Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Getar Malam-malam
Pukul sepuluh malam, suara mesin mobil Mario terdengar. Anjani bergegas meletakkan gawainya di atas ranjang, lantas turun ke lantai dasar demi menyambut kedatangan suami kesayangan. Mario tengah menutup pintu mobil ketika Anjani sampai di teras depan. Raut wajah lelah Mario langsung tertangkap seketika itu.
"Sayang, kamu belum tidur?" Mario lekas menghampiri Anjani.
"Sini salim dulu, Mas." Anjani mencium punggung tangan Mario. Rutinitas yang tak pernah dilewatkan olehnya.
Mario menolak saat Anjani hendak membawakan tasnya karena berat. Sebagai ganti agar Anjani tak kecewa, Mario memintanya membawakan paper bag isi kue bolu kukus tabur keju. Mario-Anjani pun beriringan langkah menuju kamar mereka.
"Mas mandi dulu saja. Biar kuhangatkan makanannya."
Baru saja Anjani hendak melangkah, Mario lebih dulu mencegah. Lengan kekar Mario seketika mendekap tubuh Anjani dari belakang dengan mesra.
"Kamu harum." Mario menghirup aroma tubuh sang istri.
"Aku pakai body mist aroma bunga moringa. Kamu suka?"
"Suka sekali. Membuatku ingin berlama-lama memelukmu." Mario mengeratkan dekapannya.
Senyum Anjani merekah. Merasa senang karena usahanya terbayar pelukan dari suami tercinta. Body mist aroma bunga moringa yang baru sore tadi dibelinya, sengaja dipakai Anjani malam ini demi tampil wangi di depan suami. Bagi Anjani, membahagiakan hati suami bernilai pahala. Sehingga, tak akan jera dirinya berusaha agar cinta sang suami terus bertambah untuknya.
Mario tak sebatas menghadiahi dekapan. Permainan kecil pun diciptakan tuk mengukir nikmat yang disempatkan. Kecupan-kecupan kecil terarah di bagian wajah Anjani. Meluncur teratur hingga sampai di bagian leher yang merebakkan aroma wangi, efek body mist aroma bunga moringa yang dipakai Anjani.
"Ehm .... Tidakkah kamu lelah?" Anjani memutar tubuh hingga persis menghadap ke arah Mario.
Tak ditanya pun, wajah lelah Mario sudah tampak nyata. Mario hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Anjani yang terdengar begitu ramah.
"Seharian bekerja pastilah menyisakan lelah di raga. Kemarilah! Biarkan aku memberimu hadiah," tutur lembut Anjani.
Hadiah yang dimaksud Anjani adalah kikisan jarak bibir mereka berdua. Anjani dengan berani menc**m Mario lebih dulu. Awal yang perlahan dan penuh kelembutan, seketika berubah menjadi gairah yang memabukkan. Sayangnya, satu menit kemudian pengganggu pun datang.
Drrt drrt drrrt
Getar yang sungguh mengusik. Mario-Anjani seketika kompak melirik smartphone di atas ranjang yang berisik.
"Siapa yang menghubungimu malam-malam begini, Sayang?" tanya Mario, terheran.
"Sepertinya pesan masuk, Mas. Coba aku lihat dulu."
Langkah Anjani terayun menuju smartphone yang tergelatak di atas ranjang. Benar, yang mengganggu malam mereka adalah beberapa pesan. Bukan pesan dalam bentuk tulisan, melainkan beberapa foto yang telah melalui proses editan.
Mendengar langkah Mario mendekat, cepat-cepat Anjani menjauhkan smartphone di genggaman.
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa, Mas?"
Mario tersenyum.
"Ponselnya kok disembunyikan?"
"Ini aku mau meletakkannya lagi di tempat yang benar. Sebaiknya kamu mandi dulu, Mas."
Sikap yang ditunjukkan Anjani justru membuat Mario semakin melebarkan senyuman. Mario sangat yakin bahwa Anjani tengah menutup-nutupi sesuatu dari dirinya.
"Tidakkah kamu ingin berbagi sesuatu padaku?" Mario sabar menunggu.
Anjani menggeleng. Seketika itu mendorong tubuh Mario pelan hingga masuk ke dalam kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi tertutup, barulah Anjani sedikit lega.
Harus segera kuhapus dulu foto yang satu itu. Biar Mario tidak salah paham padaku. Batin Anjani.
Langkah terayun menuju nakas di dekat tempat tidur. Jemari Anjani lincah membuka kembali foto yang baru beberapa menit lalu dikirimkan padanya. Tombol delete menjadi incaran. Begitu jemari hendak menjatuhkan pilihan, smartphone Anjani lebih dulu beralih tangan.
