"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran yang Dinantikan
Di rumah kakek dan nenek yang sederhana nan hangat, Gege makan dengan lahapnya. Lauk kelaparan membuat kenikmatan masakan si Nenek yang memang sudah lezat semakin bertambah. Daging jantung pisang pun terasa seperti daging sungguhan di lidah Gege yang terbiasa memakan makanan berkelas sejak tinggal di kota.
"Ini pasti yang disebut dengan masakan ibu. Kelezatannya bahkan melebihi makanan mahal di restoran ternama. Huhuhu," komentar Gege menangis haru dengan mulut penuh makanan.
"Berbicaralah setelah kau menelan makananmu !" hardik si Kakek yang duduk bersila sambil bersedekap.
"Iya," Gege melanjutkan makannya.
Si Nenek hanya tersenyum memandang Gege, lalu berkata, "Habiskanlah ! Nini akan memasak lagi untuk makan malam kita semua."
Kemudian si Nenek pun beranjak ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Tangan si Nenek mulai sibuk memegang ini dan itu mengerjakan ritual penciptaan pengisi perut.
"Daging apa ini ? Rasanya sedikit berbeda, tapi sangat lezat," tanya Gege lagi-lagi dengan mulut penuh makanan.
"Itu bukan daging hewani. Tapi daging nabati dari ontong hahaha," sahut si Nenek yang berada di dapur tidak jauh dari Gege dan kakek.
"Oh. Jadi ini tumis jantung pisang ? Hebat !" decak kagum Gege sambil memandang makanannya.
Gege tidak menyangka jantung pisang bisa diolah menjadi makanan selezat itu. Ia pun terus mengambil sayuran itu hingga tidak tersisa secuil pun di wadahnya.
Si Kakek berdehem. Memberi kode kepada Gege untuk tidak banyak bicara saat makan. Gege yang memahami itu pun kembali makan dengan tenang.
"Kok nggak ada suaranya ya dari tadi ? Apa jangan-jangan sudah mati karena beberapa hari terkurung di dalam ontong emas ?" si Kakek yang memperhatikan jantung pisang emas dengan penuh rasa penasaran sedari tadi pun mengambilnya dari hadapannya. Kemudian ia mengocok-kocoknya di dekat telinga kiri dan kanan secara bergantian.
"Maksud Kek Aki suara tangisan bayi ? Masih ada kok. Tadi kukasih peredam biar nggak berisik selama perjalanan," Gege menoleh dengan pipi menggembung penuh isi.
Perkataan Gege pun disambut dengan tatapan tajam oleh si Kakek, disertai dengan nasihat dalam wujud pertanyaan, "Kau lupa adab makan, hah ?"
Tanpa banyak tanya Gege langsung mempercepat makannya. Ia ingin segera bisa berbicara dengan bebas.
"Peredam. Hm...berarti masih hidup ? Kita harus segera mengeluarkannya !" seru si Kakek, lalu dengan cepat berdiri.
"Aki mau kemana ?" tanya si Nenek yang melihat si Kakek hendak keluar rumah.
"Ambil martil sama kapak," jawab si Kakek menghentikan langkahnya sejenak.
"Janganlah, Ki ! Bagaimana kalau isinya siluman kera ?" cegah si Nenek.
"Itu kan mimpi Nini. Kan kasihan kalau isinya bayi beneran," jawab si Kakek lalu beranjak pergi mengambil barang yang ia sebutkan.
"Nek Nini nggak perlu khawatir. Kan ada aku di sini. Aku akan melindungi kalian berdua," ucap Gege yang melihat si Nenek memandang si Kakek dengan khawatir.
"Benar juga," batin si Nenek tersenyum ke arah Gege.
Sekarang si Nenek bisa bernapas sedikit lega. Ia yakin semua akan baik-baik saja. Karena dalam mimpi buruk yang dilihatnya tidak ada Gege. Kenyataan yang sedang berlangsung di hadapannya kali ini pasti tidak akan berakhir sama dengan mimpinya.
Tidak lama kemudian si Kakek datang dengan membawa martil besar dan kapak. Ia meletakkan martil ke lantai. Si Nenek pun datang mendekat.
"Kalian jangan dekat-dekat ya ! Biar nggak kena pecahannya," kata si Kakek memberi peringatan.
