[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Sesuatu yang Disembunyikan
Selama hampir dua puluh tahun hidup di dunia, aku tak pernah merasakan tekanan seperti ini. Memutuskan tinggal di sarang Singa yang sewaktu-waktu bisa menerkam, tentu dibutuhkan banyak sekali stok sabar.
Entah kenapa sekarang aku bersyukur janin di rahimku tak ditakdirkan untuk terlahir. Entah bagaimana jadinya kalau dia tumbuh dan berkembang di lingkungan mengerikan ini. Kata-kata kasar dan makian mungkin akan menjadi makanan kesehariannya.
Bahkan di ruangan yang begitu luas ini aku bisa merasakan atmosfer tak menyenangkan dari orang-orang yang duduk di hadapan. Sejuknya AC seolah tak bisa meredam lahar panas dari tatapan sinis yang Tante Lidia dan Om Adrian tunjukkan.
Meskipun belum ada kata yang mereka lontarkan, tapi tatapan itu sudah menunjukkan seberapa dalam kebencian keduanya.
"Jangan pikir dengan tinggal seatap, saya sudah menerima kamu sebagai bagian dari keluarga. Percayalah ... sampai kapan pun kamu tetap j*lang licik di mata saya!" Tante Lidia memulai percakapan dengan kata-kata pedasnya.
Sabar, Lea. Ini sama sekali belum seberapa.
Aku memilih tersenyum dan mengangguk pelan. "Baik, Mbak. Saya menerimanya."
"Siapa yang kamu panggil Mbak, hah?" Tante Lidia melotot. "Baru dikasih tahu udah ngelunjak aja. Panggil saya Bu atau Nyonya!"
"Maaf?" Aku sengaja bertanya meskipun sudah memastikannya.
"Lea ...." Om Lian berguman, seraya meremas jemariku, tapi tatapannya tetap lurus menatap kakaknya.
"Mbak! Di sini Lea istri Lian, bukan pembantu," cetusnya.
"Emang siapa yang bilang dia pembantu?" Tante Lidia balik bertanya dengan begitu menyebalkannya.
"Ya, mana ada adek ipar manggil kakak iparnya Bu atau Nyonya? Ngadi-ngadi, nih si Mama," celetuk Kevin yang membuat Tante Lidia semakin kesal.
"Diam kamu, Kevin! Apa lebihnya anak ini sampai kamu berani ngelawan Mama, hah?" Suara Tante Lidia meninggi.
Kevin yang duduk di sebelah Om Adrian yang sejak tadi banyak diam, hanya bisa menyandarkan tubuh di sofa, lalu memasukan jari kelingking ke salah satu lubang hidungnya. Ngupil.
Astaga anak itu.
"Lebihnya Lea? Banyaklah. Dia cantik, pinter, tinggi, putih, langsing, dan aku suka."
"Keviiin!" Tante Lidia mulai murka. "Dia itu wanita murahan yang udah goda Papa dan Ommu. Buka mata kamu anak kurang ajar!" Wanita berusia empat puluh tahun itu mencengkeram kerah kaus yang Kevin kenakan.
"Seharusnya Mama yang buka mata!"
Kami semua terdiam saat Kevin bangkit dan menepis tangan Mamanya.
"Perselingkuhan itu nggak akan terjadi kalau salah satu pihak nggak menerima. Jangan cuma salahin Lea, tapi tanya Papa juga. Kenapa dia selingkuh? Apa ada yang kurang dari Mama atau gimana. Intro--"
Plak!
Refleks kubekap mulut saat melihat Tante Lidia menampar Kevin.
"Jaga mulut kamu, Kevin. Siapa yang sedang kamu bela, hah? Dia itu cuma p*lacur yang nggak jelas asal-usul--"
"Aku bukan bela Lea, tapi cuma liat kebenarannya. Sebelum sama Lea juga udah berkali-kali kupergoki Papa naik-turunin cewek dari dalem mobilnya. Aku muak, Ma. Berpura-pura diam padahal tahu segalanya. Selingkuh itu bukan khilaf, tapi penyakit yang harus disembuhkan!"
"Argh!"
"Cukup Kevin! Masuk kamar sekarang!" Om Adrian akhirnya angkat bicara. Dia mendorong tubuh Kevin agar menjauhi Tante Lidia yang mulai histeris.
