Bulan Mahendra, seorang nona muda kaya raya yang sangat berkuasa di suatu sekolah swasta ternama.
Dia sangat di hormati di sekolah tersebut, tak hanya karna dia kaya raya, dia juga pemilik dari sekolah SMA Mahendra karna itu juga ia menjadi sangat angkuh dan sombong namun suatu hari tanpa sengaja ia bertemu dengan pemuda miskin yang merubah dirinya.
Dia mulai tertarik dengan pemuda itu dan tanpa ia sadari rasa ke tertarikannya berubah menjadi cinta yang akan mengubah kehidupannya dan nama pemuda itu adalah Awan.
Kisah cinta yang berawal dari sebuah pesta, akan kah berakhir bahagia? apakah Bulan bisa melewati semua batasan sampai bisa menuju ke tempat awan berada? atau malah Awan yang terbang menuju Bulan? atau mereka terpaksa untuk menyerah?.
Penasaran dengan ceritanya iyakan?
Yuk, baca dan jangan lupa untuk menambahkan like atau komentar untuk mendukung karya ini, biar rajin up! hehehe🙃.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Angelines, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gold Class
Sementara itu Awan bersama dengan Bulan yang sedang memindahkan barang barang Awan ke gold class tidak sengaja berpapasan oleh Galaksi and the gang.
"Brak...." bunyi barang yang tidak sengaja terjatuh karna tertabrak oleh Bima.
"Woy, Bima kalau jalan hati hati dong!" teriak Bulan.
"Ups, sorry gak sengaja." jawab Bima enteng.
Bulan pun tidak menghiraukan Bima ia beranjak mengambil barang yang jatuh.
"Biarin Lan, nanti juga di pungut sama orang miskin itu."seru Galaksi.
"Ah iya, kenapa gua yang ngambil?" seru Bulan yang langkahnya terhenti ketika ingin mengambil barang itu.
"He.em." seru Galaksi.
"Seharusnya Bima yang ngambil." seru Bulan.
"He.em eeeee, apa kok Bima?" tanya Galaksi.
"Ya, karna Bima yang jatuhin gimana si." jawab Bulan.
"Sudah biar saya aja yang ngambil." seru Awan yang langsung mengambil barang yang terjatuh itu.
"Gitu dong sadar diri, lu cuma anak orang miskin." seru Galaksi.
"Sebenarnya gua heran, gimana bisa anak miskin kaya lu masuk ke gold class." seru Sakti.
"Bisa diem gak? kalau gak bisa gua bisa bikin kalian diem selamanya." seru Bulan yang mengancam para pria di hadapan nya.
"Kamu kenapa ngebelain dia si sayang?" seru Galaksi yang mulai tidak tau malu lagi.
"Sayang?" Awan kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Galaksi.
"Gua udah bilang berkali kali ya, jangan manggil gua kayak gitu jijik tau." seru Bulan.
"Kenapa kamu ngebelain dia dan ngomong kasar sama aku, apa si yang istimewa dari dia ha..? dia hanya cowok miskin yang orang tua nya gak bisa biayain dia, makannya dia dapat beasiswa mungkin bahkan ibunya harus jual diri buat memenuhi kebutuhan dia." seru Galaksi yang membuat Awan sangat marah.
Awan pun langsung menarik kera baju Galaksi dan mendorong nya sampai terhempas ke sebuah loker yang terbuat dari besi.
"Brak...." bunyi tubuh Galaksi yang terbentur lemari besi itu, Awan pun langsung Menghampirinya lagi hendak memukul wajah Galaksi namun Galaksi berhasil menghindar, Galaksi semakin tersudut, Awan pun langsung menarik baju Galaksi.
"Kamu bisa berbicara apapun tentang saya, namun tidak tentang ibu saya!" seru Awan yang benar benar sangat marah karna perkataan Galaksi.
"Kenapa kalian diem aja si, bantuin gua dong!" teriak Galaksi yang meminta tolong kepada Bima dan Sakti.
Bima dan Sakti pun bergegas akan memukul Awan untuk membantu Galaksi namun mereka terhenti karna perkataan Bulan.
"Kalau kalian berani nyentuh Awan, gua pasti in kalian gak akan pernah bisa mengunakan tangan kalian lagi." seru Bulan yang membuat Bima dan Sakti sedikit takut.
"Woy lah." teriak Galaksi yang mulai sesak nafas karna tercekik.
"Awan udah ayo jangan ngotorin tangan kamu hanya untuk manusia seperti mereka!" seru Bulan, Awan pun mulai melepaskan cengraman nya.
"Hu...hu.... tunggu aja nanti." seru Galaksi yang mulai bisa bernafas dengan baik.
"Lu, gak apa?" tanya Bima kepada Galaksi.
"Gak, ayo cabut!" seru Galaksi.
Galaksi, Bima dan Sakti pun pergi meninggalkan Awan dan Bulan.
