Siapa yang tidak kenal dengan nama besarnya? Oh, tentu ini bukan sekedar sombong dan omong kosong, seorang Presdir wanita yang sangat terkenal itu kini tengah di lilit masalah besar, namanya Kiana.
Seorang bandar organ tubuh manusia kini menculik putri kesayangannya, Kiana yang super dingin dan sudah masuk mode iblisnya itu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya.
Hingga sebuah kejadian mengharuskan Kiana bersabar, ayah biologis dari putrinya kini menemukan sang anak.
Ah, gila saja! Selama ini Kiana susah payah menyembunyikan anak itu dari umum dan pindah Negara demi menutupi semuanya.
Wah, ada apa sebenarnya dengan Presdir cantik ini ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Cemburu
Aksen berjalan menuju tempat di mana dia akan menunggu Aiden, begitupun Kiana yang hendak menunggu seseorang.
Kilas balik kemarin sore. Saat itu Kiana menghubungi seseorang yang memang sangat berarti dalam hidupnya dan dalam hidup anak-anaknya. Dia adalah sosok yang selalu menolongnya dalam keadaan terdesak, dia juga selalu ada dalam susah senangnya selama ini.
Kiana menghubungi Violet, Kiana berharap Violet mau di ajak kerja sama olehnya. Meski ide gilanya untuk memberi pelajaran pada Aksen mungkin terlalu nekat.
"Vio? Begini, bisakah kamu berubah menjadi identitas Victor dan kaya dulu gitu, jadi pura-pura tunangan ku. Aku mohon, bisa?" Tanya Kiana pada Violet yang tertegun mendengar permintaan sahabatnya itu.
"Tidak, kamu bukankah sudah bersama dengan Sensen sayang mu itu. Aku juga masih di Negara K sekarang." Tolak Violet, setelah mendengar kabar keberadaan anak dari Kiana dan Kiana mengatakan sudah bersama Aksen, Violet mengajukan cuti dan terbang ke Negara K.
"Ayolah Vio, bayarannya lumayan kok. Aku ingin memberi pelajaran pada pria yang sudah mempermainkan perasaan ku itu. Enak saja cuma dengan kata maaf aku akan melupakan segalanya. Kamu juga tahukan selama ini aku berjuang seperti apa demi meluluhkan es batu itu!" Gertak Kiana saat mendapati penolakan dari sahabatnya.
"Kiana sayang, kamu gak takut bila tiba-tiba Aksen menyerah?" Tanya Violet, dia ragu dengan keputusan sahabatnya itu.
"Aku juga lama berjuang gak pernah menyerah, masa cintanya cemen gitu si? Aku mohon Vio, aku hanya punya harapan dan kesempatan pada kamu." Terdengar helaan nafas berat dari Violet saat mendengar permohonan sahabatnya itu.
"Baiklah, jemput aku besok di Bandara." Ucap lagi Violet yang akhirnya menyetujui keinginan sahabatnya.
"Yeyyy, Vio memang yang terbaik muah.. muah.. muah..." Ucap Kiana mencium ponselnya.
Begitulah yang terjadi sebenarnya, Kiana menunggu Violet dengan sabar. Begitupun dengan Aksen yang menunggu Aiden dengan sabar.
Sedangkan di tempat lain, Violet yang menggunakan setelan kemeja rapi dengan rambut indah berwarna hitam pendek. Kaca mata tebal yang biasanya menghiasi matanya kini berganti dengan kaca mata hitam yang membuat wajahnya nampak seperti seorang model kelas dunia.
"Permisi, apa anda tahu di mana letak toilet?" Tanya Violet pada seorang pria dengan rambut pirang dan mata terang berwarna hijau cerah.
"Mau ke toilet? Ayo bersama dengan ku, kebetulan aku juga hendak ke toilet." Ucap pria tersebut yang saat ini tengah menggunakan masker dan topi yang menutupi wajahnya.
"Oh, baiklah." Jawab Violet yang berjalan di belakang pria tersebut. Violet tertegun sejenak saat melihat dua tanda di depan pintu toilet tersebut.
Pria di depannya sudah masuk ke dalam toilet pria, Violet ragu hendak masuk. Namun dia berharap di dalam sana tidak banya orang dan tidak menyulitkannya.
Pria di depannya nampak membuka topi dan maskernya hingga tampaklah sosok tampan yang luar biasa itu, dia membuka celananya dan mengeluarkan sebuah benda yang mampu membuat Violet melongo seketika.