"Terima kasih sudah menyemangatiku hari ini. Emoticon senyum dan hati. Pengirim, Kak Bas." Mario membaca caption di salah satu foto. "Kamu bersedia foto berdua saja dengan Kak Basmu?" tanya Mario sambil mencermati salah satu foto di smartphone Anjani.
"Maaf. Tadi aku nggak sadar kalau Isabel sama Riko sudah bubar nggak ikut foto. Tukang fotonya juga masih bilang 123. Ya akunya asik saja bergaya. Nggak taunya ... tinggal kami berdua." Anjani tertunduk. Agak takut melihat ekspresi yang ditunjukkan Mario.
Mario tak memberi tanggapan. Jemari Mario masih asik menggeser layar. Foto yang menampilkan Anjani dan Bastian berdua memang hanya satu, tapi caption dan filter editan yang digunakan mampu membuat orang awan salah paham.
"Orang lain yang melihat foto ini pasti mengira kamu dan Kak Basmu itu memiliki hubungan spesial."
"Tapi aku sama Kak Bas hanya berteman, Mas."
Mario mengganti fokus, dari layar menuju Anjani.
"Lain kali jaraknya jangan sedekat ini. Jujur, aku cemburu melihat ini. Dan lagi, kenapa juga Kak Basmu itu mengirimimu pesan malam-malam. Emoticon yang digunakan di akhir pesan juga memancing rasa penasaran," ujar Mario panjang lebar.
"Aku balas pesan Kak Bas sekarang. Kuberi tahu biar tidak mengirimiku pesan lagi malam-malam."
Anjani gagal merebut kembali smartphone miliknya. Tangan Mario lebih gesit menjauhkannya.
"Abaikan. Ini bukan jam normal untuk saling berbalas pesan apalagi untuk orang yang bukan pasangan. Aku hapus. Biar kamu tidak memiliki file yang bisa disimpan, meski hanya untuk sebuah kenangan."
Tombol delete dipilih Mario. Usai menghapus, Mario mendekati Anjani.
"Kamu adalah wanita yang telah bersuami. Jaga hati dengan tidak terlalu dekat dengan seorang lelaki. Maafkan suamimu yang mudah cemburu ini." Mario memeluk Anjani.
Anjani mengangguk. Kedua tangan dilingkarkan demi membalas sebuah pelukan.
"Apa kamu marah, Mas?" tanya Anjani.
"Siapa yang marah? Aku cuma cemburu saja." Mario mengeratkan pelukannya.
"Jangan cemburu-cemburu lagi, ya Mas."
"Asal kamu tidak sedekat itu lagi dengan seorang lelaki," sahut Mario.
"Aku mengerti. Maafkan aku!"
"Maafkan aku juga karena telah cemburu."
Baru saja keharmonisan kembali, getar smartphone kembali mengalihkan perhatian Mario-Anjani. Kali ini bukan smartphone milik Anjani. Getar smartphone milik Mariolah yang membuat ulah kali ini.
"Sepertinya telepon. Siapa yang menelponmu malam-malam begini, Mas? Relasi atau Paman Li?" Anjani membuat tebakan.
"Biar aku lihat dulu." Langkah Mario diikuti Anjani.
Rupanya yang menelepon bukanlah relasi ataupun Paman Li. Layar smartphone menampilkan nama Ayu, si janda muda beranak satu.
"Ngapain Ayu nelpon kamu malam-malam, Mas?" Wajah Anjani dipenuhi tanda tanya.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Aku abaikan saja. Aku tidak ingin kamu cemburu buta. Bukankah ini bukan jam normal bagi yang bukan pasangan untuk saling teleponan?" Mario menegaskan pernyataannya yang tadi.
Anjani menurut saja. Apalagi Anjani memang sedikit menaruh cemburu pada Ayu. Menerima panggilan telepon itu bisa saja kembali mematik api cemburu.
"Lebih baik kamu mandi dulu saja, Mas. Setelah itu kita istirahat," saran Anjani.
"Baik, Sayang."
Mario mandi. Sementara Anjani berganti baju yang lebih sexy. Malam ini Anjani ingin mesra bersama suami. Sekalian meredam api cemburu Mario akibat foto bercaption yang dikirimkan Bastian tadi.
Keluar dari kamar mandi, Mario dibuat terpana dengan penampilan Anjani. Mario yang peka langsung menghampiri istrinya.
"Anak daddy lagi minta dipeluk semalaman, ya?" canda Mario.
"Nggak peka deh. Masa anaknya yang ditanya." Anjani cemberut.
