"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan belas
Diandra berulang kali menghembuskan nafas, rasa sesak masih saja menggumpal dalam dadanya.
Kekesalan dan kecurigaan ibunya elang masih bisa ia maklumi, namun penghinaan yang wanita paruh baya itu ucapkan dan didengar oleh killian, sungguh membuat diandra marah.
Kalau putranya wanita itu saja begitu berharga di matanya, tentu bagi diandra, tiada yang lebih berharga dari killian di dunia ini.
Diandra mendekap hangat tubuh putranya yang tertidur dalam pelukan, tangannya masih mengelus-elus lembut kepala bocah tampan itu.
"hhhhhhhh" desahnya lagi, raut wajahnya masih kesal.
Lirikan supir taksi tak lagi ia hiraukan, diandra benar-benar kesal.
"turun di sini saja pak!" pintanya pada supir yang hendak masuk ke dalam gang rumahnya.
"jam segini masih banyak bocah yang bermain di jalanan gang"
Supir tua itu mengangguk, dan berhenti tepat di depan gang.
"terima kasih neng!" ujar supir itu sesaat sebelum diandra turun.
Diandra mengangguk sopan dan mengatakan sama-sama. Diandra menggendong killian dalam dekapannya, sementara sebelah tangannya kerepotan membawa belanja dan mainan killian tadi.
Lingkungan tempat diandra tinggal dan juga para tetangganya sangat ramah, kepalanya tak henti mengangguk dengan senyum ramah, membalas sapaan para tetangganya.
Sampai diandra masuk ke dalam rumah, suara sapaan para tetangga baik hati itu masih terdengar. Sebelum ia menutup pintu, diandra masih tersenyum.
"hhhhhhh" desahnya sedikit kasar, wajahnya langsung berubah sendu.
"lian.." panggilnya lembut, berbisik di telinga putranya itu.
"bangun nak, mandi dulu yah, makan, habis itu baru bobok lagi"
Terasa gelengan bocah itu di pundaknya, "lian mau bobok aja, maa"
Diandra mengalah, ia melangkah menuju kamar killian, dan meletakkan putranya turun perlahan.
Hatinya sungguh terenyuh, penyesalan terbesar dalam dirinya adalah membawa killian ke restoran hari ini. Sehingga putranya itu mendengar hal yang tak patut didengarnya.
Setelah yakin killian sudah kembali nyenyak, diandra beranjak ke kamarnya.
Kenangan diandra kembali ke 5 tahun lalu, saat pertama kali bertemu elang. Elang sangat baik, dan diandra sadari kalau pria itu menyukainya sejak saat pertama kali bertemu.
Kala itu diandra sudah memiliki killian, usia putranya saat itu sudah 1 tahun.
Elang banyak membantu dan menolong diandra, sejujurnya hutang budi diandra pada elang tak terhitung banyaknya.
Ia juga sempat mempertimbangkan menerima perasaan pria itu, walau rasa minder masih menguasainya.
Namun diandra sering mendengar ibunya elang keberatan atas kedekatan mereka, diandra bisa apa, sebagai wanita yang memiliki seorang anak yang selalu dipandang sebelah mata, ia memilih mundur.
Diandra mencoba memejamkan matanya, namun ucapan-ucapan ibunya elang selama ini kembali menyadarkannya betapa kejamnya anggapan dunia pada seorang single parent seperti dirinya.
Lampu kamar sudah ia matikan namun matanya tetap enggan terpejam, beberapa kali desah nafasnya masih terdengar berat berhembus.
<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>
Xavier menatap lama layar ponselnya, barusan geraldine menghubunginya. Wanita itu meminta xavier menjemputnya malam ini, ia ingin makan malam.
Xavier menghela nafasnya berat, rasa penyesalan mulai hadir, mengapa ia harus mengajak wanita itu bertunangan.
entah apa yang ada di pikirannya saat itu, "hhhhhhhhh" nafasnya kembali terdengar berat.
"ada apa pak?"
Xavier menoleh, menatap leo tanpa ekspresi.
"tolong suruh della reservasi restoran sweet night untuk malam ini" perintahnya,
"dan jangan lupa.." ujarnya saat hendak beranjak pergi.
"kamu wakili saya melihat proyek untuk siang ini"
Leo mengangguk patuh,
"saya sedang tidak mood, mungkin saya tidak masuk sampai sore nanti"
"baik pak" sahut leo sopan.
Xavier melangkah pergi meninggalkan leo yang menatap kepergiannya.
pikirannya saat ini sangat ruwet, xavier menyetir mobilnya dengan sedikit laju, 2 hari sejak ketemu diandra ingatannya selalu tertuju ke wanita itu.
