Hai...
salam kenal dari saya, penghuni baru Noveltoon.
Saya coba up karya saya, semoga bisa menghibur.
Cerita tentang dua pria yang bersahabat dan mencintai satu gadis yang sama, namun akhirnya salah satu dari mereka harus mengalah demi sahabatnya.
Wanita itu adalah Azizah yang dari pertama sudah menyukai Gibran namun cinta mereka gagal bersemi, dan kedua lelaki tampan itu adalah Gibran dan Gery, mereka telah bersahabat sedari kecil karena ayah mereka bekerja pada satu bidang yang sama yaitu pejabat pemerintahan dikotanya.
Gibranpun harus merelakan Azizah untuk Gery, namun ternyata sifat Gery yang playboy masih saja melekat padanya meskipun ia sudah memperistri Azizah yang pernah Gibran cintai.
Lalu bagaimana cerita selanjutnya?
check it out gaesss....
happy reading....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf yang basi dari Gery
"Za, sampai kapan kamu akan lari dari masalah ini, cepat temui Gery. Selesaikan masalah kalian, karena saat ini aku hanya ingin menunggu dari pada mengganggu."
Mendengar perkataan Gibran, Azizah sejenak merenung dan... Ia menganggukkan kepala.
" Habis makan, Azizah pulang. Zizah mau selesaikan semuanya secepatnya, Kak."
Gibran tersenyum lega, terlepas apapun status Azizah, Gibran akan selalu mencintainya. Entah sampai kapan, yang jelas saat ini rasa untuk Azizah telah kembali mendapat tempat terindah dihati Gibran.
Merekapun bersiap untuk sarapan, mungkin lebih tepatnya branch alias gabungan dari kata breakfast and lunch, karena matahari sudah beranjak lebih tinggi.
Selesai sarapan, tentu saja Azizah segera membereskan semua peralatan makan yang kotor dengan mencucinya dan merapikan kembali meja makan.
" Kak, nanti kalau mau makan lagi, lauknya masih banyak ya, nasi juga masih ada. Jangan makan Mie instan mulu, gak baik buat kesehatan."
Mendengar nasehat dari wanita yang dicintainya, Gibran hanya tersenyum lepas.
Tampaknya Gery masih ada didalam rumah, Azizah segera memasuki rumahnya.
Tanpa mengucapkan salam atau menyapa Gery yang sedang rebahan diatas sofa ruang depan, Azizah langsung melenggang begitu saja kearah kamarnya.
" Za, tunggu!"
Gery langsung duduk dan berdiri menghampiri Azizah.
Langkah Azizah tercekat oleh Gery yang memegang pergelangan tangannya.
" Lepasin, Mas.!"
Azizah mencoba untuk menepis genggaman tangan Gery dari pergelangan tangannya, namun cengekraman Gery terlalu kuat untuk Azizah lepaskan.
" kamu mau kemana?"
Gery menatap sayu pada Azizah.
" tidur!"
Azizah sudah malas sebenarnya berbicara pada Gery.
" kita bicara dulu."
Geri menarik tangan Azizah menuju sofa, mereka duduk bersama.
" mau bicara apalagi, Mas? semua udah jelas, Zizah mau kita akhiri pernikahan kita. Tolong, lepasin Zizah dari belenggu ini, Mas. Zizah udah gak kuat."
Manik bening dari sudut nanar Azizah kembali menetes.
" Maaf, beri Aku kesempatan lagi, Za."
Gery menggenggam tangan Azizah dan meremasnya, namun Azizah melepaskan genggaman Gery dari tangannya.
" kamu mau aku beri kesempatan untuk yang keberapa kalinya, Mas? bukankah aku sudah memberimu kesempatan kedua? lalu apa yang terjadi, kamu ulangi lagi kesalahan yang sama, iya kan..? Mas, kalau kamu memang lebih bahagia dengan wanita itu, lepaskan Aku secepatnya Mas."
Azizah hanya berlalu meninggalkan Gery yang terlihat begitu stress dan mengacak rambutnya sendiri.
*Kepercayaan ibarat sebuah kaca, jika ia sudah pecah, selihai apapun kamu memperbaikinya tetap saja keretakan padanya takkan bisa hilang sepenuhnya*.
