Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~14 Kembali ke mansion
Sepanjang acara Lisa hanya terus tersenyum kaku meskipun entah apa yang akan terjadi setelah acara pernikahan ini. Lisa selalu berdiri disamping ayahnya dan menggenggam erat tangannya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja.." kata sang ayah.
"Lisa, kau menurut lah dengan suamimu. Dia pasti akan bersikap baik jika kau menurut dan patuh" kata sang ayah.
"Pria temperamental sepertinya tidak akan pernah bersikap baik ayah, dia akan menjalankan misinya untuk menyiksaku" kata Lisa lirih.
Ayahnya tak mampu bicara lagi dan menghela nafas pasrah.
*Seidon, tolong jangan bunuh putriku.. aku mohon padamu* batin ayahnya sambil menatap Seidon dari jauh.
Setelah semua tamu pergi dan hanya ada Andhika, Calvin, Minho, Glen, Mike dan Leon, dan 20 pelayan dan 50 WO membereskan sisa-sisa acara. Setelah selesai mengganti gaun dengan dress biasa dan cukup elegan dengan berani Lisa menghampiri Seidon.
"Tuan..?" Panggil Lisa saat ia sedang mengobrol dengan Glen dan yang lain.
"Hmm?"
"Apakah boleh aku mengantar ayah pulang? Aku akan meminta Alexi menemani" tanya Lisa
"tidak! Biar bodyguard yang mengantarnya, dan kau tetap disini"
"Tap--"(terpotong)
"Lisa..."
"B-baik.." ucap Lisa.
"Biarkan ayahmu pulang bersamaku, Glen dan Andhika akan ku pastikan dia akan sampai dirumah dengan selamat" ucap Calvin.
"Terimakasih kak Alvin" ucap Lisa dan Calvin hanya tersenyum.
"Selamat atas pernikahan mu Lisa" ucap Glen.
"terimakasih kak.. Glen" ucap Lisa senyum kaku.
"Lisa, sekarang Seidon adalah suamimu. Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Tuan, ku rasa itu berlebihan" kata Calvin.
"Itu.. aku belum terbiasa saja.." jawab Lisa.
"Ahh begitu yaa"
"Hari semakin malam bukankah lebih baik kau mengajak Lisa pulang? Aku dan Leon akan mengawasi pembongkaran dekor" ucap Mike.
"Serahkan saja pada kami berdua semua akan selesai dengan cepat" ucap Leon menyilang kan kakinya.
"Dan ayah mertuamu akan pulang bersama kami" ucap Andhika.
"terserah pada kalian saja" ucap Seidon.
"Dan... ini kan malam pertama mu akan lebih baik kau dan Lisa.. ehem!" ucap Calvin berdehem.
"langsung katakan saja kau harus meniduri Lisa" ucap Minho santai.
Lisa membulatkan mata yang awalnya tidak mengerti maksud Calvin dan malah dijelaskan oleh Minho.
"Yaaakkk Minho kau tidak perlu menyebutkannya sebaiknya kita pergi saja" ucap Glen menarik Minho.
"Kita juga akan menikah kan? Jadi apa salahnya?"
"wanita waras mana yang mau menikahi kriminal sepertimu? Bahkan yang tidak waras pun tidak mau" ketus Glen.
"kurang aja sekali kau Glen" Ucap Calvin ambil mendorong kursi roda ayah Lisa dan diikuti dua pelayan yang akan merawat ayah Lisa.
*Ayah..* batin Lisa menatap sang ayah yang semakin menjauh
Ayahnya hanya tersenyum saat menoleh kearah putri yang paling dicintainya dengan melambaikan tangannya. Seidon telah meminta 2 pelayan untuk melayani ayah Lisa dirumahnya dan merawatnya.
"Kalian berdua masih mau disini?" Ucap Mike santai dengan meneguk bir.
"Tolong urus sampai selesai, aku duluan"
Seidon menarik Lisa keluar gedung pernikahan mereka, mendorong Lisa masuk kedalam mobil dan menuju mansion nya. Lisa hanya terdiam melihat mobil Calvin mendahuluinya yang dimana didalamnya juga ada sang ayah.
*dia sangat kasar bahkan saat aku tidak melakukan kesalahan dia tetap kasar. Apakah dengan aku menurut dan patuh dia akan baik padaku? Tentu saja tidak.* batin Lisa sesekali melirik Seidon yang fokus menyetir.
