NovelToon NovelToon
PERJUANGAN CINTA IRENE

PERJUANGAN CINTA IRENE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Duda / Balas Dendam
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ms. Riana

Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.

Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.

Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.

Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.

Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.

Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?




Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 15

"Apa mama terlalu terburu-buru ya?" tanya mama Gina pada Elis sambil menatap mobil Tian yang baru saja keluar dari pintu gerbang.

Elis hanya mengangkat kedua bahu dan alisnya tanda tidak tau atas pertanyaan mamanya.

...---------...

"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Tian sambil mengusap lembut rambut Irene.

Ia berusaha memecah kesunyian karena sedari keluar dari rumahnya Irene hanya terdiam.

"Tidak ada mas, aku hanya sedikit letih saja," sahut Irene.

"Maaf mas aku berbohong," batinnya.

"Sepertinya ada yang Irene sembunyikan," batin Tian, karena yang ia kenal Irene bukan gadis pendiam.

"Tidak usah dipikirkan pertanyaan mama tadi ya," timpalnya.

Irene hanya mengangguk.

Suasana didalam mobil kembali hening.

"Besok hari terakhir dikantor pusat ya sayang?" tanya Tian mencairkan suasana.

"Iya mas," sahutnya sedih.

"Sudah tidak usah sedih, kita bisa bertemu diakhir pekan," hibur Tian, melihat wajah sedih Irene.

"Aku akan merindukanmu mas," hati Tian berbunga-bunga mendengar kata-kata Irene.

"Aku akan lebih lebiiiiih merindukanmu sayangku," balas Tian tidak mau kalah.

"Isshhh... gombal kamu mas," ujar Irene terkekeh.

"Aku masuk dulu ya mas," tambahnya karena mobil Tian sudah memasuki area hotel.

Kemudian meraih tangan Tian dan mencium punggung tangan kekasihnya.

Tidak ingin melewatkan kesempatan, Tian menarik Irene dalam pelukannya.

"I love you my love," ujarnya kemudian mencium kening Irene.

"I love you more mas Tianku," balas Irene sambil tersenyum malu-malu. Menggemaskan dimata Tian.

"Boleh cium yang lain sayang?" goda Tian nakal.

"Mas, malu nanti dilihat orang," ujar Irene.

Cup.

Kecupan singkat mendarat dibibir Irene, membuat gadis itu merona karena malu.

"Maasss," ujar Irene lagi kemudian membenamkan wajahnya dalam pelukan Tian.

Beruntung lobby depan sudah sepi tidak ada petugas keamanan jadi tidak ada yang melihat adegan romantis pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.

Tian hanya terkekeh melihat ekspresi malu-malu Irene.

"Aku masuk ya mas," ujar Irene cepat melepaskan pelukan Tian dan keluar dari mobil sebelum kekasihnya melancarkan aksi yang lebih berani.

"Hati-hati dijalan mas," tambahnya lagi dibumbui finger heart sebelum menutup pintu dan dibalas lambaian tangan dan senyuman manis dari lelaki tampan dibalik kemudi.

"Harus segera dihalalkan," batin Tian.

...--------...

Setelah check out, Irene mendorong kopernya yang diatasnya diletakkan beberapa paperbag berisi barang belanjaan yang dibelikan Tian.

Ia berjalan menuju lelaki tampan dengan setelan jas hitam melekat sempurna ditubuhnya yang tegap berdada bidang senada dengan warna celananya, yang juga sedang berjalan ke arahnya.

Tidak lupa ia memakai sebuah kaca mata hitam untuk menyempurnakan penampilannya.

"Tidak ada yang ketinggalan sayang?" tanya Tian mengambil alih mendorong koper Irene.

"Tidak ada mas, tadi sudah aku cek," balas Irene mengikuti langkah kaki Tian.

Tian tiba-tiba terdiam.

"Ada apa mas?" tanya Irene melihat Tian tiba-tiba berhenti.

"Jangan panggil mas," ucapnya.

"Terus panggil apa?" tanya Irene bingung.

"Panggil sayang," bisik Tian ditelinga Irene.

"Tapi mas...." Cup. Belum sempat melanjutkan kata-katanya Tian sudah mendaratkan ciuman dipipi Irene.

"Masss," rengek Irene. Ia kesal dengan ulah kekasihnya yang mulai tidak tau tempat.

Akibat ulah Tian mereka menjadi pusat perhatian beberapa tamu serta petugas hotel.

Tian dengan santainya berjalan meninggalkan Irene dengan wajah tanpa dosa dan tersenyum puas berhasil membuat kekasihnya merona malu.

Irene berlari kecil mengejar Tian yang sudah berada diluar lobby sambil menutupi wajahnya dengan tas tangan yang ia bawa.

"Silahkan masuk tuan putri," lagi-lagi Tian bertingkah ketika membukakan pintu mobil untuk Irene.

Kemudian melajukan mobilnya menuju kantor Irene.

Irene bukan tidak suka tapi ia hanya belum terbiasa. Masih canggung. Walaupun kesal tapi dalam hatinya berbunga-bunga.

"Kalau masih cemberut aku cium lagi," goda Tian melihat kekasihnya yang masih mengerucutkan bibirnya.

"Maasss," sahut Irene kesal.

"Hmmm," balas Tian singkat. Memandang jalanan depan yang mulai padat.

Irene melirik kekasihnya yang tiba-tiba terdiam. Bahkan tadi hanya menjawabnya singkat.

"Sepertinya dia yang kesal sekarang," batin Irene memikirkan sesuatu.

Irene tersadar.

