Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Sendok Emas
-----
Namaku Arka Zayn Albian. Nama yang bagi sebagian orang di kota ini terdengar seperti sebuah tiket lotre menuju kehidupan tanpa batas. Aku adalah anak keempat dari lima bersaudara, lahir dan dibesarkan di bawah atap sebuah mansion megah yang pembangunannya mungkin setara dengan anggaran belanja satu kecamatan. Orang tuaku adalah sepasang pengusaha sukses, konglomerat properti dan perhotelan yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis nasional. Sejak tangisan pertamaku pecah di dunia, aku sudah dinobatkan sebagai anak yang lahir dengan sendok emas yang melekat erat di mulut.
Aku hidup bergelimang harta. Segala hal yang diinginkan remaja seusiaku mulai dari mobil sport edisi terbatas yang terparkir rapi di garasi, pakaian rancangan desainer ternama Eropa, hingga kartu kredit tanpa limit berada dalam jangkauanku hanya dengan sekali jentikan jari. Namun, jika ada satu hal yang diajarkan oleh dinding dinding marmer rumah kami yang dingin, itu adalah fakta bahwa di dunia ini tidak ada makan siang yang gratis. Di balik tumpukan kemewahan yang memabukkan itu, ada harga mati yang harus kubayar setiap hari: kesempurnaan tanpa cela.
Sebagai bagian dari Dinasti Albian yang terpandang, setiap gerak-gerikku tidak pernah luput dari sorotan. Cara berpakaianku, caraku berbicara di depan umum, nilai-nilai raporku, hingga dengan siapa aku berteman, semuanya memiliki draf aturan tidak tertulis yang dikurasi langsung oleh Ayah dan Ibu. Kami tidak boleh terlihat lemah. Kami tidak boleh membuat cacat pada nama baik keluarga. Kami dipaksa memakai topeng manusia super yang serbisa, serbatahu, dan serbasempurna. Sejujurnya, rutinitas kepura-puraan ini membuatku jengkel setengah mati. Aku muak menjadi pajangan etalase yang hanya dipamerkan saat jamuan makan malam korporat.
Keluargaku sendiri, jika boleh jujur, adalah sebuah eksperimen genetika yang aneh. Kami sedarah, tetapi berkumpul di satu meja makan rasanya seperti menyatukan lima negara yang sedang berada di ambang perang dingin. Kepribadian kami bertolak belakang seratus delapan puluh derajat, menciptakan sekat-sekat tak kasatmata di antara kamar-kamar megah kami.
Anak pertama, sekaligus orang yang ditunjuk Ayah untuk memikul beban takhta keluarga di masa depan, bernama Andra Pratama Albian. Di usianya yang baru menginjak dua puluh-empat tahun, Kak Andra sudah bertingkah layaknya pria paruh baya yang kehilangan selera humornya. Dia baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia dengan predikat summa cum laude tentu saja, karena seorang Albian tidak boleh mendapatkan nilai B dan langsung dijebloskan Ayah untuk menduduki kursi direktur muda di salah satu anak perusahaan utama kami.
Kak Andra adalah definisi dari pria yang tegas, berdisiplin tinggi, dan sangat irit bicara. Wajahnya jarang sekali dihiasi senyuman, matanya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa, dan auranya begitu dingin hingga bisa membuat suhu ruangan drop seketika. Di rumah ini, dia bertindak sebagai tangan kanan Ayah yang bertugas mengawasi adik-adiknya. Dia terkesan tidak peduli, antipati, dan menganggap interaksi emosional adalah sebuah kelemahan yang membuang-buang waktu. Kadang-kadang aku sangsi, apakah di dalam dadanya benar-benar ada jantung manusia yang berdetak, ataukah hanya ada mesin kalkulator yang terus menghitung laba rugi perusahaan.
"Arka," suaranya malam itu saat kami berpapasan di lorong lantai dua masih terngiang di kepalaku. Nada suaranya datar, tanpa intonasi. "Kudengar kau membuat ulah lagi di sekolah. Berkelahi dengan anak kepala dinas? Ingat posisimu. Jangan biarkan Ayah harus turun tangan hanya untuk membereskan kotoran yang kau buat."
Aku hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku celana, menahan umpatan yang sudah di ujung lidah sementara Kak Andra berlalu begitu saja tanpa menunggu jawabanku. Dia selalu seperti itu. Dingin, angkuh, dan menganggapku tak lebih dari sekadar kerikil di dalam sepatunya.