"Nyesel aku dilahirin dalam keluarga berantakan ini. F*ck!"
Kevin pun berlalu dengan langkah yang terhentak. Tak lama suara pintu yang dibanting keras terdengar menggema dari lantai dua.
Sementara aku dan Om Lian hanya bisa menatap kekacauan yang baru saja terjadi dalam diam. Bahkan saat Om Adrian memapah Tante Lidia menuju kamar.
Sebentar, sepertinya aku kurang mengerti dengan situasi ini.
"Sebenarnya Mbak Lidia tahu kalau selama ini Mas Adrian selingkuh di belakangnya."
"Apa?" Aku menoleh menatap Om Lian dengan mata membulat.
"Dia bertahan karena Kevin dan nama baik keluarga. Dan satu lagi ...." Bisa kulihat senyum sinis tersungging di bibir Om Lian. "Tentu saja cinta."
"Ternyata kakakmu sama bodohnya dengan Mamaku, Om," cibirku begitu saja.
Namun, anehnya Om Lian malah mengangguk setuju. "Sayangnya memang begitu."
***
Siang berganti malam. Hampir enam jam berlalu sejak kejadian di ruang tamu. Aku dan Om Lian masih terjaga di kamar. Tak seperti pengantin baru kebanyakan yang menghabiskan waktu untuk bermesraan. Kami malah sibuk bergelut dengan kesibukan masing-masing. Mengejar segala ketertinggalan selama mengurus pernikahan dan masalah yang sempat ditimbulkan.
Di ruang kerjanya yang tersekat kaca bening, aku melihat Om Lian begitu serius menatap layar laptop di hadapan dengan kacamata baca yang bertengger manis di hidung bangirnya. Sementara aku duduk di pojok ruangan dekat balkon kamar.
Entah kenapa semenjak kejadian malam itu Om Lian semakin membatasi kontak fisik di antara kami. Seolah ada ketakutan yang berusaha dia sembunyikan dari sikap tenang yang terkesan dipaksakan.
Melihat gelagatnya intuisiku menyakini, bahwa penyimpangan seksual bukan satu-satunya alasan. Kalau memang sejak dulu dia tak menyukai perempuan. Kenapa sosok bernama Diana itu berhasil membuat Om Lian menghabiskan waktu sepuluh tahun melajang?
Suara pintu kaca yang bergeser, berhasil membuyarkan semua lamunan. Om Lian terlihat sudah berdiri di hadapan. Entah kenapa dengan piama berwarna biru muda saja dia masih tampak begitu mengagumkan.
"Papa udah pulang, kita makan malam dulu sama-sama sebelum membahas tentang rencana," ujarnya sembari berjalan mendahului menuju pintu keluar.
Aku beranjak menyusulnya, kemudian bertanya. "Makan malam bersama? Setelah kejadian tadi siang?"
"Dalam prinsip keluarga kami. Semua masalah harus selesai di meja makan," sahut Om Lian santai seperti biasa.
"Sesimple itu?" Aku meyakinkan.
"Ya. Setidaknya di depan Papa. Dulu saya pernah bertengkar hebat dengan Mbak Lidia karena Mas Adrian, tapi tetap harus bersikap baik-baik saja di depan Papa. Dia tak suka keributan, Lea. Masalah sebesar apa pun harus diselesaikan hari itu juga." Wajah Om Lian masih terlihat datar setiap kali membahas tentang sosok Om Wira.
Aku tak mengerti, tapi cukup meyakini bahwa benar ada suatu hal yang ditakuti Om Lian dari Papanya.
"Entah kenapa mendengar itu membuatku semakin yakin bahwa Om Wira yang membunuh janinku."
Tak ada jawaban. Kebungkaman Om Lian membuatku yakin bahwa dia tak tertarik membahas hal ini.
Jujur aku kecewa. Walau bagaimana pun situasinya perasaan terpukul karena kehilangan calon bayi itu masih tetap ada.
Sayangnya Om Lian seperti tak mengerti perasaanku.
"Kalau Papa menanyakan tentang ketertarikanmu di dunia entertain, langsung saja jawab, ya. Itu peluang kita untuk mengungkap tentang pekerjaan kotor mereka di belakang layar."