"Sayaaang," ucap Irene dengan manja tidak lupa memberikan senyum semanis mungkin sambil mengedipkan kelopak matanya berkali-kali pada kekasihnya.

Melihat Irene yang menurutnya sangat menggemaskan membuat Tian terkekeh.

"Kamu paling bisa meluluhkan hati aku," ucap Tian lembut sambil mengusap kepala Irene dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain memegang kemudi.

Kebetulan juga mereka sedang berada di lampu merah.

"Isshhh..." Irene hanya memberikan jawaban singkat.

Ucapan Tian selalu mampu membuat hatinya menghangat.

"Jangan Kau ambil kebahagiaanku ini Tuhan," batin Irene menatap Tian sambil tersenyum.

Ada kekhawatiran tersirat dibalik senyumannya.

"Barang-barang kamu biarkan dimobil saja sayang, nanti aku antar ke bandara," ucap Tian ketika mereka sudah tiba diparkiran khusus tamu.

"Tidak usah sayang, nanti biar aku naik taksi saja," ucap Irene.

"Memang kamu tidak kekantor hari ini?" lanjutnya sebelum sang kekasih salah paham.

"Setelah mengantarmu ke bandara, baru aku ke kantor sayang," sahut Tian.

Irene hanya menganggukkan kepalanya.

...-----------...

Sesuai jadwal, hari ini meeting perencanaan final proyek yang mereka kerjakan sebelum memasuki tahap pembangunan.

"Sayang, aku keruanganku dulu ya, sampai bertemu diruang meeting," bisik Irene ketika mereka memasuki lobby.

Suaranya dibuat sepelan mungkin karena ada beberapa pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya melihatnya turun dari mobil mewah dengan pria tampan yang menurut perkiraan mereka bukan orang biasa.

Presdir auranya beda ya 😄

"Nanti aku tunggu disini ya sayang," ucap Tian lembut.

Dibalas Irene dengan anggukkan kepala dan senyuman kemudian berlalu menuju lift staff.

Sedangkan Tian menghampiri Robby asisten pribadinya yang sudah menunggunya didepan lift tamu.

...----------...

Dari pintu masuk ada dua pasang mata menatap intens Irene dan Tian dengan tatapan penuh tanda tanya sedari mereka turun dari mobil.

"Irene?" batin Adit.

Beberapa meeting ia lewatkan sehingga ia tidak tau kalau Irene juga berada di Jakarta.

"Ada hubungan apa antara Tian dengan Irene?" batin Adit.

"Kenapa mereka bisa sedekat itu?" lanjutnya lagi dalam hati.

"Bahkan Irene turun dari mobil yang sama dengan Tian," batinnya untuk kesekian kalinya. Karena sekarang ada Desi bersamanya.

Ketika sedang memarkirkan mobilnya tadi ia melihat Irene turun dari mobil yang sama dengan Tian.

"Sepertinya mereka lebih dari sekedar rekan kerja," begitulah penilaian Adit.

"Jadi ini alasanmu menghindar dari aku Irene?" gumamnya lirih hampir tidak terdengar dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Siapa wanita yang bersama Tian?" batin Desi.

"Apa Tian sudah mengganti posisiku dihatinya dengan wanita itu?" batinnya lagi.

"Tapi tidak mungkin, penampilannya biasa saja," ucapnya lagi dalam hati.

"Kenapa Adit juga menatap lekat wanita yang bersama Tian?" Desi ingin bertanya tapi tidak memiliki keberanian.

Ya, dua pasang mata yang menatap Tian dan Irene tadi adalah Adit dan Desi.

Sejak kejadian tempo hari Adit memindahkan Desi kekantornya sebagai sekretaris pribadinya. Agar ia lebih mudah memantau istrinya. Dan bisa meyakinkan papa Toby agar segera menyerahkan perusahaan padanya.

1
Lilis anggriani Lilis anggriani
sangat bagus dan menarik cerotanya,sambung ceritanya
Lilis anggriani Lilis anggriani
lanjut
Ms Riana
dibayrmar lunas ya kak 🤘
visi Sembiring
senjata makan tuan mau menjebak malah dijebak ingin tau gmn hancurnya dira kena karma tuch pelakor 😈😈😈
visi Sembiring
jgn biarkan rencana dira berhasil thor jgn pisahkan irene dan tian buat dira hancur dg rencananya sendiri walau ada pelakor jgn biarkan pelakor berhasil merusak kebahagiaan tian dan irene 😤😤😤
Ms Riana: siap kak 😁😁❤❤
total 1 replies
Ibuna Ariq
bentar lagi irene di bully psti karena status nya blm.di ketahui di kantor tian
Rintik Ludira
semangat semangat
Rintik Ludira
semangat thor...
Ms Riana
kemaren udah up tapi ditolak. sabar ya kak 🙏
Ningsih Darwin
lnjut thor
Ms Riana: siap kak 🙏🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
sip sip sip semangat thor
Pangeran Matahari
lanjut kk..

dukung karya ku juga y cucu manja oma
Neti Jalia
aku mampir kk, yuk saling dukung🤗🙏

*Suamiku ceo ganas

"Sarlince(cinta sepihak)
Ms Riana
tenang kak. tidak akan tergoyahkan kok mas Tiannya 🤗
Ibuna Ariq
bnci klo udh ada bibit pelakor
Rintik Ludira
semangat ya thor semangat
Ibuna Ariq
up yg bnyak,slalu stia nunggu ni😁
Ms Riana: aaww makasih kak. 🖤
total 1 replies
Rintik Ludira
yok lanjuuut stia mendukung
Ms Riana
makasih kak 🖤
Rintik Ludira
semangat setia selalu menunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!