Namun, alam semesta tampaknya suka bercanda, karena Kak Andra memiliki seorang kembaran yang sifatnya benar-benar berbanding terbalik dengan dirinya.
Anak kedua di keluarga ini bernama Zalya Ella Albian. Meskipun mereka lahir di hari yang sama dan memiliki usia yang identik, Kak Zalya adalah oase di tengah padang pasir rumah kami yang gersang.
Bagi diriku yang selalu merasa terasing, Kak Zalya adalah sosok kakak perempuan yang luar biasa baik. Dia cenderung periang, ramah, dan selalu bertingkah konyol tanpa memedulikan citra elegan yang selalu diagung-agungkan Ibu. Di usianya yang sudah dua puluh empat tahun, dia masih sering berlarian di koridor rumah sambil memakai piyama bermotif kartun, atau mendadak masuk ke kamarku hanya untuk mencuri camilan dan mengajakku bergosip tentang drama para selebritas internet.
"Arka, Sayang!" serunya suatu sore, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurku yang rapi. "Jangan dengerin si Manusia Es itu, ya? Dia cuma iri karena wajahnya keriputan duluan gara-gara jarang senyum. Sini, Kakak punya cokelat mahal dari Swiss, kita makan bareng biar stresmu hilang!"
Melihat Kak Zalya dan Kak Andra berdiri berdampingan adalah sebuah tontonan yang absurd. Sifat mereka berbeda seratus delapan puluh derajat. Yang satu adalah badai salju yang membekukan, sementara yang lain adalah sinar matahari musim semi yang menghangatkan. Sayangnya, belakangan ini Kak Zalya juga mulai ditekan Ibu untuk segera mencari pasangan dari kalangan pengusaha demi kepentingan relasi bisnis, yang membuat senyum cerianya kadang terlihat sedikit dipaksakan.
Lalu, berjarak empat tahun di bawah si kembar, ada kakak ketigaku yang bernama Hendra Alfarezel Albian. Saat ini, pria berusia dua puluh tahun itu sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung, mengambil jurusan Teknik Perminyakan. Karena kuliahnya berada di luar kota, Kak Hendra memilih untuk tinggal di Bandung, sebuah keputusan yang diam-diam sangat aku iringi karena dia berhasil melarikan diri dari penjara megah ini lebih cepat dariku.
Bagi diriku, Kak Hendra adalah sosok yang berada di zona abu-abu. Secara kepribadian, dia tidak jauh berbeda dengan Kak Andra—kaku, cuek, dan lebih suka menghabiskan waktu di depan laptop ketimbang bersosialisasi. Namun, dia memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki sulung keluarga Albian: Kak Hendra masih mau membuka diri. Dia masih enak diajak bicara, meskipun gaya bicaranya sangat minimalis dan selalu menjawab pertanyaanku dengan kalimat-kalimat singkat yang seirit tarif SMS zaman dulu.
"Gimana kuliah di Bandung, Kak? Seru gila gak?" tanyaku suatu kali lewat panggilan video.
"Biasa. Sibuk tugas," jawabnya datar.
"Ada cewek yang naksir lo gak? Secara lo kan ganteng, kaya lagi."
"Gak ada waktu. Tugas banyak. Belajar sana, biar gak bego," ujarnya sebelum langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Aku hanya bisa terkekeh. Setidaknya, dia tidak menceramahiku tentang nama baik keluarga. Kak Hendra hanya ingin hidup tenang di jalurnya sendiri, tanpa ingin diganggu atau mengganggu orang lain.
Dan anak keempat? Ya, si pembuat onar, si hitam di antara domba-domba putih keluarga Albian, itu adalah aku sendiri. Namaku Arka, dan di usiaku yang baru menginjak tujuh belas tahun ini, aku dengan bangga menyandang predikat sebagai anak yang paling kekanak-kanakan di rumah. Saat kakak-kakakku sibuk membangun masa depan dan menjaga reputasi, aktivitasku sehari-hari justru berada di kutub yang berlawanan. Aku adalah spesialis dalam menghambur-hamburkan uang orang tua, pulang larut malam dengan aroma tembakau yang melekat di baju, dan memproduksi masalah baru di sekolah hampir setiap minggunya.
