Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaikan Pangeran
Perlahan Zara mendongakkan kepala, sejurus kemudian seketika ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Ya Tuhan, apa ini? Kenapa bisa aku tidur dengan pria ini? Apa yang terjadi kemarin malam? Zara seketika menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, semua masih lengkap, pakaiannya masih terpasang dengan baik di tubuhnya, ia menghela nafas lega lalu segera bangkit ingin menjauhi Gaza. Namun, saat ia ingin meninggalkan kasur, seketika ia berbalik menatap Gaza.
Pancaran sinar matahari menimbulkan sebuah bayangan indah yang terpatri di depan matanya, seorang lelaki yang bagaikan pangeran tengah tertidur pulas tepat di hadapannya, lebih tak dapat dipercaya lagi bahwa pangeran itu adalah suaminya sendiri, bentuk rahang yang begitu menawan dan tegas, batang hidung yang menjulang tinggi benar-benar mampu membuat Zara menelan saliva akan silaunya ketampanan pria ini.
Dia tampan sekali, dalam keadaan terlelap seperti ini, sama sekali tak terlihat bahwa dia adalah seorang tuan muda yang dingin dan arogan, dia terlihat seperti pangeran yang baik hati dan lembut. Perlahan tangannya bergerak ingin menyentuh wajah Gaza. Namun, tiba-tiba ia kembali sadar dari lamunan terkutuknya.
Astaga, Zara. Apa yang sedang kau pikirkan? Bagaimana mungkin kau bisa tertarik pada wajahnya. Tidak, lupakanlah Zara, ingat bahwa dia adalah pria yang arogan, selamanya kalian tidak akan saling memiliki hati satu sama lain. Singkirkan angan-angan bodohmu itu. Zara mengetuk dahinya beberapa kali, menyesali pikiran buruknya.
Ia pun segera bangkit untuk mandi, saat ia ingin membuka pakaian, seketika ia mencium bau Gaza yang menempel di pakaiannya, ia semakin mendekatkan baju tersebut di hidung, merasakan begitu lembut dan wanginya tubuh Gaza hingga begitu nyaman masuk ke rongga hidung.
Usai mandi, sialnya lagi ia lupa membawa pakaian ganti, hanya membawa satu handuk yang hanya bisa menutupi bagian tubuh tertentu, tidak mampu menutupi semuanya.
"Duh, bagaimana ini? Dia sudah bangun tidak, ya? apakah tidak masalah jika aku keluar dengan hanya menggunakan handuk seperti ini? Bagaimana jika dia telah bangun? Mau kutaruh di mana wajahku ketika ia melihat ini?" Zara malah terus mondar mandir di kamar mandi merasa dilema.
Lupakanlah, dia akan segera bangun jika aku terus-terusan di sini. Ia pun memberanikan diri untuk keluar, mengendap-endapkan kaki melangkah dengan hati-hati agar tidak terdengar suara langkah sedikit pun.
Brukk
Seketika kepalanya membentur seseorang, siapa lagi kalau bukan Gaza, ia tak berani untuk mendongakkan kepala, hanya menatap sepasang kaki Gaza yang bahkan juga mampu membuatnya tertekan, bagaimana jika dia sampai melihat wajah pria itu?
"Angkat kepalamu," perintah Gaza dengan suara yang berat.
Zara memejamkan mata merasa begitu takut dan malu, rasanya ingin sekali ia kabur dari tempat dan waktu yang seperti ini.
"Tidak dengar apa yang kukatakan?" Gaza kembali bersuara dan akhirnya Zara memberanikan diri untuk mendongak menatap pria di hadapannya.
"Aku ingin bertanya, siapakah pemilik rumah ini?"
Zara sedikit bingung, kenapa Gaza mesti menanyakan hal itu padahal ia sendiri tahu bahwa ini adalah rumahnya. Oh, tidak. Jangan-jangan dia mengalami lupa ingatan?
"Aku bertanya bukan untuk melihatmu diam saja."
"Ah iya, Tuan. Tentu saja ini adalah rumah Anda," jawab Zara dengan cepat.
"Lalu seharusnya yang lebih diutamakan siapa?"
"Tentu Anda, Tuan."
