Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.
Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?
-Alisha Sabiya Nadifah
Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Belas
Seluruh anggota Rohis sedang berkumpul di bawah pohon trembesi yang rimbun di samping laboratorium TI. Mereka duduk di kursi yang terbuat dari beton untuk membicarakan agenda bulanan rohis. Angin yang berhembus disana membuat mereka lebih memilih lokasi luar ruangan dari pada ruang sekertariat Rohis.
Mereka menunggu kedatangan Zayaan sang ketua Rohis Akhwat dan Ica yang belum hadir di tempat. Jadwal kuliah yang tidak sama membuat mereka kesulitan mengatur jadwal namun karena agenda ini sudah ditentukan jauh-jauh hari, mereka akan berusaha berkumpul meluangkan waktu untuk diskusi kegiatan bulanan ini.
"Assalamualaikum." Zayaan datang, seluruh pandangan tertuju pada perempuan cantik yang masih mengenakan pakaian praktek anak Teknologi Pengolahan Hasil Ternak berwarna putih-putih seperti dokter.
"Waalaikumussalam." Semuanya menjawab salam Zayaan.
"Kita nunggu siapa?" Zayaan melihat ke arah Arfan dan Rohis lain bergantian.
"Kita tunggu Ica sebentar." Jawab Arfan.
"Oh, iya.." Zayaan mengangguk mengerti, ia bergerak maju untuk duduk bergabung dengan anggota lain.
Arfan memutar kepala ke kanan dan kiri mencari sosok Ica. Selain memegang buku catatan, Arfan juga membawa buku bersampul merah muda berjudul Khadijah yang akan ia berikan pada Ica.
"Assalamualaikum, maaf saya terlambat." Ica datang dengan napas terengah-engah. Semua anggota yang sudah menunggu kedatangan Ica menjawab salam termasuk Arfan.
Arfan memperhatikan Ica yang tampak berbeda dari biasanya, ia menggunakan make-up. Arfan menduga Ica baru saja selesai praktek menggunakan make-up sebab jurusan MBP menuntut mahasiswi untuk pandai menghias diri. Arfan lupa mengedipkan matanya saat memandang sosok Ica yang anggun dengan make up dan gamis ungu muda serta jilbab panjang nya.
Ica menjabat satu per satu anggota Rohis yang lain lalu bergabung duduk bersama mereka.
"Ayo mulai Kak!" Seru salah satu anggota Rohis laki-laki membuat Arfan tersadar dari lamunannya. Arfan mengerjapkan mata berkali-kali dan membisikkan istigfar karena telah terlalu lama memandangi perempuan.
"Alhamdulillah akhirnya kita dapat berumpul disini dalam rangka kegiatan bulanan Rohis Poliwangi yang inhsaa Allah semoga tidak ada halanganbakan dilaksanakan minggu depan." Arfan mengawali setelah mengucapkan salam dan duduk di antara anggota Rohis lain.
"Rencananya kita mau mengadakan kegiatan apa Dek Arfan?" Ibnu dari jurusan Teknik Sipil bertanya, ia merupakan anggota Rohis senior.
"Ada beberapa teman yang mengusulkan bagi-bagi buku bekas maupun baru untuk dibagikan kepada anak-anak SMP atau SMA tergantung jenis bukunya." Arfan mengedarkan pandangan kepada teman-teman anggota Rohis meminta pendapat mereka.
"Buku nya dari mana Kak?" Karin yang duduk di sebelah Ica mengangkat tangannya.
"Buku kalian yang sudah tidak terpakai boleh dikumpulkan tentunya yang masih layak baca ya." Arfan mengembangkan senyumnya menjawab pertanyaan Karin dengan sabar.
"Gimana kalau kita promosikan kegiatan ini kepada mereka yang bukan anggota Rohis supaya buku yang kita dapat lebih banyak." Usul Ica yang langsung disetujui oleh anggota lain.
"Boleh." Arfan mengangguk. "Kita bisa promosi dengan cara membagikan brosur dan menggunakan ruangan Rohis bagi mereka yang akan memberikan buku tersebut." Arfan tersenyum mengedarkan pandangan pada seluruh teman anggota Rohis nya.
Mereka mengangguk setuju dan menunjuk dua orang di jurusan Teknik Informatika untuk membuat brosur. Waktu pengumpulan buku seminggu dari hari ini.
"Syarat-syarat buku yang bisa disumbangkan seperti apa Kak?" Giliran Alif mengajukan pertanyaan.