Gege berdiri dan berjalan sedikit mundur dari meja makan. Si Nenek juga melakukan hal yang sama dengan sedikit harap-harap cemas.
Si Kakek mulai mengangkat kapaknya ke atas. Lalu, dengan kekuatan penuh ia mengayunkan kapak tersebut ke bagian tengah jantung pisang. Seketika bunyi dentuman keras terdengar saat mata kapak bersentuhan dengan permukaan jantung pisang emas.
Ketiganya membulatkan mata menyaksikan reaksi yang terjadi. Hanya sepatah kata yang terlontar dari mulut ketiga manusia yang sedang berdiri mematung sejenak itu.
"HEH ?!"
"Sama seperti mimpiku," batin si Nenek.
"Kapaknya ambyar...," lirih si Kakek tertegun menyaksikan kenyataan itu.
Si Kakek pun lantas mengambil martil dan memukul jantung pisang emas dengan keras.
"Berhasil ?" ketiganya pun tersenyum saat mendengar bunyi retakan.
"Hahahaha sekeras apapun emas pasti akan pecah juga bila dihantam benda keras secara terus menerus," kekeh si Kakek sembari berkacak pinggang dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang satunya lagi masih memegang gagang martil besar.
Kemudian, si Kakek pun kembali memegang gagang martil dengan keduaa tangannya. Ia bermaksud hendak memukul sekali lagi jantung pisang emas tersebut. Akan tetapi,
"Elah walah dalalalalah, Ki ! Palunya yang rontok," ucap si Nenek.
"Emas macam apa ini ? Tempo hari dilebur pun tidak bisa. Sekarang dibelah menggunakan kapak dan martil pun bukannya terbelah, malah kapak dan martilnya yang pecah berkeping-keping," batin Gege keheranan.
Si Kakek pun menjatuhkan martil yang tinggal gagangnya saja sambil garuk-garuk kepala santai.
"Apa ndak ada cara lain buat membelah ini ontong yang saktinya kelewatan ya ?" tanya si Kakek seraya memandang si Nenek dan Gege secara bergantian.
"Aki sajalah yang mikir ! Nini mau lanjut masak. Oh iya, Ge, kamu mandi dulu sana ! Air mawarnya sudah siap tuh," ucap si Nenek lalu beranjak pergi ke dapur untuk menuang air rebusan mawar ke ember.
"Biar aku yang bawa airnya ke kolam, Nek !" pinta Gege seraya berlari kecil menyusul sang Nenek.
"Lah, Aki ditinggal sendirian saja nih ?" kata si Kakek seraya memandang keduanya yang pergi.
Kemudian, si Kakek kembali menatap jantung pisang emas yang tergeletak di atas meja. Ia duduk berjongkok, membersihkan serpihan martil dan kapak dari sekitarnya. Lalu, dengan lembut mengelus permukaan jantung pisang emas yang masih mulus dan kinclong itu.
"Nak Ontong yang cantik. Eh ? Apa ganteng ya ? Au ah nggak bisa diterawang. Pokoknya Nak Ontong yang cemerlang secermelang gigi dan otak Aki, hayo kasih tahu Aki bagaimana caranya menetaskanmu ?" bisik sang Kakek lembut dengan harapan si Jantung Pisang Emas akan membalas bisikannya itu.
Akan tetapi, si Kakek malah mendapatkan ide dari kata-katanya sendiri itu. Ia pun tersenyum dan segera melakukan idenya.
Sementara itu, Gege siap mengangkat ember yang sudah terisi penuh dengan air mawar mendidih.
"Kamu baru ketemu peta ya ? Tubuhmu seperti bau-bau peta," tanya si Nenek seraya mengembalikan gayung pada tempatnya.
Gege mengendus-endus tubuhnya, bahkan mengangkat tangannya dan mengendus ketiaknya. Tidak terlalu menyengat, tapi memang tercium bau peta dari tubuhnya.
Lalu, Gege pun menjawab, "Hahaha Nek Nini ini tahu saja."
"Sudah, sana berangkat berendam biar cucu Nini yang ganteng ini wangi lagi !" suruh si Nenek.
"Iya-iya. Oh iya, Nek ! Kenapa ya tiba-tiba peta-peta di gunumg ini jadi ganas ? Bukankah sebelumnya jinak-jinak ya ?" tanya Gege.