Aku tahu apa yang dikatakan orang-orang di belakangku. “Arka itu cuma parasit.” “Dia gak bakal bisa nyamain kakak-kakaknya.” “Anak pungut kali, ya? Kok beda sendiri.”
Kalimat kalimat itu sudah kenyang kudengar sejak duduk di bangku SMP. Alih alih merenung dan bertobat, aku justru sengaja memperparah kelakuanku. Jika mereka menginginkan seorang pemberontak, maka aku akan menjadi pemberontak terbaik yang pernah mereka lihat. Aku sengaja membuat masalah agar Ayah dan Ibu melihatku, agar mereka tahu bahwa anak keempat mereka bukanlah robot yang bisa mereka atur menggunakan remote control. Saat ini aku masih duduk di bangku SMA kelas tiga, berada di ambang kelulusan yang entah akan membawaku ke mana setelah ini.
Untungnya, di dalam rumah yang kaku dan penuh kepalsuan ini, aku tidak sendirian dalam melakukan perlawanan. Aku memiliki seorang sekutu setia, anak bungsu sekaligus adik perempuan kesayanganku yang bernama Ellisya Alya Albian. Di usianya yang masih tiga belas tahun dan baru menduduki bangku kelas satu SMP, Ellisya tumbuh menjadi replika mini dari Kak Zalya. Dia adalah gadis kecil yang periang, bermata bulat jenaka, dan memiliki tingkat rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Ellisya adalah teman pembuat onarku di rumah ini. Ketika suasana rumah sedang sangat mencekam misalnya setelah Ayah mengamuk karena urusan bisnis aku dan Ellisya sering kali menyelinap ke dapur utama pada tengah malam, menjahili para pelayan dengan menyembunyikan peralatan memasak, atau sekadar membuat es krim cokelat berantakan yang mengotori lantai marmer.
"Kak Arka!" bisik Ellisya suatu malam sambil menarik-narik ujung bajuku di balik pilar ruang tengah. "Tadi aku sengaja numpahin tinta di atas berkas-berkas kerjaan Kak Andra yang di meja makan. Rasain! Habisnya dia tadi malam marahin Kak Arka, sih!"
Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah polosnya yang tampak bangga setelah melakukan sabotase kecil itu. Di rumah yang dingin ini, Ellisya adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih sudi melangkahkan kaki pulang setelah lelah bertengkar dengan dunia luar.
...****************...
Hari ini, penantian panjangku akhirnya membuahkan hasil. Pengumuman kelulusan SMA baru saja keluar tadi siang, dan namaku tertera di sana, lulus dengan nilai yang pas pasan tapi persetan dengan nilai, yang penting aku bebas dari seragam putih-abu-abu. Tidak ada cara yang lebih sempurna untuk merayakan hari kelulusan ini selain berpesta pora seolah-olah besok adalah hari kiamat.
Tempat pesta kami bukan kaleng-kaleng. Kami tidak merayakannya di kafe biasa atau restoran cepat saji. Malam ini, kami menguasai sebuah nightclub eksklusif yang terletak di kawasan bisnis terkemuka kota. Kelab malam itu adalah milik ayah dari sahabat karibku sendiri, Pedro. Sebagai anak pemilik tempat, Pedro dengan mudah memesankan area VIP terbaik untuk kami sebuah ruang semi-terbuka yang terletak di lantai dua, memberikan pandangan langsung ke arah lautan manusia yang sedang berguncang di lantai dansa bawah.
Musik berdentum gila gilaan dari deretan pengeras suara berukuran raksasa. Getaran bass nya begitu kuat, menghantam dadaku berulang kali, menyatukan detak jantungku dengan ritme lagu yang dimainkan oleh DJ di panggung utama. Lampu strobo warna warni merah, biru, ungu, hijau berputar dengan kecepatan tinggi, memotong motong gerakan manusia di bawah sana menjadi potongan potongan gambar yang patah patah dan surealis. Udara di dalam ruangan terasa panas, pekat oleh aroma berbagai macam parfum mahal yang bercampur dengan asap rokok dan alkohol.
Di sofa VIP yang empuk, lingkaran pertemananku sedang berada di puncak euforia. Aku, Pedro, Iksan, Kevin, dan belasan teman seangkatan dari sekolah kami sedang menikmati malam kebebasan ini dengan liar. Di atas meja kaca panjang di depan kami, botol botol minuman keras dengan label luar negeri berjejer rapi, dikelilingi oleh ember-ember berisi es batu yang mulai mencair.
