Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Rumah Kecil Raka
Rumah kecil Raka berdiri di ujung jalan yang lebih tenang, tidak jauh dari klinik lama dan deretan toko kelontong.
Halaman depannya sempit, cukup untuk dua pot bougenville dan satu motor. Dindingnya dicat krem, sebagian mulai kusam. Pagar besinya rendah, tapi terkunci baik. Di samping rumah ada pohon mangga muda yang belum berbuah banyak.
Nadia berdiri di depan pagar, memandang rumah itu.
"Ini rumah Mas Raka?"
"Iya."
"Kenapa jarang ditempati?"
Raka membuka kunci.
"Ibu lebih tenang kalau saya di rumah utama. Katanya kalau batuk malam-malam ada yang dengar."
"Mas Raka sendiri lebih tenang di mana?"
Tangannya berhenti sebentar di gembok.
"Di sini."
Nadia tidak bertanya lagi.
Mereka masuk. Ruang tamunya kecil, berisi dua kursi kayu, meja rendah, dan rak buku. Tidak ada pajangan mahal. Di sudut ada kipas angin, di dekat jendela ada tirai putih yang sudah dicuci bersih. Bau rumah kosong masih terasa, tapi tidak pengap.
Nadia berjalan pelan.
Ia menyukai rumah ini.
Bukan karena indah. Bukan karena luas. Tapi karena tidak ada mata Eyang Marni di setiap sudut. Tidak ada suara Bu Ratna di dapur. Tidak ada Arman yang bisa membanting pintu. Tidak ada Bu Lilis yang menilai cara ia berjalan.
"Kamar di sana," kata Raka, menunjuk pintu sebelah kanan. "Dapur di belakang. Kamar mandi kecil, tapi airnya lancar. Kalau kamu ingin mengubah apa pun, bilang."
Nadia membuka pintu kamar.
Kamar itu sederhana. Ranjang kayu, lemari dua pintu, meja kecil di dekat jendela. Sprei masih terlipat rapi, belum dipasang. Jendela menghadap pohon mangga.
"Aku suka."
Raka berdiri di ambang pintu, tidak masuk.
"Kamu belum lihat dapur."
"Kalau dapurnya bocor pun aku tetap suka."
"Semudah itu?"
Nadia menoleh.
"Mas Raka tidak tahu betapa berharganya rumah yang tidak membuatku ingin menahan napas."
Raka diam.
Di kehidupan lalu, Nadia tinggal di rumah Arman setelah akad. Rumah itu lebih besar. Lantainya lebih bagus. Tapi setiap sudut seperti punya telinga untuk melaporkan kesalahannya. Ia tidak boleh bangun terlambat. Tidak boleh duduk terlalu lama. Tidak boleh menolak tamu. Tidak boleh menangis terdengar.
Rumah besar bisa menjadi kandang kalau kuncinya dipegang orang lain.
Raka berkata, "Kunci rumah ini ada dua. Satu untuk saya, satu untukmu."
Ia mengeluarkan gantungan kunci dari saku. Kuncinya baru dibuat, masih mengilap.
Nadia menerimanya.
Kunci itu kecil, tapi berat di telapak tangan.
"Sebelum akad, sebaiknya kamu belum tinggal di sini," kata Raka. "Biar tidak jadi omongan."
"Aku tahu."
"Tapi kamu boleh menyimpan beberapa barang kalau mau. Setelah akad, kita langsung ke sini."
"Bukan ke rumah utama?"
"Bukan."
Nadia memasukkan kunci ke tas.
"Bu Lilis pasti marah."
"Sudah."
"Sudah marah?"
"Sejak saya bilang ingin tinggal di sini."
Nadia tertawa.
Raka mengajaknya melihat dapur. Dapur itu kecil tapi bersih. Ada kompor dua tungku, rak piring, dan jendela menghadap halaman belakang sempit. Di sana ada sumur tertutup dan jemuran.
"Saya tidak pandai memasak," kata Raka.
"Aku bisa."
"Tapi saya bisa belajar."
Nadia memandangnya.
"Mas Raka tidak akan bilang memasak urusan perempuan?"
"Kalau lapar saya ikut makan. Jadi urusan saya juga."
Nadia menatap kompor agar senyumnya tidak terlalu terlihat.
Mereka sedang melihat kamar mandi ketika suara motor berhenti di depan rumah.
Raka mengerutkan kening.
"Saya tidak mengundang siapa pun."
Nadia sudah bisa menebak.
Benar saja, suara Bu Lilis terdengar dari depan.
"Raka!"
Raka menarik napas pelan.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena rumah yang kamu bilang membuatmu lega baru saja diserbu."
Nadia tersenyum.
"Tidak apa-apa. Pintu belum kupakai menutup."
Mereka kembali ke ruang tamu. Bu Lilis masuk bersama Arman. Wajah Bu Lilis penuh amarah tertahan. Arman melihat sekeliling rumah dengan tatapan meremehkan.
"Jadi ini rumah yang mau Om tempati?"
Raka berdiri di tengah ruangan.
"Iya."
Bu Lilis menatap Nadia.
"Kamu juga di sini?"
"Melihat rumah calon suami saya."
"Belum akad."
"Karena itu saya datang siang hari dengan calon suami saya, bukan malam-malam masuk kamar belakang."
Arman langsung menegang.
Bu Lilis memerah.
