NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga keunguan. Eliza melangkah keluar dari sebuah toko kue ternama dengan kantong belanjaan di tangannya. Hatinya berbunga-bunga, ia tidak sabar untuk berbagi kabar gembira kepada Papa Doni, Saka serta kakek Harison bahwa ia resmi diterima di Apex Core.

Namun, nasib berkata lain. Saat ia baru saja mencapai pintu mobilnya yang terparkir di area yang agak sepi, empat pria berjaket lusuh tiba-tiba muncul dari balik pilar beton. Dalam hitungan detik, salah satu dari mereka sudah menyudutkan Eliza ke pintu mobil, sementara yang lain mengacungkan pisau lipat yang berkilat terkena cahaya lampu jalan yang mulai menyala.

"Serahkan tas dan kunci mobilmu, cepat!" gertak salah satu perampok dengan napas bau alkohol.

Orang-orang di sekitar area parkir mundur ketakutan. Senjata tajam itu membuat siapapun yang melihatnya enggan ikut campur.

Eliza mematung. Otot-ototnya menegang. Namun wajahnya tetap tenang. Selama tiga tahun terakhir, di bawah pengawasan ketat Maudi yang pernah hidup dalam dunia intelijen , Eliza telah dilatih bela diri secara intensif untuk menjaga dirinya sendiri. Ia sudah bersiap melakukan tendangan memutar yang sudah ia latih ribuan kali untuk melumpuhkan penyerang di depannya. Ia yakin, dalam situasi ini, ia bisa melumpuhkan keempat pria tersebut.

Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah mobil sedan hitam melesat masuk dan berhenti dengan rem mendecit tepat di samping mobil Eliza.

Seorang laki-laki turun dengan gerakan yang begitu tenang namun mematikan. Ia tidak memakai penyamaran apa pun hari ini. Wajahnya yang blasteran Arab Saudi terlihat sangat tegas, rahangnya kokoh, dan matanya memancarkan aura dingin yang membuat keempat perampok itu mendadak ragu.

Itu Faas.

"Tinggalkan dia," suara Faas rendah, tenang, namun memberikan tekanan yang begitu kuat.

Salah satu perampok tertawa meremehkan dan mencoba menusukkan pisaunya ke arah Faas. Tapi bagi Faas, gerakan pria itu terlihat seperti gerak lambat. Dengan satu kelincahan yang mustahil dilakukan manusia biasa, Faas menangkis tangan perampok itu, memutar pergelangan tangannya, dan melumpuhkannya hanya dengan satu bantingan ke aspal.

Eliza yang sudah bersiap melawan, perlahan menurunkan tekanannya , Ia tertegun. Ia membiarkan tubuhnya bersandar di pintu mobil, matanya tak lepas dari gerakan Faas yang sangat terukur, efisien, dan mematikan. Setiap pukulan dan tendangan Faas terasa seperti sebuah tarian yang sempurna. Tidak ada gerakan yang sia-sia.

Dalam waktu kurang dari dua menit, keempat perampok itu sudah terkapar tak berdaya di lantai parkir dengan erangan kesakitan. Faas berdiri tegak, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan remeh....

Tepat saat itu, sirine polisi menderu mendekat. salah satu dari orang yang melihat kejadian itu segera menghubungi polisi terdekat karena takut dengan ancaman perampok yang membawa senjata tajam. Polisi segera meringkus para pelaku yang sudah tidak bisa berkutik. Dan membungkuk hormat pada Faas yang telah membantu melumpuhkan para perampok.

Eliza masih terdiam, dunianya seolah melambat. Ia menatap laki-laki di depannya. Ketampanan Faas dengan garis wajah Arab yang tajam dan sorot mata yang teduh namun misterius , membuat jantung Eliza berdegup di luar kendali. Wajahnya terasa panas, semburat merah merona menjalar hingga ke telinganya.

Setelah para perampok itu digiring ke dalam mobil polisi, keheningan mendadak merayap di antara mereka berdua di area parkir yang kini mulai sepi. Eliza masih memegangi kantong kuenya dengan erat, sementara jantungnya masih bertalu-talu, bukan karena takut pada perampok, melainkan karena pesona laki-laki asing di depannya.

Faas merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut akibat perkelahian singkat tadi. Ia berbalik, menatap gadis berjilbab rapi yang kini wajahnya bersemu merah muda.

