Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 "Amarah Justin"
BRUGG!!
"Arrghh!"
Jerit kesakitan, suara tulang di patahkan dan bantingan menggema dengan nyaring di sebuah gang sepi Kota Seoul. Sedikitnya tiga laki-laki bertubuh tinggi kekar tergeletak tak berdaya dengan luka hampir di sekujur tubuhnya. Ketiga laki-laki itu menatap ngeri pada tiga pemuda yang berdiri kukuh di hadapan mereka.
Sekujur tubuhnya terasa sakit dan tulang-tulangnya remuk karna bantingan, pukulan dan tendangan yang mereka terima. Sakit dan takut mereka rasakan secara bersamaan dan terlebih saat melihat seringai iblis yang tercetak di bibir ketiganya.
"Ka..lian iblis." seru salah satu dari ketiga laki-laki itu dengan penuh ketakutan.
Laki-laki itu berseru dengan suara bergetar, takut-takut dia menatap tiga pemuda yang berdiri di depannya. Seorang pemuda bersurai coklat terang tiba-tiba merundukkan tubuhnya untuk mensejajarkan posisinya dengan laki-laki itu. Dengan seringai Iblis yang tercetak di wajah tampannya, pemuda itu mencengkram pakaian laki-laki di hadapannya.
"Benarkah?" ucapnya sambil berancang-ancang untuk memukul laki-laki tersebut, sampai sebuah suara mengintrupsi gerakannya dan---
"Lee Felix, cukup." Suara baritone yang terdengar begitu tenang menghentikan gerakannya.
Felix menoleh dan mendapati tiga pemuda berjalan menghampirinya sambil menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda. Melihat kedatangan mereka membuat Felix merenggut kesal karna itu artinya dia, Sehun dan V tidak memiliki jatah lagi. "Mundurlah." pinta orang itu sekali lagi.
"Ayolah, Sean, Hyung biarkan aku mengakhirnya dan memukul laki-laki ini dua kali lagi. Hanya dua kali lagi." renggeknya memohon.
Sean menghela nafas, ia memang tidak mengatakan apa pun dan kediamannya Felix anggap sebagai tanda setuju. Senyum Felix pun mengembang seketika. Felix meniup kepalan tangannya dan berancang-ancang untuk memukul laki-laki itu.
"Cukup!!" jarak kepalan tangan Felix dan laki-laki itu hanya tersisa satu sentimeter lagi saat pemuda itu menghentikan gerakannya saat dia mendengarkan suara dingin tersebut "Kita pergi." lanjutnya menambahkan.
"Ayolah biarkan bocah ini mengakhirinya, tanggung."
"Apa kau tuli? Kita pergi sekarang," Tegasnya dingin.
Leo merinding sendiri melihat tatapan Justin. Felix mendengus kecewa kemudian berdiri. Pemuda itu membalikan badan dan menghampiri kelima hyungnya. "Aku akan langsung pulang, kalian bisa berpesta tanpa diriku." Tidak ada komentar dari Leo dan yang lainnya karna mereka semua tau jika saat ini Justin sedang dalam keadaan mood yang lumayan buruk.
"Ka-ka-lian semua iblis. Kalian tidak layak hidup, seharusnya kalian semua mati saja."
Keenam pemuda itu menghentikan langkahnya dan V-lah yang paling cepat menolehkan kepala. Dengan perlahan, Thomas mendekati ke tiga laki-laki itu dengan senyum palsu. "Wow, mulutmu tajam juga ya. Seharusnya kalian di beri....!"
DOOORRR!!!
Leo, Sean, Thomas, Felix dan Sehun tercenggang kaget melihat ketiga laki-laki itu meregang nyawa seketika setelah sebuah timah panas menembus kepala mereka masing-masing.
Di depan mereka berlima berdiri seorang pemuda bersurai blonde yang hanya menatap dingin pada tiga mayat laki-laki di depannya. "OMO? YAK! JUSTIN QIN, APA KAU INGIN MEMBUAT KITA SEMUA JANTUNGAN EO?" seru Sean dengan nada meninggi. Tangannya bergerak naik turun menggusap dadanya yang berdebar tidak karuan. "Dan lagi, apakah itu tidak sangat keterlaluan." imbuhnya.
Pemuda dalam balutan jeans hitam serta rompi kulit yang menjadi luaran singlet putihnya menoleh dan menatap sinis pada Sean "Apa peduliku? Aku akan menghabisi siapa pun yang berani menghalangi jalanku." jawabnya dan berlalu begitu saja.
