°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
S2 CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Nyaris.
...~•Happy Reading•~...
Kaliana dan team telah tiba di rumah untuk beristirahat. Mereka sudah makan malam di kantor, jadi pulang hanya untuk mandi dan beristirahat. Terutama Kaliana yang sangat lelah dengan aktivitasnya di luar kantor sepanjang siang dan sore. Sehingga dia meminta anggota team pulang, agar besok mereka bisa kembali bekerja dengan lebih baik.
Semua kesibukan setelah konferensi pers membuat Kaliana dan team bekerja ekstra. Dari persiapan sebelum gelar perkara sampai selesai, mereka belum bisa beristirahat dengan baik. Dampak dari gelar perkara dan konferensi pers, membuat mereka berpikir dan bekerja ekstra lebih dari biasanya.
Apalagi ini adalah kasus pembunuhan pertama yang ditangani oleh team sopape setelah pindah dan berkarier di Jakarta. Ruang lingkup lebih luas dan orang yang menyewa jasa mereka adalah orang terdekat dengan hati Kaliana. Membuat dia bekerja lebih ekstra untuk membuktikan Marons tidak bersalah.
Setelah gelar perkara, Kaliana dan team merasa beban di pundak mereka terangkat. Tetapi mereka semua tidak menyangka, respon masyarakat untuk kasus yang mereka tangani begitu besar. Jauh lebih besar dari semua kasus yang pernah team sopape tangani di Surabaya.
Apalagi didukung oleh media sosial yang luar biasa aktif dan mudah diakses. Sedikit pemberitaan yang menyimpang akan dilahap oleh masyarakat dan menjadi viral.
Membuat Kaliana dan team lebih hati-hati berpikir dan menggunakan media sosial dengan baik, agar bisa memberi dampak yang baik dan positif bagi masyarakat dan karier mereka.
Kaliana dan team tiba di rumah, langsung mandi dan tidak ada lagi kegiatan setelah semua masuk kamar. Begitu juga dengan Kaliana, setelah mandi dan berganti pakaian, dia langsung menuju tempat tidur.
Ketika berbaring, deringan telpon yang belum sempat disilent mengejutkan. Mendengar nada deringnya, Kaliana segera mengambil ponsel dan merespon. Karena dia tahu siapa yang menelpon.
"Ni, sibuk sekali hari ini?" Tanya Marons tanpa basa-basi, saat Kaliana merespon panggilannya.
"Iya, Arrow... Lumayan super duper." Jawab Kaliana pelan, tanpa curiga dengan pertanyaan Marons. Kemudian dia menyandarkan punggungnya di bagian atas tempat tidur, agar tidak tertidur.
"Seberapa lumayan, sampai lupa kabari aku soal rumah?" Tanya Marons tenang, tapi serius. Kaliana tertegun dan coba bersikap tenang, karena rasa bersalah tidak mengabari Marons seperti permintaannya sebelum berangkat kerja.
"Oh, iya Arrow. Tadi pikiranku ke mana, ya. Padahal ingat mau kabari, kalau kami sudah pulang dari rumahmu. Maafin, yaaa..." Ucap Kaliana pelan sambil menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa, belum kabari Marons. Mereka telah pulang dari rumahnya dan sudah mulai aktif bekerja.
"Kalau aku tidak telpon, pikirannya belum kembali? Padahal ingat, tapi tidak kabari. Itu sama saja dengan lupa." Marons dalam perjalanan pulang baru menyadari, tidak ada kabar dari Kaliana sepanjang hari. Dia sendiri sibuk dan berpikir, Kaliana akan mengabari.
"Iya, yaa. Namanya lupa, tidak ingat, ya. Sepertinya pikiran dan tubuhku sudah mulai salah jalur." Kaliana berkata pelan, karena dia sangat lelah. Hal itu membuat dia kembali menepuk dahinya. 'Ko' bisa lupa, ya.' Kaliana membatin dengan rasa bersalah.
"Segera pulang dan istirahat. Sudah dibilang, tahu batas kekuatan tubuh, masih juga, bablaass..." Marons mengira Kaliana masih di kantor.
"Arrooow... Ini kami sudah di rumah. Aku sekarang sudah ukur tempat tidur. Kalau kau terlambat telpon, mungkin aku sudah jalan-jalan di mimpi." Kaliana berkata pelan, mencoba bercanda untuk mengalihkan Marons dari rasa kesalnya.
"Oh, bagus. Ternyata pikiranmu masih nurut sama tubuhmu." Ucap Marons serius, tapi tersenyum mendengar ucapan Kaliana.