"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Faas dengan suara beratnya yang tenang.

Eliza tersentak kecil, lalu menggeleng cepat. "N-enggak, saya tidak apa-apa. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Kak... sudah menolong saya semalam. Eh, maksudnya sore ini." Eliza merutuki lidahnya yang mendadak kelu karena gugup.

Padahal, Eliza sebenarnya sudah bersiap menggunakan teknik bela diri yang diajarkan Maudi. Namun, melihat kecepatan dan kekuatan laki-laki di depannya ini, Eliza merasa seluruh teorinya menguap begitu saja. Laki-laki ini berada di level yang jauh berbeda.

Faas memperhatikan wajah gugup Eliza, lalu menyunggingkan senyum tipis, jenis senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan di rumah keluarga Abrari. "Sama-sama. Kebetulan saya lewat dan melihat mereka memojokkanmu."

Eliza menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan debar di dadanya dan mengumpulkan keberanian untuk bersikap sopan.

Tanpa mengulurkan tangan, Eliza membungkuk hormat "Kenalkan, nama saya Eliza," ucapnya dengan nada selembut mungkin.

Faas menatap Eliza lembut"Faas."

"Kak Faas?" ulang Eliza, memastikan pendengarannya. Nama yang singkat, namun terdengar sangat pas dengan pembawaannya yang misterius dan berwajah blasteran Arab itu.

"Iya, Faas saja," jawab Faas santai, membuat Eliza semakin gugup, setelah sekian lama, baru kali ini Eliza merasakan dadanya berdebar-debar.

Eliza memundurkan langkahnya satu senti, meremas tali tasnya. Ia merasa berutang budi besar, dan rasanya tidak sopan jika membiarkan penyelamatnya pergi begitu saja tanpa ada kesempatan untuk membalas kebaikan tersebut.

"Uhm... Kak Faas, kalau boleh... boleh saya minta nomor teleponnya, eh tapi tidak usah dech, takut istri atau kekasih Kak Faas nanti salah paham?" tanya Eliza dengan suara yang agak mengecil di akhir kalimat. Takut dikira sebagai perempuan agresif, ia buru-buru menambahkan, "M-maksud saya, sebagai rasa terima kasih, mungkin lain kali saya bisa membalas Budi ? Hanya untuk membalas kebaikan Kakak hari ini."

Faas terdiam satu detik. Di dunia agensinya dulu, bertukar nomor telepon dengan orang asing adalah hal yang dilarang keras demi keamanan. Namun melihat binar tulus dan wajah bersalah di mata Eliza, benteng pertahanan Faas melunak. Laki-laki itu meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel pribadinya bukan ponsel khusus Apex Core maupun Sektor 7..

"Boleh. Ketik saja nomor ponselmu di sini, nanti saya miscall, dan tenang saja, saya masih single" kata Faas sambil menyodorkan ponselnya.

Wajah Eliza semakin memerah mendengar kata single.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Eliza menerima ponsel hitam milik Faas. Ia mengetikkan deretan nomor ponselnya dengan hati-hati, lalu mengembalikannya. "Sudah, Kak."

Detik berikutnya, ponsel di dalam tas Eliza bergetar.

"Itu nomor saya. Sudah masuk, kan?" tanya Faas.

Eliza meraba tasnya dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit indah. "Iya, sudah masuk. Terima kasih banyak ya, Kak Faas."

"Sama-sama, Eliza. Masuklah ke mobilmu dan segera pulang. Hari sudah mulai gelap," ucap Faas dengan nada yang terdengar pelan namun protektif.

"Iya, Kak. Saya pamit duluan. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Faas berdiri di samping mobilnya, memperhatikan mobil sedan putih milik Eliza yang perlahan bergerak meninggalkan area parkir dan membelah jalanan Jakarta. Setelah mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, Faas melihat layar ponselnya. Di sana tertera nama baru di daftar kontaknya, Eliza.

Faas memasukkan ponselnya ke saku, mengembuskan napas panjang sembari menatap langit Jakarta yang kini sepenuhnya gelap. Sebuah awal perkenalan yang murni, tanpa ada embel-embel bahwa ia adalah bos besar di tempat Eliza akan bekerja besok pagi.

"Besok pagi di kantor, permainan sandiwara kita yang sebenarnya baru akan dimulai, Eliza", batin Faas dengan senyum misteriusnya sebelum masuk kembali ke dalam mobil.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!