Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 06 WANITA ASING
Bau tanah basah dan sisa pembakaran kayu mengiringi langkah Mu Jin keluar dari reruntuhan kuil tua. Tangan kanannya masih terbalut kain kasa kusam, terasa kaku dan ngilu setiap kali jarinya digerakkan. Namun, pedang besi hitam yang kini terikat lebih rendah di pinggangnya tidak lagi terasa asing. Dia telah menghabiskan malam untuk memahami titik beratnya. Kasar, berat, dan tidak seimbang, persis seperti hidupnya.
Mu Jin menyusuri alur sungai mengering di pinggiran Hutan Taring Hitam. Cahaya matahari pagi tertutup awan mendung yang tebal, menciptakan ketenangan yang semu.
SRING!
Sebuah angin dingin mendadak berembus dari balik semak-semak, disusul oleh kilatan cahaya tajam yang mengarah lurus ke tenggorokan Mu Jin.
Mu Jin merendahkan badannya secara refleks. Gerakan itu bukan teknik bertahan seorang pendekar, melainkan kebiasaan bertahun-tahun menghindar dari batang kayu tua yang tumbang. Bilah pedang tipis melintas hanya beberapa senti di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambut kotor Mu Jin.
“Anjing bertopeng besi!” sebuah suara wanita bergema penuh kebencian.
Mu Jin berguling di atas tanah lumpur, meraih gagang besi hitamnya dengan tangan kiri, lalu memutar tubuhnya untuk berdiri. Di hadapannya, berdiri seorang pendekar wanita bergaun biru tua yang robek di bagian lengan. Wajahnya kemerahan dipenuhi amarah, matanya menatap Mu Jin dengan kebencian yang mendalam. Di tangannya, sebilah pedang berlengan ganda bergetar memancarkan tenaga dalam tipis.
“Kau membakar sekteku malam tadi!” teriak wanita itu lagi. Napasnya memburu, ada noda darah segar yang mengering di pundaknya. “Topeng tembaga... baju kusam... pedang tebal tanpa ukiran! Kalian pembantai dari Puncak Awan Putih!”
“Kau salah orang,” kata Mu Jin serak. Suaranya datar, tanpa emosi.
“Bual pembunuh!”
Pendekar wanita itu menerjang maju. Gerakan kakinya cepat dan beritme, memutar pedangnya hingga membentuk lingkaran cahaya tipis yang mengincar titik-titik vital di dada Mu Jin. Jurus Sekte Burung Hong, anggun namun mematikan.
Mu Jin tidak membalas dengan jurus. Dia tidak tahu caranya.
Saat ulu hatinya terancam, Mu Jin menghentakkan kaki kirinya ke tanah, membiarkan dadanya terbuka sedikit untuk memancing tebasan lawan. Ketika ujung pedang wanita itu menusuk bahunya hingga menembus kain, Mu Jin bahkan tidak mengedipkan mata. Rasa sakit itu justru menjadi penanda baginya untuk bertindak.
Mu Jin mengayunkan pedang besi hitamnya dari bawah ke atas.
Ia tidak mencoba menangkis bilah pedang wanita itu, melainkan mengincar lengannya secara langsung. Swing itu kaku, tanpa menyalurkan tenaga dalam, hanya murni mengandalkan berat besi tebal dan kekuatan otot pundak seorang tukang kayu.
WUSH!
Kecepatan dan beban ayunan kaku itu begitu masif hingga menciptakan angin tebasan yang keras. Pendekar wanita itu terbelalak. Dia tidak menyangka seorang yang tidak memiliki tenaga dalam bisa mengayunkan besi seberat itu dengan kecepatan liar.
Wanita itu terpaksa menarik pedangnya kembali untuk menahan tebasan Mu Jin.
Brak!
Benturan dua senjata itu menghantam telinga. Pedang tipis milik wanita itu bergetar hebat. Benturan kasar dari tebasan Mu Jin membuatnya terdorong mundur tiga langkah, pergelangan tangannya terasa kebas seketika.
Mu Jin tidak memberi jeda. Langkah kakinya berat, membumi, memburu wanita itu seperti banteng gila. Dia mengayunkan pedangnya lagi. Lurus, mendatar, lalu memukul turun dari atas. Tidak ada keindahan, tidak ada variasi, hanya tubrukan beban besi yang terus-menerus.
Pendekar wanita itu terpojok ke dinding tebing batu. Dia panik. Gerakan kasar dan tak beraturan milik Mu Jin justru membuat jurus-jurus anggunnya tak berguna. Setiap kali dia mencoba menangkis, lengannya makin melemah menahan beban benturan yang tidak rasional itu. Mu Jin terus menekan, matanya yang kosong menatap lurus, mengabaikan darah yang mulai mengucur dari luka di bahunya.
Satu tebasan mendatar lagi dari Mu Jin hampir saja meremukkan rusuk wanita itu jika dia tidak melompat miring secara paksa.
Namun, celah antara tukang kayu dan pendekar terlatih tidak bisa dihapus hanya dengan kenekatan.
Setelah berhasil menciptakan jarak dua meter, wanita itu menarik napas dalam-dalam. Matanya berkilat dingin saat dia menyadari lawannya sama sekali tidak memiliki pelindung qi.
“Jurus Burung Hong: Tebasan Angin Pemotong Es!”
Wanita itu melompat ke udara, memutar tubuhnya melintasi batas pandang Mu Jin. Dalam hitungan detik, tiga bayangan pedang tercipta di udara.
Mu Jin mencoba mengangkat pedangnya untuk menahan, namun gerakan wanita itu terlalu cepat untuk mata telanjangnya. Sebelum besi hitamnya sempat terangkat separuh jalan, sebuah tendangan bertenaga dalam menghantam dadanya dengan keras.
DUK!
Mu Jin terlempar memutar, menghantam dinding tebing batu sebelum ambruk telungkup ke tanah. Pedang besi hitamnya terlepas, jatuh beberapa meter di depannya.
Darah kental menyembur dari mulut Mu Jin. Pandangannya buram dan berbayang. Seluruh organ dalamnya terasa diguncang keras. Dia mencoba merangkak menggunakan siku kirinya, namun kaki wanita itu sudah menginjak punggungnya, menekan tubuh Mu Jin semakin dalam ke lumpur.
Ujung pedang dingin milik pendekar wanita itu menempel tepat di belakang leher Mu Jin.
“Siapa kau sebenarnya?” bisik wanita itu dengan suara bergetar menahan lelah dan amarah. “Kau tidak punya tenaga dalam... tapi gaya bertarungmu... kau seperti orang mati yang memaksa bernapas.”
Mu Jin menempelkan pipinya di tanah yang basah. Dia tidak memohon ampun, tidak juga menjelaskan desanya yang dibantai. Matanya hanya menatap pedang hitamnya yang tergeletak tak terjangkau.
“Tukang... kayu,” bisik Mu Jin serak dari sela-sela giginya yang berdarah.