Jiang Hao hanyalah pemuda yang lugu dan polos , jujur dan sedikit konyol , kehidupan sehari harinya seperti kebanyakan pemuda pada umumnya.
Memiliki cita cita keluarga yang bahagia dan keinginan untuk menjadi kaya .
Tapi kehidupan yang di idam idamkan di dalam pikirannya, tidak ada sama sekali.
Tatkala adik kandung yang baru pulang dari dinas militer masuk ke kehidupannya.
Merebut tunangan yang di mana dalam satu minggu akan ia nikahi, serta sikap dan sifat keluarganya yang berubah dengan memutuskan semua hubungan darah termasuk tunangan dan keluarganya.
Juga ia mendapat fitnah keji , sehingga tubuh dan jiwanya hampir mati, namun itu menjadi berkah tersembunyi, darah dan bakat bela dirinya keluar setelah 20 tahun tersegel.
Saat itu juga dunia bela diri kuno terguncang dan nama Jiang Hao menjadi legenda yang di takuti lawan serta kawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erik riswana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 di dalam menara Qingdao
Kota Jiangqi begitu ramai dan semarak , semua tempat menjadi sangat sibuk , seperti tahun baru yang di mana tidak ada hal yang tertinggal sedikitpun.
Di beberapa tempat , terutama menara kamar dagang Qingdao, ribuan orang dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut tempat.
Baik itu di pintu masuk atau halaman luas yang memiliki ukuran 100 meter , cukup untuk menampung sekitar 6 sampai 7 ribu orang.
Selain itu ada beberapa penjaga yang selalu siap sedia menjaga menara Qingdao, para penjaga itu memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan para jenius muda dari empat negara.
Mereka adalah alumni konstenstan turnamen empat negara, dan merupakan putra terbaik dari keempat negara.
Para penjaga menara Qingdao bukan dari kalangan kerajaan, melainkan dari kalangan rakyat biasa dan bangsawan yang memiliki hubungan jauh dengan kekaisaran Qing.
Saat ini menara Qingdao begitu padat , hal itu karena jadwal pertandingan turnamen antar negara berada di dalam menara , sehingga ratusan peserta inti ingin melihat siapa lawan yang akan mereka lawan .
Di barisan paling ujung belakang, seorang pria bertopeng hitam berdiri tenang , di belakangnya pria tua berjubah putih berbicara panjang lebar , menceritakan aturan di dalam menara Qingdao.
" ketua , aturan yang sudah disepakati bersama dengan 3 pemimpin gunung lainnya telah berlaku sejak 4 tahun lalu , di mana setiap ketua gunung akan menghadapi lawan saat partai final " kata Zhou Gao memandang ke arah kerumunan para jenius muda yang siap melawan setiap tantangan yang ada.
" jadi kami berempat akan berada di gunung masing masing untuk menghadapi para jenius muda yang berhasil melewati beberapa tantangan ?"
" benar ketua !" Kata Zhou Gao mengangguk .
Jiang Hao mengangguk tanda mengerti, ia berfikir untuk mempersulit peserta dari kerajaan Jiang dan mempermudah dari kerajaan Qi, hatinya sudah mati terhadap keluarga Jiang, dan dia tidak tahu mengapa dendam dirinya begitu besar terhadap keluarga Jiang.
" baiklah ,ayo kita masuk... sekarang giliran kita " kata Jiang Hao melangkah masuk .
Di dalam menara Qingdao, sudah banyak orang orang berkumpul, berdiskusi tentang lawan dan kawan yang akan mereka hadapi.
Jiang Hao mengamati dalam diam , dia memperhatikan para pemuda yang datang dari berbagai negara , dan mulai mengerti bahwa mereka sebenarnya satu bangsa dalam empat negara.
" benar, aku sadar bahwa dunia ini masih luas , empat negara hanya sudut kecil di benua yang luas ini , pasti masih banyak negara dan sekte yang tersebar di seluruh dunia " gumamnya mengamati secara seksama.
Saat dirinya sedang menghitung rencana , dari arah kanan muncul dua orang gadis remaja, penampilan keduanya menarik perhatian beberapa pemuda dan orang tua yang ada di dekatnya.
" kak , halo , apa boleh kami bergabung .. !" Suara gadis remaja 15 tahunan terdengar begitu renyah dan nyaring.
Jiang Hao menoleh dan hanya bisa mengangguk pelan , " umhh .. !"
" terimakasih kak ,!" Ucap gadis muda dengan nada yang tulus , matanya yang bulat begitu lucu menggemaskan saat mengucapkan kalimat terimakasih itu.
Jiang Hao tidak berbicara atau berbincang dengan dua gadis muda yang ikut duduk bersama dengan dirinya, ia tidak terlalu akrab dengan gadis gadis muda yang sangat asing baginya.
Ia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua gadis muda yang terus menerus berbicara satu sama kain.
