NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Belum sempat Daxon memberi isyarat, Aldric tak kuasa lagi menahan dirinya. Tawa meledak keluar begitu saja, bergema di halaman, membuat kelima penjaga makin menunduk canggung.

Azalea segera berbalik, menatap tajam ke arah Aldric. Matanya menyipit, tak ada lagi senyum cerah tadi. Tatapan itu begitu menusuk hingga Aldric terpaksa menghentikan tawanya seketika dan menegakkan tubuh, merasa bersalah karena tak sengaja mengganggu kegembiraan Azalea.

Tanpa berkata apa‑apa, Azalea meraih satu gaun merah muda lain, lalu berjalan tegap menghampiri Aldric. Tatapannya masih tajam, tak memberi ruang untuk dia menolak. Ia menyodorkan gaun itu tepat ke dada Aldric, seolah memberi perintah diam‑diam agar pria itu turut mengenakannya juga.

Aldric tertegun diam, matanya beralih dari gaun itu ke wajah Azalea yang tak tergoyahkan, sementara Daxon di sudut sana mulai menurunkan berkasnya, penasaran melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Pakai gaun ini, lalu ikut bergabung dengan mereka," ucap Azalea tegas, tak memberi celah sedikit pun.

Wajah Aldric seketika berubah pucat. Ia segera menoleh memandang Daxon dengan pandangan memelas, berharap sahabatnya mau menolongnya. Namun Daxon justru tiba‑tiba mengangkat telepon genggamnya, menempelkan ke telinga dan berpura‑pura sibuk berbicara, seolah tak melihat apa‑apa.

Aldric terpaku tak berdaya, sementara Azalea masih menyodorkan gaun itu dengan pandangan yang tak bisa ditolak.

Tak ada jalan lain. Aldric menerima gaun itu dengan wajah masam, lalu berjalan gontai bergabung bersama kelima penjaga yang sudah menunggu. Ia duduk di ujung barisan, sama kaku dan canggungnya, sementara Azalea kembali tersenyum puas dan mulai merias wajahnya juga.

Di sudut sana, Daxon masih menempelkan telepon ke telinga, namun sudut bibirnya perlahan terangkat tak terlihat oleh siapa pun.

Begitu selesai menyentuhkan sentuhan terakhir, Azalea bertepuk tangan pelan. Ia menoleh ke arah Daxon dan berseru riang, “Lihatlah! Sekarang semuanya sudah serasi!”

Daxon akhirnya meletakkan ponselnya dan berjalan mendekat, menyembunyikan senyum tipis yang sulit disembunyikan. Aldric dan kelima penjaga hanya bisa menunduk dengan wajah bersemu merah, namun tak ada yang berani bergerak sedikit pun di hadapan Azalea yang tampak sangat puas dengan hasil karyanya.

Melihat mereka diam saja, Azalea menunduk pelan, suaranya melembut dan terdengar sedih. “Kalian… tidak suka?” tanyanya, matanya mulai berkaca‑kaca.

Daxon seketika menatap tajam ke arah Aldirc dan lima penjaga, hatinya Daxon terasa teriris melihat kesedihan Azalea. Aldric dan para penjaga, mereka saling pandang sejenak lalu segera mengukir senyum tulus.

“Tidak, kami sangat menyukainya,” ucap Aldric lebih dulu, diikuti anggukan dan kata setuju dari yang lain. Wajah kaku mereka kini berubah lembut, berusaha meyakinkan Azalea agar kesedihannya hilang.

Daxon menghela napas lega, ikut tersenyum tipis melihat kembali cahaya di mata Azalea perlahan muncul kembali.

Mendengar itu, senyum cerah kembali merekah di bibir Azalea. Ia mengangguk puas, matanya berbinar bahagia. Tanpa sadar, Daxon perlahan melangkah mendekat dan berdiri di sisi gadis itu, tangannya terulur mengusap pelan punggung tangan Azalea seolah turut merasakan kebahagiaannya.

Di ujung sana, Aldric dan para penjaga saling pandang lega. Meski masih terasa canggung dengan gaun dan riasan di wajah mereka, mereka tak berani mengeluh lagi—melihat Azalea tersenyum kembali jauh lebih berharga daripada rasa canggung itu sendiri.

Tanpa diduga, Azalea berjinjit dan mencium bibir Daxon sekilas, lalu berbalik bergegas masuk ke dalam rumah dengan pipi bersemu merah. Daxon terpaku diam di tempat, matanya terbelalak tak percaya, seluruh tubuhnya seolah lumpuh seketika.

Di belakangnya, Aldric dan para penjaga menahan napas, tak berani bersuara sedikit pun melihat tuannya yang masih mematung memegang bibirnya sendiri.

Belum jauh ia melangkah, Azalea berbalik dan berteriak dari ambang pintu dengan pipi merona merah. “Jangan mematung begitu! Kau sudah menciumku seribu kali lebih banyak, jadi ini pembalasannya!”