"Kamu selalu menyeret kejadian itu."
"Karena kejadian itu alasan kita semua berdiri di sini."
Raka berkata, "Mbak Lilis, ada perlu apa?"
Bu Lilis menoleh kepada Raka.
"Kamu benar-benar mau meninggalkan rumah utama setelah menikah?"
"Saya tidak meninggalkan. Saya hanya tinggal di rumah sendiri."
"Kondisimu tidak memungkinkan."
"Saya sudah hidup dengan kondisi ini bertahun-tahun."
"Justru karena itu kamu butuh orang rumah."
Nadia melihat rahang Raka mengeras.
Ia tahu kalimat itu terdengar seperti kasih sayang. Tapi di baliknya ada sangkar. Kamu sakit, jadi jangan punya pilihan. Kamu lemah, jadi biarkan kami mengatur.
Raka menjawab, "Setelah menikah, saya punya istri."
Bu Lilis melirik Nadia.
"Istri yang baru kamu kenal beberapa hari."
Nadia berkata tenang, "Lebih baik baru dikenal tapi menghormati, daripada lama dikenal tapi selalu merendahkan."
Bu Lilis menatap tajam.
"Saya sedang bicara dengan Raka."
"Tentang rumah yang akan saya tinggali."
Arman tertawa sinis.
"Belum juga akad, sudah merasa berhak."
Nadia menoleh.
"Mas Arman, kamu datang untuk membahas rumah Om Raka atau memastikan calon mantanmu tidak terlalu nyaman?"
"Jangan ge-er."
"Aku tidak. Aku hanya heran kamu sering muncul di tempatku akhir-akhir ini."
Arman kehilangan kata.
Bu Lilis memotong, "Raka, pulang. Kita bicara di rumah."
"Bicara di sini saja."
"Raka."
"Mbak, saya sudah memutuskan."
Bu Lilis menatapnya seperti tidak mengenalinya.
"Sejak kapan kamu membantah keluarga?"
Raka diam sebentar.
"Sejak saya sadar menurut terus tidak membuat saya lebih sehat."
Ruangan hening.
Nadia memandang Raka. Kalimat itu tidak keras, tapi jelas membawa berat bertahun-tahun.
Bu Lilis tampak terluka.
"Kami merawatmu."
"Saya tahu."
"Kami mengantar ke dokter. Mencari obat. Menjaga malam-malam waktu kamu batuk darah."
"Saya tahu."
"Lalu sekarang setelah ada perempuan ini, kamu merasa kami menahanmu?"
Raka menatap kakak iparnya.
"Bukan karena Nadia. Saya memang sudah lama merasa begitu."
Bu Lilis terdiam.
Arman tampak tidak nyaman. Mungkin karena ia jarang melihat pamannya setegas ini.
Nadia tidak ikut bicara.
Ini luka Raka. Ia hanya perlu berdiri di sana.
Bu Lilis mengusap air mata yang baru muncul.
"Kalau nanti kamu sakit di sini, siapa yang bertanggung jawab?"
Raka menjawab, "Saya."
"Kamu selalu begitu. Diam, menanggung sendiri, lalu membuat kami merasa bersalah."
"Saya diam karena setiap saya bicara, kalian menganggap saya tidak tahu diri."
Bu Lilis seperti ditampar.
Arman mencoba menyela, "Om, Ibu hanya khawatir."
Raka menatapnya.
"Khawatir tidak boleh dipakai untuk mengunci orang."
Arman diam.
Nadia tiba-tiba merasa kehidupan ini benar-benar berubah. Bukan hanya untuknya. Raka juga mulai menarik dirinya keluar dari tempat lama.
Bu Lilis akhirnya berkata dingin, "Baik. Tinggal di sini kalau mau. Jangan nanti menyesal."
Nadia hampir menjawab, tapi Raka lebih dulu.
"Kalau saya menyesal, itu penyesalan saya sendiri. Bukan keputusan yang dipilihkan orang."
Bu Lilis pergi dengan wajah kaku.
Arman menyusul, tapi di ambang pintu ia berhenti.
Ia menatap Nadia.
"Rumah kecil begini saja kamu banggakan."
Nadia tersenyum.
"Iya. Karena pintunya bisa ditutup dari orang seperti kamu."
Arman keluar dengan wajah gelap.
Setelah suara motor menjauh, rumah kecil itu kembali sunyi.
Raka berdiri lama, lalu batuk. Nadia mengambil air dari dapur dan memberikannya.
"Mas Raka baik-baik saja?"
"Iya."
"Tidak kelihatan begitu."
Raka minum, lalu duduk.
"Maaf. Kamu harus melihat itu."
Nadia duduk di kursi seberang.
"Aku justru senang melihatnya."
Raka mengangkat alis.
"Senang?"
"Aku senang Mas Raka bicara."
Raka menatap gelas di tangannya.
"Saya belum terbiasa."
"Tidak apa-apa. Nanti terbiasa."
Ia menatap Nadia.
"Kita berdua seperti sedang belajar keluar dari rumah lama masing-masing."
Nadia memandang ruang tamu kecil itu.
"Kalau begitu, rumah ini tempat latihan yang bagus."
Raka tersenyum.
Di luar, angin menggoyang daun mangga.
Untuk pertama kalinya, rumah kecil itu tidak terasa kosong.
🤣🤣🤣