NovelToon NovelToon
Aku Bukan Malaikat

Aku Bukan Malaikat

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:347.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."

Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.

Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Request

Fatma berdiri dari sofa lalu berjalan menghampiri tiga orang yang sedang berbicara pelan, Theo, Gwen dan Zach. Ketika melihat Fatma mendekat, mereka menghentikan pembicaraan. “Maaf mengganggu kalian,” ucap Fatma.

Gwen memasang senyum. “Tidak mengapa Bunda. Ada yang bisa kami bantu?” tanya Gwen dengan sopan.

“Saya mau berterima kasih kepada Theo.”

Theo terlihat terkejut. Selalu seperti itu. Ia terbiasa menolong orang lain tapi tak pernah berpikir akan mendapatkan pamrih, bahkan hanya sekedar ucapan terima kasih.

“Terima kasih telah menolong putri saya. Saya tidak tahu bagaimana nasibnya kalau kamu tidak datang tepat waktu,” ujar Fatma.

Theo memberikan senyuman yang menenangkan. “Hanya kebetulan, Bund. Semuanya atas ijin Yang Kuasa.”

Fatma mengangguk. “Iya, saya bersyukur Farah baik-baik saja. Keluarga kalian banyak membantu putri saya. Saya sangat berhutang budi.”

“Oh Bunda jangan begitu,” sahut Gwen ia menyentuh lengan Fatma dan mengelusnya pelan. “Farah juga sering membantu saya.” Fatma membalas sikap manis Gwen itu dengan senyuman.

Farah melihat kedekatan ibunya dengan keluarga Ilyas. Sejak peristiwa perceraiannya, Farah merasa ibunya lebih bisa menunjukkan emosinya dengan wajar. Wajahnya lebih ekspresif. Sebuah perubahan besar dari sosok yang semula Farah anggap sangat kaku dan selalu mengekangnya. Mungkin bertambahnya usia juga berpengaruh pada perubahan sikap ibunya.

Theo tampak berpikir serius. “Oh ya, Bund apa Farah sudah lepas masa iddah?” tanyanya kemudian.

Fatma tampak terkejut dengan pertanyaan Theo.

“Ada apa Theo?” tanya Gwen juga.

“Tidak. Aku tadi mendengarkan penjelasan Farah sewaktu memberi keterangan polisi. Ian berbuat nekat seperti itu karena Farah belum lepas masa iddah. Dalam artian mereka masih bisa rujuk sekarang meskipun Farah menolaknya.

Fatma tampak berpikir serius. Kemudian ia mengangguk lalu melihat Farah yang melihat ke arahnya. “Bunda melupakan hal penting ini. Bunda orangtua yang tidak becus,” ucapnya lirih. Meskipun begitu semua orang di dalam ruangan itu bisa mendengarnya dengan jelas.

“Bund ....” Wahyu berdiri dan menenangkan istrinya.

“Benar, Yah ini kesalahan kita. Kita sebagai orangtua seharusnya mengetahui hal ini. Wanita dalam masa iddah sebaiknya masih dalam lindungan suaminya kalau mereka cerai baik-baik. Tapi kalau begini, seharusnya Farah masih di rumah kita.”

Theo belum berhak bertindak jauh mencampuri hidup Farah. Namun pria itu tahu apa yang ingin ia lakukan untuk melindungi Farah.

Malam sudah larut waktu itu saat Theo meminta ijin Farah. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Farah. “Aku gak bisa tenang kalau belum memastikan kalau kamu benar-benar aman. Jadi bagaimana pendapatmu jika aku memberikan seorang bodyguard untuk menjaga kamu.”

Farah membeliak. “Bodyguard?”

“Ya, kalau kamu tidak mau pindah ke tempat lebih aman ....”

“Theo,” potong Farah, “Daerah sini aman.” Angka kriminal di daerah itu sangat kecil, toko-toko banyak yang tidak menyewa pegawai khusus untuk menjaga keamanan.

Theo menggeleng. “Kamu ngomong gitu sehabis penyerangan tadi?” ia menaikkan alisnya. Menatap Farah tak percaya.

“Ini hanya hari sialku saja,” elak Farah. “Ian adalah masa laluku. Mungkin ia berpikir kalau di antara kami belum selesai. Aku sendiri tak menyangka kalau dia bisa berbuat senekat itu.”

Theo menggeleng lalu tetap memaksa Farah memilih. “Pilih salah satu, kamu mau tetap di sini dengan penjagaan bodyguard dariku atau pindah dari sini?”

Farah tak mengerti maksud Theo. Ia memerintahkan seorang bodyguard untuk menjaga Farah. Tentu saja itu terlalu berlebihan. Menggaji tiga orang karyawan saja sudah lebih dari cukup, jika menambah satu orang lagi sebagai pihak keamanan Farah belum bisa.

“Aku gak sanggup gaji karyawan lagi, Theo. Butik ini baru buka,” ujar Farah.

“Farah,” Mendengar suara bariton rendah dari Theo yang menyebut namanya, membuat perut Farah merasakan ada yang bergerak-gerak di sana. Seperti kepakan sayap kupu-kupu.

“Bodyguard itu dari aku, jadi aku yang membayar mereka. Agar kamu aman, Farah.”

Farah menghela napas panjang. Ia memandang wajah Fatma dan Wahyu, tapi mereka sepertinya juga menunggu keputusan Farah. “Kalau aku pindah, pindah ke mana?” tanya Farah yang masih belum siap dengan usulan Theo. Dia baru membuka butik itu kurang dari empat bulan, mana mungkin ia pindah.

