Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Bethesda Hospital Jogja.
Seluruh korban dilarikan ke rumah sakit. Siska berlari mendekati ruang tindakan. Alya terbaring lemas. Disampingnya terbaring Dimas, Yoga dan supir yang tak sadarkan diri.
"Keluarga pasien silahkan menunggu diluar. Kami akan melakukan tindakan untuk keselamatan pasien." Ucap Dokter yang menangani seluruh korban.
Tubuh Siska ditarik keluar oleh Bertha, sedangkan Heru masih berusaha menghubungi pihak keluarga Dimas. 1 jam kemudian, semua pasien segera dipindahkan keruang rawat inap. Kondisi Alya masih lemas dengan kaki kanan di gips. Sedangkan Dimas diperban pada bagian kepala. Yoga dan supir mobil masih tak sadarkan diri dengan terpasang selang infus.
Siska segera masuk menemui Alya, menyentuh lengan kanannya yang terpasang infus.
"Sis kakiku sakit." Rintih Alya menahan sakit.
"Sabar ya Al, pasti segera pulih kondisinya." Siska menatap pilu melihat kondisi Alya.
"Dimana Kak Dimas?" Tanya Alya.
"Dia disamping Mu." Siska menarik tirai yang memisahkan tempat tidur Mereka.
(Ya Allah sadarkan kak Dimas, gumam Alya). Butiran air mata jatuh dipipinya.
"Al istirahat ya, Aku disini jagain Kamu." Ucap siska mengelus kepala Alya yang masih ditutupi hijabnya.
"Jangan kasih tau Ayah Bunda dulu yah. Kamu infokan saja kalau Kita sedang masih ada kerjaan disini. Aku tidak mau membuat khawatir orang rumah." Ucap alya dengan lirih.
"Jangan seperti itu Al, Mereka pasti khawatir." Jelas Siska.
"Justru itu, Aku takut Mereka khawatir. kondisi Ayah nanti drop kasian Bunda pasti kepikiran sana sini. Tolong ya Sis jangan beri tahu orang rumah." Mohon Alya.
"Baiklah Al." Siska menurut keinginan Alya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
📞 Subadiyo
"Hallo. Iya. Apa? dimana sekarang? Baiklah Kami segera menyusul kesana." Jawab Subadiyo ketika mendapatkan panggilan telfon.
Subadiyo segera memberitahu istrinya tentang kondisi Dimas saat ini. Siang itu setelah menerima panggilan telfon dari Heru mereka langsung bertolak menuju Jogja.
Raka yang baru tiba dirumah belum mengetahui keadaan kakaknya langsung masuk menuju kamar. Sore hari Ia baru keluar menuju dapur, mengambil air dingin dari kulkas.
"Tuan muda tadi siang Tuan dan Nyonya besar berangkat ke Jogja menjenguk Tuan Muda Dimas yang mengalami kecelakaan." Ucap Mbok Yem.
Raka yang baru meneguk air minumpun tersedak mendengar ucapan Mbok Yem yang sudah mengabdi dikeluarga hampir seumur dirinya.
"Uhuk, bagaimana kondisi kak Dimas?" Tanya Raka sambil berjalan meletakkan gelas dimeja dapur.
"Mbok kurang tau pasti, lebih baik Tuan Muda langsung menghubungi tuan dan nyonya. Tadi sebelum berangkat Mereka berpesan untuk disampaikan itu saja." Jelas Mbok Yem.
"Baiklah Mbok, makasih ya." Raka bergegas menaiki tangga menuju kamar menelfon kedua orangtuanya.
📞 Raka
"Hallo Pah, sudah di Jogja? Bagaimana kondisi kak Dimas?" Tanya Raka khawatir.
📞 Subadiyo
"Papah baru sampai di Rumah Sakit, nanti Papah kabari kembali ya. Oh ya tolong Kamu bantu handle dulu urusan kantor. Setidaknya Kamu pernah mempelajari itu kan?"
📞 Raka
"Hmm baiklah Pah. Besok Raka akan datang kekantor."
Sambungan telfonpun berakhir. Dengan terpaksa Raka mengiyakan permintaan Papahnya. Melihat kondisi seperti ini mau tak mau Ia harus terjun ke kantor.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Dimasss.." Panggil Lestari, ketika membuka ruangan inap pasien.
"Mah tahan tangisannya, Dimas lagi istirahat." ucap Subadiyo ketika mengikuti dibelakang Lestari.
"Alya .. Kamu disini juga ikut bersama Dimas?" Tanya Lestari yang menyadari dalam satu ruangan bersama anaknya.
Alya hanya menganggukan kepala, terlihat Siska masih setia mendampingi disisi Alya. Subadiyo beralih kearah Alya dan berdiri diantara Alya dan Dimas.