"Jangan cemberut ah. Biarkan aku memelukmu semalaman. Aku tidak akan melakukannya di masa kehamilanmu yang sekarang. Aku ingin menjagamu dan kandunganmu agar tetap aman." Mario penuh kasih memeluk Anjani.
"Jika ingin melakukan jangan ditahan ya Mas. Lebih baik kita melakukan dengan penuh kehati-hatian daripada hasrat kamu salurkan dengan wanita lain di luaran."
"Aku tidak berniat mencari madu di luaran. Insya Allah cukup kamu, Sayang. Anjani untuk Mario seorang. Aamiin-kan!" pinta Mario.
"Aamiin."
Baru saja romantisme dimulai, Mario-Anjani lagi-lagi harus diusik oleh getar smartphone yang mengganggu. Getar itu masih berasal dari smartphone milik Mario, dengan si penelepon yang masih sama, yaitu Ayu.
"Itu sudah yang kelima, Mas. Silakan saja kalau mau diangkat. Siapa tau penting." Anjani mengizinkan.
"Baiklah. Aku loudspeaker biar kamu juga bisa mendengarnya."
Mario memperhatikan mimik wajah Anjani sebentar. Merasa aman, Mario pun menerima panggilan.
"Pak Mario, tolong saya, Pak!"
Tak disangka kalimat yang keluar adalah seruan minta tolong.
"Ayu, apa yang sedang terjadi?" Mario langsung bertanya ke inti.
"Anak saya demam, Pak. Saya kesulitan membawanya ke rumah sakit. Tetangga dekat kebetulan rumahnya kosong. Motor saya bannya bocor. Pesanan ojek online yang saya buat juga belum direspon. Adik ipar saya susah sekali ditelepon. Tolong saya, Pak!" Nada bicara Ayu terdengar penuh kekhawatiran.
Mario tidak segera menjawab. Lebih dulu menoleh ke arah Anjani.
"Iyakan saja, Mas. Kasihan anaknya Ayu." Anjani mendesak Mario.
"Baiklah. Ayu, tunggu di sana sebentar. Aku akan membawakan dokter ke rumahmu."
"Terima kasih banyak Pak Mario. Akan saya tunggu."
Mario lebih dulu menghubungi Paman Li. Memintanya menghubungi dokter andalan, lantas menyuruhnya ke rumah Ayu. Mario juga meminta Paman Li untuk mengawal perjalanan sang dokter.
"Pakai jaketmu, Sayang. Maafkan aku membiarkanmu ikut denganku meski malam-malam. Aku tidak ingin kamu berpikiran macam-macam," terang Mario.
"Iya, Mas. Ayo kita segera berangkat. Baby-nya Ayu butuh pertolongan."
Tampak jelas siapa yang lebih menampilkan wajah kepanikan. Anjani. Dialah yang lebih panik dengan keadaan bayinya Ayu saat ini. Perasaan Anjani sebagai calon ibu lebih peka. Anjani bisa memahami perasaan Ayu saat ini. Pastilah panik, dan ingin yang terbaik untuk sang bayi.
Mobil Mario tiba bersamaan dengan mobil Paman Li yang membawa sang dokter. Usai mesin mobil mati, Mario turun lebih dulu dari mobil. Sementara Anjani masih melepas sabuk pengaman, lantas mengeratkan jaket yang dikenakan.
Baru saja Mario turun, tiba-tiba saja Ayu memeluknya. Ayu sesenggukan sambil tetap memeluk Mario. Ayu sama sekali tidak menyadari keberadaan Anjani di sana.
"Tolong anak saya, Pak!" Ayu memohon.
"A-ayu, tolong lepaskan dulu!" Mario berusaha melepaskan perlahan, tapi pelukan Ayu semakin dalam.
Anjani menyaksikan. Tak percaya pada apa yang Ayu lakukan. Baru saja Anjani mau menegur, lebih dulu ada seruan lain yang terdengar.
"Mbak Ayu, calon ayah ponakanku sudah datang kan? Suruh cepat masuk, Mbak. Baby Raihan kejang, nih!" seru Marisa dari ambang pintu rumah.
Deg!
"Calon ayah?" gumam Anjani, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Di luar kendali. Anjani terpaku dalam sesak hati karena situasi. Dilihatnya Ayu yang masih memeluk sang suami. Di lain sisi, Anjani tak tahu kenapa Mario tak jua berhasil menepis pelukan Ayu.
Tak tega mengasari Ayu dengan melepas paksa pelukannya, atau kamu memang suka padanya, Mas? Batin Anjani, mulai kesal sendiri.
Bersambung ....
LIKE-nya buat author dong!
Terima kasih yang sudah setia membaca novel ini. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