NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela besar ruang makan keluarga Husen Abrari sama sekali tidak mampu menghalau atmosfer dingin yang menyelimuti ruangan. Di meja makan, Husen, Jihan, Gavin, Jenita dan Faas sudah duduk menikmati sarapan mewah mereka, tanpa Diana, karena hari ini , tubuh Diana sedang tidak fit jadi ia memutuskan untuk tidak keluar kamar.

Suasana yang semula hanya diisi denting sendok mendadak berubah saat langkah kaki terdengar dari arah pintu depan. Yolanda, saudara kembar Faas, yang mendengar ibunya sedang kurang sehat langsung datang... Ia melangkah masuk bersama suaminya, Kevin . Yolanda tampil anggun dengan pakaian formal khas dokter dengan jilbab yang di masukkan ke dalam jas putih nya, memancarkan aura wanita karier yang ambisius dan cerdas. Sementara Kevin berjalan di sisinya, mengenakan setelan jas rapi sebagai asisten CEO Alvaro farmasi group.

Tujuan utama Yolanda pagi ini sebenarnya murni untuk menjenguk Diana, ibu kandungnya yang lumpuh dan saat ini sedang kurang sehat. Namun, karena jam menunjukkan waktu sarapan, mereka berdua terpaksa singgah ke ruang makan untuk sekadar menyapa Husen.

"Wah, lihat siapa yang datang. Dokter kandungan lulusan terbaik Amerika akhirnya punya waktu luang," sindir Jenita blak-blakan begitu Yolanda dan Kevin mendekati meja. Ia meletakkan garpunya dengan sengaja, memandang kakak beda ibunya itu dengan tatapan menilai yang sinis.

Yolanda menahan langkahnya. Wajahnya yang memiliki kemiripan dengan Faas seketika mengeras, namun ia berusaha tetap tenang. "Pagi, Pa. Pagi, Tante Jihan," sapa Yolanda formal yang tidak Sudi memanggil jihan sebagai ibu mertuanya , karena ia tahu wanita itu licik, ia mengabaikan sindiran Jenita.

"Pagi, Yolanda, Kevin. Duduk dulu, ikut sarapan," jawab Husen, nadanya terdengar datar.

Yolanda dan Kevin akhirnya mengambil tempat duduk yang agak jauh dari Jihan dan anak-anaknya. Baru saja Kevin menuangkan air putih untuk istrinya, Jenita kembali membuka mulutnya yang beracun.

"Kak Yolanda, aku mau tanya dong," ucap Jenita dengan nada yang dibuat-buat penasaran, namun matanya berkilat nakal. "Kakak kan dokter kandungan, tiap hari mengurusi orang hamil dan melahirkan. Tapi kok... Kakak sendiri sudah setahun setengah menikah dengan Kak Kevin belum ada tanda-tanda hamil juga, sih?"

Suasana di meja makan mendadak senyap. Pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan biasa, melainkan peluru yang sengaja ditembakkan untuk menjatuhkan harga diri Yolanda di depan sang ayah.

Jenita melirik Kevin dengan senyum meremehkan. "Apa jangan-jangan karena Kak Kevin cuma asisten, jadi terlalu sibuk mengurusi CEO-nya sampai lupa mengurusi program hamil?"

Yolanda mengepalkan tangannya di bawah meja. Sebagai wanita yang ambisius dan terbiasa menjadi yang terbaik, disindir soal ranah pribadinya di depan keluarga tirinya yang egois membuat emosinya bergolak di dada. Ini adalah alasan utama mengapa sejak pulang dari Amerika dan menikah, Yolanda menolak keras tinggal di rumah utama ini dan lebih memilih tinggal di apartemen sendiri. Rumah ini terlalu beracun untuknya.

Sebelum Yolanda sempat membalas dengan kalimat tajamnya, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menggenggam jemarinya di bawah meja. Kevin. Laki-laki itu menatap istrinya dengan pandangan menenangkan, lalu menoleh ke arah Jenita dengan senyum yang sangat sopan namun sarat akan ketegasan.

