibrasi ulang pertahanan. Dan Marcus..."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan jalur komunikasi ke markas medis tetap terbuka. Saya ingin laporan status Nona Sterling setiap sepuluh menit."
Marcus menahan senyum di balik masker taktisnya. "Dimengerti, Tuan. Status 'Mawar Berisik' akan terus dipantau."
Sementara itu, di markas medis teater tua, Sloane Sterling sedang mengalami "malfungsi emosional" yang parah. Ia duduk di kursi kayu, namun tangannya terus bergerak menggosok botol disinfektan yang sebenarnya sudah mengkilap.
"A-apa yang dia pikirkan?! Menciumku seperti itu... di depan semua orang!" gumam Sloane, wajahnya memerah hingga ke pangkal leher. Setiap kali ia teringat bagaimana tangan Alistair merayap di pinggangnya dan desahan yang tanpa sadar lolos dari mulutnya tadi, Sloane merasa merinding hebat. Tubuhnya terasa kaku, namun ada rasa hangat yang tidak ingin ia akui.
"Dasar bos kulkas... bos kaku... beraninya dia melakukan skinship sebanyak itu!" Sloane menyentuh lehernya, tempat Alistair menciumnya tadi. Ia masih bisa merasakan getaran suara serak Alistair di kulitnya.
Meskipun ia mencintai Alistair, Sloane tidak pernah menyangka bahwa pria yang biasanya bicara soal "parameter" dan "efisiensi" itu bisa menjadi begitu agresif secara romantis. Ia merasa tidak layak, merasa minder di hadapan Isabella, namun ciuman intens tadi seolah menjadi jawaban mutlak Alistair bahwa ia adalah miliknya.
"Nona Sterling, Anda tampak... sangat bersemangat menggosok botol itu," ucap Isabella yang masuk untuk memeriksa logistik terakhir.
Sloane tersentak dan hampir menjatuhkan botolnya. "E-eh! Ini... botol ini punya noda sidik jari yang sangat membandel! Aku harus mensterilkannya!"
Isabella tersenyum tipis, matanya yang perak menatap Sloane dengan penuh arti. "Alistair benar-benar berubah karena kau. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun, dan dia tidak pernah menyentuh wanita mana pun dengan cara seperti itu. Bahkan memegang tangan pun dia benci. Tapi tadi... dia seolah ingin menelanmu hidup-hidup."
Sloane ingin pingsan lagi mendengar kata "menelanmu hidup-hidup". "Dia hanya... dia hanya sedang mengalami gangguan sistem sementara!"
"Atau mungkin sistemnya baru saja menemukan tujuannya yang sebenarnya," balas Isabella bijak sebelum ia berbalik untuk berangkat memimpin pasukan sayap kiri.
DOR! DOR! DOR!
Pertempuran di Obsidian Tower pecah dengan intensitas yang mengerikan. Alistair Thorne menerjang masuk melalui jendela lantai lima puluh menggunakan tali rappel. Ia bergerak seperti bayangan hitam yang mematikan, menembak jatuh setiap anggota Black Rose yang menghalanginya.
Namun, di tengah baku tembak sengit, Alistair sempat merogoh saku taktisnya. Ia mengeluarkan sebuah pemancar suara kecil.
"Sloane, apakah Anda mendengarkan?" suara Alistair terdengar di radio markas medis.
Sloane segera menyambar radio tersebut. "Alistair! Kau sedang berperang! Kenapa kau menelpon?!"
"Saya hanya ingin memastikan Anda tidak sedang memanjat lemari untuk membersihkan debu," gumam Alistair di sela suara desingan peluru. "Dan... saya merindukan omelan Anda. Secara administratif, detak jantung saya baru bisa stabil setelah mendengar suara Anda."
Sloane tertegun, hatinya meleleh namun ia tetap harus galak. "Fokuslah pada musuhmu, Tuan Kaku! Jika kau terluka sedikit saja, aku akan membersihkan lukamu dengan cairan pemutih! Mengerti?!"
Alistair tertawa rendah—sebuah suara yang terdengar sangat seksi di telinga Sloane hingga ia merinding lagi. "Dimengerti, Nona Sterling. Saya akan kembali untuk menagih janji... dan ciuman yang lebih lama lagi."
"AH! ALISTAIR! TUTUP TELEPONNYA!" Sloane berteriak malu, sementara di sekitar Alistair, para pengawal Iron Crest secara serentak membuang muka.
"Saya tidak dengar apa-apa! Fokus pada target!" teriak Marcus pada timnya, meskipun telinganya sendiri merah menahan tawa.
Alistair mematikan radio, wajahnya kembali dingin. Ia berdiri di depan pintu lift menuju ruang kerja ayahnya. Ia tahu, di balik pintu itu, Silas Thorne sudah menunggunya. Perang ini bukan lagi soal kekuasaan, tapi soal hak Alistair untuk mencintai "noda" paling indah dalam hidupnya tanpa takut akan hari esok.
"Ayo kita bersihkan tempat ini," perintah Alistair pada pasukannya. "Secara menyeluruh."
To be continued....