Sehun, Felix, Sean, Leo dan Thomas merinding sendiri mendengar ucapan dingin Justin di tambah dengan tatapannya yang seolah menusuk hingga menembus jantung mereka.
Di antara semua anggota Five Corner hanya Justin yang terkenal paling bringas dan kejam. Dia tidak akan segan-segan untuk membunuh siapa pun yang berani membuat masalah dengannya.
Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang sia-sia di tangannya. Justin tidak pernah ragu saat melepaskan amunisinya atau menancapkan pisau pada tubuh orang yang dia anggap menghalangi jalannya. Dan karna kekejamannya itu dia di juluki sebagai Iblis bertangan dingin.
Justin memisahkan diri dari teman-temannya namun di tengah jalan tiba-tiba saja ada segerombolan preman yang menghadang laju mobilnya. "Ck, mau apa kumpulan bre*gsek itu menghadang jalanku?" ujarnya mendecih.
Dengan malas Justin turun dari mobil mewahnya dan menghampiri sepuluh orang yang menghadang jalannya. "Mau apa kalian?" tanyanya to the poin. Suaranya terdengar dingin dan datar.
"Membunuhmu, tentu saja." balas seorang pria yang memiliki tatto di leher kanannya sambil menunjuk Justin. "Tunggu apa lagi, habisi pemuda sombong ini."
"Baik boss."
Dorrr!!
Dorrr!!
Tanpa rasa ragu sedikit pun Justin melepaskan beberapa tembakan pada empat laki-laki yang berlari kearahnya dan membuat mereka tumbang seketika karna lesatan peluru yang menembus jantung dan kepalanya. Tak terlihat ada rasa gentar sedikit pun di wajah Justin meskipun yang dia hadapi tidak sedikit jumlahnya.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain datar. Justin menghindari setiap serangan yang mengarah padanya dan tidak membiarkan mereka menyentuh tubuhnya sedikit pun 'PLAKK' Justin menahan kepalan tangan yang mengarah pada wajahnya tanpa menoleh.
"Sial, ternyata kau tangguh juga, Justin Qin." Laki-laki bertatto itu kaget namun tidak terlalu ditunjukkannya. "Apa kau masih bisa bertahan dengan kesombongamu itu? Anak-anak," serunya sambil memberi kode pada anak buahnya yang lainnya. Terlihat sepuluh orang menghampiri Justin dan mereka semua bersenjata. "Kita buat hal ini jauh lebih menarik. Habisi pemuda ini."
Justin mendengus, apa laki-laki itu fikir ia akan gentar. Tidak ada sejarahnya jika seorang Juatin Qin akan takut untuk menghadapi curut-curut seperti mereka. Justin mendorong tubuh laki-laki bertatto itu kemudian menendang perutnya. Sementara yang lain langsung datang menyerangnya.
Dengan gerakan indah Justin menghindari serangan yang mengarah ke ulu hatinya. Tidak sampai di situ, muncul lagi serangan lainnya yang ingin menghajar Justin. Lima orang itu bersenjata, namun dengan sigap Justin menghindari serangan serentak itu.
Tapi sayang, mereka tidaklah menyadari jika yang di hadapi kali ini adalah pemuda yang telah melewati latihan fisik dan keras selama bertahun-tahun. Tentu saja bukan hal mudah untuk bisa menumbangkannya.
Sejauh ini Justin masih belum memberikan serangan balasan yang berarti. Semua serangan dari anak buah laki-laki bertatto itu dapat Justin hindari dengan mudah meskipun ujung belati milik salah satu dari mereka berhasil merobek bawah mata kirinya.
Justin berkilat kesana kemari menghindari serangan lawannya, tentu saja hal itu membuat para pengeroyoknya menjadi semakin marah dan melayangkan serangan yang lebih ganas lagi.
Melihat bagaimana kelincahan dan kemampuan Justin. Membuat pria bertatto yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja menjadi semakin geram. Dengan satu kali teriakan nyaring, dia berlari kearah Justin sambil menggenggam sebuah belati yang langsung dia tusukkan pada perut kirinya. Justin tidak sempat menghindar hingga ujung pisau itu berhasil menancap dan mengoyak perutnya.
"Kau!" geramnya marah.
Jlebb!!!
Justin mencabut pisau itu dari perutnya dan mengembalikan pada pelemparnya. Pisau itu menancap tepat di leher pria berttto tersebut. Tidak cukup sampai di situ. Justin juga melepaskan sedikitnya tiga tembakan beruntun membuat tubuh pria bertatto itu roboh seketika.
