Aldiro adalah pria nakal yang terkenal, hingga ia bertemu dengan Elina yang berhasil merubah hidupnya menjadi lebih baik. Bagi Aldiro, Elina adalah hidupnya bahkan segala-galanya.
Keduanya menjalin hubungan, dan disaat Aldiro merasakan kebahagiaan tiba-tiba Elina mengkhianatinya dengan seorang pria yang sangat Aldiro kenal.
Merasa di khianati dan di hancurkan, Aldiro kembali menjadi pria nakal. Ia ingin Elina kembali menjadi miliknya karena hanya wanita itu yang bisa memperbaiki hatinya yang hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Keesokan paginya, Elina sudah sibuk menyiapkan peralatan makan yang akan di gunakan untuk sarapan nanti. Sebenarnya ini bukan tugas Elina, namun sebagai siswa kuliner yang sangat antusias, mau tak mau ia membantu.
"Selamat pagi, aku tidak tau kalau kamu juga bertugas pagi ini." Sapa Alex tersenyum setelah memasuki dapur, ia pun mulai membantu Elina
Mathari belum terbit, dan hanya siswa dari tim memasak yang sudah bangun.
"Pagi juga, tadi aku bangun lebih awal dan tidak bisa tidur lagi. Makanya aku memutuskan untuk membantu" Jelas Elina.
"Oh." Balas Alex lagi, tapi sesaat kemudian mata pria itu menyipit ketika melihat leher Elina.
"Apa lehermu di gigit serangga ?." Tanya Alex.
Mata Elina berkedip, ia baru saja menyadari hal itu. Kedua pipinya merah padam karena menahan malu. Elina berbalik dan tanpa menjawab apa-apa, ia segera berlari meninggalkan dapur.
Ingatan tentang kejadian semalam antara dirinya dan juga Aldiro membanjiri pikirannya, harusnya semalam Elina tidak sampai melakukan ini.
"Elina.."
Elina menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya, namun sebelum itu ia menarik kerah bajunya untuk menutupi lehernya. Matanya memicing saat melihat tiga orang gadis dari tim balet berjalan ke arahnya.
"Ya.. Ada yang bisa saya bantu ?." Tanya Elina.
"Aku akan langsung ke intinya, aku tidak tahu kenapa Aldiro masih menyukaimu padahal kau sudah berselingkuh." Ucap salah satu gadis itu yang membuat Elina sedikit tersentak.
"Karena jujur saja, kamu tidak pantas untuk Aldiro" Tambah gadis itu.
Elina merasakan sakit di hatinya setelah mendengar ucapan terakhir gadis itu. Padahal ia tahu kalau seharusnya ia tak harus memasukan kata-kata itu kehatinya, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tapi entah kenapa rasa sakit itu datang begitu saja, apalagi setelah mendengar nama Aldiro.
"Aku--"
"Jangan coba-coba membela diri Elina !. Semua orang tahu kalau kau wanita penipu. Aku yakin suatu hari nanti Dekta akan bosan dengan mu dan meninggalkan mu. Dan Aldiro juga akan melupakan mu."
Elina ingin segera pergi meninggalkan ketiga orang ini, ucapan mereka bukan hanya menyakitkan, tapi mereka juga memandang Elina seperti seorang wanita sampah.
"Lalu apa yang kau inginkan ?." Tanya Elina lagi.
Ketiga gadis itu tersenyum remeh dan salah satu nya kembali menjawab.
"Tinggalkan Aldiro dan jangan pernah mendekatinya lagi !. Sekarang dia bukan milikmh, jadi mundurlah !, berhenti bermain dengan dua orang pria di waktu yang sama."
Elina menelan semua rasa sakit itu, kedua tangannya mengepal saat ia mendengar kata-kata kasar itu.
Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Erlan sedang melakukan latihan lari dua kilometer seperti biasa. Hal itu sudah ia lakukan sejak ia masih SMA, berusaha menjaga bentuk tubuhnya meski ia mengambil bidang kuliner. Seperti kata orang, tidak mudah untuk bergabung disana, karena akan selalu tergoda untuk makan yang banyak.
Tiba-tiba ia ingat Aldiro meminta bantuannya semalam, untuk meminta teman-teman sekamar Elina pura-pura tertidur agar wanita itu bisa keluar. Erlan bingung, pasalnya Adiro dan Elina telah putus, lalu untuk apa keduanya bertemu secara diam-diam ?.
Pikiran Erlan tertuju pada Dekta, apa yang akan pria itu lakukan jika mengatahui tentan Elina dan Aldiro ?. Apakah pria itu akan marah atau justru terluka ?. Selama ini Erlan belum pernah melihat Dekta menunjukkan amarahnya, pria itu selalu bersikap serius dan berdarah dingin. Membuat Erlan bertanya-tanya bagaimana bisa Dekta menjadi pacar Elina ?.