"Lalu kenapa kau malah mendahuluiku mandi? Berapa waktu yang sudah kuhabiskan sia-sia hanya karena menunggumu selesai mandi? Apa Lee Jonas tidak pernah mengatakan padamu bahwa setiap detik waktuku itu sangatlah berharga?" Lelaki ini sekarang menatap lekat pada Zara, membuatnya lagi-lagi seakan terkena kutukan untuk yang keberapa kalinya.
"M-Maafkan saya, Tuan. Tadi Anda masih tertidur, saya kira akan sempat jika saya mandi duluan hingga Anda bangun, saya benar-benar tidak tahu bahwa Anda akan bangun lebih cepat dari perkiraan saya." Zara menunduk merasa takut. Seberapa pun ia berusaha untuk tidak membuat kesalahan, tetap saja kesalahan itu seakan selalu mengekor di belakangnya.
"Saya tidak akan melakukannya lagi, Tuan." Nada bicaranya kini mulai pasrah, tidak tahu harus membela diri seperti apa lagi.
"Lalu kenapa kau masih tidak mamakai pakaianmu? Apa kau bermasud untuk menggodaku dengan cara seperti ini? Apa Lee Jonas juga tidak pernah memberitahumu bahwa wanita yang menjadi standarku itu seperti apa?" Bagaikan sebuah cabikan yang mengoyak-ngoyak perasaan, Zara hanya bisa menggertakkan gigi begitu geram dengan ucapan Gaza.
"Maaf, Tuan. Saya lupa membawa pakaian ganti," balasnya.
"Alasan yang tidak masuk akal. Lalu kenapa kau masih menghalangi jalanku? Tidakkah kau sengaja ingin membuatku terpikat dengan tubuhmu?"
Bukankah masih begitu banyak ruang untuk kau berjalan menuju ke kamar mandi? Masih menyalahkan aku menghalangi jalan, bagian mananya aku menghalangi jalanmu?
"Silahkahkan, Tuan." Zara pun menyingkir ke tepi dengan senyum paksa yang begitu lebar.
Gaza pun melangkah ke kamar mandi usai Zara memberi jalan lebar di depannya.
"Sialan, aku benar-benar ingin meremukkan tubuhnya detik ini juga." Zara meremas kepalan tangannya begitu sebal dengan sikap Gaza yang tak memberinya sedikit muka.
Segera ia memakai pakaiannya sebelum Gaza keluar dari kamar mandi, benar-benar sebuah pekerjaan yang merepotkan baginya, ia seakan bukan berprofesi sebagai istri, tetapi seakan menjadi asisten pribadi yang harus siap kapan pun melayani bayi dewasa seperti Gaza.
Pagi pertama bagi Zara melayani Gaza, ia memakaikan pakaian untuk Gaza dan memakaikan sepatu, menyiapkan tas yang selalu dibawa oleh Gaza.
"Selamat pagi, Tuan muda." Sekertaris Lee menyapa ketika Gaza turun dari tangga.
"Pagi, Nona." Ia juga menyapa Zara yang kini tampak sedang mengikuti Gaza dari belakang dengan tas hitam di tangannya.
"Pagi, Tuan," balas Zara sambil tersenyum.
Lagi-lagi kini Zara harus bertemu lagi dengan wanita yang paling tidak ingin ia temui, dengan adanya Winda, dia juga harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai suaminya.
"Selamat pagi, Nona Winda," sapa Zara sambil tersenyum manis.
Winda sama sekali tak menjawab sapaan Zara, ia hanya menatap Zara dengan sinis.
"Sepertinya kamu melewati malam yang sulit, Nona Winda. Matamu hampir mirip dengan mata seekor panda." Sambil tersenyum mengejek.
Winda mengalihkan pandangannya begitu muak dengan Zara, ingin sekali ia melawan, tetapi tetap tidak berani karena di sana ada Gaza.
"Suamiku, makanlah yang banyak, akan membutuhkan banyak tenaga untukmu bekerja seharian, aku tidak ingin kamu sampai kekurangan stamina hingga jatuh sakit, siapa yang akan memanjakanku setiap malamnya jika sampai kamu mengalaminya?" Sambil membuatkan sandwich untuk Gaza.
Rasakanlah itu, pasti kau cemburu sekarang, kan? Zara tersenyum puas melihat wajah Winda yang mulai memerah menahan amarah.
Sekertaris Lee tersenyum kecil melihat akting Zara yang begitu payah.
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya