NovelToon NovelToon
Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Matabatin / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.

Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.

Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.

Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.

Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—

mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8--Melawan

"Sialan! Benar-benar menantang maut ini bocah!" raung Wanto yang sudah kehilangan kesabaran.

Tubuh kekarnya maju melesat, tangan kanannya yang sebesar batu kali mengayunkan sebuah pukulan mentah berkekuatan penuh yang mengincar rahang Bima. 

Pukulan seperti ini semalam sudah cukup untuk membuat Bima muntah darah dan jatuh pingsan di tanah.

Juga untuk orang normal cepat sekali sulit untuk dihindari.

Wusss!

Namun, bagi Bima yang sekarang, pukulan Wanto terasa lambat seperti siput. Tanpa menggeser kakinya sesenti pun, Bima hanya sedikit memiringkan kepalanya ke kiri. 

Tinju besar Wanto berembus angin kencang, hanya melewati ruang kosong di samping telinga Bima.

"Loh?! Kok meleset?!" Wanto terbelalak syok, tidak percaya pukulannya yang berjarak dekat bisa dihindari dengan begitu mudah.

“Lambat, tahu.”

“Bajingan belagu kau!”

Belum sempat Wanto menarik kembali tangannya, Bima sudah bergerak. Menyalurkan seulas tipis energi murni dari Mustika Hijau ke telapak tangannya, Bima melayangkan satu pukulan lurus tepat ke arah ulu hati Wanto.

Sangat kuat dan cepat.

Bughhh! 

Oekkk!

“Huek!”

Suara hantaman tumpul yang keras bergema di bawah rimbunnya rumpun bambu. Wanto seketika memuntahkan air liur, matanya melotot hampir keluar dari rongganya. 

Pukulan Bima terasa seperti hantaman godam besi yang meremukkan seluruh isi perutnya. 

Tubuh kekar preman itu langsung tertekuk seperti udang rebus, sebelum akhirnya terpental tiga meter ke belakang dan bergulingan di atas tanah berdebu, pingsan tak sadarkan diri dengan napas megap-megap.

"W-Wanto?!" Brian yang menyaksikan pemandangan itu melompat mundur dengan wajah pucat pasi.

Lututnya mendadak lemas mendapati rekannya yang paling kuat roboh hanya dalam satu kali serangan. 

Ketakutan besar menjalar di punggungnya saat melihat Bima kini mengalihkan pandangan dinginnya tepat ke arahnya.

"S-setan... Kamu bukan Bima si ampas!" teriak Brian ketakutan, tangannya yang memegang belati gemetar hebat.

Melihat itu Brian percaya diri.lawan cuma tangan kosong sebahaya apapun dia bawa belati, dengan ini dia bakal bacok Bima biar mati sekalian.

 Didorong oleh rasa panik yang memuncak, Brian nekat menusukkan belatinya secara membabi buta ke arah dada Bima.

 "Mampus kamu, keparat! MATI!”

Sret!

Bima tidak menghindar. Dengan kecepatan gerak refleks yang tidak masuk akal, dua jari tangan kanan Bima bergerak secepat kilat menjepit bilah pisau belati milik Brian tepat sebelum menyentuh kaos oblongnya.

Klek! Pyarrr!

Dengan satu sentilan kecil bertenaga gaib dari jarinya, besi belati yang tajam itu patah menjadi dua bagian dan serpihannya jatuh berhamburan di atas tanah.

"B-belatiku... patah?!" Brian lemas seketika, keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh tubuhnya. 

Belum sempat dia berbalik untuk melarikan diri, sebuah cengkeraman sekuat jepitan besi mendarat di kerah bajunya.

Bima mengangkat tubuh kekar Brian hanya dengan satu tangan, membuat kaki preman itu menggantung di udara. Aura membunuh yang pekat menguar dari tubuh Bima, membuat Brian merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.

"Bawa si kasur rusak itu pergi dari hadapanku. Dan sampaikan pada bosmu, Rian... utang lima ratus ribu Bima sudah lunas plus bunganya. Kalau dia atau kalian berani pakai hitungan bunga peras sepuluh persen itu lagi untuk mengganggu keluargaku atau Mbak Rasti, yang patah berikutnya bukan cuma belati butut ini, tapi leher kalian!" ancam Bima kejam.

"B-baik, Mas! Ampun!" Brian merangkak ketakutan, buru-buru memanggul tubuh Wanto yang masih pingsan dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu tanpa berani menoleh ke belakang lagi.

Bima merapikan kembali pakaiannya dan memasukkan uang jutaan rupiah beserta uang tambahan dari kedua preman itu ke dalam sakunya. Senyum kepuasan kembali mengembang di wajahnya. Hari ini dia tidak hanya mendapat uang banyak dan mengobati kembang desa, tetapi juga berhasil membalaskan dendamnya yang semalam sekaligus membersihkan nama baiknya dari jeratan utang Rian.

Dengan langkah tegap dan memanggul ember bambunya, Bima melanjutkan perjalanannya pulang ke gubuk reotnya, tidak sabar untuk memperlihatkan keberhasilannya dan membahagiakan Mbak Rasti.

*

Sesampainya di gubuk tua itu.Bima terkejut. Sekarang bukan rasti yang tergeletak di sana yang menyapanya. Tapi bayangan wanita cantik bak bidadari dari kayangan.

Dia pakai apron, tepat sekali sedang mengikat rambutnya. Sepertinya dia sedang mau masak. Dan lekukan tubuh itu membuat Bima terpesona.

Dia seperti baru saja disambut oleh istri.

“Wah, Bima udah balik. Gimana tangkapan ikannya.”

“Laris manis, mbak … .”

“Bagus lah.”