Melihat pria berttao itu tumbang, para pengikutnya yang masih bisa berdiri dengan tegap memilih pergi dan menyelamatkan diri. Justin hanya mengamati lawan-lawannya yang tergeletak lalu pergi begitu saja sambil memegangi perut kirinya yang terus mengeluarkan darah segar.
🌹🌹🌹
Di dalam sebuah ruangan yang tidak bisa di katakan kecil atau biasa-biasa saja. Terlihat seorang gadis duduk berhadapan dengan sepasang Ibu dan anak. Ada ketegangan yang menguar di udara, mungkin saja dari tatapan mereka yang saling mengisyaratkan perasaan masing-masing.
Sang gadis sarat akan emosi, sepasang mutiara hazelnya memancarkan kebencian yang begitu sangat terutama pada wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya.
"Katakan untuk apa kalian memanggilku ke sini?" tanya si gadis dengan suara datarnya. Matanya menatap ibu dan anak didepannya secara bergantian, kebencian terpancar jelas dari sorot matanya yang dingin. "Jika kalian mengundangku hanya untuk membuang-buang waktuku, sebaiknya aku pergi saja." Gadis itu bangkit dari duduknya dan hendak pergi namun-
"Kami ingin agar kau segera menandatangani surat wasiat ini."
Dan langkah gadis itu terhenti detik itu juga setelah mendengar suara angkuh wanita paruh baya itu masuk dan berkaur di dalam telinganya. Gadis itu menolehkan kepala seraya memicingkan mata.
"Untuk apa? Perubahan surat wasiat, huh?" ucapnya meremehkan.
"Jangan banyak bicara kau, Min Jia, sudah lakukan saja." Seru geram wanita muda yang duduk di samping Song Terra yang tak lain adalah Ibu tiri Jia.
"Kami tau jika semua harta keluarga, Min, masih atas namamu. Tua bangka itu tidak mungkin melimpahkan seluruh hartanya padaku dan Ibu. Dan karna kami tidak mau rugi. Kami ingin agar kau segera menandatangi surat wasiat baru ini."
Jennie melemparkan map itu keatas meja depan Jia dan memaksa kakak tirinya itu untuk segera menandatanganinya. Jia mendesah berat, senyum tersungging di bibir Jennie dan Terra melihat Jia mengambil map dan bulpoin yang ada di atas meja. "Bagus sekali, ayo cepat lakukan." pinta Jennie sekali lagi.
"YAK! MIN JIA, APA YANG KAU LAKUKAN?" bentak Terra melihat Jia merobek surat wasiat itu dan melemparkannya ke udara. "Apa kau sudah tidak waras eo?" Terra menatap tajam putri tirinya itu.
"Kenapa harus marah, Ibu? Kalau miskin ya miskin saja tidak perlu di paksakan untuk menjadi kaya." Ujar Jia menyeringai. Bahkan ia tidak menghiraukan tatapan adik dan ibu tirinya yang semakin menggelap-emosi mereka terkumpul pada netranya. Ucapan Jia begitu tenang namun kata-katanya cukup untuk membuat mereka berdua emosi.
"JAGA LIDAHMU, MIN JIA!!" teriak Jennie dengan nada meninggi. Nafasnya naik turun tak beraturan. "Sebenarnya permaianan apa yang coba kau lakukan pada kami?"
Jia masih saja tidak menunjukkan perubahan emosi. Membuat Terra dan Jennie menjadi semakin geram dan marah di buatnya. Gadis itu malah asik memainkan kuku-kukunya yang terlapisi cat kuku berwarna pink soft. Mengangkat wajahnya seraya memberikan tatapan sugestif pada dua orang di hadapannya.
"Jangan coba-coba menantang kami, Min Jia. Apa kau sudah bosan hidup eo?" mata hitamnya yang membara masih menatap putri tirinya, menyalurkan semua emosi yang membuncah di dalam dadanya.
"Aku suka tantangan, Ibu." kini seulas senyum tipis Jia tapi tidak tau untuk apa senyum itu. "Dan lagi pula aku sudah sangat lelah jika harus berpura-pura terlalu lama, bukankah aku adalah pemain drama yang sangat hebat? Sandiwaraku sangat meyakinkan bukan, ketika aku berperan sebagai upik abu dan putri tiri yang lemah?" ujarnya menyeringai
"Aku rasa, aku sudah tidak memiliki urusan lagi di sini. Sebaiknya aku pergi," Jia beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan rumah mewah milik ayahnya juga dua wanita yang tengah menatap penuh kebencian kepergiannya.
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....