Mencintaimu,...
seumur hidupku...
Selamanya, setia menanti.
Walau di hati saja,
seluruh hidupku.
Selamanya, kau tetap milikku...
Cinta pada pandangan pertama, cinta pertama, dan dia juga yang pertama mencium bibir ini hingga membawaku pada perbuatan yang dilarang agama.
Tapi setelah itu, dia mencampakkanku. Lalu kembali lagi ketika ada pria lain yang mengaku begitu mencintaiku setulus hati.
Mana yang harus kupilih? Dirimu atau dirinya? Yang pertama? Ataukah berharap yang terakhir?
-Sheila Herfiza-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBAS 14
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam. Nah itu, putri saya sudah pulang!"
Mama Sheila segera mendekat dan menarik tangan Sheila untuk berkenalan dengan pasangan suami istri temannya dimasa sekolah dulu.
"Ini Sheila putrimu, San? Cantik banget!"
"Hehehe..., cantik tapi agak jutek, jadi...ya gitu deh hehehe..."
Sheila tersipu. Mamanya mengenalkan dirinya versi gaya gaul khas anak-anak tempo dulu.
"Ini, putraku, Gerard Alfaro. Sudah tiga puluh tiga tahun, tapi... masih sendiri walaupun hidupnya sudah cukup mapan sebagai seorang pilot di negeri Kanguru."
Deg deg deg deg deg deg deg deg
Deg deg deg deg deg deg deg deg
Deg deg deg deg deg deg deg deg
Zeinul Abidin Taher?!?
Mata Sheila terus menatap wajah pria yang baru saja dikenalkan kepadanya. Bahkan tangan mereka masih saling berjabatan karena Sheila belum melepas genggamannya.
"Sheila? Shei?!"
Sheila tersentak. Mama Susanti menegurnya agar segera tersadar dari lamunan.
"I_iya. Maaf!"
Jantung Sheila seolah hendak meledak karena detak yang terus bertambah ritmenya.
Sheila bingung, matanya mulai terasa panas. Apalagi ketika pandangannya bertemu dengan tatapan pria yang disebut bernama Gerald Alfaro itu.
Tidak! Sadarlah Sheila! Dia bukan Zein, dia pria lain yang mirip dengan pria bangsat itu! Sadar wooi sadar!!!
"Sheila? Sheila Herfiza? Aku Gerald Alfaro, panggil aja Gege!"
Ya Allah! Bahkan suaranya pun, mirip sekali dengan Zein!!! Padahal sudah berlalu lima belas tahun yang lalu!!!
"Assalamualaikum..."
Semua mata tertuju pada Devano Seto Ali.
Jantung Sheila semakin terpacu kencang. Terlebih ketika Gerald menatap Devano tanpa berkedip.
Zein! Kaukah Zeinul Abidin Taher??? Kalau iya, anak lelaki tampan yang sedang kau tatap itu adalah putramu! Darah dagingmu sendiri, Zein!!!
"Kenalkan! Itu Devano Seto Ali, putra kandungku, usianya empat belas tahun!"
Semua orang terkejut termasuk Mama Sheila yang tidak menyangka kalau putrinya akan merespon kedatangan Devano yang baru saja pulang dari asrama sekolah.
Devano Seto Ali yang juga sangat terkejut hanya diam dan segera mencium punggung tangan para tamu termasuk anggota keluarganya.
Devano izin masuk kamar lebih dahulu. Membuat semua orang yang termangu dengan perkenalan Sheila langsung tersadar seketika.
"Mami, Papi... aku terima perjodohan ini. Aku mau menikah dengan Sheila. Terserah kalian kapan waktunya ditentukan!"
"Apa?!?"
Susanti, Yusherlan terlebih lagi Sheila terperanjat makin kaget lagi.
Gerald Alfaro yang wajahnya duplikat Zeinul Abidin Taher ternyata tak kalah mengejutkan mereka semua.
Malam yang penuh keajaiban bagi kedua keluarga Yusherlan Susanti dan keluarga Bernard Nirina.
Sheila dan Gerald lebih banyak terdiam ditengah keriuhan obrolan para orang tua yang penuh kebahagiaan.
Selesai makan malam, Sheila dan Gerald diberikan kesempatan untuk mengobrol berdua di teras rumah.