"Woy, Arka! Jangan dikit-dikit minumnya! Kayak anak perawan lo!" Pedro berteriak tepat di lubang telingaku. Dia harus mengerahkan seluruh kekuatan suaranya agar tidak tenggelam oleh dentuman musik yang begitu kencang terasa di telinga. Wajah Pedro sudah berubah warna menjadi kemerahan, matanya sayu, dan dia mengangkat sebuah gelas sloki berisi cairan sewarna amber dengan tangan yang sedikit bergetar.
Aku terbahak, merenggut gelas sloki itu langsung dari genggaman tangannya yang mulai melemah. "Sialan lo, Ped! Gue cuma lagi menikmati transisi jadi orang dewasa yang legal! Sini, tuang lagi!"
TUK!
Gelas kami beradu di udara, memercikkan sedikit cairan ke atas meja. Tanpa ragu, aku mendongakkan kepala dan menenggak isinya dalam satu kali tegukan bersih. Cairan pekat itu meluncur di tenggorokanku, meninggalkan rasa terbakar yang panas, pahit, sekaligus sensasi hangat yang menjalar cepat ke perutku. Hanya dalam hitungan detik, efek alkohol itu mulai bekerja, memberikan sensasi melayang yang sangat menyenangkan, membuat seluruh beban pikiran tentang rumah, tentang tuntutan Ayah, dan tentang masa depan yang buram menguap begitu saja ke udara.
Di sudut lain sofa, Iksan dan Kevin sudah kehilangan kewarasan mereka. Mereka berdiri di atas sofa sambil merangkul pundak satu sama lain, menyanyikan lirik lagu yang sedang berputar dengan suara sumbang dan tidak jelas, sesekali tertawa terpingkal-pingkal untuk alasan yang hanya dipahami oleh otak mereka yang sudah terkontaminasi alkohol. Kami semua tahu, kami sedang meminum minuman yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur seperti kami. Kami baru tujuh belas tahun, belum memiliki kartu identitas yang sah untuk masuk ke tempat seperti ini secara legal jika bukan karena hak istimewa yang dimiliki Pedro. Tapi persetan dengan hukum. Persetan dengan aturan moral. Malam ini, di bawah lampu kelab yang remang-remang ini, kami adalah raja yang tidak bisa tersentuh oleh siapa pun.
Waktu terus bergulir, dan aku kehilangan hitungan pada gelas keberapa yang sudah kuminum. Kepalaku mulai terasa sangat ringan, seolah-olah badanku terbuat dari kapuk yang bisa tertiup angin kapan saja. Pandanganku agak berbayang, berputar lambat setiap kali aku menolehkan kepala.
Di tengah pesta yang meriah dan riuh rendah itu, aku memutuskan untuk menyandarkan punggungku ke sofa, mencoba mengatur napas yang mulai memburu karena pengaruh alkohol yang terlalu kuat. Aku terlalu mabuk malam itu. Kesadaranku berada di ambang batas antara kenyataan dan ilusi. Saat itulah, mataku menyapu ke arah kerumunan di lantai VIP, dan gerakanku mendadak terkunci pada satu titik.
Di ujung sofa VIP seberang sebuah area yang agak terpisah dari kegilaan gengku ada seorang gadis. Dia sedang duduk sendirian, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun. Tangannya memegang sebuah gelas berkaki tinggi, memutar-mutar sedotannya dengan gerakan malas yang terkesan sensual. Rambutnya hitam legam, dibiarkan tergerai jatuh melewati bahunya, menciptakan kontras yang luar biasa dengan kulitnya yang tampak putih pucat di bawah pendar lampu neon biru kelab.
Dia sangat cantik. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun tetap feminin, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang dipoles lipstik merah tua tampak penuh. Ada aura misterius sekaligus dingin yang memancar dari dirinya, seolah-olah dia berada di tempat ini tetapi pikirannya melayang di tempat lain. Dari seragam atau gaya bicaranya yang sempat kudengar sekilas saat dia datang tadi, sepertinya dia bukan berasal dari sekolahku. Tampaknya dia adalah salah satu tamu luar yang turut diundang oleh Pedro untuk menghadiri pesta kelulusan ini.