" saudari , kita tidak boleh diketemukan oleh pangeran kedua , kalau tidak, kita tidak bisa ikut bermain di kota ini " bisiknya dengan wajah polos menggemaskan.
" cih .. pangeran kedua , tidak perlu takut, kita gunakan saja strategi menggunakan orang sebagai tembok perlindungan, dia si playboy tidak bermoral, tidak akan begitu mudah menindas semua orang " kata gadis yang satunya menjawab begitu lirih.
" tapi kita tidak tahu apakah kakak tembok perlindungan ini bisa menahan ancaman dari pangeran kedua ?"
" tenang saja , jangan takut, jangan khawatir, mati satu tumbuh seribu, kalau kakak ini tidak bisa menahan, kita cari yang lebih tahan "
" jadi rencana apa yang akan kita lakukan?"
" kita mengaku saja sebagai selir dari kakak ini , dia lumayan gagah dan juga tinggi besar , pasti pangeran kedua tidak akan melepaskannya "
Jiang Hao yang ada di dekatnya tidak tahu harus berkata apa , dalam hatinya ada rasa geli sekaligus marah , bukan marah kepada musuhnya, melainkan dirinya menjadi tameng dari dua gadis muda yang cukup antusias itu .
" mungkin kedua gadis remaja ini korban dari pangeran kedua, rencana mereka berdua cukup cerdik tapi aku tidak akan kalah cerdik " pikirnya dalam hati .
Ia menatap ke arah kerumunan orang yang terus berkeliaran di sekitarnya, merasa bahwa suasana yang ramai itu membuat dirinya sedikit pusing .
Walaupun begitu , ia masih diam di tempat duduknya , dekat dengan dua gadis yang terus mengoceh kemana mana .
Dalam percakapan itu , ia baru mengetahui bahwa kedua gadis muda biasa itu adalah putri Dinasti Qing yang menyamar , keluar dari istana untuk melihat keramaian di dunia luar .
" aneh apakah seketat itu aturan istana, sampai para putri Dinasti tidak diperbolehkan untuk keluar dari istana " Matanya melirik ke arah samping kanan dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang begitu aneh .
Ia melihat bahwa kedua gadis itu memiliki penyamaran sempurna, di mana , kedua gadis muda itu memakai teknik yang sama sekali ia tidak mengerti.
" mungkin keduanya adalah para wanita dewasa yang berpura-pura polos di depan semua orang " pikirnya sedikit menggelengkan kepala .
Ia kemudian berkata kepada Zhou Gao yang setia berdiri di belakangnya " penatua Gao , saya lapar , bisa untuk mencarikan makanan "
" siap ketua!"
Tanpa banyak bicara, Zhou Gao langsung bergegas menuju tempat dimana penjual banyak berjualan.
Jiang Hao memandang kepergian pembantunya, ia memejamkan mata perlahan, mencoba untuk memahami segel ketiga dari teknik kultivasi Kaisar Tyrant Dewa Kuno.
" segel pertama membentuk transformasi tubuh menjadi kuat, segel kedua peningkatan kultivasi , segel ketiga , tekanan menjadi kekuatan "
" tapi apa maksudnya dari tekanan menjadi kekuatan, apa aku harus mengeluarkan aura tekanan Kaisar Tyrant, saat bertarung , ataukah sebaliknya, menerima tekanan dari lawan untuk menjadi kekuatan sendiri "
Ia kemudian mencoba mencari tahu dengan menjelajahi seluruh lautan jiwa yang sangat gelap , tapi ia tidak tahu jawabannya.
" padahal aku sebelumnya, mahasiswa jurusan teologi, kenapa aku bisa bodoh , tidak paham dengan maksud segel ketiga ini "
" atau aku harus mempelajari beberapa jurus kultivasi, agar bisa memahami segel ketiga "
" benar, aku harus meminta penatua Gao untuk mencarikan buku tentang jurus kultivasi !"
Seketika hatinya menjadi lega dan puas, ia merasa sudah menemukan maksud dari segel ketiga.
Saat matanya terbuka , ia melihat dihadapannya, setumpuk kecil makanan tersedia dalam pandangannya.
" ehh ternyata sudah ada " gumamnya dengan mata merah berbinar .
Tanpa menoleh, ia bisa tahu bahwa kedua gadis muda yang menyamar itu memiliki keinginan untuk makanannya.
" kalian berdua, jangan hanya lihat , ambil saja kalau mau .. !"
" kakak kamu sangat baik , terimakasih.. !"
" benar kakak, tidak perlu repot repot, "
Kedua gadis muda itu mengambil hampir seluruh makanan yang ada di depan mata Jiang Hao, membuat Jiang Hao tidak bisa berbuat apa apa , apakah harus marah atau sedih dengan nasibnya.
" ternyata kedua adik ada di sini.. !"