Berteman cukup lama, tidak cukup bagi seorang pemuda bernama Bara Zayyan berani mengakui perasaannya pada seorang gadis cantik bernama Alisa Aileen Nathania yang tak lain adalah teman satu kelasnya sendiri.
Namun sikap dan perlakuan Bara selama ini pada Ica nama panggilan untuk gadisnya, membuat siapapun bisa menerka jika Bara memang punya perasaan lebih pada gadis itu.
Hingga akhirnya Bara memilih pergi jauh setelah lulus dari SMA dengan membawa rasa yang belum sempat terucap.
"Aku pergi bukan bermaksud untuk menghapus rasa ini, hanya saja aku sedang berjuang untuk memantaskan diri ini untukmu. Kelak saat kembali, aku berharap kita bisa bersama meski nanti keadaanmu mungkin tak lagi sama. Namun aku pastikan saat itu cintaku masih tetap sama" Bara Zayyan
"Kenapa tidak dari dulu kamu memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, mengapa harus menunggu waktu yang begitu lama. Dan maaf, saat ini kita sudah tidak bisa bersama karena mungkin keadaanku yang tak lagi sama" Alisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan
Jauh dibelahan dunia lain, seorang pemuda tengah duduk sendiri sambil menatap layar ponselnya. Entah apa yang dilihatnya saat ini. Yang jelas tatapannya terlihat begitu sendu begitu dia kembali memperhatikan gambar pada ponselnya.
Ya, pemuda itu adalah Bara. Saat ini dirinya tengah melihat kiriman foto pertunangan Ica dengan Kahfi.
Jika bertanya mengapa foto itu bisa sampai pada Bara, padahal pria itu sudah mengganti nomer ponselnya sebelum dirinya terbang ke Singapura. Dan lagi sesuai rencana awal, pertunangan Ica dan Kahfi dilangsungkan secara sederhana.
Namun sayang, diluar espektasi acara pertunangan itu diselenggarakan dengan sedikit mewah dengan menyewa gedung untuk tempat acaranya. Selain itu kedua orang tua Kahfi ternyata mengundang bebeberapa orang diluar keluarga mereka. Atau lebih tepatnya rekan bisnisnya banyak yang hadir dalam acara tersebut.
Bu Sarah yang sebelumnya sudah diberi tau oleh suaminya, memilih untuk tidak mengatakan apapun pada putrinya karena tidak ingin membuat putrinya kesal dan bisa berujung Ica membatalkan pertunangan tersebut. Mengingat perasaan putrinya saat ini begitu labil sekali.
Dan kalau ditanya Bara dapat kiriman dari mana foto tersebut, tentu saja dia mendapatkannya dari teman durjananya, Reza. Dia sengaja mengirim foto pertunangan Ica karena untuk mengerjai sahabatnya ini. Selain itu Reza ingin menunjukkan bahwa Ica sudah ada yang memiliki, jadi sudah waktunya sahabatnya ini move on dan mencari kebahagiaannya sendiri.
"Gimana Bro.....menurut gue sudah waktunya lho move on, lho berhak bahagian bro" Terdengar suara Reza melalui sambungan telfon.
"Ck.....lho kurang kerjaan. Udah gue bilang, gue kesini buat fokus sama kuliah gue. Lho ngapain ngirim-ngirim foto kayak gini segala" Suara Bara tersengat seolah-olah dia pria yang begitu tegar. Tapi nyatanya malah sebalikknya.
"Widih.....kayak yang udah bisa move on aja lho. Apa jangan-jangan kepala lho habis kepentok kepala patung merlion ya" Reza rupanya sedang meledek sahabatnya ini.
" Buset dah....lho emang temen yang ada akhlak banget. Awas aja entar gue pulang, habis lho sama gue" Bara terdengar kesal sendiri.
"Belum seminggu udah kepikiran pulang. Jangan bilang lho pengen pulang terus bawa kabur anak orang. Wkwkwkwkwk" Lagi Reza masih senang terus meledek temannya.
"Sin-ting lho. Kayaknya kepala lho deh yang habis kebentur tugu monas. Wkwkwkwk" Kali ini Bara yang membalas menggoda Reza.
Keduanyapun tanpa terasa terlibat obrolan sampai begitu lamanya.
Sementara Ica, saat ini dia tengah berada diantara para tamu dan juga keluarga yang menghadiri acara pertunangannya.
Setelah acara bertukar cincin, mamanya Kahfi langsung membawanya untuk diperkenalkan dengan keluarga besar dan juga teman-teman sosialitanya.
Rata-rata dari mereka banyak yang memuji kecantikan Ica. Selain cantik, Ica juga terlihat begitu kalem dan juga santun. Tentu saja ini memberikan kesan positif tersendiri bagi siapa saja yang bertemu dengannya.
Ica sendiri dari tadi hanya terlihat menundukkan kepalanya. Ia begitu malu karena berada diposisi seperti saat ini. Apalagi disaat Kahfi datang menghampiri dirinya. Tentu saja teman-teman calon ibu mertuanya ini malah berganti menggoda keduanya. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memberi usulan jika sebaiknya rencana pernikahan keduanya dipercepat.