"Ped," aku menyenggol lengan Pedro yang sedang asyik menggoyangkan badannya mengikuti ketukan drum. "Ped, lihat ke sana deh. Itu cewek yang baju hitam di pojokan siapa? Anak sekolah kita? Kok gue gak pernah lihat mukanya selama tiga tahun sekolah?"
Pedro menoleh dengan gerakan lambat khas orang mabuk, menyipitkan matanya yang merah ke arah yang kutunjuk, mencoba memfokuskan pandangannya yang buram. "Oh... itu? Itu... namanya... bentar, gue lupa. Oh ya! Dia temennya sepupu gue, anak sekolah sebelah, si SMA pelat merah itu. Katanya sih lagi suntuk makanya diajak ke sini. Udah, samperin sana, Arka! Jangan jadi penakut lo! Katanya cowok pemberani!" Pedro tertawa keras lalu mendorong bahuku dengan kencang hingga aku hampir tersungkur dari sofa.
Dorongan Pedro, dikombinasikan dengan efek alkohol yang telah memutus urat takut di otakku, membuat keberanianku melonjak drastis. Aku berdiri dengan kaki yang agak limbung, memegangi sandaran sofa sejenak untuk menyeimbangkan tubuhku yang serasa miring ke kiri. Setelah berhasil menguasai diri, aku melangkah membelah kerumunan kecil teman-temanku, berjalan menuju sofa tempat gadis itu berada.
Aku menjatuhkan diriku di sofa kosong tepat di sebelahnya. Gerakanku agak terlalu kasar dan mendadak, membuat sofa kulit itu berdecit dan menyebabkan si gadis sedikit tersentak ke samping, menjauhkan gelasnya agar tidak tumpah.
"Hai," kataku memulai percakapan. Aku harus setengah berteriak tepat di dekat telinganya agar suaraku tidak tenggelam oleh lagu baru yang sedang dimainkan DJ dengan tempo yang lebih cepat. "Sendirian aja di pojokan? Gak gabung sama yang lain di sana? Pesta kelulusan harusnya seru-seruan, bukan merenung kayak lagi nunggu antrean sembako."
Gadis itu menoleh ke arahku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bahwa matanya tampak sayu dan tipikal pandangan dari seseorang yang sudah menegak beberapa gelas minuman keras dengan kadar alkohol tinggi. Dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menilai, dingin namun ada kilat ketertarikan di sana. Sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibirnya yang merah.
"Berisik di sana. Di sini lebih enak, gak perlu pura-pura senang," jawabnya, suaranya terdengar agak serak namun terdengar seksi di telingaku.
Aku tersenyum lebar, merasa mendapatkan lampu hijau. Aku mengulurkan tangan kananku ke depan dadanya. "Gue Arka. Pembuat onar nomor satu di sekolah sebelah."
Dia menatap telapak tanganku sejenak sebelum akhirnya mengangkat tangannya dan menyambut uluran tanganku. Telapak tangannya terasa dingin, kontras dengan suhu tubuhku yang sedang memanas akibat alkohol, namun genggamannya terasa mantap dan hangat. "Astrid."
"Astrid," aku mengulang namanya di dalam hati, melafalkannya dengan perlahan seolah sedang menghafal sebuah mantra penting, memastikan memori otakku yang mulai kacau malam itu tidak akan menghapus nama itu keesokan harinya. "Nama yang bagus. Jadi, Astrid, lo gak suka pesta, ya? Muka lo dari tadi kayak orang yang lagi ditawan musuh, terpaksa banget ada di sini."
Astrid tertawa kecil. Dia menyandarkan bagian belakang kepalanya ke sandaran sofa yang empuk, menatap langit-langit club yang dipenuhi lampu-lampu gantung yang bergerak. "Kelihatan banget, ya? Gue cuma lagi pusing sebenarnya. Banyak tekanan di rumah. Orang tua gue... mereka selalu punya ekspektasi yang gak masuk akal buat hidup gue. ini pertama kalinya gue ke sini, gue di ajak temen gue, gue pikir gue bisa lupa sama semua masalah itu. Tapi ternyata gak segampang itu. Musiknya malah bikin kepala gue makin mau pecah."
Mendengar penuturannya, dadaku berdesir aneh. Aku merasakan sebuah sengatan empati yang mendalam. Gadis ini, yang baru kutemui tidak sampai lima menit yang lalu, ternyata mengalami hal yang sama persis dengan apa yang kurasakan setiap hari di rumah keluarga Albian.
