Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Tamu Tak Diundang
Tiara datang tiga hari kemudian bersama Bimo dan Ratna.
Mobil hitam mereka berhenti di depan pagar menjelang siang, ketika aku sedang membantu Raka membungkus buku sekolah. Jagoan bangkit dari bawah pohon mangga dan menggeram. Beberapa tetangga yang sedang lewat ikut memperlambat langkah.
Ratna turun lebih dulu dengan kacamata hitam besar. Bimo membawa wajah seorang kepala keluarga yang datang untuk membereskan masalah, sedangkan Tiara menatap rumah dua lantai di belakangku seolah baru menyadari ukurannya.
“Kalian tidak memberi kabar,” kataku setelah membuka pagar sebagian.
“Apa seorang ibu harus membuat janji untuk menemui anak yang dibesarkannya?” Ratna menjawab.
“Kalau datang dari Jakarta dan membawa tiga koper, biasanya orang memberi kabar.”
Matanya bergerak ke arah koper di bagasi. “Kami akan tinggal sampai akad. Demi nama baik keluarga.”
Aku hampir tertawa. Setelah mengantarku ke desa tanpa melihat kamar tempatku tidur, kini mereka ingin tinggal untuk menjaga nama baik.
Arya keluar dari ruang kerja di lantai bawah. Dia tidak bertanya siapa yang datang. Tatapannya menyapu mereka sekali, lalu berhenti pada Bimo.
“Masuk,” katanya.
Kami duduk di ruang tamu. Raka dan Bayu tetap berada di tangga bersama Sasa. Aku meminta mereka masuk kamar, tetapi Raka menggeleng pelan. Jagoan berbaring di teras dengan telinga tegak. Di luar pagar, Bu Sumi dan dua tetangga pura-pura membicarakan harga cabai.
Bimo melihat ke arah lantai dua. “Siapkan tiga kamar. Sopir bisa tidur di tempat pegawai.”
“Tidak ada kamar tamu yang siap untuk menginap,” jawabku.
“Rumah sebesar ini tidak punya kamar?”
“Punya. Tapi orang yang tinggal di rumah orang lain seharusnya bertanya, bukan memerintah.”
Ratna mengerutkan kening. “Kamu sekarang berani sekali bicara kepada Papa.”
Arya duduk di kursi tunggal dekat jendela. “Hotel di kecamatan masih menerima tamu. Stafku bisa memesankan.”
Bimo memandangnya tidak senang. “Kami keluarga Laras.”
“Karena itu kalian diterima masuk,” kata Arya. “Bukan berarti kalian boleh mengatur rumahku.”
Raka menatap Arya, lalu perlahan bersandar di pagar tangga. Ketegangan di bahunya berkurang. Satu kalimat itu memastikan tak ada orang yang akan tiba-tiba merebut kamar atau menyeret kami keluar hanya karena mengaku keluarga.
Ratna menerima teh tanpa menyentuhnya. “Kami mendengar kalian mengubah semua persiapan.”
“Nama calon pengantinnya berubah,” jawabku. “Tentu dokumennya harus diubah.”
“Tidak perlu dibuat berlebihan. Orang-orang jadi membandingkan dengan Tiara.”
Tiara menyilangkan kaki. “Mereka bilang kamu mendapat emas tiga set dan uang berkali-kali lipat. Kamu sengaja ingin membuatku terlihat seperti tidak dihargai.”
“Aku tidak menentukan jumlahnya.”
“Tapi kamu menerimanya.”
“Haruskah aku menolak hanya supaya perasaanmu nyaman?”
Tiara mendengus. “Dasar tidak tahu diri. Kamu hidup dua puluh tahun dengan uang keluargaku. Begitu disuruh menggantikan satu pernikahan, kamu malah mengambil kesempatan untuk menguasai rumah dan harta lelaki desa.”
Bayu bergerak hendak turun, tetapi Raka memegang lengannya.
Aku meletakkan cangkir perlahan. “Mari kita luruskan. Keluarga Bimo membesarkanku karena rumah sakit menukar dua bayi, bukan karena aku mengetuk pintu kalian dan meminta diadopsi. Ketika Tiara kembali, kalian menerima uang lamaran dari pihak Arya. Lalu kalian memaksaku berangkat menggantikan calon pengantin tanpa mengembalikan uang itu dan tanpa memberitahu jumlah sebenarnya kepada orang tua kandungku.”
Wajah Ratna berubah. “Jaga ucapanmu.”
“Yang mana yang salah?”
Bimo akhirnya bicara. “Masalah keluarga tidak perlu dibuka di depan orang luar.”
Aku melirik tangga. “Orang luar yang mana? Lelaki yang akan menikahiku, atau anak-anak yang baru saja disebut hartanya hendak kukuasai?”
Arya tetap diam. Justru diamnya membuat suara napas orang-orang terdengar jelas.
Ratna merendahkan suaranya. “Kami datang untuk membantumu. Setelah akad, hubungan kita tetap akan dilihat orang. Tiara juga perlu dihormati sebagai putri keluarga. Sebaiknya beberapa kotak seserahan dibawa ke Jakarta agar tidak menjadi bahan pamer di desa.”
Jadi inilah tujuan mereka.
“Kotak mana?” tanyaku.
“Perhiasan bisa disimpan di rumah kami. Lebih aman.”
“Rumah yang membuat uang seserahan kehilangan lebih dari separuh sebelum sampai ke Tegalsari?”
Ratna berdiri begitu cepat hingga tehnya tumpah. “Kamu menuduh kami mencuri?”
“Aku menanyakan catatannya.”
“Semua uang itu dipakai untuk kebutuhan lamaran.”
“Lamaran yang tidak pernah kulihat pestanya, sementara orang tua kandungku hanya menerima sebagian kecil?”
Bimo memukul sandaran kursi. “Cukup! Kamu masih memakai nama yang kami berikan. Jangan mempermalukan orang tua yang membesarkanmu.”
Aku menatap wajah yang dulu membuatku diam hanya dengan satu kerutan. Anehnya, kali ini aku tidak merasa kecil.
“Aku tidak sedang mempermalukan siapa pun, Papa Bimo. Aku hanya menyebut apa yang terjadi. Kalian menerima lamaran untuk Tiara, Tiara menolak, lalu kalian mengirimku agar uang dan nama baik tetap aman. Sekarang ketika Arya memperlakukanku dengan layak, kalian datang menuntut bagian.”
Tiara bangkit. “Bagian? Semua yang kamu punya berasal dari kami!”
“Baju yang kubawa mungkin. Pendidikan yang kuterima juga akan selalu kuakui. Tapi pernikahan ini bukan milikmu.”
“Kalau bukan karena aku menolak, lelaki itu tidak akan melirikmu.”
“Benar,” kataku. “Dan kalau bukan karena kalian menganggapnya miskin serta tidak pantas, kalian juga tidak akan melemparkanku ke sini.”
Suara bisik di luar pagar makin ramai. Ratna menoleh dengan wajah panik, sadar percakapan kami bisa menyebar ke seluruh desa sebelum sore.
Dia mencoba mengubah nada. “Laras, Mama hanya takut kamu dimanfaatkan. Kamu belum tahu kehidupan rumah tangga. Menjadi ibu tiri tiga anak tidak mudah. Kalau ada sebagian harta dititipkan kepada keluarga, setidaknya kamu punya perlindungan.”
Raka berdiri di anak tangga paling bawah. “Mbak Laras melindungi kami. Bukan mengambil punya kami.”
Tiara menatapnya dari atas ke bawah. “Anak liar tidak perlu ikut bicara.”
Jagoan langsung bangkit di teras dan menggeram keras.
Arya yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.
“Minta maaf kepada Raka,” katanya.
Tiara tertawa pendek. “Aku tidak akan meminta maaf kepada anak yang bahkan bukan anak kandungmu. Kalian cocok sekali. Seorang janda tua gagal menikah dengan perempuan palsu yang sibuk bermain jadi ibu.”
“Aku bukan janda,” ujar Arya datar.
“Semua orang mengira begitu karena kamu membawa tiga anak. Apa bedanya? Dan dia tetap anak palsu. Seorang pengganti yang kebetulan dapat rumah besar.”
Arya berdiri. Dia tidak meninggikan suara atau melangkah mendekat. Namun Tiara berhenti tersenyum.
“Perbedaannya,” kata Arya, “Laras datang tanpa membawa apa pun dan sejak hari pertama memberi anak-anak rumah. Kamu datang setelah keluargamu menerima uangku, lalu masih ingin membawa pulang emas miliknya.”
Bimo menegang. Ratna memucat.
Arya menatap Tiara lurus-lurus. “Kalau kamu ingin bicara soal barang palsu, bawa dulu bukti ke mana sisa uang seserahan itu pergi.”
Wajah Tiara seketika putih.