Kisah dimulai dari Aylin yang dari SMP jatuh cinta kepada Jayden, teman mainnya saat kecil.
Tapi Jayden selalu menghindari dan menjauhinya.
Aylin yang selalu percaya dan berharap suatu saat Jayden akan membalas cintanya.
Sampai suatu hari saat perjalanan hidup dan takdir merubah Aylin, yang hilang rasa percaya dan harapannya untuk mendapatkan cinta Jayden lagi.
Perjalanan yang telah merubah kehidupan Aylin, juga akhirnya merubah banyak sifat Aylin saat dewasa.
Akankah cinta Aylin berubah dan berpindah ke yang lain?
Buat yang penasaran, ayo dibaca cerita cinta yang romantis dan dibumbui komedi ini.
Selamat membaca dan semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aylin merasa benar-benar sudah dilupakan
Aylin pulang ke rumah sekitar jam 5.00 sore. Sampai di rumah dia langsung menanyakan apakah ada yang datang mencarinya kepada Ibunya.
"Oo tadi Denny ada datang, tapi tidak ngomong apa-apa, hanya menanyakan ibu masih memerlukan apa, hanya itu saja", jawab ibunya.
"Apa mungkin mau datang absen", canda ibunya.
"Hehehe ibuku makin pintar saja ", jawab Aylin berusaha masuk dalam candaan ibunya, agar ibunya tidak curiga.
Selesai mandi dan makan, Aylin dan Ibunya sibuk dengan urusan masing-masing.
Ibunya masih meneruskan jahit, karena akhir-akhir ini permintaan jahitan agak banyak.
Kalau sedang rame, ibunya bisa menjahit sampai jam delapanan.
Sedangkan Aylin mengerjakan tugasnya yang belum sempat dikerjakannya. Sebenarnya Aylin sedang tidak konsentrasi sejak tadi, Otaknya masih memikirkan Jayden.
Ketakutannya tidak beralasan, ternyata Jayden sama sekali tidak mencarinya.
"Huh, ke GR an saja", pikir Aylin dalam hati kesal.
Ternyata usaha dia ke Gramedia untuk menghindari pertemuan dengan Jayden hanya menghabis-habiskan waktunya saja, karena Jayden tidak ke tempatnya.
Tahu begitu, tadi lebih baik dia tidak keluyuran dan mengerjakan tugas di rumah saja.
Dalam pikiran Aylin, Denny pasti memberitahu pertemuannya dengan Jayden. Rasanya tidak mungkin Denny tidak memberitahu Jayden, karena menurut Aylin, Denny cukup akrab dengan Jayden, mereka berdua sering bermain basket bersama, bahkan saat lombapun kerjasama keduanya sangat bagus.
Dan selama mengenal Denny, dia merasa Denny orang yang ceplas ceplos dan berkata apa adanya.
Aylin yang masih polos dan kurang pengalaman tidak pernah tahu lika liku hatinya Denny, bahkan dia tidak tahu otak Denny yang sangat pandai menyusun rencana.
Dia tidak tahu kalau Denny sama sekali tidak menyinggung tentang dia pada Jayden. Bahkan dia tidak tahu kalau Denny sudah tahu kalau tadi dia ke rumah Denny dan menghindari Jayden.
Bahkan sebetulnya Denny sangat takut kalau dia bertemu dengan Jayden.
Denny memang pintar menyimpan rahasia.
Terkadang umur seseorang mempengaruhi pikiran seseorang, seperti pikiran Aylin yang masih polos ini, dia sama sekali tidak bisa membaca karakter seseorang.
Pikirannya membuat dia semakin salah paham dengan Jayden.
Dulu Jayden tidak datang mencarinya, Aylin masih berpikiran mungkin Jayden sibuk dengan kuliahnya, karena dia tahu Jayden orang yang serius dengan pelajarannya.
Tapi hari ini sudah sampai di rumah Denny saja, Jayden tidak mengunjunginya dan melihat keadaannya. Rupanya posisi dia sama sekali tidak penting dalam hati Jayden, pikirnya sedih.
Karena dia tahu kalau Jayden orangnya tidak bisa berbasa basi, selalu melakukan hal yang diinginkannya sesuka hatinya.
Pantas saja Cika tidak suka kalau dia selalu tergila-gila dengan Jayden, ternyata Cika bahkan lebih tahu hatinya Jayden dibandingkan dia yang sudah mengenal Jayden sejak kecil.
Jayden sama sekali tidak memikirkannya, bahkan jangan-jangan Jayden sudah lupa bahwa dia pernah mengenal Aylin.
"Dasar cowok tidak berperasaan!".
Pikiran Aylin semakin simpang siur dan kacau.
Semakin dewasa, Aylin sudah lebih bisa menahan diri, kalau sedih dia sudah tidak menangis tersedu-sedu lagi seperti dulu, dia tidak mau membuat ibunya khawatir lagi.
Seperti saat ini, hatinya sedang sedih, tapi hanya matanya saja yang berkaca-kaca, sekarang dia lebih suka memendam semua perasaanya dalam hatinya sendiri.