"Ya, masih'lah... Kalau ngga nurut, bisa nyasar pikiranku dan kau akan bertemu dengan tubuhku tanpa pikiran. Jangan sering kesal, Arrow. Nanti wajahmu bisa berubah." Kaliana berkata asal, agar bisa mengurangi rasa kesal Marons. Dia tidak mau mengatakan nanti cepat tua, Marons bisa makin kesal. Dia berpikir, Marons masih marah padanya soal tidak memberi kabar sepanjang hari.
"Kalau wajahku berubah, hatimu juga ikut berubah?" Tanya Marons sambil tersenyum senang, bisa ngeledekin Kaliana. Sedangkan Kaliana hampir menggigit lidahnya, karena tidak menyangka candaannya dibalas Marons dengan ucapan demikian.
"Arrooow... Kau tidak apa-apa? Suaramu mendem..." Kaliana berusaha mengalihkan pertanyaan Marons dengan tidak menjawabnya, sebab ucapannya hanya bercanda dan tidak dipikirkan dampak dan kelanjutan dari jawaban Marons. Kaliana belum mau membicarakan masalah hati, sampai kasus yang ditangani selesai dan clear.
"Aku baik-baik saja dan suaraku masih stereo. Tidak ada yang mau kau katakan padaku, tentang yang terjadi hari ini?" Tanya Marons serius, dia berharap Kaliana mau membicarakan banyak hal dengannya. Baik itu urusan kerjaan atau pribadi.
"Ooh iya, Arrow. Tadi aku bertemu dengan Pak Danny. Tapi besok saja baru aku cerita, ya. Sekalian info, besok aku mau bertemu dengan Pak Adolfis." Kaliana teringat belum mengatakan itu juga, jadi sekalian disampaikan, mumpung teringat, agar tidak jadi masalah.
"Iya, tadi Danny sudah bilang tentang pertemuan kalian. Mengenai pertemuan dengan Pak Adolfis, apa yang akan diberikan untuk menggunakan jasa kalian, jangan dikoreksi. Terima yang beliau berikan, apapun pertimbanganmu, abaikan." Marons berkata serius. Dia tidak mengetahui, kalau Kaliana akan bertemu dengan Pak Adolfis.
Danny tidak kasih tahu hal itu. Dia hanya memberitahu pertemuannya dengan Kaliana dan pertanyaan Kaliana seputar tugasnya yang hampir selesai. 'Mungkin Pak Adolfis hanya mengundang Kaliana.' Marons berkata dalam hati.
"Jangan katakan cuma kerja sedikit saja untuk melengkapi penyelidikan sebelumnya. Sama saja dengan standar yang berlaku untuk menggunakan jasa kalian. Jika mereka berikan lebih, terima tanpa pertimbangan apa pun." Marons mengingatkan lagi, karena mengetaui sifat Kaliana yang baik hati dan mau menolong dengan murah hati.
"Astagaaa, Arrow... Kau bisa baca pikiranku? Kami bekerja yang sekarang, kan, berbeda durasi waktunya dengan menangani kasusmu. Yang darimu saja, itu sudah sangat lebih." Kaliana berkata serius, mendengar yang dikatakan Marons. Dia merasa tidak enak untuk gunakan standar budget memakai jasa mereka, dalam hal membantu Chasina.
"Bukan bisa baca pikiranmu. Tetapi kalau aku tidak pikirkan itu, berarti tidak mengenalmu. Jadi berhenti dengan pertimbanganmu dan dengarkan aku. Kau kira aku tidak perhatikan, saat kau hampir koreksi angka yang aku berikan?" Marons yang baru bertemu dengan Kaliana beberapa bulan dan bekerja dengannya, jadi makin mengenal sifat Kaliana yang lain dari saat mereka masih sekolah.
"Iyaa. Aku dengarkan dan ikuti. Kau masih di jalan?" Tanya Kaliana, karena mendengar suara klakson mobil dan berusaha mengalihkan perhatian Marons dari hal yang sedang dibicarakan.
"Iya. Tadi ada pertemuan dan sekalian makan malam. Syukur, jam segini kalian semua sudah pulang untuk istirahat." Marons menyadari, Kaliana pasti sangat lelah seperti yang dikatakan. Karena jika tidak, mereka belum pulang kantor, atau masih bekerja di rumah.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan. Maaf, Arrow. Aku ngga bisa temani ngobrol sampai rumah. Nanti pembicaraan kita ngga nyambung dan jadi emosi. Sekarang ini, mataku bisa khianati pikiranku." Kaliana berkata demikian, karena matanya sudah hampir terpejam.
"Baik. Selamat istirahat. Sweet dreams." Ucap Marons lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Kaliana membalas salamnya.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
haadeehh...aneh aneh rekan kerjamu bram🤦🤦