Sama seperti pekerjaan yang digelutinya. Om Lian memang pandai sekali mengalihkan pembicaraan dan mengendalikan situasi yang semula canggung. Saat ini kami sudah berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.
Mengingat tempat ini hampir seluas hotel, tak heran bila kita bisa membahas banyak hal sebelum sampai tujuan.
"Apa Om nggak takut?" Aku bertanya di luar topik pembicaraan. "Menghancurkan karir Om Adrian sama dengan menghancurkan perusahaan keluarga Fahlevi."
Om Lian kembali terdiam lama.
Topik ini sebenarnya sudah kami bahas sebelumnya. Berbeda dengan mengungkap masalah pribadinya. Om Lian mampu mengungkap terang-terangan tentang sisi kelam dunia bisnis yang digeluti Papanya.
Yang tak lain dan tak bukan adalah p*lacuran kelas kakap berkedok entertainment. Mereka menjanjikan ketenaran secara instan dengan jaminan tubuh dan kepuasan para lelaki hidung belang. Klien mereka juga bukan orang sembarangan. Mereka memiliki kekuasaan dan tentu saja berpengaruh dalam segala bidang.
Mulanya perusahaan ini berjalan semestinya. Tapi kalah famor dengan PH-PH lain yang menyajikan hiburan beragam. Namun, sejak ditangani Om Wira yang tak lain CEO Fahlevi's Entertainment sekarang. Dengan mengangkat topik yang 'di-setting mengikuti pasar, dia mampu membawa nama perusahaannya ke puncak seperti sekarang dengan mengandalkan artis-artis baru yang memiliki wajah yang menunjang dan kemampuan memasang topeng sempurna di depan kamera.
Om Wira jelas tak bergerak sendirian. Dia mempunyai banyak partner yang mendukung di bidangnya dengan cara membeli saham milik perusahaan-perusahaan besar untuk menutupi bisnis busuknya. Salah satunya adalah PT. AJ yang sekarang dipimpin oleh Amira Hasna Adijaya.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau Mbak Amira tahu kalau partner bisnisnya ternyata orang yang mengerikan.
"Saya sudah muak, Lea. Rasanya lebih baik jadi gelandangan daripada memakan uang haram. Sudah sepuluh tahun sejak saya menangani semua kasus yang ditimbulkan perusahaan. Seolah hukum tak ada artinya di mata uang dan kekuasaan."
Sekali lagi aku hanya bisa terbungkam mendengar setiap kata yang diucapkan dengan tenang dan tatapan datar, tapi mampu membuat orang yang mendengar meringis ngilu.
"Di dunia ini saya cuma mau satu, Lea. Yaitu kebebasan."
***
Sejak obrolan dengan Om Lian sebelum makan malam. Tiba-tiba benakku dipenuhi dengan berbagai hal yang membingungkan.
Sebenarnya seberapa kelam hidup Om Lian hingga dia berniat untuk menghancurkan keluarganya? Sekarang aku semakin mengerti bahwa kerja sama yang dia maksud bukan hanya ditujukan untuk menghancurkan Om Adrian, tapi juga Papanya sendiri.
Rumit. Hal ini cukup rumit untuk kumengerti.
Di meja makan tadi saja nyaris tak ada percakapan antara keduanya. Om Adrian dan Tante Lidia hanya diam. Sementara Om Wira beberapa kali bertanya padaku tentang ketertarikanku untuk bergabung dengan bisnisnya.
Sudah bisa ditebak. Sebentar lagi dia akan menjadikanku salah satu pelacurnya. Sialan, seharusnya aku menyadari kalau sejak awal pernikahan ini jebakan.
Sepertinya tua bangka itu juga tahu kalau Om Lian tak akan menyentuhku. Jadi, bisa dipastikan asetnya aman.
"Oy! Diem-diem bae."
Kedatangan Kevin yang tiba-tiba mengejutkanku seketika.
"Ck, gimana kamu bisa masuk?" tanyaku heran.
"Lah, orang pintunya kagak dikunci. Terus dibiarin kebuka gitu aja lagi."
"Om Lian?" Aku celingukan mencari keberadaan lelaki bermata tajam itu, setelah sebelumnya dia hanya melamun dipojokkan.