Xavier memiliki nomor diandra, namun keberaniannya untuk menghubungi seakan menguap entah kemana. Dia tak pernah seperti ini, xavier tak pernah gugup dengan wanita secantik apapun. Namun diandra selalu membuatnya rindu.
Xavier menoleh cepat, suara rem mobilnya yang mencicit mengundang perhatian sekitarnya. Termasuk seorang wanita yang sedang berdiri di depan sebuah toko dengan seorang anak kecil.
Xavier memicingkan matanya, ia memastikan benarkah itu diandra dan putranya. Xavier memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko, setelah yakin kalau itu memang diandra dan putranya.
Sementara setelah terkejut karena suara decitan rem mobil tadi, diandra sudah masuk ke dalam sebuah toko pakaian.
Diandra ingin membeli seragam sekolah untuk killian, minggu depan killian akan masuk ke paud.
Tangannya masih sibuk memilih, diandra tersentak kaget. Teriakan killian membuatnya tersentak.
"om xavi...!"
Diandra menoleh, killian sudah berlari ke arah pria itu yang tertawa senang menyambutnya.
Diandra menghela nafasnya berat, lagi-lagi ia seperti ini. Selalu ketaknyamanan hadir di setiap kemunculan pria itu, diandra bukan tak menyukainya, hanya saja dia selalu gugup.
Diandra tak tahu berapa lama lagi dia sanggup bertahan, sejujurnya rasa yang lama ia pendam ini, perlahan kembali mengisi hatinya.
"ngapain di sini, bocah ganteng?"
Killian tertawa riang, bocah itu menunjuk diandra, sembari xavier berjalan ke arahnya.
"lian mau masuk sekolah om, mama beli seragam lian"
Xavier menatap diandra yang berdiri gelisah, senyumnya masih tersemat di bibirnya.
"wow, keren.." puji xavier, menurunkan killian begitu mereka tiba di hadapan diandra.
"bocah ganteng om xavi bakalan jadi anak sekolahan paling keren nantinya"
Killian tertawa senang, diandra hanya bisa tersenyum melihat betapa dekatnya interaksi antara xavier dan killian.
"apa kabar, di?"
Diandra masih tersenyum, "baik. Kamu apa kabar?"
Xavier mengedikkan bahunya dan tersenyum, "seperti yang kamu lihat!"
Killian mengajak xavier berbicara, bocah itu menarik tangan xavier menjauhi mamanya.
"om.." panggil killian berbisik, kedua tangannya dirapatkan membentuk corong.
Xavier segera menundukkan tubuhnya, dia mencangkung di depan killian yang menatapnya dengan serius.
"jangan bilang siapa-siapa yah, ini rahasia!"
Xavier mengangguk tersenyum lucu, ia berpura-pura serius dengan menyodorkan telinganya.
Xavier masih tersenyum, kepalanya mengangguk-angguk lucu. Tiba-tiba wajahnya berubah serius, rahangnya menegang.
Matanya seketika berubah tajam, menatap diandra.
"o'om jangan bilang ke mama!"
Xavier mencengkeram lembut bahu bocah tampan itu, menatap lekat killian yang menatapnya penuh permohonan.
"lian dengar sendiri?"
Kepala bocah itu mengangguk mantap.
"kurang ajar" desis xavier, terdengar gemeletuk gerahamnya yang beradu.
Ia memalingkan wajahnya lagi, menoleh ke arah diandra yang juga menoleh ke arahnya. Sepertinya diandra sudah selesai membayar, di tangannya tertenteng bag bermerk toko.
Diandra menatap lekat xavier, matanya penuh tanya. Namun xavier dengan cepat memalingkan wajahnya lagi.
Tanpa sadar, hatinya merasa sakit dan sedih sekaligus. Ternyata wanita itu hidupnya sangat menyedihkan, rasanya ingin sekali ia menawarkan bantuan pada diandra, tapi kira-kira maukah diandra menerima bantuan darinya.
"kamu kenapa?"
Xavier mendongak, diandra sudah berdiri tepat di depannya, menatap penuh tanya.
Xavier tercekat, sekaligus terpesona sekaligus. Aroma mint itu kembali tercium di hidungnya. Perlahan xavier berdiri, masih tetap menatap mata indah itu.
"maukah kamu jadi pacarku?"
Bola mata diandra membola seketika, mulutnya terperangah tak percaya, diandra terkejut setengah mati rasanya.
Bersambung...