*Hati wanita ketika sudah terluka, ia akan bertahan sampai waktu yang begitu lama, hingga ia benar-benar mendapati kesembuhan yang maksimal dan benar-benar bisa mengikhkaskan semuanya sampai tak bersisa*.
*Mungkin memang obat hati yang terluka paling mujarab adalah dengan hati yang lain*.
Azizah sudah tak ingin mengulangi kisah dengan Gery, saat ini ia hanya ingin mengakhiri semua kisah dengannya.
Didalam kamar, Azizah hanya menjadikan sebelah tangannya untuk menjadi sandaran kepala. Ia memiringkan posisi tidurnya membelakangi pintu kamar.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
Terlihat Gery yang hendak memasuki kamar dengan langkah yang ragu.
" Za,"
Suara Gery terdengar sangat berat.
Azizah memang mendengar lirihan suara Gery, namun ia tak menghiraukan.
Perlahan Gery mendekati Azizah dan duduk disamping Azizah yang sedang berbaring membelakanginya.
" Za, tolong. Maafkan Aku...Aku akan melepaskan Nunik untukmu."
Gery menatap lesu pada Azizah.
Tanpa menoleh sedikitpun dan masih membelakangi Gery, Azizah hanya berkata...
" Aku hanya ingin cerai, Mas. jika Kamu tak menceraikanku, Aku yang akan menggugat cerai ke pengadilan."
Azizah mengambil posisi duduk dan beranjak meninggalkan tempat tidur.
" Kamu mau kemana?"
Gery melihat Azizah yang hendak mengambil sebuah koper dari atas lemari bajunya.
" kemana saja asal jauh dari kamu, Mas!"
Azizah tetap mengambil baju dari lemari dan memasukkannya kedalam koper. Sebenarnya ia pun masih bertanya pada dirinya sendiri, mau kemana ia akan pergi, sedangkan orang yang ia miliki saat ini hanya Gery dan Satria.
Beberapa barang penting yang hendak Azizah bawa sudah masuk kedalam koper.
Ia kemudian mengambil tas kecilnya dari atas meja rias, memasukkan ponsel dan dompetnya.
" Za,"
Gery kembali menahan Azizah dan memeluknya dari bekakang.
Azizah memutar bola matanya dan menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Gery yang melingkar dipinggangnya dan berbalik menghadap Gery, lalu mendorong dada Gery agar tercipta jarak antara mereka.
" Kamu ingat, Mas. Saat kamu berselingkuh dengan Winda, kamu juga melakukan hal ini, memohon padaku untuk kembali dan diberi kesempatan kedua. Tapi apa...? kembali kamu ulangi kan, Mas. Bukan hal yang mustahil ketika Aku berikan kesempatan lagi, kamu akan kembali juga merusaknya."
Azizah mengincar buku nikah yang ada dilaci lemari, ketika ia hendak membuka laci lemari itu, tangannya terhenti oleh tangan Gery yang menahan laci terlebih dahulu.
"Aku takkan membiarkan ini terjadi, Za."
" Mas, tolong..."
Perebutan buku nikahpun terjadi, namun sayang, Gery yang memenangkan perebutan ini.
" Aku ingin memperbaiki semuanya, Za. Aku sudah tinggalkan Nunik."
Gery menaruh tangannya yang sedang memegangi buku nikah dibelakang punggungnya.
" Kamu memang sudah meninggalkan Nunik saat ini, Mas. Tapi aku yakin, Nunik takkan mau melepaskanmu begitu saja."
Azizah menghempaskan pantatnya dengan kasar diatas pinggiran tempat tidur.
" Aku akan membuatnya melepaskanku, Za."
" Buktikan saat ini juga, Mas."
" Oke."
Gery mengambil ponsel dari atas meja rias kamar, dan mencari kontak bernama NUNIK,OP.LINE 3.
Sesaat setelah menekan tombol untuk menghubungi Nunik pada ponselnya, Gery segera membuka percakapan.
**Gery**
\[ *Hallo, Nunik. Maaf, hubungan kita telah usai. Jangan ganggu aku lagi*.\]
tu..tut..
Gery langsung mematikan ponselnya dihadapan Azizah, namun Azizah tak begitu saja percaya pada Gery.
