Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 15
Elias menatap layar laptopnya dengan bangga kala melihat bahwa pekerjaannya sudah selesai dan tersusun rapi sesuai keinginannya. Ia bahkan tersenyum lebar melihat hasil kerjanya yang sempurna sambil memuji dirinya sendiri.
"Akhirnya, kini tinggal menunggu waktu yang tepat," bisiknya pada diri sendiri dengan yakin. "Besok, kau akan mendapatkan kehancuranmu sendiri, sama seperti kau menghancurkan hidupku 20 tahun lalu."
Menutup laptop dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, Elias bersiap untuk tidur dan menarik selimut. Tetapi, Ia tiba-tiba teringat akan suatu hal yang mengganggu pikirannya.
"Dia berhasil menemukan dan membujuk gadis itu tidak, ya? Ah, kenapa aku jadi penasaran begini? Hadir atau tidaknya gadis itu, mereka akan tetap hancur."
Sesaat, ia ingin membuka kembali laptopnya dan mencoba mencari tahu. Menghubungi Anne ataupun Patricia, tapi urung ia lakukan lantaran mendengar suara ketukan yang cukup keras di pintu kamarnya.
Tanpa harus menebak-nebak, Elias tahu jelas siapa pelakunya. Dengan kesal, ia menyibak selimut, berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa? Apa kau tidak punya hal lain untuk dilakukan selain menggangguku, Noah?" tanyanya begitu membuka pintu.
Noah yang tak menyangka akan dimarahi, mundur beberapa langkah ke belakang. "Maaf, El. T-tapi ini sangat penting!" seru Noah dramatis.
"Hal penting apa sampai-sampai kau mengganggu ketenanganku di malam larut begini?" Elias menatapnya dengan mata memicing dan tangan yang terlipat di dada.
"Kau harus melihatnya sendiri, El. Ayo, ayo ikut aku." Noah kemudian menarik pergelangan tangan Elias ke depan toilet kamar tidurnya.
Elias menatap Noah dengan penuh pertanyaan. "Kau tidak sedang bercanda, kan, Noah? Untuk apa aku ke sini?!"
"Tidak, El! A-aku serius! Di dalam sana ada makhluk aneh. Aku berani bersumpah!" seru Noah meyakinkan.
Elias menatapnya curiga, tetapi ia tetap membuka pintu kamar mandi itu perlahan. Barangkali yang dikatakan Noah itu benar, meski ia tak tahu makhluk aneh apa yang dimaksud Noah.
"Makhluk itu ada di dalam closet." Noah menunjuk ke dalam closet yang tertutup. "Percayalah padaku," cicitnya, bersembunyi di balik punggung Elias.
Elias membuka closet itu, tak ada sesuatu yang patut untuk ditakutkan kecuali seekor cicak yang berenang di dalam sana.
"Cicak? Makhluk aneh itu adalah cicak? Kau sadar apa yang kau lakukan, Noah?" tanya Elias, menahan kesal.
"Apa?! Aku takut, El! Apa kau tidak lihat bentuknya yang menggelikan seperti itu?" Noah bergidik ngeri, mengambil jarak menjauh saat Elias menekan flush.
Elias berbalik menatap Noah dengan berkacak pinggang. "Lihat? Sesederhana itu, Noah!" kakinya, tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Noah.
"Aku panik, El! Kau mengerti bagaimana saat panik, kan?!" Noah balas berteriak.
Elias menggeleng tak habis pikir. "Kau ini pria, tapi takut pada cicak?" ledeknya, meninggalkan Noah sendirian di sana.
•••
Ruang sidang pagi itu terasa penuh sesak. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung klasik menggantung bagai mata elang, mengawasi setiap gerak dari mereka yang hadir.
Dinding kayu tua yang mengkilap memantulkan gema suara detak sepatu dan bisikan gugup dari bangku pengunjung. Di luar, Manhattan hidup seperti biasa, bising, padat, tanpa tahu bahwa di dalam ruangan ini, nasib seorang pria dan keadilan seorang perempuan akan ditentukan.
Di ujung ruangan, duduk Dennis Caldwell, pria itu duduk dengan santai, seperti tak bersalah sama sekali. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk orang yang sebentar lagi akan menerima hukuman.
Di sampingnya, pengacara elitnya—Howard Brinks terlihat lebih percaya diri, seolah sudah tahu hasil sidang bahkan sebelum hakim masuk ke ruang sidang.
Sedangkan di sisi lain, Patricia Abraham duduk membatu. Pundaknya terlihat tegang, jemarinya yang gemetar menggenggam syal tipis yang dibawanya dari rumah.
Di sebelahnya, Jaksa Penuntut bernama Lana Reyes bersiap. Matanya menyapu juri satu per satu, seolah mencari harapan dalam wajah-wajah asing yang telah mendengarkan cerita mereka.
Pintu belakang terbuka.
