NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Sayang yang Hilang

Tetapi di atas meja, satu nama mulai menghubungkan dua rahasia yang seharusnya tidak pernah bertemu.

Kevin Liem membaca ulang nama Keira Yanto seolah huruf-huruf itu bisa berubah jika ia cukup lama menatapnya. Ruang kerja Vila Biru sunyi. Hanya suara AC dan lembar kertas yang sesekali bergeser di bawah jari Gio.

"Kamu dapat ini dari mana?" tanya Kevin.

"Gio menyelidiki latar belakang Keira," jawab Rayhan.

Kevin mengangkat wajah. "Kenapa kamu menyelidiki dia?"

Rayhan diam setengah detik.

Dalam hubungan persahabatan dua puluh tahun, setengah detik sudah cukup untuk menjadi jawaban.

Kevin menatapnya lebih tajam. "Ray."

"Dia pacarku."

Gio menunduk ke dokumen seolah tiba-tiba laporan itu sangat menarik.

Kevin berkedip.

Lalu, di tengah ketegangan yang seharusnya berat, ia tertawa pendek. "Aku baru mendarat dan kamu langsung memberi dua kabar besar. Pertama, kamu akhirnya punya pacar. Kedua, pacarmu mungkin terkait petunjuk adikku yang hilang."

"Aku belum mengatakan begitu."

"Tapi kamu memanggilku tengah malam."

Rayhan tidak membantah.

Kevin duduk di kursi seberang, melepas napas panjang. Wajahnya yang biasanya tenang mulai menunjukkan retak kecil. Bukan panik. Lebih seperti orang yang terlalu lama menahan harapan sampai tidak berani menyentuhnya.

"Ceritakan tentang Sayang," kata Rayhan.

Kevin menatap map di meja.

"Kamu sudah tahu garis besarnya. Adikku hilang saat masih bayi. Umurnya belum genap satu tahun. Rumah sedang kacau karena Papa ada perjalanan bisnis, Mama baru pulih setelah melahirkan. Pengasuh baru membawa dia keluar sebentar. Setelah itu, dia tidak pernah kembali."

Keheningan turun.

Rayhan pernah mendengar kisah itu, tetapi setiap kali Kevin mengulang, lukanya terdengar tetap baru.

"Polisi mencari. Keluarga kami menyebar foto. Panti, rumah sakit, terminal, pelabuhan, semua didatangi. Mama sampai jatuh sakit berkali-kali. Papa membangun Yayasan Di Jalan karena terlalu banyak keluarga lain yang punya luka sama."

Kevin tersenyum pahit.

"Tapi untuk kami sendiri, hasilnya selalu kosong."

Gio perlahan membuka amplop cokelat lain. "Pak Kevin, apakah Liem pernah menemukan jalur panti tertentu?"

Kevin mengangguk. "Beberapa tahun setelah Sayang hilang, ada informasi bahwa bayi perempuan dengan ciri mirip pernah masuk jaringan panti di pinggiran Jakarta. Tapi saat kami datang, catatannya sudah berpindah tangan. Nama panti lama tidak jelas. Ada satu nama yang berkali-kali muncul sebagai kemungkinan."

Rayhan menatapnya.

Kevin menurunkan suara. "Panti Asuhan Harapan Baru."

Nama itu membuat ruang kerja terasa lebih sempit.

Gio segera mencocokkan dokumen. "Itu panti yang juga muncul di catatan adopsi Keira Yanto."

Kevin menutup mata sebentar.

"Umurnya?" tanyanya.

"Dua puluh empat sesuai KTP," jawab Gio. "Tapi tanggal lahirnya patut dipertanyakan. Jika memakai perkiraan usia saat masuk panti, rentangnya bisa masuk dengan tahun hilangnya Sayang."

Kevin menggenggam ujung meja.

"Ada foto?"

Rayhan mengambil ponsel, membuka satu foto Keira yang pernah dikirim Gio dari profil kantor D.N. Foto itu formal, Keira memakai blazer krem, rambut panjangnya terurai, senyumnya kecil tapi bersih.

Ia menyerahkan ponsel kepada Kevin.

Kevin menerimanya dengan tangan yang terlalu hati-hati.

Pada detik pertama, tidak ada reaksi.

Detik kedua, napasnya tertahan.

Ia memperbesar foto itu, menatap garis mata, bentuk bibir, lekuk wajah yang entah kenapa membuat dadanya sakit.

"Dia..." Kevin berhenti.

"Mirip siapa?"

Kevin tidak langsung menjawab. Matanya tetap di layar.

"Mama waktu muda."

Gio ikut terdiam.

Rayhan menatap Kevin, lalu foto Keira. Di kepala Rayhan, potongan-potongan yang tadinya terpisah mulai bergerak mendekat: Keira Yanto, panti, tanggal lahir yang tidak rapi, keluarga Yanto, satu tahun kosong, Puncak, Genki.