Sheila yang datang kemudian dengan membawakan dua cangkir teh manis hangat dan mempersilakan pada Gerald.
"Silahkan!"
"Terima kasih, Shei!"
Gerald langsung mengambil cangkir teh yang Sheila bawa dan meminumnya cepat hingga tak bersisa.
"Tunggu! Ada sesuatu yang ingin kutanyakan!" Sheila mulai gatal dengan banyaknya pertanyaan yang ingin Ia lontarkan dari tadi.
Gerald menaruh cangkirnya yang telah kosong dan menoleh ke arah Sheila.
"Siapa kamu?! Dan... mengapa kamu langsung bilang mau menikah denganku padahal ini pertama kalinya kita bertemu?" tanyanya dengan ketus dan suara yang judes.
Gerald menatap Sheila tidak berkedip.
"Hei, jawab! Jangan bikin Aku tambah senewen lagi!" semprot Sheila semakin kesal.
Tapi Gerald Alfaro justru melangkah masuk ke dalam dan berkata,
"Mama Susanti Papa Yusherlan, boleh ya Gerald membawa Sheila keluar sebentar? Gerald janji, akan membawa Sheila pulang sebelum pukul sepuluh malam!"
"Oh, tentu Gerald! Hati-hati bawa mobilnya ya?"
Susanti senang karena calon menantunya benar-benar sesuai harapan.
Yusherlan juga terlihat cerah rona wajahnya. Ia mengangguk cepat dengan kode tangan menyuruh Gerald cepat pergi.
"Terima kasih atas izinnya. Hehehe..."
"Gege! Jangan bikin Sheila gak nyaman ya?" tegur Nirina, Maminya Gerald.
"Siap Bu Boss!"
Semua tertawa mendengar racauan Gerald Alfaro. Tapi tidak dengan Sheila yang justru termangu melihat sosok Gerald yang jenaka mirip sekali dengan Zeinul Abidin Taher.
"Ayo naik, Nona Sheila!" kata Gerald kepada Sheila dengan membukakan pintu mobil Lamborghini putihnya yang berkilauan terkena cahaya lampu taman.
Sheila diam namun menurut.
Ia ingin sekali bertanya pada pria yang usianya dua tahun lebih tua darinya, sama seperti usia Zeinul Abidin Taher, pacar pertamanya yang hilang entah kemana.
Gerald mulai menyalakan mesin dan mobil berjalan perlahan.
Sheila masih diam. Ia berusaha tenang sampai Gerald membawanya ke tempat tujuan.
Sheila berdegup kencang.
Sebuah gedung apartemen mewah ternyata tujuan Gerald. Dan mobil kerennya masuk ke dalam gedung dengan kartu identitas khusus pemilik yang ditempelkan di kotak samping portal otomatis.
Sheila semakin gugup ketika mobil Gerald berhenti di salah satu pojokan basemen.
"Sudah sampai, Non! Yuk, turun..."
Sheila menghela nafas sebentar sebelum kakinya menjejak trotoar basemen dan melangkah keluar dari mobil.
"Mau kemana kita?" tanyanya dengan suara pelan sedikit bergetar.
"Apartemenku, Sheila!" jawab Gerald lembut di telinga kiri Sheila hingga gadis dewasa itu mundur tiga langkah.
Gerald tertawa.
"Kamu takut ya, kalau Aku berbuat jahat? Jangan takut! Kedua orang tuaku masih ada di rumah orang tua mu. Kalau terjadi sesuatu, mereka pasti hanya akan menikahkan kita berdua secepatnya! Hehehe..."
Lelaki gila! Jangan-jangan ni orang psikopat!?!
Sheila mulai menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia ketakutan dan hendak kabur saja saat ini juga. Tapi tangan Gerald lebih cepat dan langsung merangkul bahu Sheila.
"Sheila, ini Aku! Aku Zein! Zeinul Abidin Taher!"
"Apa???"
Terkulai lemas tubuh Sheila Herfiza. Ia jatuh pingsan tepat dihadapan Zein. Kekasih pertamanya yang hilang lima belas tahun yang lalu.
BERSAMBUNG
next lgi...
buat nyicil.
salam dari novel terbaruku yg berjudul menuju bahagia
cinta 3 serangkai hadir kk...