Ditengah rasa keputusasaannya tawaran itu datang tiba-tiba seolah ia sedang mendapatkan jekpot.
Tanpa ragu ia menerima tawarannya untuk menjadi kekasih kontrak seorang Rendra Xing.
Seiring berjalannya waktu, mereka menikah dan memilik anak kembar.
simak kelanjutan kisah cinta Kanaya x Rendra.
...
Copyright @Nona Kireina terbitan pertama (29.01.2020)
jangan lupa like comment juga vottingnya yaaa 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Kireina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIV - KAMPUNG HALAMAN
Kanaya memeluk Rendra dari belakang, memebenamkan wajahnya di punggun Rendra. “Ada apa?” tanya Rendra.
“Sebenarnya kita ada dimana?” Kanaya mengeratkan pelukannya.
“Apakah kau tidak ingat ini dimana?”
Kanaya menggeleng, “Samar-samar, saat itu sepertinya aku masih kecil.”
Rendra menghela nafas, “Ayo, kita pergi kesuatu tempat.”
Tanpa banyak bertanya Kanaya mengikuti langkah kaki Rendra dengan baik.
Sampai disebuah tempat yang tidak begitu nyaman, “Inikan kuburan, kau mau membawaku kemana? Aku takut.”
Rendra menggeleng lalu menarik Kanaya, kini Kanaya berdiri dihadapan Rendra dan membelakanginya.
Jari telunjuk Rendra mengarah ke salah satu batu nisan yang tidak jauh dari mereka.
Kanaya begitu terkejut, kedua lututnya seperti mau copot. Tubuhnya gemetar.
Di lihatnya nama Gatot Prayoga tertulis dengan indah di batu nisan tersebut,
“A-ayah..” Suara lirihnya terdengar parau.
Kanaya mempercepat langkah kakinya dan tersungkur di makam ayahnya. Ia tak pernah
menyangka bisa berziarah ketempat ini.
Tangisannya sulit di kendalikan, emosinya begitu memuncak terasa sesak hingga di ubun-ubun
kepala. Tangisan di iringi erangan Kanaya jatuh pingsan di atas makan ayahnya.
***
“dokter bagaimana keadaannya?”
“Tidak apa-apa, anda tidak perlu khawatir. Istri anda hanya terbawa emosi. Istirahat
akan membuatnya tenang.”
Rendra mengangguk, “Terimakasih.”
Hari mulai gelap, Kanaya tersadar dari tidurnya.
“Aku... Ah!” Kanaya terkejut saat terbangun yang ia lihat adalah sebuah kamar lengkap
dengan isinya, ia sangat ingat sesaat sebelum pingsan mereka berada di makam
ayahnya.
Rendra datang membawa sup dan teh hangat, “Habiskan.”
“Aku tidak ingin makan.” Kanaya terlihat lesu.
“Kenapa? Kau tidak suka tempat ini?” Rendra meletakan nampan itu diatas meja kecil.
Kanaya menggeleng, “Bukan seperti itu.”
“Lalu?”
“Aku..” Air mata Kanaya mulai menetes, kemudian menyeka air matanya.
“Ada apa?”
Kanaya berdiri dan memeluk Rendra dengan erat, “Terimakasih suamiku, kau memberiku
sebuah kejutan yang indah. Mungkin ayah tidaak bisa melihatku lagi tapi aku tahu dia menuntunku padamu.” Kanaya membenamkan wajahnya di dada bidang Rendra.
Rendra memegang bahu Kanaya dan melepaskan pelukan itu, “Hanya ucapan terimakasih?” Rendra mengangkat satu alisnya.
“Maksudmu?”
Tanya Kanaya dengan begitu polos.
“Hm..” Rendra menghela nafas, “Maksudku seperti ini.” Rendra merebahkan tubuh Kanaya
diatas kasur dan mulai menikmatinya.
Kanaya menggeleng, “Aku takut.”
“Tidak akan sesakit malam pertama kita, aku janji.” Rendra melumat bibir Kanaya dengan
penuh gairah.
Erangan dan desahan itu membuat tubuh Kanaya semakin tak terkontrol.
Bagian kewanitaannya mulai basah, Rendra sengaja memperlambat irama permainan dan
membuat Kanaya terengah-engah tidak sabaran, “Kau sengaja.”
Rendra tersenyum dan membuka kedua paha selebar pinggulnya, kejantanan milik Rendra
mulai mengeras dan memanjang. Tanpa memberikan aba-aba Rendra menghentakan
dengan kuat miliknya dan berhasil masuk dalam sekali hentakan, “Emh..!”
Sekali lagi Kanaya merasakan sakit yang hamipir sama dibagian kewanitaannya, tangannya
meremas seprei sekuat mungkin.
Rendra menyusuri leher jenjangnya, rasa sakit itu perlahan mulai berkurang. Telinga
Rendra dapat mendengar desahan kecil itu keluar dari mulut Kanaya, “Eeemmhh...”
Cukup memberinya waktu istirahat, sekarang saatnya Rendra mulai beraksi, perlahan ia
memaju mundurkan kejantanannya. Desahan itu semakin memburu dan memuncak hingga
ke ubun-ubun.
Keduanya mulai larut dalam percintaan itu, melupakan semua yang terjadi dan melampiaskannya
saat itu juga.
Dua jam berlalu, mereka berdua masih aktif dengan kegiatan percintaan mereka hingga
akhirnya Kanaya mencapai klimaks, tubuhnya mulai lemas kehabisan tenaga
sedangkan Rendra masih sibuk menikmatinya.
Malam itupun berlalu dengan kegiatan yang panjang dan aktifitas yang tiada henti.
dah 2 gadis yg di perawninnya
viona dan sherly
sedih jadi kanaya sedang hamil tidak di prioritaskan suami
benci sama laki kayak gitu