NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Kembang Api Valentine

“Jadi kamu datang memeluknya?”

Keira tidak bergerak. Gelap kamar hotel London membuat napas Rayhan terasa lebih dekat daripada tubuhnya sendiri.

“Lepaskan aku dulu,” katanya.

“Jawab.”

“Aku tidak memeluk Kevin.”

“Foto itu bilang lain.”

“Foto tiga detik bisa mengatakan apa pun pada orang yang sudah ingin cemburu.”

Tangan Rayhan di pergelangan Keira mengencang, lalu perlahan mengendur. Ia menarik kartu kamar dari tangan Keira dan menyalakan lampu. Cahaya kuning lembut memenuhi ruangan, memperlihatkan wajah Rayhan yang pucat karena penerbangan panjang dan mata yang belum tidur.

Keira menatapnya. “Kamu terbang dari Jakarta karena Instagram Story?”

“Karena kamu tidak mengangkat teleponku.”

“Kita sedang perang dingin.”

“Aku tidak setuju.”

Keira hampir tertawa. “Perang dingin tidak butuh persetujuan dua pihak.”

Rayhan menatapnya lama. Kemarahan di matanya belum hilang, tetapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih rapuh. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai.

Langit London malam itu gelap dan bersih.

“Aku datang bukan hanya karena dia,” katanya.

Keira mengikuti arah pandangnya.

Detik berikutnya, kembang api pertama meledak di langit.

Warna emas membuka malam seperti bunga raksasa. Lalu merah muda, biru, putih. Dari kejauhan, cahaya itu menyusun huruf satu per satu.

KEIRA SALIM.

Keira membeku.

Kembang api berikutnya menyala lebih panjang.

HAPPY VALENTINE'S DAY.

Di bawah langit asing, nama Keira berdiri terang di atas kota yang bahkan belum sepenuhnya mengenalnya.

Kembang api itu tidak berhenti pada tulisan. Cahaya berikutnya membentuk garis melengkung seperti kelopak bunga, lalu berubah menjadi titik merah kecil di ujung siluet wajah perempuan. Keira tahu itu hanya gambar kasar dari teknologi mahal, tetapi titik merah itu tepat berada di tempat tahi lalatnya.

Ia tidak pernah meminta dikenali seperti itu.

Justru karena itu, tenggorokannya terasa sempit.

Rayhan berdiri di belakangnya. “Aku menyiapkannya sebelum kita bertengkar.”

Keira tidak menjawab.

Ia sudah terbiasa melihat uang bekerja. Uang bisa membeli diam orang, bisa menghapus berita, bisa membuat dokter menelepon pria yang tidak seharusnya tahu. Namun malam itu, uang Rayhan berubah menjadi sesuatu yang terlalu boros, terlalu kekanak-kanakan, dan terlalu jujur.

“Kalau kamu tidak datang ke London,” kata Keira pelan, “apa kembang api ini tetap menyala?”

“Ya.”

“Untuk siapa?”

“Untuk langit. Biar langit tahu aku sedang minta maaf.”

Keira menoleh. “Itu jawaban bodoh.”

“Aku tahu.”

Rayhan mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. “Aku marah karena pil itu. Tapi kamu benar. Aku tidak pernah memberimu posisi yang cukup aman untuk membuatmu ingin mempertaruhkan tubuhmu.”

Keira menatapnya.

Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada janji menikah yang dilempar hanya untuk meredakan malam. Justru karena itu, kalimat Rayhan terasa lebih berat.

“Aku belum tahu cara memperbaiki semuanya,” lanjutnya. “Tapi untuk hal itu... aku bisa mulai dari yang paling kecil.”

“Apa?”

Rayhan membuka laci meja samping dan mengambil kotak kecil berisi pengaman.

Keira terdiam.

Wajah Rayhan agak kaku, seperti pria yang lebih mudah membeli langit daripada mengucapkan kompromi sederhana.

“Mulai sekarang, aku yang pakai,” katanya.

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran pil itu, dada Keira tidak terasa sepenuhnya tertutup.

Ia tidak berkata terima kasih. Ia hanya berjalan mendekat, meletakkan dahi di dada Rayhan sebentar.

Rayhan menahan napas.

“Kei?”