"Baru aja keluar, tuh. Pake jaket, bawa kunci mobil."
"Kok, aku nggak sadar?"
"Dari tadi kamu sibuk ngelamun, Sayang. Makanya punya laki itu dikekep, bukannya diem-diemman kek lagi jaga jarak karena tamu bulanan," cibir Kevin sembari mengempaskan bokong di sofa sampingku.
Aku hanya memutar bola mata karena cibiran Kevin. Jangankan datang bulan, pake baju kekurangan bahan aja dia masih kuat jaga jarak.
"Terus ngapain kamu ke sini?"
"Kesel. Dari tadi cuma dekem di kamar main hape sama main game. Sekarang lagi nunggu Mamang Gopud anter pesenan."
"Ngapain pesen. Di bawah, kan makanan banyak. Lagian kenapa nggak bareng aja tadi?"
Kevin menggeleng. "Bosen makanan mewah mulu. Aku lagi pengen makan ketoprak sama Es Campur. Lagian masih ngambek sama Mama, entar ditambah dicerimahin Kakek. Mending makan di sini, ngobrol sambil menatap salah satu keajaiban Tuhan yang terpampang di hadapan." Kevin nyengir lebar sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arahku.
Aku hanya bisa berdecak sembari menggelengkan kepala.
Bisa-bisanya dia kaya gini setelah tadi siang ngamuk-ngamuk kayak orang kesurupan.
"Eh, Vin!" Aku membenahi posisi menghadap Kevin. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengorek tentang Om Lian. "Tanya boleh?" Aku tersenyum lebar sembari menjawil dagunya.
"Heleh, ada maunya aja manis-manis gini." Kevin merenggut sejenak. "Ya udah apa? Tapi habis ini cium dikit boleh, ya?" Bisa kulihat alis tebalnya naik-turun dengan senyum yang begitu menjengkelkan.
Sontak aku langsung menoyor kepalanya.
"Cium, cium, palamu!"
"Canda, Lea." Kevin mendelik sembari menyisir rambutnya yang sedikit gondrong itu ke belakang. "Ya udah buruan tanya apa? Keburu Mamang Gojek datang entar."
"Oke." Aku menghela napas sejenak. "Ini tentang Om Lian!"
"Sudah kuduga."
"Ck, belum selesai, Vin. Aku cuma pengen tahu gimana hubungannya sama kakekmu?"
Kevin terdiam sejenak. Dia mengusap dagu mulai berpikir.
"Sebenernya Om Lian sama kakek kurang akur, sih. Mereka jarang ngobrol di luar pekerjaan. Pernah sekali aku bahkan mergokin dia lagi dipukulin kakek pake tongkat bisbol!"
"Ya ampun." Aku membekap mulut tak percaya.
"Jangan bilang-bilang, ya. Aku ngomong kayak gini karena kamu istrinya."
Bergegas aku mengangguk patuh.
"Umm ... kamu tahu, kan keluarga Adijaya?"
Sekali lagi aku mengangguk.
"Tahu Rendy Darma Adijaya?"
Untuk kesekian kalinya aku mengangguk.
"Nah, waktu itu, kan skandalnya sempat kesebar karena ke-gep di tempat gym sama sesama laki."
"Iya, iya. Waktu itu beritanya booming, walaupun nggak lama ilang," sahutku.
"Nah, orang yang dirahasiakan itu Om Lian!"
"Apa?" Mataku membelalak sempurna.
"Tapi, aku nggak percaya, sih. Soalnya Om Lian nggak mungkin kayak gitu."
Oke, aku mulai bingung sekarang.
"Maksudnya gimana, sih, Vin?"
"Aku yakin dia nggak tertarik sama perempuan bukan karena menyimpang. Soalnya waktu sama Tante Diana Om Lian bucinnya udah setengah ambyar. Cuma ada dua kemungkinan. Dia takut memulai atau trauma akan suatu hal!"
Aku tertegun. Lagi-lagi Diana. Aku semakin penasaran dengan sosok yang sering disebut tapi tak jelas wujudnya itu.
Kevin tampak menyipitkan matanya sebelum kembali melanjutkan.
"Eh, sebentar! Sebelumnya maaf kalau aku lancang. Apa kalian ... udah anu-anuan?"
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