"Kedua orang tuamu sudah tahu?" Tanya Subadiyo.
"Belum Om, Alya tidak berani memberi tahu orang rumah. Takut mereka khawatir." Jawab Alya.
"Ya sudah nanti Om coba jelaskan ke Mereka ya. Kamu istirahat dulu, jika ada apa-apa kamu cepat kabari Om." Jelas Subadiyo.
"Iya om makasih." Jawab Alya.
Kondisi Dimas masih belum sadarkan diri akibat benturan hebat dibagian kepala dan tulang belakangnya ada yang bergeser. Lestari masih setia disamping Dimas menunggu kesadaran anaknya. Sedangkan Subadiyo diluar ruangan mencoba hubungi kedua orang tua Alya di Bogor. Setelah mendapat keterangan dari Heru dan CCTV kendaraan yang ditumpangi Dimas, Subadiyo akan mencoba menjelaskan secara rinci.
Kedua orang tua Alya hampir tidak percaya mendengar kabar buruk dari Subadiyo. Mereka menitipkan Alya dikarenakan kondisi Hasan yang tidak memungkinkan datang, Subadiyo pun akan ber tanggung jawab penuh selama perawatan Alya di Jogja.
Sudah 2 hari Alya dirawat, perlahan ia menggerakkan kaki kanannya. Siska berusaha membantu Alya tak lupa Lestari juga ikut membantunya. Ketika Alya sedang berusaha berdiri dengan dipapah bantuan keduanya, Dimas membuka mata.
"Alya, Mamah." Ucap Dimas perlahan.
Lestari yang mendengar anaknya siuman beranjak mendekati, Alyapun bergeser menoleh kearah Dimas.
"Alhamdulillah nak, Kamu sudah sadar." Tegur Lestari.
"Alhamdulillah." Ucap Alya dan Siska bersamaan.
Mamah Lestari segera memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Dimas, setelah hasil cek kondisinya baik, tinggal pemulihan saja dan sudah bisa Lepas infus. Berbeda dengan Alya yang harus masih berusaha menggerakkan kakinya.
"Alya maafkan Saya karena tidak bisa melindungi kamu." Ucap Dimas.
"Tidak usah meminta maaf Kak, ini musibah tidak ada yang bisa menghindar jika sudah ditakdirkan Kita harus mengalami ini. Alhamdulillah Kak Dimas sudah membaik, Aku juga sudah bisa bergerak sedikit-sedikit." Jelas Alya dengan tegar.
"Tetap saja Saya harus meminta maaf karena sudah mengikut sertakan Kamu dalam mobil itu." Ucapnya kembali.
Terlihat dari rawut wajah Dimas masih menyimpan penyesalan karena mengajak Alya dalam project kantor, seharusnya Ia tidak usah ikut maka kejadian inipun hanya dia Saja yang mengalami.
"Sudah nak, Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Benturan dikepala Mu masih baru pulih. Istirahat yah." ucap Lestari membelai rambut Dimas.
Malam harinya diruangan hanya terdapat Lestari yang menemani. Siska harus pulang lebih dulu karena kedua orangtuanya khawatir. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dimas masih terjaga melihat langit-langit kamar rumah sakit. Dilihatnya Alya sedang tertidur lelap.
Wajah polos tanpa sentuhan make up itu membuat Dimas tersenyum. desiran aliran darah bergerilya membuat detakan jantung berkerja lebih cepat. Dimas merasakan getaran cinta setiap memandangi wajah Alya belakangan ini. Teringat dimana saat hari perjodohan itu, saat mengetahui Alya lah yang menjadi pilihan dari Pak Hasan membuatnya senang. Karena dari awal bertemu di Jogja Dimas sudah menyimpan rasa kepada Alya.
"Kak Dimas belum tidur?" Suara Alya menghentikan lamunan Dimas.
"Eh Al kok kebangun? iya Saya belum bisa tidur." Ucap Dimas lalu duduk dan menghadap kearah Alya.
"Tidur Kak sudah malam, biar cepet sembuh terus kembali ke Jakarta." Ucap Alya.
"Memangnya Kamu tidak mau Saya temenin disini? meminta cepat Saya kembali ke Jakarta." Tanya Dimas.
"Bukan begitu Kak, banyak kan yang harus kakak kerjakan di kantor. Sedangkan Alya masih harus pemulihan, jika sudah bisa berjalan menggunakan tongkat Alya juga mau cepet kembali kerumah." Jelas Alya dan ikut duduk.
"Ehem .. Kalian masih asik mengobrol. Sudah malam istirahat. Besok lagi Dim bicara sama Alya nya. Sudah dijodohkan ini. Tidak usah khawatir." Ucap Lestari senyum-senyum kearah Mereka yang terlihat salah tingkah.
.
.
.
Renata nya Thor