Pertemuan kembali dengan tidak sengaja antara Ririn dengan Raka, membuat mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Karena kesalahannya di masa lalu membuat Ririn terpaksa menerima pernikahan ini.
Ternyata ada seseorang yang selama ini sengaja memanfaatkan Ririn untuk menghancurkan Raka.
Apakah Ririn akan melindungi suami yang telah memaksanya menikah dengan sebuah ancaman atau Ririn lebih memilih bekerja sama untuk menghancurkan Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulangi dan Lakukan Hal Yang Sama
Sesungguhnya kejadian sebenarnya tidak lah sama seperti yang dua orang laki-laki itu pikirkan.
Ririn yang takut untuk melepaskan diri akhirnya pasrah membiarkan Raka memeluknya.
"Biarkan seperti ini, awas jika kau bergerak."
Bukannya mengucapkan kata kata romantis, Raka lagi lagi memberikan ancaman kepada Ririn.
"Bukan begitu, ini akan membuat kaki mu sakit dan tidak nyaman." kilah Ririn. Padahal dia lah yang tidak nyaman di peluk begini.
Berada dalam pelukan orang yang kita sukai membuat dada seakan mau meledak.
Raka membenarkan posisi Ririn diatasnya tanpa melepas pelukannya.
"Apa kau sudah nyaman begini ?" Raka menatap Ririn. Lagi lagi dia hanya bisa mengangguk pasrah.
Raka menyandarkan wajahnya di bahu Ririn, menghirup dalam dalam aroma bunga yang menguar di hidungnya.
Tak lama Ririn mendengar dengkuran halus dengan nafas yang teratur.
Hah, apa dia tidur ? Bisa bisanya dia tertidur dengan posisi begini. Apa dia tidak tau kalau jantung ku sudah mau terbang.
Ririn tidak berani bergerak sedikitpun, takut jika membangunkan Raka. Hanya matanya saja yang ia gerakkan untuk melihat sekitar yang bisa di jangkau.
Sebuah lemari besar di belakang kursi kerja, tersusun rapi beberapa buah file dan sederet buku buku tentang bisnis.
Di samping lemari terdapat sebuah meja, beberapa buah koleksi miniatur dan hiasan lainnya terpajang di sana. Terdapat juga beberapa buah foto yang Ririn mencoba mengamati dari jauh.
Ha ha ha, apa itu fotonya saat masih kecil ? imutnya. Dan itu fotonya bersama kedua orang tuanya.
Ririn kembali teringat saat pertemuan pertama mereka. Raka begitu sedih karena baru saja kehilangan ibunya dan ayahnya juga sakit.
Sejak saat itulah Ririn selalu mencoba menghiburnya. Bercerita apa saja meskipun selalu saja tidak di tanggapi tapi setidaknya Raka berhenti menangis setiap kedatangannya.
Ririn memperhatikan punggung Raka. Dapat dirasakannya begitu banyak beban yang ditanggungnya selama ini.
Apa sebegitu lelahnya dirimu sehingga dengan mudahnya tertidur di sini ??
10 menit
20 menit
40 menit
Satu jam kemudian
Ririn mengayunkan kakinya yang terasa kebas.
Hah, bisa bisanya aku ketiduran.
Gerakan kaki Ririn membangunkan Raka. Dia mengangkat kepalanya menatap Ririn.
Ah, aku mengganggu tidurnya.
Ririn tersenyum ketika Raka menatapnya
Jangan marah
Jangan marah
Jangan marah
Ririn berdoa dalam hati.
"Maaf, membuat mu terbangun." ujar Ririn lembut, sukses menutupi rasa takutnya.
"Aku ambilkan kopi mu untuk menghilangkan rasa kantuknya. Tadi kau belum sempat meminumnya" bermaksud biar dia bisa turun dari pangkuan Raka. Namun Raka tak juga melepaskan pelukannya.
Ririn melihat Raka kemudian memberi kode agar melepaskannya tapi Raka justru balik memberi kode agar segera meraih gelas kopinya.
