Bagaimana jadinya jika kita sebagai ibu susu pengganti dari anak mantan kekasih yang dulu. Casandra tidak pernah tahu siapa orang tua dari bayi mungil yang di asuhnya selama ini. Sepenuh hati dia merawat dan memberinya asi.
Bayi mungil itu sudah di anggapnya seperti anak sendiri karena anaknya telah lama pergi. Sejak kejadian kecelakaan waktu itu, hidupnya berubah drastis.
Dengan susah payah dia menyambung hidup, mencari pekerjaan kesana kemari hasilnya nihil. suami yang dulu menyayanginya, kini menyia-nyiakannya. Akankah Sandra bisa bertahan? Bagaimana perasaannya setelah tahu ayah dari anak yang dia asuhnya ternyata laki-laki di masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mas Bri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tatapan mata indah itu begitu sulit di artikan. Bimbang, bingung, dan rasa takut mulai membayangi dirinya mengingat perlakuan keluarganya terhadap dirinya dulu.
"Bisakah kamu membantuku merawatnya?" tanya Brian lagi dengan tatapan memohon.
"Seharusnya kita tidak membicarakan ini. Aku ke kamar dulu." Sandra berusaha menghindari Haris. Nyatanya hal itu tidak mudah, Haris terus mendesak Sandra hingga akhinya dia menyetujuinya dengan terpaksa.
"Tapi dengan satu syarat," ujar Sandra setelah menyetujui merawat bayi kecil itu bersama.
"Apa?"
"Dilarang mengurus urusan pribadi masing-masing. Begitu pun sebaliknya, saya juga tidak akan mengurus masalah pribadi Tuan Haris. Bagaimana?"
Haris nampak berpikir sejenak. "Setuju."
Setelah membuat kesepakatan, Sandra kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sayangnya bayi kecil itu mulai merasa kehausan hingga dia menangis.
Sandra berlari memasuki kamar sang bayi. "Sayang, kamu pasti haus, ya?" dia mulai membuka kancing bagian atasnya dan segera memberinya minum. Sedangkan Haris sudah berdiri di belakang Sandra tanpa bersuara.
"Tuan," sontak Sandra kaget dengan bayangan yang menjulang tinggi di belakangnya. "Apa yang Anda lakukan di sini?!"
"Menunggu kalian berdua. Bukankah wajar seorang ayah menemani anaknya yang menangis."
Sandra menutup sedikit bajunya agar tidak terlihat jelas dari belakang. Rasanya sangat tidak pantas kalau dia membuka bajunya di hadapan laki-laki yang bukan suaminya meski hanya sedikit.
"Keluarlah, biarkan dia tidur dengan tenang," titah Sandra masih dengan posisi membelakangi Haris.
Haris pun mengerti maksud wanita di depannya. "Baiklah, Papa keluar sebentar. Nanti kalau sudah selesai, Papa masuk lagi, ya? Jangan nakal, kasihan Mama kamu," ujarnya dengan tersenyum nakal. Hal itu sengaja dia lakukan untuk menggoda Sandra.
Mata Sandra seakan keluar dari kelopaknya mendengar kata-kata sang tuannya. Tidak habis pikir mantannya akan mengatakan hal yang menurutnya ambigu.
"Oh ya, namanya Varel. Nama yang ingin kamu berikan kepada anak kita dulu," Bisik Haris sebelum akhirnya dia keluar kamar anaknya dengan senyum kebahagiaan.
Sandra hanya terdiam mendengar nama bayi mungil di gendongannya. "Sebesar itu kah cintamu kepadaku? Sampai-sampai nama yang sudah aku lupakan masih kamu ingat. Bahkan sekecil apa pun itu hal yang kita lakukan kamu masih mengingatnya dengan jelas," batin Sandra.
"Nggak, kamu harus fokus cari uang yang banyak. Jangan hiraukan dia. Dia hanya mempermainkan kamu saja, sama seperti keluarganya," batin Sandra lagi.
.
.
.
Setelah memberikan ASI untuk Varel, Sandra kembali ke kamarnya untuk istirahat. Seperti biasa dia selalu menggunakan baju tidur dengan kain tipis yang memperlihatkan lekukan tubuhnya. Tidak lupa seluruh lampu kamar dia matikan. Matanya sulit terpejam jika ada lampu yang menyala.
Saat akan merebahkan tubuh lelahnya, benda pipih yang dia simpan di laci berbunyi tanda satu pesan masuk.
"Tunggu aku."
Terlihat kerutan di kening Sandra memikirkan si pengirim pesan. "Siapa ini? Nomer nggak di kenal." Dia tidak memeriksa dengan seksama siapa si pengirim pesan. Jika itu Niko seharusnya dia tidak mengirim pesan malma-malam begini dan pasti namanya akan muncul.
Sandra kembali memasukkan ponselnya ke dalam laci lalu kembali tidur. Saat akan memejamkan mata, ada tangan kekar yang melingkar erat di perutnya. Reflek dia langsung berontak takut dia akan menyakitinya.
"Siapa kamu!" Sandra langsung bangkit dari tidurnya.
"Sss ttt ... jangan berisik, nanti anak kita terbangun."
"Tu-tuan Haris," cicit Sandra ragu-ragu. Dia begitu ketakutan tiba-tiba ada yang memasuki kamarnya.
Sedangkan pelakunya malah santai seperti tak punya dosa. "Jangan memanggilku Tuan lagi, kita ini sepasang kekasih."
Sandra jengah dengan setiap kata pasangan kekasih yang keluar dari mulut sang majikan. Dia sudah melupakan kejadian beberapa tahun silam yang memebuat hidupnya begitu kelam.* "Hah! Apa?! Kekasih dia bilang. Dasar orang gila!"* batin Sandra.
"Aku bukan kekasihmu, Tuan. Jadi jangan ucapkan kata sepasang kekasih lagi. Aku muak mendengarnya," lirih Sandra tapi masih bisa di dengar oleh Haris.
Beruntung seluruh lampu mati, kalau tidak sudah di pastikan Haris akan melihat adegan bibir komat-kamit dari wanitanya. Hanya membayangkan nya saja mampu mengukir senyum indah di wajah Haris. Sunggu luar biasa pesona janda satu ini.