"Kalau itu Nini juga nggak tahu. Beberapa hari yang lalu mereka juga menyerbu rumah ini," ujar si Nenek.
"Apa ?! Jadi rumah ini tidak aman lagi buat Nek Nini dan Kek Aki ?!" sentak Gege terkejut.
"Kamu jangan banyak tanya, mending buruan mandi sana !" perintah si Nenek.
"Iya-iya," jawab Gege lalu berjalan ke luar rumah melalui pintu belakang sambil membawa ember berisi air mawar. Sementara si Nenek mengambilkan handuk dan baju ganti untuknya.
Gege terus berjalan hingga ia berhenti di depan pintu kayu. Ia menggeser pintu geser itu ke kanan, kemudian masuk ke dalam ruangan, dan menutup kembali pintu.
Ia melepaskan bajunya, memasukkannya ke keranjang, lalu menggeser satu lagi pintu yang ada di dalam ruangan. Tidak lupa ia kunci ruangan tersebut. Setelah itu, ia tuangkan air dari ember ke dalam kolam air hangat alami yang ada di sana, dan ia ceburkan tubuh letihnya ke dalam kolam dangkal tersebut.
"Haaaah, aroma mawar pemikat ini memang menenangkan. Seperti aroma terapi saja," desah lega Gege seraya menyandarkan punggungnya ke pinggiran kolam.
Ia memejamkan mata lalu mendongak ke atas. Atap transparan dari kolam air hangat pribadi itu membuat Gege bisa melihat langit yang mulai berubah warna kejinggaan saat membuka mata. Kaca-kaca buram yang mengelilingi tempat itu pun membuat cahaya keemasan sang mentari senja dengan mudah merayap masuk, menerangi seluruh ruangan. Gege mengambil air dengan tangannya, lalu ia guyurkan air dari tangannya itu ke wajahnya.
Seketika luka gores di pipinya pun menghilang. Gege bisa merasakan rasa perih yang memudar. Ia melihat kedua lengannya. Luka-luka cakaran peta sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas.
"Air hangat di sini memang ampuh untuk penyembuh luka," gumam Gege tertawa kecil.
"Ge, baju gantimu Nini taruh di gantungan ya !" teriak si Nenek seraya meletakkan pakaian dan handuk di gantungan yang ada di dalam ruangan.
"Iya, Nek !" sahut Gege dari dalam kolam.
Kemudian si Nenek keluar dari ruangan berlapis itu dan menutup kembali pintunya. Si Nenek kembali ke dapur untuk menuntaskan urusannya.
Gege menikmati acara berendamnya sejenak. Setelah dirasa cukup lama, ia pun mengakhiri acara santainya, lalu mengeringkan tubuhnya dan memakai baju yang telah disiapkan oleh sang Nenek. Kini aroma segar nan wangi tercium dari tubuh Gege.
Gege pun kembali memasuki rumah. Betapa terkejutnya ia saat sampai di depan meja makan. Gege menaikkan sebelah alisnya.
"Kek Aki sedang apa ?" tanyanya saat melihat sang Kakek duduk bersila di atas jantung pisang emas, berpose bak seorang yang sedang meditasi.
"Oh, hey Ge !" sapa si Kakek.
"Aki sedang mencoba mengerami ontong emasnya. Siapa tahu bisa menetas hihihihi," kelakar si Kakek dengan ekspresi wajah tidak kalah jenaka.
"Itu kan bukan telur," Gege hanya memandang datar si Kakek sambil menahan tawa.
Si Nenek yang mendengar percakapan itu pun langsung berlari mengintip karena penasaran.
"Eh-eh Aki, jangan diduduki ontongnya ! Nanti bau kentut Aki !" tegur si Nenek seraya menuding si Kakek dengan sendok sayur bergagang panjang yang dibawanya.
"Aki nggak kentut kok. Aki hanya ingin menetaskannya dengan kehangatan kasih sayang Aki," ujar si Kakek dengan ekspresi wajah yang menenangkan.
"Tapi, nggak dengan kehangatan pantat juga kali !" timpal si Nenek.
Keduanya pun mulai berdebat. Gege tertawa menyaksikan perdebatan yang menurutnya lucu itu.
Mari saling mendukung