“Diam.”

“Oke.”

Tangannya terangkat pelan, berhenti di udara sebelum menyentuh punggung Keira. Dulu ia akan langsung memeluk, langsung mengunci, langsung memastikan perempuan itu tidak punya ruang untuk menjauh. Malam itu, ia menunggu.

Keira merasakan jeda itu.

Hal kecil. Hampir tidak terlihat. Namun bagi seseorang seperti Rayhan, menahan tangan bisa lebih sulit daripada membeli langit.

“Kamu boleh memeluk,” kata Keira akhirnya.

Rayhan memeluknya seketika, erat, tetapi kali ini tidak sampai membuatnya sulit bernapas.

“Aku masih marah,” bisik Keira.

“Aku tahu.”

“Aku belum memaafkan semuanya.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu ulangi lagi, aku pergi.”

Rayhan menunduk, bibirnya menyentuh rambut Keira. “Kalau aku ulangi lagi, kamu boleh pergi. Tapi beri aku kesempatan untuk tidak mengulanginya.”

Di luar, huruf-huruf cahaya mulai pecah menjadi hujan emas.

Malam itu, mereka berdamai tanpa menyelesaikan semua masalah. Rayhan masih terlalu posesif. Keira masih terlalu banyak menyimpan rahasia. Namun untuk beberapa jam, tubuh mereka berhenti menjadi medan perang dan kembali menjadi tempat pulang yang sementara.

Ketika Rayhan menciumnya, Keira tidak langsung membalas. Ia membiarkan pria itu berhenti lebih dulu, membiarkan dirinya memastikan bahwa kali ini tidak ada tuntutan di balik sentuhan itu.

Rayhan benar-benar berhenti.

“Boleh?” tanyanya, suara serak.

Keira menatapnya lama. Lalu ia menarik kerah kemeja Rayhan sedikit.

“Kamu banyak tanya malam ini.”

“Aku sedang belajar.”

“Belajarmu lambat.”

“Tapi mahal.”

Keira hampir tertawa. Suara kecil itu keluar juga, samar, dan Rayhan seperti orang yang baru memenangkan sesuatu yang tidak bisa ia beli.

Keesokan paginya, London diselimuti kabut tipis.

Rayhan menaruh kotak beludru biru di meja sarapan kamar hotel.

Keira menatapnya. “Kamu punya hobi memberi benda mahal setelah bertengkar?”

“Ini hadiah Valentine.”

“Kembang api semalam apa?”

“Permintaan maaf.”

Keira membuka kotak itu.

Kalung safir biru terbaring di dalamnya, sederhana tapi terlalu indah untuk disebut biasa. Batu di tengahnya menangkap cahaya pagi dan memantulkannya seperti potongan laut kecil.

Rayhan berdiri di belakang Keira, mengangkat kalung itu. “Boleh?”

Keira diam sebentar, lalu mengangkat rambutnya.

Jari Rayhan menyentuh lehernya saat memasang kait. Sentuhan itu ringan, hampir penuh hormat. Ketika safir itu jatuh di tulang selangka Keira, Rayhan menatapnya terlalu lama.

“Cocok,” katanya.

“Kamu selalu bilang begitu pada barang yang kamu beli.”

“Tidak. Barang lain hanya mahal. Ini punya kamu.”

Keira menyentuh safir itu. Dingin.

“Jangan terlalu sering memberiku barang,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena nanti saat aku pergi, tas pengembaliannya terlalu banyak.”

Rayhan membeku. “Kamu masih berpikir untuk pergi?”

Keira menutup kotak beludru. “Semua orang seharusnya punya jalan keluar.”

Kalimat itu membuat udara pagi menjadi lebih dingin. Rayhan ingin berkata bahwa Keira tidak membutuhkan jalan keluar darinya. Namun ingatan tentang pil kecil, tentang pertanyaan yang tidak bisa ia jawab, menahan lidahnya.

“Kalau suatu hari kamu ingin pergi,” katanya pelan, “beri tahu aku dulu.”

Keira menatapnya. “Untuk apa?”

“Supaya aku punya kesempatan berdiri di depan pintu dan bertanya apa yang harus kuperbaiki.”

Itu bukan janji melepaskan. Belum. Tapi juga bukan ancaman.