Tiba-tiba dia kangen dengan Cika best friendnya,
"Ahh sedang apa ya Cika?" pikir Aylin. Dulu kalau ada Cika, dia bisa menceritakan unek-unek nya kepada Cika.
Walaupun dia tidak selalu mendengar kan masukan Cika, tapi hatinya menjadi lega setelah mengeluarkan isi hatinya.
Walaupun dulu dia sudah bertekad melupakan Jayden, bahkan dia berpikir dia akan membenci Jayden saat itu, ternyata begitu melihat Jayden hatinya langsung porak poranda.
"Ah bukan Jayden, tapi mobilnya saja sudah membuat hatiku kacau", keluh Aylin putus asa.Tapi yang kupikirkan ternyata manusia tidak punya hati.
"Aku harus benar-benar membuang dia dari hatiku", tekad Aylin sambil menghembuskan nafas dengan kesal.Kemudian dia melanjutkan mengerjakan tugasnya.
Jam 9 ibunya mengajaknya tidur, tapi Aylin belum selesai mengerjakan tugasnya.dia meminta ibunya untuk tidur terlebih dulu.
Mungkin karena sudah lelah, ibunya langsung menyetujui dan ke kamarnya untuk tidur, setelah mengunci pagar dan pintu depan.
"Huh gara-gara Jayden, aku harus bergadang mengerjakan tugasku", keluh Aylin lesu .
Bagaimanapun dia harus mengerjakan tugasnya karena harus dikumpulkan besok.
Karena Aylin tidurnya sampai jam 2, akhirnya
Keesokan harinya Aylin jatuh sakit. Tidak konsen mengerjakan tugas dan pikirannya ke mana-mana, akhirnya tugasnya pun selesainya lama.
Tetapi Aylin masih membandel, Aylin masih ngotot mau ke sekolah.
Ibu tetap pada pendiriannya, tidak mengijinkan Aylin ke sekolah dengan alasan apapun
Pas saat itu Denny mampir membawakan kue buatan mamanya, Ibu Aylin langsung mencari dukungan pada Denny.
Denny juga setuju dengan ibu Aylin, akhirnya Denny mumutuskan dia akan membantu Aylin menyerahkan tugas dan mengantarkan surat ijin Aylin ke sekolah.
Akhirnya Aylin pasrah saja dan menurut pada ibunya dan Denny. Dua lawan satu pasti kalah, pikirnya pasrah.
"Terimakasih kak Denny", katanya pada Denny sambil memberikan kantong yang berisi tugasnya untuk dikumpulkan.
"Tidak usah sungkan sama kak Denny ", jawab Denny memasang senyum mautnya.
Sesudah itu Denny berpamitan pada Ibu Aylin, Ibu Aylin berkata ,
"Maaf ya sudah merepotkan mu Denny".
"Gak pa pa Tante, saya juga sekalian keluar koq", jawab Denny, dia tidak mau ibu Aylin terlalu sungkan padanya dan merasa hutang Budi.
"Sampaikan terimakasih juga sama mamamu untuk kuenya ya", sambung ibu Aylin lagi.
"Iya Tante, nanti saya sampaikan", jawab Denny sopan sambil berlalu. Tapi sebelum keluar Denny masih sempat melihat Aylin yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Melihat senyumnya Aylin saja membuat hati Denny senang melakukan apapun untuk Aylin. Begitulah kalau orang yang sedang dimabuk cinta.
Dalam mobilnya, Denny menjadi kesal pada Jayden, dia yakin hanya gara-gara kemunculan Jayden telah mengacaukan hidup Aylin dan membuat Aylin sakit. Ternyata perasaan Aylin pada Jayden sangat dalam dan gak main-main.
Tapi setidaknya mereka tidak bertemu dan sepertinya Aylin menghindari Jayden, jadi hati Denny menjadi lebih tenang.
"Ah, semoga saja Aylin bisa cepat move on dari Jayden", harap Jayden dalam hati.
Sampai di sekolahan Aylin, Denny menyerahkan surat ijin dan tugas Aylin ke wali kelasnya Aylin, Bu Wiwin. Teman-teman sekolah Aylin sudah sering melihat Denny, karena Denny sering menjemput Aylin.
Dulu pertama kali mereka mengira Denny kakaknya Aylin, tapi lama-lama mereka tahu kalau Denny bukanlah kakak Aylin. Karena banyak juga teman cewek Aylin yang tertarik dengan Denny, dan menanyakannya pada Aylin
Akhirnya teman-teman Aylin menganggap Denny adalah pacar Aylin, Aylin pun tidak pernah mau menerangkan, dia membiarkan temannya berprasangka sendiri.
Setidaknya lebih aman, tidak ada teman cowoknya yang mendekatinya lagi. Jadi dia tidak perlu merasa gak enak kalau menolak ajakan temannya terus. Kadang dia sendiri merasa bersalah juga, dia sepertinya memanfaatkan Denny saja.
Tapi Denny sepertinya tidak keberatan, kak Denny memang orang yang paling baik menurut Aylin.
Sedangkan teman-teman cowok di sekolah Aylin pasti akan berpikir dua kali kalau harus bersaing dengan Denny.
Denny selain ganteng, lebih dewasa dan sudah mapan dibandingkan mereka yang masih pelajar.
Bersambung........