Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 - Krisis Farmasi
Kodeks Mahendra memiliki kriteria urgensinya sendiri. Sistem klasifikasi yang dibuat kakek Arga puluhan tahun lalu menggunakan tiga warna: hijau untuk informasi konteks, kuning untuk peluang strategis, merah untuk risiko mendesak. Dalam enam bulan terakhir, Arga melihat banyak kuning dan sedikit merah.
Berkas yang muncul di layar pada Selasa itu berwarna merah.
Farma Dewantara.
Anak perusahaan Grup Dewantara, terdaftar dengan merek dagang NutraVida. Mereka memproduksi suplemen makanan yang dijual di apotek-apotek seluruh Jawa bagian barat. Vitamin, mineral, senyawa herbal. Kemasan bagus, harga terjangkau, pemasaran agresif. Pemimpin pasar di tiga kategori.
Kodeks memuat hasil analisis internal, dibocorkan oleh karyawan Farma Dewantara sendiri pada 2024, yang menunjukkan bahwa enam puluh persen batch yang diuji memiliki dosis keliru. Sebagian mengandung konsentrasi dua kali lipat dari yang tertera di label. Sebagian lain mengandung bahan yang tidak dicantumkan.
Satu batch suplemen zat besi mengandung kadar timbal di atas batas yang diizinkan BPOM.
Risiko kesehatan publik. Puluhan ribu konsumen terdampak. Dan tidak ada yang melakukan apa pun.
Arga menutup laptop. Mengusap mata. Membukanya lagi.
Rafael tiba pukul sembilan.
"Lihat ini." Arga memutar layar.
Rafael membaca dalam diam. Ekspresinya berubah dua kali, pertama terkejut, lalu muak.
"Ini nyata?"
"Kodeks mencatat sumbernya sebagai 'karyawan tingkat menengah, bagian kontrol kualitas, dipecat pada Maret 2024'. Analisis internal itu ditekan. Tidak pernah sampai ke BPOM."
"Kalau datanya benar, ini kejahatan."
"Kalau datanya benar, aku harus mengonfirmasi dari luar. Aku ingin kamu membeli sampel enam produk NutraVida di apotek berbeda. Tiga kota. Tidak ada pembelian atas nama orang pribadi yang terhubung dengan kita."
Rafael sudah mencatat.
"Kirim ke tiga laboratorium independen. Satu di Jakarta, satu di Bandung, satu di Surabaya. Analisis komposisi lengkap. Tenggat: sepuluh hari kerja."
"Aku perlu alasan formal untuk laboratorium."
"Pakai Meridian. Bilang ini audit pasar untuk klien sektor farmasi. Itu bukan bohong."
Rafael keluar. Pak Jaya, yang mendengar dari posisi biasanya di dekat pintu, mendekat.
"Tuan."
"Bicara."
"Kalau Tuan berniat bergerak melawan Farma Dewantara, Tuan perlu mempertimbangkan bahwa Eduard Dewantara sudah curiga. Gerakan apa pun yang menghubungkan Tuan dengan keluarga Dewantara akan mempercepat penyelidikan mereka."
"Saya tahu."
"Dan Tuan tetap akan melanjutkan."
Arga menatapnya.
"Ada orang-orang yang minum suplemen bertimbal, Pak Jaya. Anak-anak. Ibu hamil."
Pak Jaya mengangguk sekali. Tidak perlu lebih dari itu.
Hasilnya datang dalam delapan hari. Ketiga laboratorium sepakat: kontaminasi pada lima puluh delapan hingga enam puluh tiga persen batch, tergantung produk. Dosis di luar rentang terapeutik pada hampir semua sampel. Dua produk mengandung zat yang tidak tercantum di label.
Arga membaca laporan itu tiga kali. Setelah itu, ia mematikan monitor dan duduk dalam gelap kantor selama sepuluh menit.
Pasar farmasi Indonesia membutuhkan orang serius. Orang dengan uang, kompetensi teknis, dan keberanian untuk masuk ke medan perang. Arga punya dua dari tiga hal itu. Yang ketiga, kompetensi teknis, akan ia cari.
Nama itu muncul di Kodeks dengan klasifikasi kuning: Dr. Oktavian Barata Satria. Farmakolog. Doktor dari Universitas Indonesia, postdoktoral imunofarmakologi di Swiss. Delapan belas tahun berkarier di perusahaan multinasional.
Dipecat dari perusahaan terakhirnya karena melaporkan pemalsuan data dalam uji klinis Fase 3. Masuk daftar hitam sektor itu. Brilian, tidak bisa dibeli, menganggur.
Arga menelepon.
Empat dering. Lima.
"Halo." Suaranya berat, curiga, tanpa kesabaran untuk telemarketing.
"Dr. Satria, nama saya Arga. Saya mewakili grup investasi yang sedang masuk ke sektor farmasi. Saya mendengar tentang pekerjaan Anda dan keluarnya Anda dari Kellner Pharma."
Sunyi.
"Siapa yang memberi nomor saya?"
"Riset. Anda menerbitkan empat puluh tujuh artikel, tiga paten, dan satu-satunya ilmuwan senior di Asia Tenggara yang melaporkan fraud uji klinis lalu bertahan secara profesional. Atau hampir."
"'Hampir' itu murah hati." Suaranya membawa ironi lelah. "Apa yang Anda inginkan?"
"Saya ingin membangun perusahaan farmasi. Yang benar. Riset, pengembangan, produksi, semua dilakukan dengan benar. Dan saya ingin Anda memimpin sisi ilmiahnya."
"Siapa di balik ini?"
"Seseorang dengan sumber daya untuk melakukannya dengan benar."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang bisa saya berikan sekarang. Tapi saya bisa memberi jawaban lain: saya punya data terkonfirmasi bahwa Farma Dewantara menjual suplemen terkontaminasi. Enam puluh persen batch di luar spesifikasi. Timbal dalam suplemen zat besi. Dan tak seorang pun di rantai regulasi bergerak."
Sunyi panjang. Arga mendengar napas berat di ujung sana.
"Kirim laporannya."
"Saya kirim. Bersama proposal formal. Baca dengan tenang, Dr. Satria. Saya tidak terburu-buru. Tapi pasar terburu-buru."
Ia menutup telepon. Menatap langit-langit.
Jika Satria setengah saja seperti yang dikatakan Kodeks, ia akan menelepon balik dalam empat puluh delapan jam.
Ia menelepon dalam tiga puluh enam.
"Kalau Anda serius, saya butuh laboratorium tingkat tiga, lima belas peneliti, dan setidaknya Rp200 miliar. Dalam dua tahun, mungkin ada produk yang layak."
Arga tidak ragu.
"Anda punya Rp500 miliar, dan saya ingin hasil dalam delapan belas bulan. Kapan kita mulai?"