"Wah, kalau itu masalahnya, berarti kita berdua sama dong!" kataku sambil memajukan tubuhku, menatap wajahnya dengan intensitas yang dipicu oleh minuman keras. "Lo tahu gak? Di rumah megah gue yang kayak istana itu, gue harus pura pura jadi robot yang sempurna. Gak boleh salah sedikit pun, gak boleh nakal, harus nurut sama semua omongan orang tua. Malam ini... gue udah gak peduli lagi. Gue ke sini cuma punya satu tujuan gue pengen ngerusak diri gue sendiri, sepuasnya, sampai gak ada lagi yang bisa diatur dari gue." Aku mengangkat gelas baruku yang entah sejak kapan sudah berada di tangan kiriku, menantangnya untuk minum bersama.
Astrid menatapku lekat-lekat. Di dalam matanya yang sayu dan berkabut karena alkohol, aku bisa melihat ada binar pengertian, sebuah rasa frustrasi yang mendalam yang beresonansi dengan kemarahanku sendiri. Dia tidak menjawab kalimatku dengan kata-kata. Sebaliknya, dia mengulurkan tangannya, merebut gelas berisi minuman keras dari genggamanku, lalu dengan satu gerakan cepat, dia meminum isinya langsung hingga tandas tanpa berkedip sedikit pun.
"Bagus," kata Astrid setelah meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas meja dengan ketukan keras. Dia menyeka sisa cairan di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya yang putih. Napasnya yang memburu kini beraroma alkohol yang sangat pekat. Dia menoleh ke arahku, mendekatkan wajahnya hingga aku bisa merasakan kehangatan kulitnya. "Kalau gitu, ayo kita rusak malam ini bareng-bareng, Arka Zayn. Gak usah mikirin hari esok."
Wajahnya tiba-tiba terasa sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Aroma parfum vanila yang manis dan lembut bercampur dengan aroma tajam alkohol dari tubuhnya menyerbu indra penciumanku, menciptakan kombinasi yang memabukkan yang langsung menghancurkan sisa-sisa pertahanan logikaku yang terakhir. Kesadaranku melayang entah ke mana, terlepas dari raganya.
Setelah momen itu, semuanya berjalan seperti sebuah film yang diputar dengan kecepatan ganda namun terpotong-potong. Kami mulai tertawa bersama untuk hal-hal yang sama sekali tidak lucu, saling berbisik di antara dentuman lagu EDM yang memekakkan telinga, menceritakan rahasia-rahasia tergelap kami yang tidak pernah kami katakan pada orang lain, dan tenggelam sepenuhnya dalam dunia kecil yang kami ciptakan sendiri malam itu. Sebuah dunia alternatif di mana tidak ada nama besar keluarga Albian, tidak ada ekspektasi orang tua, tidak ada aturan sosial, dan tidak ada tuntutan kesempurnaan. Yang ada hanya aku, Astrid, dan kegilaan malam kelulusan.
Sampai pada akhirnya, kegelapan total datang merebut seluruh sisa kesadaranku, membawa pikiranku tenggelam ke dalam lubang hitam tanpa dasar.
Pagi pun datang tanpa permisi, menghancurkan kedamaian malam dengan cara yang paling kasar.
Sinar matahari pagi yang terik menembus celah-celah gorden jendela yang tidak tertutup rapat, menciptakan seberkas cahaya putih yang langsung menusuk tepat ke arah kelopak mataku yang tertutup. Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menghantam bagian belakang kepalaku, sebuah sensasi berdenyut-denyut yang rasanya seperti ada seseorang yang sedang memukulkan palu godam ke dalam tengkorakku berulang kali. Efek hangover dari minuman semalam benar-benar menyiksa.
Aku melenguh panjang, membalikkan badanku ke arah kanan untuk menghindari silau matahari yang menyiksa mata. Mulutku terasa sangat kering dan pahit, seperti telah mengunyah tumpukan kertas koran bekas, dan seluruh otot di tubuhku terasa kaku dan pegal seolah-olah aku baru saja habis dipukuli oleh sekelompok orang di jalanan. Aku mencoba mengumpulkan nyawa dan kesadaranku yang masih tercecer di langit-langit kamar asing ini. Aku memaksakan mataku yang terasa sepet dan lengket untuk terbuka sedikit demi sedikit.
