Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Ellea" Seru Hanin
Bayi kecil itu bertepuk tangan lalu dengan susah payah ia berdiri namun gagal. Alhasil bayi perempuan kecil itu merangkak menghampiri sang tante
Tubuh gempalnya terlihat menggemaskan saat menghampiri mereka. Hanna mengusap pipinya saat putrinya telah berada dihadapannya
"Ta-ta" Bayi kecil itu menepuk wajah Hanin sambil terus berceloteh khas bayi
"Elea kangen ya sama Tante Hanin?" Hanin tak tahan, ia kecup pipi gempal keponakannya itu
"Ta-ta"
Hanna mengulurkan tangannya agar dapat mengusap kepala putrinya. Putri yang ia abaikan karena mentalnya yang bermasalah
Ada perasaan haru saat ia menyentuh rambut halus putri kecilnya. Hal itu membuatnya tak tahan untuk segera memeluknya
"Putriku" Lirihnya
"Ell, kenalin ini Mama!" Hanin berbicara pada bayi perempuan itu
Eleanor melihat Hanin dan wanita disamping sang Tante secara bergantian lalu kembali berceloteh khas bayi
Ta-ta
"Ma-ma" Hanin mengajari lagi namun tetap saja bayi kecil itu mengulangi kata-katanya
"Tidak masalah dek! Nanti kita ajari Elea pelan-pelan!" Hanna meraih tangan kecil Eleanor lalu mengecupnya
Ia ingin menggendong putrinya itu namun bayi kecil itu menolak malah semakin mempererat pelukannya pada leher Hanin
Sebenarnya hal itu sangat melukai hati Hanna sebagai seorang ibu, namun ia sadar bahwa ini semua karena perbuatannya
Ia mengabaikan putrinya sejak dia dilahirkan. Bahkan Hanna tinggal terpisah dari putrinya sendiri selama berbulan-bulan
"Mbak tenang aja! Elea itu gampang kok deket sama orang, kita pelan-pelan akan bikin dia terbiasa dengan mbak Hanna"
Hanin mengerti perasaan sang kakak karena raut wajah Hanna yang berubah sendu saat Elea menolak untuk digendong olehnya
"Tidak masalah dek, mbak ngerti kok" Hanna berusaha menampilkan senyuman nya
"Udah, udah! Kok malah ngobrol disini sih! Ayo masuk!" Hanin menggandeng lengan putri sulungnya lalu mereka masuk
Hanum tak henti-hentinya memeluk putrinya yang beberapa bulan tinggal jauh darinya, hanya sesekali ia mengunjungi Hanna
Hanum memang bergantian dengan Hanin untuk menjenguk Hanna di Singapura sana. Dan tiga bulan terakhir hanya Hanin yang datang
"Ayo kita makan dulu! Ibu masak semua makanan favorit kamu!" Ujar Hanum membuat Hanna terharu dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu
"Ibu gak perlu sampai seperti ini"
"Udah gak apa-apa, sekarang kalian bersih-bersih terus kita makan"
Hanna mengangguk, wanita cantik itu lalu menaiki tangga menuju kamarnya sementara Hanin harus membujuk Eleanor yang tidak ingin lepas darinya
Bayi kecil itu memang tidak ingin lepas dari sang Tante jika Hanin sudah berada dirumah. Hal itu sedikit membuat Hanna iri melihatnya
***
Hanna berdiri di balkon kamarnya, menatap gelapnya malam yang terasa begitu sepi. Ia tak tahu apa keputusan ini memang yang paling tepat
Besok ia akan menemui orang yang telah memberikan luka paling dalam dihatinya. Luka yang bahkan membuatnya harus melewati pengobatan
"Ini keputusan yang paling tepat, aku tidak mungkin bersama laki-laki pengkhianat seperti kamu mas"
Hanna menarik napasnya panjang lalu kembali ke kamarnya. Ia butuh istirahat karena ia yakin besok akan sangat menguras tenaga nya
Pagi-pagi sekali Hanna mengunjungi rumah suaminya, rumah yang memberikan trauma padanya
Hanna berdiri mematung memandangi bangunan dua lantai didepannya. Bayangan saat dirinya menangkap basah suaminya bersama seorang wanita kembali melintas
"Mbak" Usapan lembut Hanin pada bahunya menyadarkan Hanna dari lamunannya "Mbak baik-baik aja? Apa mau pulang dulu aja?