Tak ingin berlama-lama dalam situasi seperti ini, Ica mohon izin untuk beranjak dengan alasan hendak pergi ketoilet.
"Loh...kamu kok malah ngikutin aku sih" Ica kaget karena mendapati Kahfi ternyata juga ikut mengekori dirinya.
"Karena aku faham kamu gak berniat kekamar mandi beneran. Aku ngerti, pasti kamu risih banget berada ditengah-tengah ibu-ibu tadi" Kahfi seolah faham betul bagaimana Ica merasa tidak nyaman saat sedang bersama mereka.
"Emang kamu enggak" Ica nampak bertanya balik.
"Ya risih lah. Makanya aku sengaja tadi beralasan mau nyusul kamu. Aku tadi bilang mau nemenin kamu, takutnya nyasar" Kahfi mengatan itu sambil tersenyum. Sementara Ica justru menatap jengah pada pria yang saat ini sudah resmi berstatus menjadi tunangannya. Bagi Ica itu adalah alasan yang tidak masuk akal dan hanya akan menjadi bahan ibu-ibu itu untuk bertambah menggoda dirinya dan juga Kahfi jika keduanyan itu kembali bergabung ditengah-tengah mereka lagi.
"Udah jangan liatin aku kayak gitu, entar kamu makin cinta sama aku. Ayo kita duduk disana saja. Kayaknya disana sepi" Tanpa aba-aba Kahfipun langsung menarik tangan Ica dan membawanya kesalah satu tempat duduk disebelah ujung sendiri. Karena tempat duduk itu posisinya sedikit jauh dari para tamu yang lain.
Setelah disana, keduanya nampak mengobrol santai. Terlihat Kahfi yang sepertinya lebih mendominasi obrolan mereka. Sementara Ica, gadis itu hanya menanggapi semua obrolan Kahfi dengan senyuman saja. Dan sesekali jika diperlukan, Ica hanya menjawab dengan mengatakan ia atau tidak saja.
"Ca....aku lega akhirnya kita bisa tunangan juga. Cincin ini udah ngebuktiin kalau kamu adalah milik aku. Hanya aku" Kahfi terlihat menggenggam tangan Ica. Dan lagi Ica hanya menanggapinya dengan senyuman saja.
"Bisa tolong lepas dulu, aku haus mau ambil minum dulu" Ica berkilah
Jujur saja, diperlakukan seperti ini membuat Ica kurang nyaman. Andai Kahfi adalah Bara, tentu Ica akan merasa sangat sangat bahagia. Namun nyatanya ini Kahfi, pria yang sama sekali belum bisa menyentuh hatinya walaupun permukaannya saja.
Namun sekuat mungkin Ica harus berusaha untuk menerimanya. Ica tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya hanya karena keegoisannya yang lebih mementingkan perasaannya sendiri.
"Kamu duduk disini aja, biar aku yang ngambilin" Kahfi terlihat meminta Ica untuk tidak beranjak dari tempatnya.
Mendengar Ica mengatakan kalau dirinya haus, Kahfi langsung berinisiatif untuk mengambilkannya minum. Kahfi tidak membiarkan Ica mengambilnya sendiri. Iapun juga sekalian mengambil makan untuk dirinya dan juga Ica tentunya. Karena kebetulan mereka berdua juga belum makan.
Ica sebenarnya tidak ingin makan. Hanya saja dia tidak ingin mengecewakan Kahfi yang sudah baik hati mengambilkannya makanan. Dan setelah keduanya menyelesaikan ritual makannya, mereka langsung menemui kedua orang tua mereka yang terlihat sedang sibuk menyalami para tamu yang hendak pulang.
"Mah pulang yuk, kayaknya tamunya udah gak ada lagi" Ica mengatakan itu saat dirinya melihat sudah tidak ada tamu lagi. Dia juga berbicara dengan sedikit berbisik kepada mamanya.
"Bentar Ca, gak enak sama keluarganya Kahfi kalau kita minta pulang dulu"
Rupanya permintaan Ica untuk pulang lebih dulu ditolak. Karena nyatanya saat ini kedua orang tuanya dan juga Kahfi malah terlihat duduk berkumpul dalam satu meja. Disana mereka menikmati hidangan makan malam. Sementara Kahfi dan Ica hanya diam sambil menunggu kedua orang tuanya selesai.
Saat mereka sudah menyelesaikan makan, bukannya langsung pulang, namun mereka malah berlanjut membahas masalah pernikahan. Tentu saja ini membuat Ica semakin kesal. Hanya saja Ica tidak berani mengungkapkan kekesalannya.
Ica memilih bersabar hingga satu jam kemudian mereka benar-benar pulang dan meninggalkan gedung itu.
jangan lupa mampir di karyaku ya kak🙏
semangat terus nulisnya
lah". ❌