*** (Disarankan membaca cerita sebelumnya)
Sekuel CINTA UNTUK ARUNA
Gloria, wanita 24 tahun, yang harus menerima kepahitan hidup sejak orang tuanya meninggal dunia. Sering dijadikan suaminya sendiri sebagai wanita penghibur hanya demi uang.
Pertemuannya dengan seorang Richardo, pria 26 tahun, membuat hidupnya berubah. Tak hanya memperlakukannya dengan baik, memberinya perhatian, Richardo bahkan berani menantang badai hanya demi mendapatkan cintanya.
Bagaimanakah kisah Richardo dan Gloria selanjutnya? Akankah Richardo mampu menaklukkan wanita yang sudah menyandang status istri orang tersebut?
Ikuti kisah selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Mengunjungi Makam
Bab 14. Mengunjungi Makam
Mentari berpendar di atas cakrawala. Tingginya hampir mencapai ubun-ubun. Teriknya mentari siang itu membuat Ardo berkali-kali mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajahnya. Keringatnya mengucur deras, membuatnya gerah dan tak nyaman.
Siang itu, di jam istirahat kantor, Dicko mengajaknya mengunjungi pemakaman umum, sekedar menengok dua pusara yang hampir terlupakan. Kata sang ayah, pusara tersebut milik orang yang mereka kenal dahulu kala.
Dicko membungkuk, menaruh dua buket bunga diatas dua pusara yang berdampingan. Ia kemudian berjongkok di depan pusara dengan batu nisan bertuliskan Darma Dharmawan, sembari berkata,
"Maafkan aku kawan. Aku baru mengetahui kabar kematianmu. Aku sungguh tidak tahu kecelakaan yang menimpamu dan istrimu. Maaf yang sebesar-besarnya, aku baru bisa mengunjungimu sekarang."
Darma Dharmawan adalah seorang teman lama yang sempat menjalin kerjasama dengannya. Darma Dharmawan adalah seorang pengusaha sepatu bermerek ternama. Mereka sempat menjalin kolaborasi disaat melakukan promosi penjualan besar-besaran. Saat TRF melakukan gelaran fashion show, maka produk sepatu Darma Dharmawan akan digunakan sebagai pelengkap.
Sering bolak-balik ke luar negeri membuat Dicko dan Aruna tidak mengetahui kabar kematian teman lamanya.
Sedangkan istrinya yang bernama Maharani Ayu adalah seorang pengusaha kosmetik berlabel Glory. Salah salah satu merek kosmetik yang sering digunakan Aruna.
Namun sejak setahun belakangan ini, merek kosmetik itu telah berhenti berproduksi, semenjak Maharani meninggal dunia. Yabg sayangnya Dicko dan Aruna baru saja mengetahuinya.
Aruna tidak dapat mengunjungi makam bersama suami dan putranya. Lantaran wanita yang satu itu tengah disibukkan dengan persiapan rancangan-rancangan terbaru yang akan diproduksi tahun ini.
"Pa, berapa lama lagi?" tanya Ardo sembari menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya.
Dicko bangun berdiri, lalu menepuk pelan pundak sang putra.
"Beri penghormatan dulu," titahnya.
Namun Ardo terlihat enggan. Ia malah melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya.
Melihat gelagat Ardo yang kegerahan oleh teriknya mentari siang itu, mengharuskan Dicko memerintahkan Andre untuk mengambilkan payung yang tersimpan di mobil.
Tak berapa lama Andre datang dengan sebuah patung yang terbuka. Yang digunakannya untuk melindungi Ardo dari teriknya mentari yang serasa menyengat kulit.
"Terima kasih Om Andre," ucap Ardo.
"Sama-sama," balas Andre singkat.