“Semua berdiri. Yang Mulia Hakim Thomas Mulholland akan memasuki ruang sidang.”
Suasana berubah lebih hening ketika Thomas Mulholland berjalan ke tempatnya, pria itu mengenakan jubah hitam panjang dan wajah datar seperti granit. Tangannya gemetar sedikit saat merapikan tumpukan dokumen.
Dia menatap berkas, lalu menatap Dennis Caldwell sesaat, dan Patricia Abraham yang terlihat lebih tegang dibandingkan terdakwa.
“Sidang putusan dimulai.”
Semua orang mendadak senyap, termasuk Anne, Christian dan juga Elias yang sudah menyamar demi bisa mengikuti persidangan itu.
Jaksa Reyes itu pun berdiri dengan mantap.
“Yang Mulia, selama beberapa hari ini, kami telah menunjukkan bukti, memanggil saksi, menghadirkan hasil medis, dan menyingkap kepribadian terdakwa yang manipulatif. Hari ini, kami mohon agar pengadilan memberikan putusan yang tidak hanya adil bagi korban, tapi juga menjadi peringatan bahwa sistem ini tidak bisa dibeli.”
Howard Brinks menyusul, berdiri dengan penuh percaya diri dan congkak, menatap remeh ke arah Lana Reyes. “Yang Mulia, tidak ada saksi mata. Tidak ada rekaman. Tidak ada DNA yang secara langsung menghubungkan klien saya ke dugaan kejahatan ini. Sementara hukum meminta bukti, bukan asumsi.”
Detik terasa berjalan lambat bagi Patricia, wajahnya tertunduk dalam, berharap akan ada keadilan untuknya hari ini. Sementara itu, di tempatnya, Dennis Caldwell tersenyum miring.
Lalu, suara hakim menggema, tenang tapi seperti cambuk yang mencambuk kenyataan dengan keras.
"Pengadilan memutuskan bahwa karena tidak cukup bukti kuat dan konsisten, serta demi menjaga prinsip praduga tak bersalah, maka dengan ini kami menyatakan bahwa terdakwa dibebaskan dari semua tuduhan.”
Ruangan meledak dalam kekacauan diam. Patricia terduduk lemah, kehabisan kekuatan dan harapan. Anne dan Christian siap untuk protes sementara tak jauh dari mereka, Elias mengetatkan rahangnya.
"Sudah kuduga," bisiknya dengan tangan terkepal kuat.
Patricia menatap kosong, lebih kepada tak percaya. Janji dua orang agen yang berkata bahwa ia akan mendapatkan keadilan seakan lenyap dari kepalanya, berganti suara hakim yang bergema keras di kepalanya. Laksana palu yang menghantam kenyataan pahit dan membangkitkan luka yang baru.
Di bangku terdakwa, Dennis berdiri dengan angkuh. Pria itu terlihat mengancingkan jasnya. Ia sempat melirik Patricia dengan senyuman licik yang singkat.
Ia seolah berkata, "Kau tidak akan bisa menang. Kau kalah. Kau tidak akan pernah mendapat keadilan." Tatapannya seperti mengolok-olok Patricia yang kalah telak.
Suasana jadi meledak saat sidang ditutup. Tetapi, seorang pria berteriak lancang, “Dia pelaku! Dia hanya lepas karena uang!”
Hakim menggedor meja. Polisi penjaga bersiaga menjaga pintu. Seorang wartawan berlari keluar sambil mengetik cepat di ponselnya: “Editor Senior Gotham Media, Dennis Caldwell dinyatakan bebas dari tuduhan pemerkosaan. Reaksi publik diperkirakan keras.”
Suasana jadi semakin ricuh saat beberapa polisi masuk ke dalam ruang sidang dan menghampiri Thomas Mulholland.
"Ada apa ini?" tanya Thomas, kebingungan. Ia melihat ke sekeliling ruang sidang, semua orang menatapnya dengan penuh penghakiman.
"Kami menerima laporan bahwa Anda menerima suap."
Mata Thomas langsung membelalak sempurna, terkejut sekaligus tidak percaya.
Selanjutnya, Thomas dibawa pergi, bersama dengan Dennis Caldwell dan juga pengacaranya untuk diperiksa lebih lanjut.
Sementara itu, Patricia, Anne dan Christian menatap kejadian yang tiba-tiba itu dengan tak percaya, tetapi juga senang. Karena setidaknya, kasus Patricia tidak terhenti di sana. Kemungkinan mendapat keadilan itu masih memiliki peluang besar.
Elias yang menyamar, menatap ketiga orang itu dengan serius. Ia menundukkan kepala saat Anne menatap ke arahnya dan buru-buru keluar dari ruang sidang sebelum Ada yang memperhatikan dirinya.
"Target kedua, selesai." Elias tersenyum puas dan berjalan pergi untuk kembali ke kantornya.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️