Tanpa rasa ragu, pria itu juga langsung buang air kecil di urin*oir yang memang tersedia bagi para pria yang hendak buang air. Mata Violet terbelalak, mata indahnya kini ternoda dengan benda panjang itu.
'Astaga, mata indah ku ternodai.' Gumam Violet dalam hati, pria yang nampak sudah selesai itu beralih menatap Violet yang nampak masih membatu.
"Bukankah kamu mau ke toilet? Kenapa diam saja?" Tanya pria itu, untunglah di sana ada juga tempat buang air besar hingga diapun masuk ke tempat tersebut dan membuang hajat kecilnya.
Violet keluar dan nampak pria itu yang tengah membasuh wajahnya dan membasahi rambutnya dan menariknya ke belakang. Violet yang memang selama ini bergelut dalam dunia model dan menjadi asisten pribadi dari seorang Presdir di bidang keartisan terkesima seketika.
'Ah, mataku!' Gumam lagi Violet yang tak berkedip menatap ketampanan pria tersebut, pria itu menyadari tatapan Violet dan tersenyum ke arahnya. Seketika dada Violet jedak-jeduk seperti tengah berpesta pora.
"Oh ya, aku Aiden." Ucap Aiden mengulurkan tangannya. Violet menerima uluran tangan itu dan merasakan desiran aneh itu kembali menghangatkan tangannya.
"Nama ku, Vi..Vio.. Vi..Victor. Eh tunggu, aku terasa agak familiar dengan wajah mu?" Selidik Violet hingga ingatannya tertuju pada sosok Aiden yang sangat terkenal di Negara K itu.
"Oh kau anggota Maximal ya?" Tanya Violet menyebutkan sebuah nama group Boy Band yang sangat di gandrungi anak muda di seluruh dunia, selain itu para anggota dari Maximal juga sangat bertalenta.
"Kau mengenali ku? Sepeetinya kamu bukan berasal dari Negara I kan?" Tanya Aiden menatap dua bola mata besar milik Violet yang kini sudah tidak tertutup kaca mata lagi.
Mata Violet berwarna biru, selain itu wajah Violet juga sama sekali tidak memperlihatkan bila dia berasal dari Negara I. Violet tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku berasal dari Negara A." Jawab Violet hingga senyum Violet yang manis itu mampu membuat debaran aneh pada dada Aiden.
'Astaga Aiden, kamu tidak waras ya? Dia itu laki-laki kenapa dadaku berdetak cepat begini?' Gumam Aiden dalam batin.
"Kamu tinggal di mana sekarang? Ee.. begini maksud ku, kamu tinggal di Negara I bersama siapa?" Tanya Aiden memperbaiki pertanyaannya, entah mengapa rasa gugup kini merasuki hatinya.
"Aku juga belum tahu, ayo kita keluar!" Ajak Violet dan bergegas keluar dari toilet tersebut, bersamaan dengan Aiden yang juga keluar.
Mereka mengantri mengambil barang mereka bersama, dan mereka akhirnya menemukan orang yang sudah menunggu mereka berdua. Namun ada sebuah keganjilan yang membuat keduanya mematung tak bersuara.
Mereka melihat Kiana bersama Aksen tengah menunggu mereka, entah kebetulan macam apa itu hingga membuat keduanya enggan mendekat. Aiden sendiri mengetahui dengan baik seperti apa perasaan Aksen untuk Kiana, begitupun Violet yang mengetahui seberapa besar cinta Kiana untuk Aksen.
"Victor!!" Teriak Kiana pada Violet dan langsung memeluk Violet dengan hangatnya. Seketika aura membunuh terlihat jelas keluar dari tubuh Aksen, wajah Aksen nampak sudah seperti lemon yang masamnya tidak ketulungan lagi.
"Kiana, kau jangan lari seperti itu. Bagaimana bila kamu terluka hem?" Tanya Violet memasang wajah khawatirnya, sontak saja hal itu mampu membuat dada Aksen berguruh seketika.
"Aku gak papa kok, ayo kita ke apartemen! Oh iya, anak-anak pasti seneng saat lihat kamu nanti." Ucap lagi Kiana dan hal itu semakin membuat Aksen semakin marah.
Aksen mengambil kunci mobil Kiana dan melemparkannya pada Aiden, Aksen langsung meraih lengan Kiana dan menaruhnya di belakang punggung kekarnya.
sungguh mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya