NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JEJAK KELABU DI UTARA LEMBAH

Hembusan angin pagi di atas bukit batu Lembah Shrouded mendadak terasa begitu menyengat kulit. Suasana damai yang baru saja dirasakan setelah runtuhnya tirani Gorgan seolah menguap dalam hitungan detik. Dion berdiri bergeming, tangan kanannya mencengkeram dadanya sendiri yang berdenyut kencang. Di bawah telapak tangannya, aliran darahnya terasa panas bergejolak, memicu sisa-sisa esensi sihir kabut perak miliknya untuk keluar secara paksa dari pori-pori kulitnya.

Mayang yang berdiri di sampingnya tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sepasang mata indahnya menatap nanar pada partikel-partikel kabut keperakan yang berputar liar mengelilingi tubuh tegap Dion, sebelum akhirnya perlahan-lahan berubah warna menjadi keunguan—warna yang identik dengan kekuatan naga legendaris yang bangkit saat pertarungan akhir melawan Gorgan semalam.

"Dion, tahan sihirmu! Jangan biarkan dia meledak di sini, bisa-bisa para penduduk di bawah mengira ada serangan susulan!" seru Mayang setengah berbisik, mencoba meraih lengan Dion namun urung karena hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu.

Dion memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergemeletuk menahan gejolak energi purba di dalam tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengandalkan kekuatan mentalnya sebagai seorang pemburu tingkat atas untuk menekan kembali energi tersebut ke dalam pusat dantiannya. Setelah beberapa saat yang menegangkan, kabut keunguan itu perlahan menyusut, menyerap kembali ke dalam kulitnya, menyisakan napas Dion yang memburu lambat.

Dion membuka matanya, sepasang mata elangnya kini berkilat tajam memandang ke arah utara, tepat di mana jajaran pohon mati tegak berdiri di batas cakrawala Lembah Shrouded. "Itu bukan sisa sihir Gorgan, Mayang. Gorgan sudah mati, abunya sudah ditiup angin lembah. Ini adalah sesuatu yang lain... Sesuatu yang memiliki kunci untuk memicu esensi sihirku dari jarak jauh."

Mayang meremas gagang keranjang buah di tangannya, wajah cantiknya sedikit memucat. "Apakah ada penyihir hitam lain yang bersembunyi selama ini? Sisa-sisa pengikut Gorgan?"

"Mungkin lebih buruk dari itu," jawab Dion pendek, suara baritonnya terdengar begitu dingin dan mengintimidasi. Pria itu membalikkan tubuhnya, menatap Mayang dengan pandangan yang dalam namun protektif. "Aku harus memeriksanya sendiri ke perbatasan utara sebelum makhluk itu melangkah lebih dekat ke desa. Kamu, tetaplah di sini dan jaga Rhea."

"Tidak!" potong Mayang dengan cepat, matanya menatap Dion dengan binar penolakan yang keras. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke tempat terkutuk itu dalam kondisi fisik yang belum pulih total dari pertempuran semalam. Aku ini tabib klan, Dion. Jika sihirmu bergejolak lagi di tengah jalan, siapa yang akan membantumu menenangkannya?"

Dion menatap Mayang cukup lama. Sifat dominan dan keras kepalanya sebagai pemburu klan sempat bergejolak, ingin menolak demi keselamatan wanita itu. Namun, melihat sorot mata Mayang yang begitu intens dan penuh ketulusan, pertahanan Dion perlahan melunak. Ia menghela napas pasrah. "Baiklah. Tapi kamu harus berada di belakangku selama penyelidikan. Jangan pernah melangkah mendahuluiku, sekecil apa pun celah yang kamu lihat."

Mayang mengangguk patuh dengan senyum tipis yang mulai terbit di bibirnya. "Aku berjanji."

Alur cerita berjalan santai, tahap demi tahap menikmati perjalanan sepasang kekasih itu menembus batas wilayah. Setelah memastikan Rhea berada di bawah pengawasan ketat para tetua klan di tenda utama, Dion dan Mayang mulai melangkah meninggalkan area pemukiman yang masih ramai oleh sisa-sisa perayaan.

Mereka berjalan menembus kabut pagi yang mulai menebal secara tidak wajar seiring langkah kaki mereka yang semakin mendekati wilayah utara. Hutan mati di perbatasan Lembah Shrouded menyajikan pemandangan yang suram. Pohon-pohon raksasa tanpa daun berdiri kaku seperti pilar-pilar batu hitam, dengan tanah berlumut tebal yang mengeluarkan aroma pembusukan yang samar.

Dion berjalan di depan dengan langkah yang sangat waspada, tangan kanannya selalu berada di dekat gagang belati perak yang melingkar di pinggangnya. Setiap beberapa langkah, ia akan berhenti sesaat, memejamkan mata untuk merasakan getaran aneh yang tadi memanggil sihirnya.

"Denyutannya semakin kuat di area ini," bisik Dion tanpa menoleh ke belakang.

Mayang yang berjalan dua langkah di belakangnya mengamati sekeliling dengan cermat. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang asing di atas tanah berlumut di dekat akar pohon hitam besar. "Dion, lihat ini."

Dion berbalik dan ikut berjongkok di samping Mayang. Di atas permukaan tanah, terdapat jejak kaki berukuran manusia dewasa. Namun, yang membuat jejak itu aneh adalah adanya sisa-sisa lendir berwarna kelabu tua yang mengering, mengeluarkan uap tipis bermandikan hawa dingin yang menusuk tulang.

Dion menyentuh pinggiran jejak kaki itu dengan ujung jari telunjuknya. Detik itu juga, partikel kabut perak di ujung jarinya langsung bereaksi, mendesis kecil seperti air yang menetes di atas wajan panas.

"Ini adalah sihir pengikat jiwa," gumam Dion, matanya menyipit tajam. "Hanya penyihir dari sekte terlarang dari luar lembah yang bisa menggunakan teknik menjijikkan seperti ini. Mereka menggunakan sisa kematian makhluk hidup untuk melacak energi sihir yang besar."

"Maksudmu... target mereka sejak awal adalah kekuatan naga ungunya?" tanya Mayang dengan dada yang mulai berdegup kencang karena cemas.

"Ya. Tirani Gorgan mungkin telah runtuh, tapi kekuatan yang kuperlihatkan semalam telah memancing hiu-hiu kelaparan dari luar dunia ini untuk datang," ucap Dafa tegas seraya berdiri kembali. Ia menatap lurus ke arah sebuah gua batu kuno yang terletak sekitar seratus meter di depan mereka, tersembunyi di balik jeruji akar pohon mati yang lebat. Dari dalam kegelapan gua itu, denyutan energi yang memanggil sihir Dion terasa begitu pekat dan menuntut.

Dengan gerakan yang sangat senyap, Dion membimbing Mayang mendekati mulut gua tersebut. Atmosfer di sekitar tempat itu terasa begitu pengap dan dingin, seolah-olah seluruh kehidupan telah dihisap paksa oleh sesuatu yang ada di dalam sana.

Dion merentangkan tangan kirinya ke samping, memberikan isyarat agar Mayang tetap berlindung di balik batu besar dekat pintu masuk, sementara dirinya melangkah perlahan memasuki kegelapan gua. Langkah kakinya sama sekali tidak mengeluarkan suara di atas lantai batu yang basah.

Begitu berhasil melewati lorong gua yang sempit, pandangan mata elang Dion disuguhi oleh sebuah ruangan batu yang cukup luas. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sisa-sisa altar pemujaan Gorgan yang kini telah hancur berantakan. Namun, di depan altar tersebut, tampak sesosok tubuh yang mengenakan jubah compang-camping berwarna kelabu tua sedang berdiri membelakanginya.

Di tangan sosok misterius itu, sebuah batu kristal berukuran kepalan tangan memancarkan pendar cahaya ungu pekat yang bergejolak hebat—warna yang sangat identik dengan esensi kekuatan naga milik Dion.

"Kunjungan yang sangat tepat waktu, Dion sang Pemburu," sebuah suara parau, bergetar, dan sarat akan nada kelicikan tiba-tiba menggema di dalam gua, memecah kesunyian malam tanpa sosok itu perlu membalikkan tubuhnya terlebih dahulu.

Dion menghentikan langkahnya, tangannya langsung menghunus belati perak miliknya yang berkilau tajam di dalam kegelapan. Aura dinginnya membumbung tinggi. "Siapa kamu? Dan apa urusanmu menyusup ke wilayah Klan Kabut setelah kematian Gorgan?"

Sosok berjubah kelabu itu terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar menyeramkan seperti gesekan dua batu kering. Ia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Dion dari balik tudung jubahnya yang gelap gulita. Ketika sosok itu mengangkat kristal ungunya tinggi-tinggi, pendar cahayanya menerangi sedikit bagian wajahnya yang tampak dipenuhi oleh tato segel sihir kuno yang bergerak-gerak seperti cacing di bawah kulit.

"Gorgan hanyalah seekor kecoak bodoh yang tidak tahu cara memanfaatkan permata berharga seperti dirimu," ucap sosok itu, matanya yang berwarna kuning pekat menatap Dion dengan pandangan yang penuh rasa haus akan kekuasaan. "Dia mengikatmu dengan ancaman pada adikmu, cara yang sangat primitif. Sementara aku... aku menginginkan seluruh jiwamu, Dion."

Detik itu juga, sosok berjubah kelabu itu menghentakkan kaki kanannya ke atas lantai batu gua. Kristal ungu di tangannya memancarkan gelombang energi kejut yang sangat besar, menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

BOOM!

Dion refleks menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menahan gelombang kejut tersebut. Namun, bukan rasa sakit fisik yang ia rasakan, melainkan sebuah tarikan magis yang luar biasa kuat yang langsung menghantam pusat kesadarannya. Sisa sihir naga ungu di dalam tubuh Dion seketika bergejolak hebat tanpa bisa dikendalikan, membuat sang pemburu terpaksa berlutut di atas satu lututnya dengan erangan tertahan.

"Dion!"

Melihat pria yang dicintainya kesakitan, Mayang tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap bersembunyi. Wanita itu nekat berlari masuk ke dalam gua, mengabaikan peringatan Dion sebelumnya. Di tangannya, Mayang sudah menyiapkan beberapa jarum perak tabib yang dilapisi tanaman penawar sihir.

Namun, sosok berjubah kelabu itu hanya melirik Mayang sekilas dengan senyuman meremehkan. "Tamu tambahan yang tidak diundang." Dengan satu lambaian tangan kirinya, sisa asap hitam tipis dari altar Gorgan melesat cepat, membentuk untaian rantai sihir gelap yang langsung melilit kedua pergelangan tangan dan tubuh Mayang, mengangkat tubuh wanita itu hingga tergantung di udara.

"Lepaskan... lepaskan aku, bajingan!" jerit Mayang, mencoba meronta namun rantai asap itu justru semakin mempererat lilitannya, menyerap tenaga fisiknya dengan cepat.

"Jangan sentuh dia!" raung Dion, sepasang matanya mendadak berubah menjadi ungu menyala sepenuhnya. Amarahnya meledak, memicu tato naga di punggungnya untuk memancarkan cahaya terang. Dion mencoba berdiri untuk menebas rantai yang melilit Mayang.

Namun, sosok berjubah kelabu itu justru tertawa semakin keras, mengarahkan kristal ungunya tepat ke arah dada Dion. "Jangan bergerak, Pemburu! Satu langkah saja kamu maju untuk menyelamatkannya... maka kristal ini akan meledakkan jantung wanitamu dari dalam. Sekarang, jatuhkan belatimu, atau kamu bisa melihatnya mati di depan matamu sendiri untuk kedua kalinya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!