NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Konferensi Nasional — Jakarta Memanggil

Dan itu sudah cukup untuk membuat seluruh dunia terasa bisa dilawan.

Tiga minggu kemudian, Ardi kembali ke Jakarta.

Kali ini ia tidak datang sebagai dokter yang baru keluar dari lounge reuni, tidak datang dengan ojek dan tatapan lama dari teman-teman yang meremehkan. Ia datang membawa dua hal yang jauh lebih berat: naskah The Lancet yang sudah diterima dan data Bronkosol yang bisa mengguncang perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Sebelum berangkat, Gatra berdiri di depan pintu apartemen sambil memegang tas sekolah.

“Ayah mau operasi?”

“Bukan. Ayah mau bicara di depan banyak dokter.”

“Kayak guru?”

Ardi tersenyum. “Sedikit.”

Sari mengangkat tangan kecilnya. “Ayah pulang.”

“Ayah pulang,” jawab Ardi, lalu mencium kening mereka satu per satu.

Janji sederhana itu membuat langkahnya ke bandara terasa berbeda.

Di Jakarta, konferensi nasional bedah jantung digelar di ballroom hotel besar dekat Kuningan. Logo IDI, Kemenkes, dan beberapa rumah sakit nasional terpampang di panggung. Lebih dari dua ratus ahli bedah jantung, internis kardiovaskular, dokter emergency, farmakolog klinis, dan regulator duduk di ruangan itu.

Di baris depan, Profesor Sri Mulyani berdiri menyambut Ardi.

“Ardi,” katanya. “Data Bronkosol sudah siap?”

“Siap, Bu Profesor. Saya menuliskannya sebagai safety signal, bukan tuduhan pidana.”

Sri Mulyani mengangguk puas. “Bagus. Kita buka pintu penyelidikan, bukan ruang gosip.”

Di sampingnya berdiri Dokter Budi Santoso, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes. Wajahnya tenang, tetapi cara ia membaca ringkasan satu halaman dari Ardi menunjukkan ia bukan pejabat yang hanya datang untuk foto.

“Dokter Ardi,” kata Budi. “Kalau Anda menyampaikan data ini di forum, akan ada konsekuensi besar.”

“Saya tahu, Pak Budi.”

“Pastikan Anda bisa mempertanggungjawabkan setiap angka.”

“Setiap angka punya rekam medis, lab, dan izin penggunaan data anonim.”

Budi menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Kalau begitu, sampaikan dengan jernih.”

Di sudut belakang ballroom, seorang pria berjas abu-abu mengirim pesan singkat.

Dia benar-benar akan bicara tentang Bronkosol.

Balasan dari Surya Pradana datang cepat.

Rekam semuanya.

Sesi Ardi dimulai pukul sepuluh.

Ia naik ke panggung tanpa musik, tanpa video dramatis. Slide pertama menampilkan judul Teknik Sandwich modifikasi, logo RS UNAIR, RSUD Soetomo, dan The Lancet.

Bagian pertama berjalan seperti pisau bedah yang bersih.

Ardi menjelaskan kasus Pak Gunawan, modifikasi jahitan mengikuti vektor aliran, data hemodinamik, komplikasi potensial, dan alasan teknik itu hanya boleh diterapkan pada kondisi terpilih. Ia tidak menjual mukjizat. Ia menunjukkan metode.

Ketika slide The Lancet acceptance muncul, tepuk tangan memenuhi ballroom.

Di layar video, Prof. Richard Camby muncul dari London untuk memberi komentar singkat.

“The manuscript from dr. Ardi Pratama and dr. Hasan Mulyadi attracted our attention because it did not merely report a success,” kata Camby dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan singkat oleh moderator. “It explained a reproducible surgical reasoning. That is why the data deserve attention.”

Ardi menunduk sedikit.

Lalu ia mengganti slide.

Judul berikutnya membuat tepuk tangan berhenti.

Sinyal Keamanan Obat: Hipokalemia Fatal dan Aritmia setelah Penggunaan Bronkosol pada Kondisi Tertentu.

Bisik-bisik menyebar seperti api kecil.

Bronkosol.

Nama itu bukan sekadar obat batuk. Itu produk besar, iklan besar, distribusi nasional, dan salah satu wajah PT Surya Perkasa Group di pasar kesehatan.

Ardi tidak menaikkan suara.

Ia mulai dari kasus Damar.

