Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Malu atas kejadian yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu, Nina bersembunyi di balik selimut. Dia membaca soal tanpa menggeser selimut sedikitpun. Sementara Iki hanya bisa tersenyum melihat tingkah Nina.
"Nina, soal selanjutnya apa?" Iki, kembali bertanya.
Tak ada pergerakan dibalik selimut. Dengan kedua kening yang saling bertaut, Iki menggeser selimut dan mendapati Nina terlelap. Mengulum senyum, Rifki menyibak anakan rambut yang mengganggu pemandangannya. Mengambil buku dari tangan Nina, ia lanjut mengerjakan tugas sang istri. Pukul satu malam, dia selesai menyusun makalah yang akan dikumpul oleh Nina di pagi hari nanti tepatnya di hari rabu.
Ketukan pintu dari luar membangunkan Rifki dari tidur nyenyak nya. Menarik diri sedikit duduk, Iki melihat ke arah balkon dan mendapati Nina sudah siap ke sekolah. Iki menatap jam dinding.
"Oh Tuhan, aku telat bangun," gumam Iki segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, dia selesai mandi dan bersiap-siap. Kini, dia dan Nina sudah di depan rumah bersiap ke sekolah.
"Nina, Rifki, sudah mau berangkat?" tanya Mama Riana berdiri di ambang pintu.
"Iya, Ma." Iki, menjawab.
"Oh iya, Mama dan Papa harus kembali ke Bandung hari ini. Nanti Mama transfer uang di rekening kamu. Gunakan untuk kebutuhan kalian, jika kurang, kamu hubungi Mama atau Papa," ujar Mama Riana.
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya Iki menatap sang Mama.
"Jam empat sore, nanti kita ketemuan di Labuha, di rumah Tante Mila," jawab Mama Riana menjelaskan.
Rifki mengangguk lalu mencium tangan sang Mama, begitu juga dengan Nina. Berpamitan, lalu keduanya berangkat ke sekolah. Tiba di sekolah, Rifki dipanggil oleh Dika dan Alan. Mereka bertiga pergi di belakang gedung sekolah SMP hanya untuk menghisap rokok, boleh dikata masih pagi.
"Belum juga dibakar, sudah apel pagi!" ketus Alan. Terpaksa, dia dan kedua temannya kembali ke sekolah. Mengikuti apel pagi, kemudian masuk ke kelas masing-masing.
Sejak kemarin hingga hari ini, para siswa tidak menerima materi karena semua guru sedang rapat. Suasana seperti ini yang diingkan oleh para siswa. Terutama para kaum yang sudah mengenal cinta. Mereka akan mencari tempat bertemu walau hanya sekedar bertukar cerita.
"Iki, temani aku ketemuan yuk," ajak Dika yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu kelas Rifki.
"Lalu bagaimana dengan Nina?" tanya Iki mengernyit.
Dika mendekati Rifki dan Nina yang sementara duduk. Keduanya menikmati gorengan yang dibeli saat berangkat sekolah pagi tadi. "Ajak dia juga. Nanti aku belikan kalian es krim. Tapi ingat, kalian berdua jangan menggangguku. Kalian cukup berjaga di luar."
Nina mengangguk tanda setuju. Mereka pun pergi di belakang gedung sekolah SMP Aktif Belajar. Dika dan Yuna–kekasihnya berpacaran, sementara Nina dan Iki menyaksikan film Naruto di ponsel Iki. Sementara nonton, mereka mendengar Dika mengumpat. Nyatanya, Yuna, kekasihnya itu ngambek dan memilih pergi.
"Dia kenapa?" tanya Nina.
"Minta duit buat beli skincare, tapi aku bilangnya nanti. Eh, dianya ngambek. Dasar perempuan, baru juga kemarin aku bilang akan setia pada satu wanita, eee ... hari ini aku dibuat berpikir seribu kali untuk setia," gumam Dika menghela napas berat.
Nina dan Rifki tertawa. "Kamu yang sabar, Bro. Paling bentar lagi dia ajak ketemuan,"' ucap Iki. Dia seperti orang yang berpengalaman saja–padahal hanya punya satu mantan.
Dan benar saja, ponsel Dika berdering, nyatanya dari Yuna. Tersenyum, Dika segera menjawab panggilan telepon dari sang kekasih.
"Temui aku di kantin Ci Lala, tapi nggak perlu bawa Rifki dan Nina."
Dika menghela napas pelan, pamit pada Nina dan Iki–lalu pergi menemui Yuna di kantin Ci Lala. Sepeninggal Dika, Nina dan Iki tertawa bersama. Mereka berdiri dan kembali ke kelas. Sampai di kelas, mereka mendapati Sinta dan Gio duduk berduaan. Melihat gelagat aneh dari Sinta, Nina yakin, kedua temannya itu baru menjalin kasih.
"Santai, Bro, rahasia aman," kata Iki tersenyum. Lalu dia dan Nina duduk di kursi yang biasa mereka tempati. Nina sibuk memainkan gawainya sementara Rifki melipat kedua tangan di atas meja, menyandarkan kepala di tangan seraya menatap Nina yang terlihat serius.
"Nina, wanita cantik sejagat raya," puji Iki tersenyum. Nina terkekeh. Walau dia malu, dia tetap bersikap biasa saja. Terus memainkan gawainya, dan Iki juga tak mengalihkan pandangannya dari tadi.
"Aku malu ..." Nina menutup wajah Iki menggunakan telapak tangannya.
Tersenyum, Iki menatap Nina yang pipinya mulai memerah. "Jam berapa sekarang?" tanyanya membenarkan cara duduknya.
"Jam sebelas," jawab Nina menatap jam di ponselnya.
Ting! Satu pesan masuk di ponsel, Iki. Iki segera mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi pesan, pria itu menarik senyum di kedua sudut bibirnya. Tak ingin bahagia seorang diri, dia memperlihatkan pesan yang masuk.
"Enam juta, ini lebih dari kata cukup untuk skincare kamu," ucap Iki direspon tawa oleh Nina.
Tertawa bersama, mereka keluar dari dalam kelas menyisakan Sinta dan Gio yang berpacaran di dalam. Mengira Zeto tidak ada di parkiran, Nina dan Iki pun kesana. Bertemu di sana, Nina mendekat pada Iki karena Zeto berjalan ke arahnya.
"Ikut aku sebentar!" Zeto menarik tangan Nina namun Iki menahannya.
"Lepas!" hardik Zeto.
Iki tersenyum sinis, lalu menatap Zeto tanpa eskpresi. "Jauhkan tanganmu dari tangannya!" seru Iki.
"Iki, sudah!" Nina membentak. Lalu menatap Zeto dengan marah. "Jauhkan tanganmu!" seru Nina.
"Nina, maafkan aku. Waktu itu___" Kalimat Zeto tak diteruskan saat Nina memberinya kode untuk berhenti berbicara.
"Apapun alasanmu waktu itu, aku tetap pada keputusanku. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi!" Nina menegaskan sebelum mengajak Iki pergi. Kembali ke kelas, Nina dan Iki masih mendapati Santi dan Gio. Kedatangan Nina dan Iki membuat Sinta dan Gio salah tingkah, tentu hal itu membuat Nina dan Iki curiga.
tpi keren ceritanya tingkat kan