"Terima kasih atas perhatiannya, Jenita," jawab Kevin, suaranya terdengar tenang, menjaga harga diri istrinya dengan sangat matang di hadapan mertuanya. "Urusan keturunan itu bukan seperti memesan barang di toko. Saya dan Yolanda sama-sama sehat secara medis. Hanya saja, Allah memang belum memberikan kepercayaan-Nya kepada kami saat ini. Kami percaya, waktu dari-Nya adalah yang paling sempurna."

Mendengar jawaban Kevin yang begitu tertata, Jihan yang duduk di samping Husen langsung mendengus kencang, ikut menimpali pembicaraan dengan bisa yang tidak kalah tajam.

"Halah, Kevin, tidak usah membawa-bawa nama Tuhan untuk menutupi kekurangan," sahut Jihan dengan senyum sinisnya yang khas. "Zaman sekarang banyak kok orang yang di luarnya kelihatan sehat, tapi ternyata di dalamnya... ya, kamu tahu sendirilah. Jangan-jangan mandul. Apalagi Yolanda dari dulu terlalu ambisius mengejar karier dokter, perempuan kalau terlalu stres mengejar dunia, rahimnya bisa kering."

"Jihan!" tegur Husen dengan dahi berkerut, merasa ucapan istrinya mulai keterlaluan di pagi hari. Namun, Husen tidak benar-benar membela Yolanda secara tegas, karena baginya, produktivitas keluarga dan penerus darah juga adalah hal yang penting.

Di ujung meja, Faas duduk diam memperhatikan seluruh perdebatan itu. Matanya yang tajam menatap Jihan dan Jenita secara bergantian. Di dalam hatinya, emosi Faas bertaut erat dengan kembaran kembarnya. Ia tahu betul bagaimana perjuangan Yolanda di Amerika, dan melihat adik serta ibu tirinya menginjak-injak privasi Yolanda membuat dinding di dada Faas semakin pekat.

Namun, Faas tetap memilih diam. Sifat diamnya yang mematikan menahan semua informasi yang ia miliki. Ia tidak perlu membalas makian mereka dengan kata-kata. Baginya, pembalasan terbaik adalah kehancuran yang mutlak di akhir cerita nanti.

Yolanda menarik napas dalam-dalam, mengabaikan sarapannya yang sama sekali belum disentuh. Ia berdiri dari kursinya dengan dagu terangkat, mempertahankan keangkuhan profesionalnya.

"Pa, Yolanda dan Kevin ke kamar Ibu Diana dulu. Permisi," ucap Yolanda dingin, lalu melangkah pergi tanpa sudi menatap Jihan ataupun Jenita lagi. Kevin mengikuti dari belakang setelah mengangguk sopan kepada Husen.

Gavin yang sejak tadi memperhatikan hanya terkekeh pelan sembari menyuap makanannya, menganggap penderitaan kakak nya sebagai hiburan pagi yang menyenangkan. Mereka semua merasa di atas angin, tanpa tahu bahwa di ujung meja, sang singa Sektor 7 sedang menghitung sisa waktu kejayaan mereka.

Faas melirik jam tangannya sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi.

"Nikmatilah kesombongan kalian pagi ini, batin Faas sembari berdiri dari meja makan secara tenang. Sebab beberapa jam lagi, di gedung Apex Core, jalanku untuk meruntuhkan kesombongan keluarga ini akan dimulai lewat sekretaris baruku... Eliza" gumamnya pelan, lalu melangkah keluar tanpa memperdulikan pandangan remeh dari keluarga tirinya.

"huft....tidak kak Yolan,kak Faas, sama-sama aneh, "gerutu Jenita sambil meneruskan makanannya.

"bagaimanapun juga mereka saudara mu jeni, kau tetap harus menghormati mereka, jangan pernah mengatakan seperti itu lagi pada Yolanda" Sahut Husen dengan tatapan tidak suka, .

"Papa selalu saja membela kak Yolan, hanya karena kak Yolan cerdas dan menjadi dokter,Papa selalu memujinya....Aku juga bisa sukses seperti kak Yolan " balas Jenita tidak suka.

"Sudah Jeni, habiskan makananmu...., segera berangkatnya " ucap Jihan lembut, menengahi perdebatan putrinya dan ayahnya... sementara sejak tadi Gavin hanya diam , Sambil memikirkan dirinya yang akan bekerja sama dengan Apex core.pasti namanya akan semakin melejit.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!