Terlalu banyak kebetulan.

Dan dalam hidupnya, kebetulan yang terlalu banyak biasanya adalah hasil dari seseorang yang pandai berbohong.

"Jangan beri tahu keluarga Liem dulu," kata Rayhan.

Kevin mengangkat wajah cepat. "Ray."

"Aku tidak melarangmu berharap. Aku melarangmu menghancurkan Mama Liem dengan harapan yang belum punya bukti."

Kalimat itu menghentikan Kevin.

Wajah ibunya tampak melintas di matanya. Perempuan yang setiap tahun tetap menyiapkan kue ulang tahun kecil untuk anak yang tidak pernah pulang. Perempuan yang menjaga satu kamar kosong tetap bersih, seolah pemiliknya hanya sedang pergi sekolah.

Kevin menunduk.

"Kamu benar."

"Kita butuh bukti."

"DNA."

"Belum sekarang."

Kevin menatapnya, kali ini lebih dingin. "Kenapa?"

"Karena Keira baru saja mulai percaya padaku."

Kevin memahami sesuatu dari jawaban itu. "Kamu belum cerita soal penyelidikan?"

"Belum."

"Ray, kalau dia benar Sayang, dia berhak tahu."

"Aku tahu. Tapi dia juga berhak tidak dijadikan objek pembuktian tanpa persiapan. Keluarga Yanto sudah cukup lama memperlakukannya seperti barang yang bisa dipakai."

Kevin diam.

Di wajahnya muncul rasa sakit yang lebih tenang. "Kamu sudah melihat rumah itu?"

"Belum langsung. Tapi dari cara dia minta maaf untuk semua hal, aku bisa menebak."

Kevin meletakkan ponsel Rayhan di meja. "Kalau benar dia adikku, aku terlambat dua puluh tahun lebih."

"Maka jangan datang dengan cara yang membuatnya merasa dikejar."

Kevin tertawa pelan, kali ini tanpa humor. "Kamu memberi nasihat soal kelembutan kepadaku sekarang?"

"Aku sedang belajar."

"Dari Keira?"

Rayhan tidak menjawab.

Itu juga jawaban.

Gio membersihkan tenggorokan pelan. "Langkah berikutnya, Pak?"

Rayhan kembali ke dokumen. "Cari arsip lama Panti Asuhan Harapan Baru. Staf lama, donatur lama, siapa pun yang pernah memegang berkas bayi perempuan sekitar dua puluh empat tahun lalu. Jangan gunakan nama Liem dulu."

"Baik, Pak."

"Lalu fasilitas kesehatan Keira empat tahun lalu?"

"Saya masih telusuri."

Kevin menatap Rayhan. "Empat tahun lalu ini terkait apa?"

Rayhan tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya malam itu, Kevin melihat sesuatu yang gelap lewat di wajah sahabatnya.

"Malam di Puncak," kata Rayhan akhirnya.

Kevin membeku.

Ia tahu soal malam itu. Tidak semua detail, tetapi cukup untuk tahu bahwa Rayhan pernah menjadi korban jebakan yang meninggalkan seorang anak bernama Genki dan banyak pertanyaan tanpa wajah.

"Keira?" bisik Kevin.

"Belum tahu."

"Tapi kamu curiga."

Rayhan menatap foto Keira di ponselnya.

"Aku takut curigaanku benar."

Karena jika benar, berarti perempuan yang baru malam ini ia sebut pacar bukan hanya kekasihnya.

Mungkin juga ibu dari anaknya.

Dan mungkin adik yang Kevin cari seumur hidup.

Kevin menyandarkan tubuh ke kursi, wajahnya pucat.

"Ray, ini terlalu besar."

"Aku tahu."

"Kalau salah, kita melukai dia. Kalau benar..."

Kevin tidak menyelesaikan kalimat.

Jika benar, maka ada orang yang telah mencuri bukan hanya bayi Liem, tetapi juga hidup Keira, ingatan Keira, dan masa kecil Genki.

Rayhan menutup map perlahan.

"Itulah sebabnya kita bergerak hati-hati."

Ponsel Gio bergetar. Ia membaca pesan masuk, lalu wajahnya berubah.

"Pak."

Rayhan menoleh.

"Ada satu nama fasilitas yang muncul dari jalur pembayaran Yanto empat tahun lalu."

Kevin ikut menegakkan tubuh.

Gio menelan ludah. "Klinik psikiatri swasta di Bogor. Datanya masih tertutup, tapi tanggal pembayaran pertamanya sehari setelah perkiraan Genki lahir."

Rayhan tidak berkata apa-apa.

Namun tangan yang berada di atas map mengepal pelan.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!