Ini jelas bukan kamarku di mansion Albian. Kamarku tidak memiliki langit-langit sewarna abu-abu semen seperti ini, dan aroma ruangan ini tidak berbau lavender berkelas melainkan aroma sisa alkohol yang menguap bercampur parfum vanila yang samar. Ini adalah sebuah kamar hotel, atau mungkin apartemen mewah, aku tidak tahu pasti.
Saat aku berniat untuk mengubah posisi tidurku sekali lagi, menggerakkan tangan kananku ke atas kasur untuk mencari bantal tambahan guna menghalau rasa pening, jemariku menyentuh sesuatu. Sesuatu yang teksturnya sangat berbeda dari kain sprei katun yang dingin. Sesuatu yang lembut, kenyal, dan... hangat. Itu adalah kulit manusia.
Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika saat itu juga. Seluruh rasa pening yang tadi membakar kepalaku mendadak menguap, digantikan oleh gelombang kejutan adrenalin yang dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepala. Rasa syok membuat mataku yang tadinya mengantuk langsung terbelalak lebar, melotot kaku ke arah langit-langit ruangan. Otakku yang masih setengah lumpuh akibat sisa alkohol dipaksa untuk bekerja keras, memutar kembali potongan-potongan memori malam tadi yang buram dan kacau. Pesta kelulusan... Pedro... minuman keras... sofa VIP... dan seorang gadis berbaju hitam.
Dengan gerakan yang sangat kaku, lambat, dan penuh ketakutan seperti seorang prajurit yang sedang mendekati bom yang siap meledak aku menolehkan kepalaku ke samping kanan. Aku menelan ludah dengan susah payah, tenggorokanku terasa mampat.
Di balik selimut putih tebal yang sudah berantakan dan kusut di atas tempat tidur, seorang gadis tengah tertidur dengan sangat lelap. Wajahnya menghadap ke arahku, tampak begitu tenang dalam tidurnya yang dalam. Rambut hitam legamnya yang panjang kini tampak acak-acakan, tersebar berantakan di atas bantal putih yang menopang kepalanya. Kulit bahunya yang tidak tertutup selimut tampak kontras di bawah cahaya matahari pagi yang remang-remang.
Dia adalah Astrid. Gadis misterius yang baru saja kukenal semalam di kelab malam milik ayah Pedro.
Napasnya yang teratur berembus pelan, naik turun secara konstan, menandakan bahwa dia masih berada jauh di dalam alam mimpinya, sama sekali tidak menyadari kepanikan luar biasa yang sedang melanda pria di sebelahnya. Aku membeku di tempat, tidak berani menggerakkan satu pun otot tubuhku, bahkan untuk bernapas pun aku melakukannya dengan sangat pelan karena takut suara napasku bisa membangunkan gadis itu.
Pikiranku langsung kacau balau, berputar-putar seperti angin puting beliung yang menghancurkan segala logika yang kupunya.
Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa kami bisa berakhir di kamar ini? Di atas kasur yang sama? Apa yang sudah kami lakukan dalam keadaan mabuk berat tanpa kesadaran penuh?
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi dan pelipisku, membasahi bantal yang kutiduri. Otakku langsung memproyeksikan skenario-skenario terburuk yang bisa menghancurkan sisa hidupku dalam sekejap. Jika berita ini sampai ke telinga Ayah, jika media sampai mengendus bahwa anak keempat dari keluarga pengusaha sukses Albian terlibat dalam skandal malam kelulusan di sebuah kamar dengan seorang gadis yang baru dikenalnya semalam... aku tahu tamat sudah riwayatku. Kak Andra akan mengulitiku hidup-hidup, Ibu mungkin akan pingsan karena menanggung malu, dan Ayah... Ayah tidak akan ragu untuk mencoret namaku dari silsilah keluarga dan membuangku ke jalanan tanpa sepeser uang pun.
Aku menatap wajah Astrid sekali lagi dengan perasaan campur aduk yang mengerikan antara rasa bersalah, ketakutan yang melumpuhkan, dan kepanikan massal yang membuat dadaku terasa sesak bergemuruh. Benang merah takdir tampaknya telah terikat dengan cara yang paling kacau dan berbahaya di antara kami berdua, dan pagi ini, fajar menyingsing bukan untuk membawa harapan, melainkan untuk memulai sebuah badai besar yang siap memporak-porandakan hidupku.