Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
(🍁Takdir memang selalu mengejutkan. Kadang ketika kita menginginkan sesuatu tetapi Allah malah memberinya lain. Tapi percayalah Allah tahu mana yang kita butuhkan, Allah memang maha baik, hanya saja kadang kita tidak menyadarinya dan kurang bersyukur🍁)
“ Nay…!” Kinar menghampiriku lalu memelukku. Kinar lalu membawaku ke dalam rumahnya. Kinari membantuku mengganti baju yang sudah basah.
Pak Lurah dan warga terus saja berdiskusi menentukan titik terang cara menyelesaikan masalah yang ada. Di desaku memang sangat menjunjung tinggi norma agama dan norma kesopanan.
Mereka banyak yang belum tahu tentang pertolongan pertama saat menyelematkan orang yang tenggelam. Pak Lurah memberi gambaran bahwa itu adalah bentuk kemanusiaan, jangan samakan dengan perbuatan zina.
Kinar membawaku lagi ke depan rumahnya untuk mendengarkan diskusi para warga. Mas Gagah juga terus membela diri dengan pendapatnya.
Pak Lurah akhirnya sepakat untuk menutup kasus ini dan semua warga diharapkan untuk meminta maaf padaku dan Mas Gagah.
Namun sepertinya ada saja warga yang tidak terima dengan keputusan Pak Lurah. Mereka kembali berbisik-bisik membicarakanku.
“ Jangan sampai anak bujang di desa ini menikah dengannya.” Lirikan Bu Siti tepat mengarah padaku.
“Iya, aku juga tidak mau jika anak laki-lakiku menikah dengan gadis yang sudah dicium laki-laki lain,” sambung ibu-ibu yang lain.
Tangisku pecah, aku merasa seolah-olah aku ini begitu hina sekali dimata mereka, padahal akupun tidak menyangka jika pertolongan Mas Gagah malah membuat boomerang untukku.
“ Cukup, kalian jangan menghina Inayah lagi, Dia tidak bersalah, belum tentu juga kalian lebih mulia dimata Tuhan.” Mas Gagah membelaku karena Mas Gagah tidak suka dengan cacian yang ibu-ibu lontarkan kepadaku.
“ Sudah tak apa Mas, jika ada seseorang yang menghina dan mempermalukan kita dengan sesuatu yang mereka ketahui, maka janganlah kita membalas dengan sesuatu yang kita ketahui pada diri mereka.” Aku memberanikan diri untuk berbicara.
“Anak dan ibu sama saja,” celetuk Bu Siti.
“Ibu boleh menghinaku, tapi jangan Ibuku!” aku sedikit mengeraskan suaraku karena aku tidak terima jika Ibuku ikut mereka hina.
Mereka menghina Ibuku karena Ibuku seorang janda. Rupanya selama ini mereka takut suami mereka menyukai Ibuku, padahal Ibu sudah berjanji padaku jika Ibu tidak akan menikah lagi karena Bapak adalah satu-satunya laki-laki yang Ibu cintai dan tak akan tergantikan.
“ Mau kalian apa?” Tanya Mas Gagah sambil melirik sinis ibu-ibu yang terus saja nyinyir.
“ Kalian sudah berbuat mesum, nikahilah itu si Inayah,”ujar Bu Siti.
Mas Gagah mengerutkan dahinya,” Apakah jika saya menikahi Inayah kalian akan berhenti menghinanya?”
“ Sudah Mas, ayo kita pergi dari sini, jangan hiraukan mereka.” Inayah berusaha menarik kaos Mas Gagah yang masih basah.
“ Tidak Nay.”
“ Jika kami mau, apakah sampean juga mau menikahi Inayah?” Bu Siti sengaja menjebak dengan pertanyaan yang dibolak-balik.
“Oke saya bersedia menikahi Inayah sekarang juga.” Mas Gagah menjawab tanpa keragu-raguan.
Aku langsung membelalakan mataku tidak percaya dengan ucapan Mas Gagah yang baru saja aku dengar.
“Cukup Mas, jangan ikuti kemauan mereka, kita tidak bersalah.” Aku berusaha menyadarkan Mas Gagah agar menarik kembali ucapannya.
“Tidak, jika aku tidak menikahimu, lantas kamu akan menjadi perawan tua, pemuda disini tidak akan ada yang mau menikahimu, aku tidak mau menghancurkan masa depanmu Nay.” Itulah alasan yang keluar dari mulut Mas Gagah.
“Mas, jodoh ada yang mengatur, aku tidak takut dengan apa yang mereka ucapkan.” Aku terus saja meyakinkan Mas Gagah agar menarik ucapannya.
“Ya sudah, mungkin ini sudah jalanmu menemukan jodoh,” jawab Mas Gagah dengan entengnya.
Aku semakin tidak mengerti dengan sikap Mas Gagah. Kinar tiba-tiba menyenggol lenganku lalu tersenyum. Aku pun tidak mengerti dengan senyuman Kinar itu.
Karena Mas Gagah sudah sepakat akan menikahiku dalam waktu dekat, menunggu Ibuku pulang dari rumah sakit, semua warga akhirnya bubar, mereka tetap akan menagih janji pada Mas Gagah untuk menikahiku.
Aku dan Mas Gagah pulang diantar oleh Kinar. Pak Damar meminta maaf padaku juga pada Mas Gagah atas sikap warganya. Mas Gagah dan aku memaklumi karena memang peraturan di desaku memang sangat ketat dan warga masih menjunjung tinggi norma agama dan kesopanan.
Sesampainya di rumahku, aku di sambut Bi Asih yang sudah lama menungguku, sampai Bi Asih sudah memasak sayuran yang ia beli pada tetangga di samping rumahku. Bi Asih keheranan melihat baju Mas Gagah yang basah dan bajuku yang sudah berganti dengan baju Kinar. Mas Gagah segera masuk kedalam rumah lalu mengganti bajunya. Aku masih saja terdiam.
“ Ada apa ini Nay?” Tanya Bi Asih.
Aku menunduk tidak kuasa untuk menceritakan semuanya. Mas Gagah tiba-tiba muncul lalu duduk di sebelahku, Mas Gagah menceritakan semua kejadian dengan sebenar-benarnya tanpa dilebih-lebihkan apalagi dikurangi.
Bi Asih dan Mang Sobar tampak terkejut, Bi Asih lalu mendekatiku dan memelukku, akupun membalas pelukan dari Bi Asih. Bi Asih menepuk-nepuk punggungku dan memberi nasehat padaku agar aku bersabar dengan takdirku yang tiba-tiba menjadi seperti ini.
Mas Gagah meminta Bi Asih menyiapkan makanan karena ia sudah begitu lapar. Kami pun makan bersama, di sela-sela makan, Mas Gagah menghubungi orang kepercayaannya meminta mengantarkan dokumen penting seperti akta, kartu keluarga dan ijazah terakhirnya serta surat numpang menikah dari Jakarta. Mas Gagah ingin dokumen itu segera disiapkan dan dikirim kilat ke kampungku.
menurut ku ya thor 🤭✌