Lalu Suharto.

Lalu Maman.

Kemudian dua kasus pendukung.

Setiap kasus ditampilkan tanpa nama lengkap, dengan usia, riwayat penggunaan obat, kondisi pemicu, hasil kalium, EKG, enzim hati, dan waktu henti jantung. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tangisan. Hanya data yang berbaris rapi, justru karena itu lebih menakutkan.

“Saya tidak menyatakan semua penggunaan Bronkosol berbahaya,” kata Ardi. “Saya menyatakan ada sinyal kuat bahwa pada kombinasi tertentu, terutama alkohol, diuretik, dehidrasi, atau gangguan fungsi hati, obat ini dapat berkaitan dengan hipokalemia berat dan aritmia fatal. Sinyal ini harus diselidiki.”

Seorang dokter farmakologi berdiri. “Apakah data Anda sudah ditinjau pihak luar?”

Sebelum Ardi menjawab, Camby di layar mengangkat tangan.

“Our editorial team reviewed the clinical pattern as part of a safety correspondence draft,” katanya. “The dataset is preliminary, but the signal is credible enough to warrant urgent regulatory review.”

Terjemahan moderator membuat ruangan meledak dalam bisik tertahan.

Sri Mulyani berdiri.

“Sebagai Ketua Divisi Bedah Jantung IDI, saya mendukung penyampaian data ini sebagai sinyal keamanan obat. Kita tidak sedang menghukum sebelum penyelidikan. Tetapi kita juga tidak boleh menunggu lebih banyak pasien mati hanya karena produk itu besar.”

Semua mata beralih ke Dokter Budi.

Budi mengambil mikrofon.

“Kemenkes akan meminta BPOM melakukan penelaahan segera terhadap Bronkosol. Kami juga akan mengirim surat kepada fasilitas kesehatan untuk melaporkan kasus hipokalemia berat atau aritmia setelah penggunaan obat ini. Data dari dr. Ardi akan masuk sebagai bahan awal, dengan perlindungan identitas pasien.”

Kalimat itu mengubah diskusi ilmiah menjadi tindakan negara.

Di sudut ruangan, perantara Surya menunduk ke ponselnya dengan wajah pucat.

Bos, gawat. Kemenkes dan BPOM masuk.

Kali ini balasan Surya tidak langsung datang.

Panel biru muncul di depan mata Ardi.

[Misi Berantai — Tahap 3/5 selesai.]

[Publikasi temuan Bronkosol pada forum medis nasional tingkat tinggi tercapai.]

[Hadiah tahap: 2.000 PM.]

[Saldo PM: 2.710.]

[Tahap 4/5 akan terbuka setelah jalur pengganti dan strategi pasar tersedia.]

Ardi menatap angka itu hanya sebentar.

Yang lebih penting terjadi di depan matanya: dokter-dokter mulai memotret slide terakhir, bukan untuk gosip, tetapi untuk mengubah cara mereka bertanya saat pasien meninggal mendadak.

Setelah sesi selesai, beberapa ahli farmakologi menghampirinya. Seorang dokter dari Makassar menyebut pernah melihat kasus serupa. Dokter dari Medan meminta format pelaporan. Sri Mulyani tidak tersenyum lebar, tetapi matanya menyampaikan satu hal.

Panggung itu berhasil dipakai dengan benar.

Di luar ballroom, Ardi menerima telepon dari Rudi.

“Bos, grup dokter Surabaya sudah rame. Bronkosol jadi topik utama. Surya Perkasa pasti kebakaran.”

“Jangan ikut menyebar rumor,” kata Ardi. “Kita pegang data.”

“Siap. Tapi Di... lo baru saja nyenggol raksasa.”

Ardi melihat pintu ballroom yang masih terbuka, melihat nama Kemenkes di panggung, melihat Sri Mulyani berbicara dengan Budi.

“Bukan saya yang menyentuh mereka,” katanya. “Data pasien yang mengetuk pintunya.”

Di ujung lain Jakarta, di gedung tinggi SCBD, pesan dari perantara akhirnya sampai di meja Surya Pradana.

Bronkosol masuk forum nasional. Kemenkes minta BPOM review.

Notulen rapat darurat mulai disusun malam itu juga.

Untuk pertama kalinya sejak nama Ardi muncul dalam hidupnya, Surya Pradana tidak langsung tersenyum.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!