"Pak Darma punya seorang putri. Mamamu sering memanggilnya Loly. Baru berusia satu bulan, dan kamu berusia dua tahun waktu itu. Saat kami sering meeting di rumah beliau. Karena istrinya yang baru melahirkan, jadi setiap kali ada meeting dengan Papa, beliau selalu meminta diadakan di rumahnya. Dan Papa membawa serta Mamamu dan juga kamu waktu itu," ujar Dicko mengingat-ingat kenangan bersama Darma kala itu, 24 tahun yang lalu.
"Terus?" tanya Ardo malas, seakan enggan mendengarkan kisah persahabatan sang ayah dengan seorang pria yang bernama Darma Dharmawan itu.
"Kamu tahu tidak? Dahulu, Mamamu sempat berniat mau menjodohkan kamu dengan Loly."
"Lalu?" Bukannya Ardo penasaran, ia hanya ingin ayahnya segera menyelesaikan kisahnya. Sebab ada sesuatu hal yang begitu dirindukan oleh pandangan matanya. Yaitu Gloria.
"Papa yang tidak menyetujuinya. Kamu tahu kenapa?"
"Mana aku tahu, Pa." Ardo mengendikkan bahunya malas.
"Kamu ini. Ayo, kita ke mobil." Dicko menepuk pundak Ardo, lalu mengambil langkah lebih dulu menuju tempat parkir. Disusul oleh Ardo serta Andre yang memegang payung.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Dicko melanjutkan kisah lamanya. Sedangkan Ardo malah mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Sembari mengukur senyum di bibirnya, tanpa sadar ia malah bergumam,
"Why do i miss her (kenapa aku merindukannya)?"
Gumaman Ardo itu sempat terdengar oleh Dicko yang duduk di sampingnya. Hingga membuat Dicko menoleh heran.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Dicko.
Ardo terhenyak. Lalu menoleh, menatap ayahnya.
"Aku tidak bilang apa-apa." Ardo malah berkilah. Karena memang yang terlontar dari mulutnya itu tanpa ia sadari.
Dicko menggeleng. "Papa tidak menyetujui perjodohan, karena Papa tidak ingin apa yang pernah terjadi pada Papa dan Uncle mu dulu, itu tidak akan terjadi padamu."
Ardo mengangguk. Ia pernah mendengar kisah percintaan ayah dan pamannya dahulu. Dan yang membuatnya salut adalah mereka bisa saling menerima keadaan yang mereka jalani sekarang.
"Papa tidak akan melarang kamu menjalin hubungan dengan wanita manapun. Papa dan Mama tidak memandang, apakah dia dari kalangan bawah ataupun kalangan atas. Karena yang terpenting adalah kalian saling mencintai. Wanita manapun itu, biar kamu yang memilih. Asalkan dia punya good attitude (sikap yang baik). Dan satu lagi, asalkan dia bukan istri orang. Sampai di sini, kamu paham?"
Ardo tertegun mendengar penuturan panjang lebar sang ayah. Kalimat terakhir Dicko seolah menyadarkannya.
Istri orang?
Sungguh lucu. Ia telah berusaha mendekati istri orang. Bahkan sempat berpikir ingin merebutnya. Bagaimana bisa seorang bujangan seperti dirinya menyukai istri orang?
Tunggu dulu!
Menyukai?
Bukankah yang ia lakukan saat ini hanyalah menjawab tantangan yang diberikan Leona saja?
Ia pun tersentak manakala sang ayah menepuk lembut pundaknya. Sembari berkata,
"Sudahlah. Tidak usah pikirkan soal itu. Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah tentang strategi penjualan apa yang akan kamu gunakan untuk meningkatkan volume penjualan produk kita."
"Pak Sapto, cepat sedikit," titah Dicko pada supir pribadinya.
Jam istirahat kantor yang tidak lebih dari satu jam itu, Gloria manfaatkan untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Sudah lama sejak ia menikah dengan Bary, ia jarang lagi datang menjenguk makam kedua orang tuanya itu.