Bima segera merogoh saku celana peniti tuanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu yang masih baru dan rapi. Dia menyodorkannya ke hadapan Rasti dengan senyuman hangat yang mengembang di wajah tampannya.

"Ini, Mbak. Ada rezeki sedikit buat belanja kebutuhan kita beberapa minggu ke depan," ucap Bima lembut.

Rasti terbelalak menatap lembaran uang merah di tangan Bima. Dia menghentikan aktivitas mengikat rambutnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya jatuh membingkai wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar dan merona pasca-pijatan semalam.

"Loh, Bim... ini banyak banget! Kamu dapat uang dari mana sebanyak ini?!" tanya Rasti panik sekaligus cemas. Pikiran buruknya langsung melayang, takut kalau adik iparnya yang baru sembuh itu nekat melakukan tindakan kriminal atau meminjam lagi pada lintah darat seperti Rian. 

"Kamu gak melakukan yang aneh-aneh di luar sana, kan?"

Bima terkekeh rendah, suara bassnya yang merdu terdengar begitu menenangkan di telinga Rasti. 

"Tenang saja, Mbak. Ini uang halal. Tadi dapat banyak ikan. Ikan-ikan Kancra dan Pelus raksasa yang kutangkap di Lubuk Hitam tadi diborong habis sama Neng Wulan, anak juragan penggilingan padi. Dia bayar tunai tanpa nawar."

Mendengar nama Wulan, ada desiran aneh yang mendadak melintas di hati Rasti. Sedikit rasa tidak rela yang tidak disadarinya mendadak muncul. "Neng Wulan kembang desa itu? Dia... borong semua ikanmu?"

"Iya, Mbak. Malah tadi dia sempat pusing-pusing karena kelelahan, jadi sekalian saja aku bantu pijat saraf perutnya. Dia merasa cocok, lalu memberiku bonus tambahan tiga ratus ribu ini," tambah Bima jujur, sengaja menyembunyikan detail sensitif tentang bagaimana dia menyingkap kebaya dan menyentuh kulit perut mulus perawan desa tersebut.

Rasti menarik napas lega, namun matanya tetap menatap lekat ke arah dada bidang Bima. Di bawah balutan apron tipis yang dikenakannya, dada Rasti yang matang dan sintal tampak naik turun seiring dengan helaan napasnya.

 Apron itu terikat erat di pinggangnya, mempertegas lekuk pinggulnya yang padat berisi—sebuah pemandangan ranum khas janda muda yang benar-benar menguji iman.

"Syukurlah kalau begitu, Bim. Mbak sempat takut kamu kenapa-napa," ucap Rasti melangkah mendekat. Dia menerima uang tersebut, dan secara tidak sengaja, jemari lentiknya bersentuhan dengan telapak tangan Bima yang besar dan hangat.

“Nanti dengan uang ini mbak bakal belanja!”

“Ditunggu mbak masakannya. Masakan mbak paling enak soalnya.”

“Bisa aja, Bim.”

Sret...

Sentuhan kulit itu seketika memicu sisa-sisa energi murni Mustika Hijau di dalam tubuh Bima. Aliran hangat yang sangat nikmat menjalar masuk ke tubuh Rasti, membuat janda muda itu spontan bergidik pelan. Wajah cantiknya seketika merona merah padam, teringat kembali akan kehangatan jemari Bima yang meremas punggungnya semalam.

1
Gege
klasik dan epic penjelasannya...
Gege
naaah..makin oyeeh nih..yuk bisa yuk banyakin hareem yang pijat plus plus ke MC... duit dapat..enaknya juga dapet..🤭🤣
.
kirain TAMAT Thor dah lama ga update
Manusia Biasa: Nunggu lulus kontrak dulu kemarin. kena masalah terus saking vulgarnya🤣
total 1 replies
septian arista
Nah itu dukun bodoh apa gimana Masa takut sama si Ujang yang nggak bisa apa-apa kenapa nggak disantet aja itu si Ujang🤔🤔🤔
septian arista
cerita cultivator versi dalam negeri🤭🤭🤭
Manusia Biasa: kultivasi lokal
total 1 replies
septian arista
ini ceritanya mirip sama para kultivator yang menemukan warisan tersembunyi
Hentri Gunawan
kpn di up LG Thor ..
Manusia Biasa: selasa mungkin kak, lagi sibuk ujian
total 1 replies
Leynn
Author, kok bisa update sampai 5+ chapter sehari? sanggup kah? atau emang udah punya draft yang banyak? sekali update berapa kata? (mohon jawab karena saya juga author pemula ingin tahu motivasi nya kenapa bisa banyak banget chapter dalam sehari)
Leynn: hell naw😹
total 9 replies
Domek Uuk
mantap
Domek Uuk
lanjut thor,,
Gege
dan othor di pun mencoba men skip adegan kitab kamasutra yang tabu untuk di detailkan dalam platform NT..🤣
Manusia Biasa: gak boleh sama pihak NT
total 1 replies
Kisin Gindam
mantap
Domek Uuk
ceritanya kurang menantang thor
Domek Uuk
lanjut thor
Domek Uuk
zip,lanjutkan thor
Domek Uuk
mantap bos,wiek wik mana?
Ajidewa nagaraja
ribet ya mau tiap lanjut episode
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Waduh mengerikan sekali..😨😰😱
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Menurutku lebih SAH kalau hubungan tersebut diresmikan melalui pernikahan.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊
Achnad Asbert: 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Gege
ditunggu plot ratu LC datang berobat mengalami masalah saluran kencingnya...pasti tangan bima mengobok oboknyaah...😄🤭🤣
Manusia Biasa: udah bos, cabulnya sampai sini dulu. kena pringatan dari PF ini, gagal kotnrak😂😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!