NovelToon NovelToon
Devi'L Obsession

Devi'L Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: anastasia d lutvi

Marves Lucifer Arsenik Raja iblis dikenal kejam dan tanpa pandang bulu menyiksa nyawa pendosa. Namun Marves bukanlah pria biasa, tapi pria sepertinya mampu muak dengan neraka dan beralih menetap di bumi sekedar menenangkan pikirannya.

Nyatanya seorang wanita cupu dan dekil menyatakan cinta kepadanya di depan umum, tentunya Marves menolak sekaligus mengatakan kalimat menyakitkan yang membuat wanita yang ia ketahui bernama Vella lantas pergi dengan air mata yang bercucuran.

Terlanjur sakit hati membuat Vella gelap mata dan dengan nekat memasukan obat perangsang ke minuman Marves, membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.

Menyadari kebodohannya dan tak ada gunanya menyesali perbuatannya yang telah terlanjur Vella lakukan, ia lantas pergi menjauh meninggalkan tempatnya berada, berharap tak bertemu Marves kembali.

Tanpa menyadari seorang iblis tengah mengamuk mencari dirinya dengan tatapan obsesi dan kemarahan memuncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anastasia d lutvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pergi

...----------------...

Vella bersandar kepala menahan tangis pilu tanpa suara, hatinya ingin menjerit meminta tolong pada siapapun itu, apa salah jika ia menginginkan sebuah keluarga sederhana? , tapi mengapa keluarga tak pernah menganggapnya ada .

Andai jika ia memiliki keluarga yang harmonis, keluarga yang menyayangi dirinya seperti yang dialami Cellin adiknya.

Tapi itu semua hanya angan- angannya yang tidak akan pernah tercapai, bahkan jika ia matipun keluarganya akan bersorak ria merayakan kematiannya.

Vella menarik nafas, menoleh ke samping arah jendela melihat deretan bangunan dan pepohonan seakan hilang dan muncul, secara terus menerus.

"Non," panggil Supir Taksi melihat sekilas Vella berada di tampilan kaca dan kembali mengemudi mobil.

"Iya Pak?" tanya Vella menatap arah depan sang supir.

"Ini tujuannya kemana Non?" ucap Supir Taksi.

"Pergi ke Bandara Pak, agak cepat yah Pak," jawab Vella.

"Baik Non." Mobil melaju dengan kecepatan sedang.

30 menit Vella menunggu, akhirnya sampai tujuan. Vella membuka pintu menarik koper yang lumayan besar ukurannya keluar dan memberi uang kepada supir Taksi.

"Terimakasih Non. Saya pergi dulu. Non yang hati-hati." Vella menganggukkan kepala tersenyum kearah supir lantas meninggalkan supir Taksi.

Vella berjalan melangkahkan kakinya melihat sekitar bandara tampak ramai, la menyeret kopernya lalu menduduki salah satu kursi berwarna biru tua, menunggu pesawat berangkat.

Sedangkan di sisi lain Marves tengah berkutat pada layar laptop dengan serius, tanpa merasa terganggu sama sekali.

DERTT.

Suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Marves lantas menatap ponselnya yang terus berdering tanpa henti.

Pria itu mengangkat ponselnya, tapi tak menghentikan jari jemari tangan Marves memijat satu persatu keyboard.

"Katakan," jawab dingin Marves.

"Pak, wanita itu pergi dari apartemen membawa koper besar ke mansion keluarga Dirma, tapi saat saya meninggalkan wanita itu sebentar wanita itu langsung hilang sekejap saja Tuan, apa yang harus saya lakukan?"

"Apa kau sudah cari ke mansion keluarga Dirma?"

"Sudah Tuan, bahkan saya bertanya pada satpam yang menjaga gerbang itu, katanya wanita itu telah pergi meninggalkan mansion ini dalam kondisi cukup mengenaskan Tuan, karena jalannya tertatih- tatih seperti melakukan sesuatu dan wanita itu pergi dengan Taksi berwarna kuning tapi saya tidak tahu Taksi yang dimaksud Bapak itu, apa yang harus saya lakukan Pak?"

"Dasar bodoh!" Marves menutup ponsel secara sepihak.

Lantas menelpon tangan kanannya. "Jack cepat kau carikan Vella sampai dapat, jangan sampai wanita itu pergi. Kalau perlu arahkan semua para bodyguard mencari wanita itu."

"Baik Tuan." Telpon di tutup. Dengan kesal Marves mengacak-acak seluruh barang-barang di atas mejanya.

"Sial!"

"Apapun yang terjadi kau tak akan pergi dariku Vella." Tatapan Obsesi Marves hingga membuat matanya berubah merah.

Marves mengambil kunci mobil berjalan tergesa-gesa. Melewati Selena yang menatap senyum cerah padanya.

"Selamat pagi Tuan, Eh."

Tanpa peduli Marves pergi Meninggalkan yang terbengong bingung.

Marves berjalan cepat menaiki lift. Hingga Selena yang mengejar Marves tak sampai masuk karena pintu terlanjur tertutup.