Begitu sampai, ia malah dibuat terkejut oleh buket bunga segar yang tergeletak di atas makam ayah dan ibunya. Yang menjadi pertanda, makam itu baru saja dikunjungi.
Tetapi, siapakah yang telah meluangkan waktunya datang mengunjungi makam kedua orang tuanya?
Apakah Bary?
Tidak mungkin!
Manusia bertabiat iblis itu tidak akan mungkin mengunjungi makam orang tuanya.
Gloria menjadi resah. Sungguh ia penasaran siapa gerangan yang berbaik hati menengok pusara yang hampir terlupakan itu.
Setelah mengunjungi makam, Gloria bergegas kembali ke kantor. Ia melangkah cepat untuk sampai ke divisinya. Waktu istirahat hampir habis. Ia tak ingin terkena omelan atasan. Meski pun atasannya yang baru itu jarang terdengar mengomel. Bukankah ia harus tetap berusaha profesional dalam bekerja?
Baru saja ia mengambil duduk dibalik meja kubikelnya, saat tiba-tiba Reva yang berada di meja sebelahnya berkata,
"Glori, dari tadi Pak Ardo mencarimu."
"Mencariku? Untuk apa?" tanyanya ingin tahu. Sebab mendadak hatinya berdebar-debar. Ia hanya tak ingin salah mengartikan debaran aneh itu.
"Aku tidak tahu. Mungkin karena kamu belum membuatkannya kopi."
"Tapi dia kan bisa memintanya pada OB."
"Temui saja dulu. Mungkin ada hal lain."
Gloria mengarahkan pandangannya pada ruangan yang berdinding kaca tebal itu. Tampak pria penghuni ruangan itu tengah memfokuskan pandangannya pada layar laptopnya. Detik berikutnya pria itu, Ardo, tangannya bergerak mengambil ponselnya.
Pandangan Ardo kini beralih pada ponsel di tangannya. Pria itu terlihat sedang mengetik di layar ponselnya.
Beberapa detik kemudian, ponsel Gloria yang tersimpan di dalam tas malah berdenting. Yang membuatnya terhenyak. Lalu segera mengambil ponsel dari dalam tasnya itu.
Sebuah pesan chat masuk dari orang yang tak bisa ia hindari meski ia berusaha.
Si Tampan
Ke ruanganku, sekarang!
Gloria menghembuskan napasnya panjang. Tak bisa ia menghindari perintah itu. Akhirnya, dengan berat hati ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Yang penghuninya sangat ingin dihindarinya. Tetapi keadaan seakan tak berpihak kepadanya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Gloria takut-takut.
Ardo mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya kepada Gloria yang sedang berdiri dengan wajah tertunduk di depannya.
"Kamu ikut aku. Kita akan meninjau outlet penjualan produk kita di pusat-pusat perbelanjaan. Tapi sebelum itu, temani aku menemui ibuku sebentar," ujar Ardo.
Gloria tak bisa menolak. "Ba-baik, Pak."
Ardo mengulas senyumnya memandangi Gloria. Entah mengapa setiap kali menatap Gloria, ada debaran aneh yang mulai menggetarkan hatinya.
Sama hal nya dengan Gloria. Hatinya berdebar-debar aneh. Namun selalu ia menampiknya. Karena rasa malu yang teramat besar terhadap pria itu.
"Dari mana saja kamu tadi?" tanya Ardo tiba-tiba.
"Sa-saya ada urusan sebentar di luar kantor, Pak. Maaf saya pergi tidak meminta ijin Anda terlebih dahulu."
"Kalau kita hanya berdua seperti ini, boleh kan kamu jangan bersikap formal seperti ini?"
"Ta-tapi Anda adalah ..."
"Bagiku kamu itu bukan sekedar bawahan," sela Ardo cepat. Membuat Gloria lagi-lagi hanya bisa tertegun menatap sepasang mata hitam tegas itu dengan hati berdebar-debar.
Bersambung
jangn lupa berkunjung ya