"Nanti Zayaan share di grup whatsapp ya, gimana Zayaan?" Arfan mengalihkan pandangan pada Zayaan yang duduk di samping nya berjarak 1 meter.
"Ya." Zayaan mengangguk mantap sambil tersenyum manis kepada Arfan. "Kalau tempat nya kita mau bagi buku nya kemana?" Zayaan melihat Arfan dan anggota lain bergantian.
"Kalau saya boleh kasih usul, gimana kalau kita ke Glenmore." Usul Arfan. Anggota lain mempertimbangkan usulan sang ketua Rohis.
"Boleh, kebetulan kita belum pernah ke Glenmore." Lia, Rohis senior menyetujui pendapat Arfan.
"Ada Ica yang nanti bisa jadi petunjuk arah, bagaimana Ica?" Arfan melihat Ica yang sedang serius menyimak jalannya diskusi.
"Iya, saya akan buat janji dengan beberapa sekolah di Glenmore supaya kita tidak mengganggu jalannya pembelajaran disana." Ica mengembangkan senyumnya, anggota lain mengangguk setuju.
Mereka mengakhiri rapat kali ini setelah memastikan lagi kegiatan yang akan dilaksanakan minggu depan tersebut. Sebagian besar anggota Rohis beranjak dari tempat tersebut, pulang ke rumah atau kos-an masing-masing.
Ica dan beberapa teman sesama jurusan MBP masih bertahan di tempat tersebut mengobrol ringan perihal kuliah dan kegiatan Rohis. Arfan masih enggan beranjak dari tempat duduknya, ia ingin memberikan buku di tangannya pada Ica namun tiba-tiba rasa gugup menganggunya.
"Loh, Kak Arfan kok belum pulang?" Karin yang duduk di samping Ica melihat ke arah Arfan.
"Oh, ini.." Arfan membasahi bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugup nya. "Ini buat Ica." Arfan menyodorkan buku berjudul Khadijah pada Ica.
"Buat aku?" Ica terkejut, ia melihat Arfan bingung. "Oh, Kakak jual?" Tanya Ica polos.
"Bukan-bukan." Arfan menggeleng. "Ini buat Ica, kebetulan waktu pulang ke Jember aku lihat ini, gratis." Arfan tersenyum manis pada Ica.
"Huh? Serius?" Ica mengambil alih buku di tangan Arkan. "Rencananya aku mau beli online buku Khadijah." Ica tersenyum lebar memandangi buku di tangannya. "Makasih ya Kak." Seru Ica senang.
"Sama-sama, kamu suka?"
"Suka banget." Ica mengangguk beberapa kali. Matanya berbinar-binar melihat buku pemberian Arfan.
Arfan tersenyum senang melihat Ica menyukai buku tersebut. Jantung nya berdegup kencang melihat perempuan yang disukainya bahagia karena dirinya.
"Cuma Ica yang dikasih buku?" Karin berseru.
"Kalau kalian mau, datang aja ke toko buku aku ya." Ucap Arfan membuat yang lain bersorak sebal, Arfan tertawa melihar reaksi mereka. "Aku pulang duluan ya?" Arfan beranjak dari duduk nya. "Assalamualaikum."
Arfan meninggalkan tempat tersebut walaupun sebenarnya ia ingin berlama-lama demi melihat wajah ceria Ica tapi ia sadar bahwa tidak halal baginya melihat gadis itu. Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menjaga pandangan. Sebesar apapun rasa cintanya pada Ica, Arfan tidak ingin terlena, ia tidak akan lupa pada perintah Allah.
"Kak Arfan baik banget ya." Ucap Karin yang disambut anggukan oleh teman-teman nya yang lain
"Iya, pantas aja Zayaan suka sama dia." Sahut Arum.
"Mereka berdua cocok." Ica mendongak, ia menyimpan buku pemberian Arfan ke dalam tas sekolahnya.
"Tapi bukannya Kak Arfan suka sama kamu Ca." Karin menyikut Ica sambil tersenyum jahil persis seperti ketika Dianis menggodanya.
"Kalian apa sih." Ica mengerucutkan mulutnya, pipi nya memerah karena digoda teman-temannya tersebut, mereka semua tertawa karena berhasil menggoda Ica.
Ica menunduk sambil menggigit bibir bawah nya, ia tidak merasa Arfan menyukainya karena lelaki itu memang baik hati kepada semua orang. Ica tidak mau menduga-duga, ia belum memikirkan pasal cinta. Kalaupun ingin bicara tentang cinta itu nanti saat dirinya benar-benar siap untuk serius lalu menikah.
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