Seidon yang terfokuskan pada setirnya dan Lisa hanya melamun menatap keluar jendela. Mereka tidak terlihat seperti sepasang suami istri ataupun pengantin baru. Karena memang pada dasarnya pernikahan ini hanyalah untuk balas dendam dan menebus dosa keluarga Lisa.
Lisa dibayangi oleh sosok ibunya yang penyayang dan penuh perhatian begitupun Ayahnya. rasanya mereka berdua seperti malaikat tapi kenyataannya mereka adalah orang jahat.
Meskipun begitu Lisa tetap mencintai orang tuanya menganggap ini semua hanyalah takdir Tuhan yang memang harus dijalani. Memiliki suami yang bermain dalam dunia hitam, pria yang senang bermain dengan darah, kekerasan, tidak memiliki empati ataupun simpati, arogan, dan pembunuh yang sangat kejam.
Cittt,
Tiba-tiba Seidon menginjak rem mendadak dan hampir membuat Lisa terpental ke depan untungnya ia menggunakan sabuk pengaman.
"Kita berhenti dulu disini, suasananya sangat bagus kan, sayangku?" Ucap Seidon dingin, perlahan memutar kepalanya kearah Lisa dan menatapnya tajam.
Gleg/
Lisa menelan saliva kasar saat Seidon menggenggam tangannya. Pada saat itu tepat sekali ia memberhentikan mobil di tepi jembatan.
"Kenapa? Kau terlihat takut"
Seidon meraih tangan Lisa dan menggenggamnya.
"Tuan, a-apa kau berniat membunuhku sekarang?"
"Buru-buru sekali ingin di bunuh", ucap Seidon dengan tangannya merogoh dasboard mobil dan mengambil sebuah pisau lipat.
"tidak... a-aku.. aku.. Tuan... tolong ja-jangan" ucap Lisa memberontak berusaha melepaskan tangannya.
"Kalau begitu diam dan jangan bertanya apapun" ucap Seidon memainkan pisau menyusuri tangan Lisa dengan pisau tepat pada urat nadinya.
"Jika dipotong disini, kemungkinannya kau akan benar-benar mati" gumam Seidon.
Lisa hanya menggeleng dan memejamkan matanya.
"aku bercanda, tidak mungkin ku eksekusi di mobil, tunggu sampai dirumah saja.." ucapnya.
Ia hanya tersenyum jahat kemudian membuang pisau nya keluar jendela dan melajukan mobilnya menuju mansion. Sesampainya di mansion ternyata Alexi dan seluruh pelayan tengah menanti dan menyambut pengantin baru ini.
Saat akan turun dari mobil tiba-tiba saja Seidon menarik rambut Lisa dan menyeretnya ke kamar.
"Ayo sayang, akan ku beri hadiah yang tadi sudah ku janjikan" kata Seidon.
"Arrghh.. sakit.. lepas, Tuan.. tolong l-lepaskan.."
"Diam! Ini dia hadiahnya"
Tanpa ampun, Seidon terus menarik rambut Lisa dengan kuat dan setelah sampai di kamar, ia menghempasnya kelantai.
Lisa meringis kesakitan, kepala sangat pusing dan pandangannya berputar-putar. Baru saja akan berdiri, Seidon sudah menendang perutnya.
"Uhuk.. arghh, sa-sakit sekali"
"Ayo lakukan" kata Seidon.
"Lakukan.. l-lakukan apa.."
"Jangan.. hiks, Tuan.. ku mohon jangan buNuh aku.. aku tidak mau m4t1"
Lisa berjalan mundur sambil menangis, ia melihat Seidon mengambil sebilah pisau lipat dari laci dan mendekati Lisa.
Ia sangat ketakutan, tidak bisa menghindar karena kamar telah terkunci. Berteriak pun tak akan ada yang menolongnya.
"Ahahaha.. kenapa? Kenapa kau mundur? Sini, dekat sedikit.." kata Seidon.
"Sayang.. kemarilah.."
Lisa menggeleng kuat dan terus menghindar.
"Menarik, semakin kau menghindar akan semakin ku kejar. Ahahaha..."
*Tidak.. aku tidak mau mati sekarang* batin Lisa ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat dan hanya bisa menangis.
*Tolong aku..*
_____________