Setelah berkata begitu, ia kembali berbalik dan menghilang di balik pintu dengan langkah tergesa. Daxon masih terpaku di tempat, jantungnya berdebar tak menentu, sementara di belakangnya Aldric dan para penjaga berusaha mati‑matinya menahan tawa.

Daxon perlahan pulih dari keterpakuannya. Jemarinya menyentuh bibir sendiri, sudut bibirnya perlahan terangkat menjadi senyum yang tak bisa disembunyikan lagi. Ia tak lagi peduli pada pandangan Aldric maupun para penjaga di belakangnya.

"Gadis yang berani, " gumamnya pelan, lalu berjalan santai menyusul Azalea masuk ke dalam kediaman, hatinya terasa jauh lebih ringan dan hangat dari sebelumnya.

...****************...

Sesampainya di dalam, Daxon mendapati Azalea bersembunyi di balik tirai jendela, bahunya masih sedikit terguncang karena malu. Ia mendekat perlahan tanpa bersuara, lalu menarik pelan kain itu hingga wajah merona Azalea terlihat jelas.

Azalea mencoba menunduk, namun Daxon mengangkat dagunya lembut. Tatapannya lembut dan penuh rasa yang tak sempat ia ucapkan, membuat jantung gadis itu kembali berdebar kencang.

“Kau berani sekali,” bisik Daxon pelan, suaranya mendayu namun tak ada nada marah sedikit pun. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, membuat napas Azalea tertahan.

“Tapi aku suka,” tambahnya tepat di depan bibir gadis itu, sebelum akhirnya ia mencium kembali bibir halusnya dengan lembut namun penuh rasa, membuat pipi Azalea makin bersemu merah dan tangannya mencengkeram erat kemeja dada Daxon.

Di saat sentuhan Daxon makin mendesak dan penuh gairah, tiba‑tiba rasa mual kembali menyerang Azalea. Ia segera melepaskan cengkeramannya dan bergegas berlari kecil menuju kamar mandi, menutup pintu rapat‑rapat di belakangnya.

Daxon terhenti seketika, napasnya masih sedikit terengah namun kini diganti rasa khawatir. Ia berdiri terpaku di depan pintu, tangannya terangkat hendak mengetuk namun tertahan, tak ingin mengganggu meski hatinya gelisah menunggu di luar.

Tak lama kemudian pintu terbuka perlahan. Azalea keluar dengan wajah pucat dan keringat halus di pelipisnya. Daxon segera mendekat, merangkul bahunya lembut dan membawanya kembali ke tepi ranjang. Ia mengusap punggung gadis itu perlahan, menenangkan sambil menyodorkan segelas air hangat.

“Maafkan aku,” bisiknya pelan, penuh rasa bersalah karena sempat lupa akan kondisi Azalea yang sedang mengandung.

Azalea meminum air itu perlahan, rasa tak nyaman perlahan mereda. Ia bersandar lemas pada dada bidang Daxon, napasnya mulai teratur kembali. Daxon tetap mengusap punggungnya dengan lembut, sesekali mengecup puncak kepalanya dengan penuh perhatian. Di dalam hatinya, ia berjanji akan lebih berhati‑hati dan menjaga keduanya dengan segenap jiwanya.

Beberapa menit berlalu, rasa lelah perlahan menguasai diri Azalea. Ia terlelap nyenyak di atas kasur, masih tetap berada dalam pelukan hangat Daxon. Posisinya nyaman dan aman, napasnya teratur tenang. Daxon tak bergerak sedikit pun, tangannya tetap melingkar lembut di tubuhnya Azalea, matanya tak lepas menatap wajah damai itu seolah ingin melukis setiap garis di ingatannya.

Daxon mendekatkan bibirnya ke telinga Azalea yang masih terlelap, suaranya rendah dan bergetar penuh keyakinan. “Kau adalah milikku… tidak ada yang boleh memilikimu selain aku. Hanya aku yang berhak menjagamu dan mencintaimu,” bisiknya lembut, lalu mengecup pelipis gadis itu perlahan, mengukuhkan janji dalam hatinya sendiri.

Ketukan pelan di pintu membuat Daxon bergerak hati‑hati, membaringkan Azalea perlahan hingga nyaman di atas bantal dan menyelimutinya. Ia berjalan membuka pintu, dan mendapati Aldric berdiri di sana—kembali mengenakan seragam aslinya, riasan serta gaun merah muda sudah tak ada lagi. Wajah pria itu kembali tenang dan serius seperti sedia kala.

"Ibumu datang, dia ada di ruang tamu bersama Valeria," ucap Aldric.

"Aku ke bawah sekarang. Kau jaga di depan pintu, jika kau mendengar Azalea mual lagi, segera telpon aku," pesan Daxon.

"Iya, aku paham," jawab Aldric seraya menepuk bahu sahabatnya.

Daxon pun berjalan menuju lift, sementara Aldric berdiri teguh di depan pintu kamar untuk menjaga Azalea.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!