Erlan menghentikan langkahnya, ia lupa bertanya apakah Elina memang serius berpcaran dengan Dekta. Kalau memang iya, lalu kenapa semalam Elina bertemu dengan Aldiro.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sebelum Erlan sempat berpikir dan menganalisisnya lebih jauh, ia melihat Elina dalam jarak yang tidak terlalu jauh, sedang berbicara dengan tiga orang gadis, Erlan mengangkat alisnya dan menyaksikan interaksi saat dia mulai berjalan ke arah mereka.
"Hai, selamat pagi Elina, selamat pagi juga anak-anak dari Tim Balet." Sapa Erlan yang tidak menyadari ketegangan antara Elina dan ketiga gadis itu.
Dua orang gadis itu memberi Erlan senyum manis, sedangkan yang satunya masih menatap tajam ke arah Elina. Tak berapa lama wanita itu juga menoleh ke arah Erlan dan tersenyum.
"Pagi juga, kami sedang mendiskusikan beberapa hal, dan sekarang kami harus pergi.... Ayo teman-teman, kita harus berolaraga."
Ketiganya langsung berbalik, tapi sebelum benar-benar pergi salah-satunya kembali menoleh dan memberikan tatapan ancaman pada Elina. Membuat Erlan benar-benar bingung.
"Selamat pagi Er, silahkan berolaraga lagi !." Ucap Elina seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ya... Ada apa ?. Wajahmu terlihat pucat, apa mereka melakukan sesuatu padamu ?." Tanya Erlan sembari berjalan ke arah hotel bersama Elina.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kurang tidur saja" Jawab Elina dengan tawa bergetar. Sedangkan tangannya berada di belakang kepalanya.
Erlan hanya menatap Elina yang memasuki kamarnya, setelah mereka tiba di depan kamar masing-masing. Erlan menarik napas panjang, tak peduli apa yang telah terjadi, ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Elina, Aldiro, dan dekta pantas bahagia. Dan Erlan, seperti biasa, akan mendukung mereka jika mereka membutuhkan.
*
*
*
Aldiro bisa merasakan jantungnya tersayat benda tajam. Napasnya seolah terhenti saat melihat pemandangan yang begitu menyakitkan baginya. Tapi anehnya ia tak bisa berpaling, seperti ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan kalau dirinya tak mengalihkan pandangan dari mereka walau itu sangat menyakitkan.
Disana Elina menundukan kepalanya sedangkan pria jangkung dan kurus itu memeluk tubuhnya. Semua orang sudah menyebarkan gosip kalau Elina dan Dekta adalah pasangan yang romantis.
Tapi tidak bagi Aldiro, karena apa yang di lihatnya ini terlalu kejam dan menyakitkan.
"Apa sih yang kalian lakukan ?." Teriak Aldiro, kemarahannya begitu jelas dalam suaranya.
Tadi Aldiro pikir ia bisa menyelinap masuk ke kamar Elina, karena Erlan mengatakan kalau teman-teman sekamar Elina sedang keluar dan hanya wanita itu di kamar sendirian.
Aldiro sangat merindukan Elina, walau sudah menghabiskan malam panjang dengan wania itu , tapi ia tidak menyangka akan melihay hal ini, ia seperti deja vu. Hanya saja kali ini Aldiro tak melarikan diri melainkan ingin menghadapinya.
Baik Elina maupun Dekta menoleh dan melihat Aldiro berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak begitu marah.
Kedua bolah mata Elina terbelalak kaget.
"Al.."
Saat itulah Aldiro merasakan di dalam dirinya tersentak, saat ia melihat Elina menangis.
"Bangsat. !" Sebelum ada yang sempat berbicara, Aldiro sudah melayangkan pukulan ke wajah Dekta.
"Apa yang telah kau lakukan pada Elina ?."
"Al, hentikan !." Teriak Elina, ia berusaha menarik tubuh Aldiro agar menjauh dari Dekta.
"Apa-apaan sih ?." Desis Dekta saat tubuhnya jatuh kelantai, pria itu meringis dan menyentuh sudut bibirnya.
"Kau sudah membuat Elina menangis, bang-"
"Bukan aku yang melakukannya" Potong Dekta dengan kesal.
Aldiro tak percaya akan hal itu.
Elina memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Tinggalkan kami berdua Ta !." Pinta Elina pada Dekta.
Dekta menatap Elina dengan serius.
"Tapi El.."
"Tolong Ta !." Balas Elina dengan suara lembut.
Dekta menatap Elina sejenak, lalu dengan gusar, ia bangkit dan keluar ruangan. Sebelum benar-benar pergi, ia melirik ke arah Aldiro, memperhatikan bagaimana pria ini memang pantas dicambuk.
Setelah pintu ditutup, Aldiro langsung memandang Elina dengan khawatir, meski masih ada amarah dalam suaranya. "Apa yang terjadi? Apa dia melakukan sesuatu padamu? Kenapa kau menangis? Apa dia memukulmu? Kalau iya aku bersumpah akan menghancurkan-"
"Aldiro," Elina memperingatkan, berusaha menyuruh Aldiro untuk berhenti bicara.
Bagusss banget thor ceritanya,,,gantung bacanya 😔☹️
kapan-kapan mampir yuk ke novel aku makasih