"Kamu gak apa apa? " tanya Bulan kepada Awan.
"Gak apa apa, kalau boleh tau siapa mereka?" tanya Awan.
"Mereka itu Galaksi, Bima sama Sakti, mereka dari keluarga Raharja makanya sangat sulit kalau berurusan sama mereka." jawab Bulan.
"Keluarga Raharja, saya baru ingat keluarga ternama nomor dua setelah keluarga Mahendra." seru Awan.
"Yap, mereka juga menempati gold class, lu pasti bakalan sering ketemu mereka." seru Bulan yang mulai berjalan menuju gold class.
"Ah, iya hampir lupa, gua bakalan jelasin ke ungulan dari gold class yang sangat jauh berbeda dengan kelas lainnya, karna hampir semua murid gold class itu anak pengusaha jadi ada pelajaran mengenai bisnis dan bahasa asing kita disana di ajari berbagai bahasa seperti spanyol, inggris, cina dan masih banyak lainnya. d
Disana juga ada pelajaran Tata kerama untuk menghadiri acara acara ataupun pesta, di gold class juga banyak sekali fasilitas yang bisa di nikmati contohnya kantin khusus murid gold class dan perpustakaan yang bukunya berasal dari seluruh penjuru dunia...." seru Bulan yang menjelaskan panjang lebar tentang gold class, sedangkan Awan hanya memandang i wajah Bulan sambil terus tersenyum.
****************
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan gedung yang di bangun khusus untuk gold class. Sebenarnya gedung kelas biasa dan gold class terpisah di dalam gedung itu memiliki banyak fasilitas yang hanya bisa di nikmati oleh murid gold class.
Awan yang berjalan masuk ke gedung itu tak berhenti berhenti tercengang dan mengagumi gedung tersebut karna Awan memang baru pertama kali masuk ke sana, sebelum sebelumnya Awan hanya bisa memandang gedung tersebut dari luar.
tak lama kemudian merekapun sampai di kelas 11 gold.
"Selamat datang, di gold class." seru Bulan.
Awan pun sangat tercengang karna kelas yang akan ia tempat i sangat jauh berbeda dengan kelas sebelumnya.
Bulan pun tersenyum melihat ekspresi Awan yang mata nya melebar setelah masuk ke gold class.
"Hahahaha, kamu imut banget si." seru bukan sambil tertawa riang.
"Bukan gitu ini beneran kelas? kok kayak tempat liburan, kenapa ada layar begitu besar dan apa gunanya meja tenis di belakang sana?" tanya Awan yang memang sangat terkejut dengan apa yang ia lihat kelas itu yang sama sekali tidak terlihat seperti sebuah kelas, memang ada banyak bangku tapi fasilitas di dalam kelas tersebut tidak masuk akal.
"Oh itu, saat ada jam kosong dan lagi bosen bisa di pakek kalau kamu mau pakek aja semua fasilitas di sini di buat khusus untuk murid gold class." seru Bulan.
"Baik kalau begitu, ngomong ngomong saya duduk di mana?" tanya Awan.
"Lu bisa duduk di sebelah gua, meja gua ada di sebelah kiri dekat jendelah." seru Bulan.
"Terima kasi, kalau gitu." seru Awan sambil menahan senyumnya.
"Sama sama, santai aja kalau butuh apa apa bilang aja ke gua oke!" seru Bulan sambil tersenyum dengan sangat manis.
Awan pun duduk di bangku sebelah bangku Bulan.
Tak berselang lama datang lah Tata dan Surya masuk ke kelas wajah mereka terlihat sedikit kesal.
"Bulan!" panggil Tata.
"ha?" jawab Bulan singkat.
"Dari mana aja si lu, gua nyariin lu keliling sekolah tau!" seru Tata yang sedikit kesal.
"Gua jadi pemandu Awan keliling gedung ini, emang kenapa kalian nyariin gua?" tanya Bulan.
"Katanya lu mau ikut rapat osis, gimana si?" seru Surya.
"Emang nya kapan rapatnya?" tanya Bulan.
"Sekarang Lan, ayo cepet!" jawab Surya.
"Gak bisa di undur gitu, gua masi mau nemenin Awan." seru Bulan.
"Gak bisa Lan, semua anggota osis udah ngumpul dari tadi." seru Surya.
"Kamu pergi aja, gak apa apa kok." seru Awan kepada Bulan.
"Tu, ayo cepet." seru Tata sambil menarik tangan Bulan agar ia bisa cepat cepat menuju ruang rapat osis.
"Kalau ada apa apa hubungi gua oke!" seru Bulan.
"Tapi, saya gak punya nomor kamu." seru Awan yang membuat langka Tata dan Bulan terhenti.
"Oh, ini kartu nama Bulan." seru Surya sambil membuka dompetnya dan memberikan kartu nama milik Bulan.
"Udahkan, ayo." seru Tata.