Mau tidak mau Ririn memutar tubuh dan mengambilnya yang memang tidak terlalu jauh dari jangkauannya.
Raka yang tak kunjung juga melepaskan tangan dari perutnya membuat Ririn berpikir apa yang harus dilakukan nya.
Ririn pun mendekatkan kopi ke mulut Raka dan benar saja seperti dugaannya, Raka langsung meminumnya.
Aduh, manisnya dia minta dilayani seperti bayi.
Raka mengangguk menandakan dia sudah selesai minum dan Ririn kembali meletakkan kopi di atas meja.
"Ada apa ?" Raka membuka suara bertanya kepada Ririn.
Akhirnya
Waktu yang di tunggu tunggu Ririn datang juga untuk memulai bicara.
"Aku minta maaf karena tidak menyambut kepulangan mu tadi dan . . ."
Meskipun sangat tidak nyaman berbicara sedekat ini tapi Ririn berusaha untuk tetap tenang.
"Dan apa ?" Raka bertanya lagi
"Dan karena mendorong mu tadi sore." Ucap Ririn dengan menunduk tak berani melihat Raka. Wajahnya terasa panas ketika mengingat kejadian itu.
Raka tersenyum melihat Ririn yang malu malu menyembunyikan wajah merona nya.
"Apa hanya itu ?"
Ririn mengangguk masih belum berani melihat Raka.
"Apa kau menyesal ?"
"Iya" jawab Ririn singkat
"Hey, kalau bicara itu lihat orangnya !"
Ririn segera menegakkan kepalanya mendengar suara Raka yang sudah naik beberapa oktaf.
"Apa kau menyesal ?" Raka mengulang pertanyaannya
"Iya, aku menyesal."
"Apa kau mau aku memaafkan mu ?" tanya Raka lagi
Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku melakukan ini.
"Iya. Tolong maafkan aku." ucap Ririn dengan nada memohon.
Raka tak lantas menjawabnya. Dia malah menatap Ririn dengan pandangan yang sulit diartikan.
Jantung Ririn sudah dak dig duk menunggu jawaban.
"Aku akan memaafkan mu setelah aku membalas perlakuan buruk mu." ucap Raka.
What ???
"Ulangi dan lakukan hal yang sama." sambungnya lagi
Ulangi dan lakukan hal yang sama
Ulangi dan lakukan hal yang sama
Ririn mencerna kalimat tersebut dan berpikir sejenak.
Apa dia menyuruhku mengulangi yang dia lakukan pada ku dan dia melakukan hal sama seperti yang aku lakukan padanya ??
"Ayo lakukan !" suara Raka membuyarkan lamunan Ririn
Baiklah. Ini mudah. Dekatkan bibir pada wajahnya dan dia akan mendorong mu kemudian keluar dari sini.
Setelah mengumpulkan keberanian Ririn siap memulai aksinya, walaupun ini sangat memalukan.
Dengan memejamkan mata, Ririn memajukan wajahnya semakin mendekat bahkan kini nafas Raka berhembus tepat di atas kulit wajahnya.
Raka tersenyum. Dia merasa terhibur, begitu menikmati memandang wajah Ririn dari dekat.
Ayo cepat dorong aku
Beberapa saat berlalu namun Raka belum juga mendorongnya. Ririn sudah mau membuka matanya dan. . . Cup.
Lagi lagi Ririn tidak bisa bergerak karena Raka menahan belakang kepalanya. Raka sangat menikmati aksi balas dendamnya pada Ririn.
Ririn segera menurunkan kakinya setelah Raka mengakhiri balas dendamnya. Dia langsung berjalan ingin segera keluar dari ruang ini. Tidak tahu sudah semerah apa wajahnya tapi dia merasakan begitu panas.
"Tunggu !" seru Raka ketika Ririn sudah mau membuka pintu
"Aku belum belum membalas mu karena telah melihat tubuh ku."
Dasar licik
Ririn keluar tanpa menoleh ke arah Raka yang tergelak sambil mengusap bibirnya yang menyisakan rasa manis.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
dosaaa lhoo
gak berbelit
cap cus gas poool