Berulang kali Marves menatap jam tangannya. Lift terbuka, tanpa banyak kata Marves melangkah menuju mobil hitam yang terparkir di depannya. Marves menaiki mobilnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Berbagai umpatan melayang padanya, tapi Marves tak peduli, tujuannya saat ini mencari wanita itu sampai dapat dan memberi hukuman pada wanita itu. Cukup sudah ia membiarkan wanita berkeliaran bebas kali ini tak lagi.

30 menit waktu Marves sampai ke bandara, Marves membuka mobil berjalan tergesa-gesa menghampiri para bodyguardnya yang berjejeran rapi menundukkan kepala.

"Bagaimana?" tanya Marves dengan suara dingin.

"Maafkan kami Pak, kami telat datang. Nona telah berangkat 12 menit yang lalu Pak..." Menundukkan kepala merasa bersalah.

"Dasar bodoh! Bagaimana bisa?"

"Saat anda menelpon kami, kami langsung pergi ke bandara memblokir pesawat terbang yang akan landas, nyatanya ada salah satu pesawat telah landas sebelum kami perintah Tuan. Jadi kemungkinan Nona telah berangkat Tuan. Maafkan kami Tuan," ucap Jack merasa bersalah.

"Sial! Dasar nggak berguna!" Marves meninggalkan mereka dengan perasaan kesal dan amarah yang memuncak. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat.

Di tengah jalan, Xavier mencengkram pegangan mobil dengan perasaan tercampur aduk. Cengkraman kuat dari tangannya. Bagaimana bisa hanya seorang wanita? Dia bisa kabur begitu mudah? Bahkan tak ada satupun orang yang berani mencari masalah pada Xavier. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan begitu saja. Tapi kenyataan mengatakan ia kalah pada seorang wanita. Wanita yang ia anggap sangat merepotkan dan lemah. Kini berbalik kearahnya yang tak berdaya hanya karena seorang wanita.

Tatapan tajam menatap arah jalan, menyalip satu persatu mobil atau para pengendara motor yang menghalangi jalannya.

Tatapan mata yang tadinya hitam menjadi Semerah darah. Senyum seringai terbit di bibir, menampakkan kesan menyeramkan di satu sisi dan juga tampan sekaligus.

"Selamat Vella. Kau telah membuatku menjadi tertarik. Apapun terjadi kau milikku, tak akan kubiarkan seorangpun merebut dirimu dariku." Tatapan obsesi Xavier menatap tajam lurus ke depan.

Sedangkan wanita yang dibicarakan merasakan kupingnya terasa panas. Vella mengusap pelan kupingnya, menepuk-nepuk kupingnya dengan tangan.

"Ini kenapa sih? Kupingku panas banget."

Vella tak menyadari gerombolan para pria memakai jas hitam tengah mencari dirinya di semua sisi tapi yang mereka cari tak kunjung mereka temukan. Sebenernya Vella ijin ke toilet lantaran perutnya yang tak bisa di ajak kompromi. Perutnya tiba-tiba saja mules dan Vella terpaksa ke toilet.

Vella bernafas lega ia menepuk perutnya lumayan keras. Beban yang ia simpan telah terbuang tak memenuhi memori.

Yang ia kira jam terbangnya telah lepas landas nyatanya masih tertunda karena ada kepentingan yang melarang semua pesawat dilarang lepas landas terlebih dahulu. Tapi sekarang tidak lagi pesawat kembali di lepas landas.

Vella tersenyum lega, karena pesawatnya belum lepas landas, ia juga bersyukur pada orang itu yang telah memberhentikan pria itu hingga ia diberi kesempatan membuang beban dalam perutnya.

Vella yang telah berada di pesawat lantas mengangkat koper menaruhnya di atas khusus tempat barang-barang. Mengambil sabuk pengaman mengamankan tubuhnya agar tak terjadi apa-apa.

Menyenderkan kepala lagi-lagi mengingat momen dimana ia menjebak pria sombong itu hingga membuat pria itu harga diri pria itu hancur. Menyesal, ada. Tapi mau bagaimana lagi, waktu tak bisa diulang kembali. Seandainya waktu diulang kembali ia tak akan melakukan ini hingga sampai membuatnya dalam bahaya.

Mengenai anak yang ada di dalam kandungnya, Vella akan merawat anak ini hingga ia tak mengenal namanya ayah dalam hidupnya. Vella akan mencurahkan kasih sayang dalam bentuk ayah atau ibu. Kedua peran penting itu, ia akan memerankan hanya dalam satu tubuh.

Vella memejamkan mata menenangkan pikiran sembako mengelus perutnya yang masih belum membesar.

"Semoga kau cepat besar yah Nak. Semoga Papamu tak berjumpa Mama lagi, agar kita bisa hidup bahagia dan tentram," lirih Vella pelan, menutup matanya terasa mengantuk.

1
Queen Petrunkevitch
OG Atau OB?
darins
alur cerita bagus bikin penasaran
darins
ayo dong thor up yg banyak kita nungguin update nya/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!