“Ke orangtua kamu dulu sampai masa iddah kamu selesai.”

“Aku tidak bisa Theo. Kemungkinan sampai akhir bulan ini masa iddah aku selesai. Pindahan hanya untuk waktu dekat bikin capek. Lebih baik terusin di sini aja, nanti kalau uangku sudah ngumpul aku bisa sewa tempat lain.”

Mendengar alasan Farah yang panjang membuat Theo tersenyum. Senyum Theo lagi-lagi membuat perut Farah merasakan sebuah sensasi. Kali ini bukan kupu-kupu kecil dengan sayap adi warna, tapi burung Rangkong yang kepakan sayapnya bisa didengar sampai jauh.

“Kalau begitu, kamu setuju pakai bodyguard, kan?” tanya Theo.

Farah mengerjab-kerjab. “Aku bukan selebriti Theo, jangan berlebihan.”

“Siapa bilang bodyguard itu kuperintahkan menjaga selebriti? Mereka kuperintah menjaga calon istriku.”

Farah membeliak. Ia yakin kalau sekarang yang mengepakkan sayap di perutnya pastilah pterodactyl.

Di hadapan ayah dan ibunya, Theo berani mengatakan hal itu. Farah terlihat panik menatap Fatma dan Wahyu bergantian. Kedua orangtua Farah juga sama terkejutnya mendengar kalimat Theo. “Theo, bercanda kamu gak lucu,” ujar Farah serius.

Theo tertawa sambil menggeleng. “Aku dua ribu persen serius Farah.” Theo menatap mata Farah dengan intens. Membuat Farah terpaku di tempatnya. “Awal bulan depan, tunggu aku. Aku akan datang melamar kamu.” Janji itu Theo ucapkan dengan wajah serius. Tanpa ada senyuman yang biasanya menghias wajah tampannya.

“Oke. Sepertinya aku harus pulang dulu. Ini sudah hampir tengah malam.” Saat Theo mengatakan hal itu, Farah masih tetap membisu. Theo lalu menyentuh lembut kepala Galen yang tertidur di pangkuan Farah. Lalu Theo mencium sisi kepalanya dengan penuh kelembutan. Ia tersenyum kecil sewaktu berdiri lalu berpamitan pada Wahyu dan Fatma untuk pulang. Demikian juga Gwen dan suaminya juga berpamitan.

Fatma melepas kepergian dua mobil keluarga Ilyas dari depan butik Farah. Lalu ia masuk kembali dan mendapati Farah masih melamun di tempatnya. Fatma meminta Galen dari pangkuan Farah. “Biar Bunda yang gendong dia ke atas.” Farah kemudian memberikan Galen dan berdiri mengikuti langkah Fatma yang membawa Galen melewati tangga.

Fatma membaringkan cucunya kembali ke box bayi lalu ia mengajak Farah segera membersihkan diri. “Mandilah dengan air hangat, lalu segera tidur. Jangan pikirkan apapun. Bunda akan menginap di sini. Kita bicara besok karena ini sudah terlalu malam.” Dan Farah menuruti perintah bundanya, ia memang butuh istirahat.

----------------------------

Mereka yang berisik di dalam perut Farah ketika Bang Theo memanggil namanya.

Gantian mereka yang beraksi ketika Bang Theo tersenyum manis.

***Wadidaw, yang ini nyeremin Gaes 😆

Bang Theo kalau ngelamar bikin perut cewek kayak gini.

"Padahal aye serius, Mak. Jangan rusak suasana dong." Theo protes keras 🤭***

1
Sunny Kwok
Luar biasa
Ran Aulia
👍😍😍😍😍
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞💞
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
Sandisalbiah
jangan² emiliano yg termasuk dlm kartel narkoba itu kan jd dilema buat theo..
Lea Octa
maaf Thor aku memghalu nya ngebayangin Raihaanun bukan Adinia terlalu dewasa dibandingkan dg Gwen nya klo Adinia 🙏
Lea Octa
setelah melihat semua visual...aku jd terbayang Raihaanun kulit nya eksotis Indonesia banget.... soalnya Gwen, Zach dan Theo nya PD masih muda ....klo visual nya Adinia Wirasti ketuaan jdnya dibandingkan mrk semua nya maaf ya Thor 🙏🙏🥰
Lea Octa
Untung Farah punya temen yang bener² mendukung dan memberikan bantuan yg bisa bikin Farah kuat dan sanggup jd singel parent
Lea Octa
iya bener Farah jangan mau bertahan percuma apa lg Ian laki² egois udh tahu salah tp tetep arogan berasa paling bener
Lea Octa
baru baca aja udh kaya begini....kesellll nyebelin banget suaminya...kasian Farah
Pratiwi Lusi Arifin
kangen bang Zach😍😍
Pratiwi Lusi Arifin
bhuahahaha
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
Pratiwi Lusi Arifin
beh ga sabar euyy Theoo
Pratiwi Lusi Arifin
ngakak aseli
bumi kepada othor
bumi kepada othor
Pratiwi Lusi Arifin
emang sich kalo badan bulet trus yg mo ngelamar se ganteng ituh apa ga mikirnya becanda kalii
Pratiwi Lusi Arifin
suka mba gwen abang Zach
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
Pratiwi Lusi Arifin
Theo ichhh
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
Pratiwi Lusi Arifin
kalo sayah sih ok ma visuslisasi Farah
Pratiwi Lusi Arifin
komunikasi 2 arah itu penting
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
Liesdiana Malindu
jgan2 Theo dalang penjebakan Sandra??
kan cerita ini ada mafia2nya juga.
Hesti Ariani
galen manis banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!