Hanna menggeleng "Kita selesaikan semua ini sekarang dek"
Hanin mengangguk, ia memang sengaja ikut untuk menemani sang kakak. Ia tidak akan tenang membiarkan Hanna menghadapi dua orang yang sudah sangat menyakitinya seorang diri
Hanna menekan bel, tak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya yang terlihat terkejut
"Bu Hanna" Panggil Warsih dengan tatapan tak percaya, wanita paruh baya itu bahkan tanpa sadar memeluk tubuh wanita cantik itu
"Ibu apa kabar? Mbok khawatir selama ini" Warsih mengusap ujung matanya yang mengeluarkan cairan bening
"Aku baik mbok, aku kesini mau.." Ucapan Hanna terhenti saat suara bariton seorang pria memanggilnya
"Hanna"
Rizal memang mendengar suara asisten rumah tangganya yang berteriak memanggil nama Hanna
Dengan tidak sabaran pria itu menuruni tangga menghampiri sang istri lalu memeluknya erat
"Sayang" Suaranya terdengar bergetar "Kamu kembali? Aku kangen"
Hanna membeku, tangannya mengepal kuat disamping tubuhnya. Dengan sisa kesadarannya wanita itu mendorong tubuh sang suami membuat Rizal mundur beberapa langkah
"Maaf, ayo masuk!" Rizal mengerti jika wanita itu masih marah
Rizal menarik tangan sang istri lalu membawanya masuk, Hanna menepis tangan suaminya saat mereka telah berada di ruang tamu
"Kamu mau minum apa? Diluar panas banget kamu pasti haus" Rizal terlihat antusias "Mbok, tolong buatin jus untuk istri saya!"
Rizal tersenyum begitu manis namun hal itu membuat Hanna semakin merasa muak
"Aku kesini bukan untuk minum!" Ujarnya dingin, Rizal begitu terluka melihat istrinya yang begitu dingin namun berusaha untuk ia mengerti
"Ya udah gak apa-apa, kalau gitu duduk dulu yaa!"
Hanna menatap pada suaminya, Rizal yang ditatap seperti itu dapat melihat raut kemarahan dari mata indah itu
"Aku kesini mau kasih kamu ini" Hanna memberikan sebuah amplop yang segera diambil oleh Rizal
"Apa ini?"
"Kamu bisa lihat sendiri!" Ujar Hanna
"Dimana Fathan?" Hanna berteriak memanggil nama putranya dan tak lama seorang bocah delapan tahun terlihat menuruni tangga
"Mama" Teriaknya
Fathan berlari lalu menubruk tubuh sang ibu dan memeluknya "Mama sudah sembuh? Mama akan tinggal lagi dirumah sama aku kan?"
"Fathan mau kan ikut Mama?" Tanya Hanna lalu menangkup kedua pipi anak laki-laki nya itu
Fathan mengangguk "Mau"
"Kalau begitu kemasi baju-baju nya Fathan! Mama tunggu!" Bocah delapan tahun itu hanya menatap sang ibu dengan tatapan polos
"Kita pergi?"
Hanna tersenyum lalu mengangguk "Iya sayang! Fathan mau kan?"
Fathan melirik sang ayah bergantian lalu mengangguk. Walaupun dengan berat hati, bocah tampan itu tetap menuruti keinginan sang ibu
Fathan masuk ke kamarnya diikuti oleh Hanin yang berniat membantunya berkemas
Sementara itu Hanna menaiki tangga menuju kamarnya, ada beberapa barang yang ingin ia bawa
Melihat itu Rizal segera menyusul wanita itu, sejak tadi ia hanya membeku setelah membaca apa yang tertera di kertas yang Hanna berikan padanya
"Apa ini?" Tanyanya seraya menutup pintu kamar
Hanna menatap tajam pada pria yang telah menduakannya itu "Sudah jelas kan? Aku ingin kita berpisah!"
"Aku tidak ingin berpisah dari kamu" Ujar Rizal memelas, raut penyesalan terlihat jelas dari wajahnya
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.