Untuk saat ini, Keira menerimanya sebagai kemajuan kecil.

Di lobi hotel, Kevin Widjaja sudah menunggu dengan map kontrak. Ia melihat kalung di leher Keira, lalu tangan Rayhan yang sengaja melingkar di bahu Keira.

“Pak Rayhan,” sapa Kevin tenang.

Rayhan tersenyum tanpa hangat. “Kevin.”

Kevin menahan senyum kecil. “Meeting distributor jam sebelas. Kalau Keira masih bisa bekerja.”

“Keira bisa bekerja,” jawab Keira sebelum Rayhan.

Rayhan menatap Kevin. “Dia pulang ke Jakarta hari ini.”

“Setelah meeting,” kata Keira.

Untuk satu detik, dua pria itu saling menatap. Kevin mundur lebih dulu, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu perang ini belum waktunya.

Meeting distributor berlangsung di ruang kaca lantai dua hotel. Rayhan tidak ikut masuk, tetapi ia duduk di lounge luar dengan laptop terbuka dan secangkir kopi yang tidak disentuh. Setiap kali Kevin menunduk mendengar penjelasan Keira, mata Rayhan terangkat dari layar.

Keira menyadarinya.

Di akhir presentasi, distributor Inggris memuji struktur aroma yang ia bawa: teh putih, kulit hangat, dan sentuhan mineral basah seperti batu setelah hujan.

“It feels restrained, but intimate,” kata pria itu.

Kevin menoleh pada Keira. “Itu memang gaya Keira.”

Rayhan mendengar dari luar.

Satu kalimat sederhana itu menusuknya lebih dari yang pantas. Kevin mengenal cara kerja Keira. Mengenal diamnya. Mengenal aromanya dalam bahasa profesional yang tidak bisa Rayhan bantah dengan uang.

Ketika meeting selesai, Rayhan berdiri dan langsung mengambil mantel Keira dari kursi.

“Pakai. Di luar dingin.”

Kevin tersenyum kecil. “London memang dingin, Pak Rayhan. Bukan medan perang.”

“Bagi sebagian orang, sama saja.”

Keira mengambil mantel dari tangan Rayhan. “Kalian berdua bisa berhenti mengubah lorong hotel menjadi arena?”

Kevin menunduk sopan. “Maaf, Keira.”

Rayhan hanya memasukkan tangan ke saku. “Aku tidak mulai.”

Keira meliriknya. “Kamu selalu merasa begitu.”

Ucapan itu membuat Rayhan terdiam. Namun kali ini ia tidak membalas. Ia hanya berjalan di samping Keira, satu langkah lebih dekat dari wajar, tetapi tidak menariknya dari tempat Kevin.

Kemajuan kecil lagi.

Hari itu, setelah semua urusan HEALER selesai, Keira dan Rayhan terbang kembali ke Jakarta.

Di kota yang sama, Vanessa Tanujaya menonton rekaman kembang api London dari ponsel Jessica. Wajahnya tetap cantik, tetapi jarinya menekan layar terlalu keras.

“Dia menulis nama Keira di langit,” bisik Jessica.

Vanessa mematikan layar.

“Langit tidak berarti apa-apa,” katanya. “Selama Mama Hartono masih tahu siapa yang pantas masuk keluarga itu.”

Di pesawat menuju Jakarta, Keira tertidur dengan kepala bersandar di bahu Rayhan. Safir biru di lehernya berkilau lembut.

Rayhan menurunkan selimut ke tubuhnya.

Ia menyentuh safir itu dengan ujung jari, sangat ringan. Di dalam batu kecil itu, teknologi yang dipesannya dari tim keamanan pribadi sudah aktif, sunyi, dan hampir mustahil dideteksi tanpa alat khusus.

Rayhan menatap wajah Keira yang tertidur.

“Aku hanya ingin bisa menemukanmu,” bisiknya, lebih seperti alasan kepada dirinya sendiri daripada kepada Keira.

Namun alasan tetaplah alasan.

Di tangan orang yang takut kehilangan, hadiah bisa berubah menjadi rantai tanpa suara.

Tidak ada yang tahu bahwa hadiah itu menyimpan sesuatu yang lebih dingin daripada batu permatanya.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!