" Aku minta ponselmu, Mas."
" Apa? bukankah aku sudah memutuskan hubungan dengan Nunik? lalu kamu mau apalagi?"
" Aku tak ingin berdebat denganmu, aku hanya ingin ponselmu."
Dengan berat Gery menyerahkan ponselnya pada Azizah.
" apa kata sandinya?"
Azizah sudah menggenggam ponsel Gery.
" tanggal lahir Satria."
Azizah langsung mengobrak abrik isi ponsel Gery, namun saat ini, belum ada percakapan mesum yang ia dapatkan dari ponsel suaminya itu, mungkin Gery sudah menghapus semuanya.
Azizah membuka Galery, dan sungguh membuat Azizah sesak napas, foto Gery bersama Nunik yang sangat mesra muncul ketika Nunik sedang memeluk Gery memakai baju tidur yang transparan membuat seisi tubuhnya terawang.
" Mas, kamu pernah melakukannya bersama Nunik?"
Azizah berusaha kuat disaat hatinya hancur berserakan.
Gery melangkah pelan dan duduk disamping Azizah.
" Za, maaf... tapi aku hanya sekali melakukannya, dan itu..."
" Cukup, Mas. aku sudah tak mau mendengar lagi. Sekarang, aku atau kamu yang keluar dari rumah ini? karena saat ini aku hanya tak ingin melihat mu, Mas."
" Za, tapi..."
Gery mencoba meraih tangan Azizah, namun Azizah lebih cepat menghindar dan melangkah keluar kamar, Gery menyusulnya.
" Kamu mau kemana Za?"
Gery menghadang langkah Azizah, saat ini ia sudah menghalangi pintu keluar dengan tubuhnya.
Azizah tak memperdulikan Gery, ia mencoba menerobos tubuh lelaki gagah itu dengan tubuh mungilnya, namun ternyata Gery begitu kekar sampai Azizah tak mampu membuatnya bergeser dari pintu.
" kamu ini maunya apa sih, Mas?"
Nada Azizah mulai meninggi.
" aku mau kamu kasih kesempatan lagi sama aku, Za."
" Awas... minggir Mas."
Azizah memukuli dan mendorong dada bidang Gery dengan tangan lembutnya, membuat Gery memberikan jalan pada Azizah untuk keluar dari pintu rumahnya.
Azizah duduk diteras rumahnya dan membuka aplikasi transportasi online.
" Za, jangan pergi."
Kembali Gery meraih kedua tangan Azizah dengan tangannya yang kekar.
" Mas, tolong aku hanya tak ingin diganggu. Aku hanya ingin kita selesaikan rumah tangga kita."
" apa kau sudah tak mencintaiku lagi, Za?"
" bukan aku yang tak mencintaimu, Mas. Tapi kamu yang sudah tak mencintaiku, kamu sudah dua kali menduakan cintaku, Mas. Untuk apa aku bertahan dengan orang yang sudah menghancurkan kepercayaanku, Mas. Menghianati ikatan suci kita beberapa kali, dinding cinta dan benci itu sangat tipis, Mas. dan saat ini aku sedang berada diposisi antara benci dan cinta sama kamu Mas."
Mendengar suara mobil didepan pagar rumahnya, Azizah segera membuka pintu pagar dan menghampiri mobil tersebut.
Kaca mobil pengemudipun terbuka dan pak sopir mulai bertanya.
" dengan Mbak, Azizah yang memesan taxi online?"
Tanya Pak sopir yang sedikit mengeluarkan kepalanya kejendela mobil.
" ya, saya Pak. sebentar saya ambil tas dulu ya Pak!"
Azizah bergegas mengambil koper dari teras rumahnya, Gery hanya memandangi Azizah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia masih tak menyangka kalau Azizah yang lembut, akan berani melakukan hal semarah ini padanya.
Gery hanya melihat Azizah berlalu dengan transportasi online-nya. Ia hanya terduduk lemas dan mengacak rambutnya stres dan ia kemudian melangkah masuk kedalam rumahnya.
Sementara Gibran yang mengamati Azizah dari teras rumahnya, segera mengeluarkan si hijau kesayangannya dan mulai mengendarainya dengan mengikuti kendaraan yang Azizah tumpangi.