"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Gedung pencakar langit Addison Group perlahan mulai meremang di bawah siraman cahaya lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Di dalam ruang kerja Pimpinan Audit Pusat, keheningan kembali bertahta setelah kegaduhan yang luar biasa siang tadi. Gavin telah diseret keluar oleh tim keamanan, lengkap dengan pengawalan dari pihak kepolisian dan tim hukum yang membawa map merah berisi berkas tuntutan pencucian uang. Eksekusi pertama Gaby berjalan dengan kesuksesan mutlak yang bersih tanpa celah.
Namun, alih-alih merasa lega dan merayakan kemenangannya, Gaby justru terduduk diam di balik meja mahoninya yang megah. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah pemandangan metropolitan di balik dinding kaca besar. Pikirannya tidak lagi tertuju pada nasib malang Gavin atau bagaimana histerisnya Luna saat tim hukum Addison Group menyegel aset perusahaan kosmetik Papa mereka beberapa jam lalu.
Pikiran Gaby justru melayang jauh, terkunci pada gema suara serak nan angkuh milik Nyonya Besar Eleanor Cavanaugh di meja sarapan tadi pagi.
"...akan tetapi, bukankah kamu belum mengenal siapa dan bagaimana keluarga suamimu yang sebenarnya? Kamu masuk ke rumah ini sebagai orang asing yang buta sejarah, tanpa tahu rahasia apa yang tertulis di balik dinding-dinding marmer ini! Yakin kamu bakalan diterima oleh sisa keluarga besar Addison yang lain?"
Kata-kata itu bagai duri yang tidak sengaja tertancap di sudut hati Gaby. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin dalam duri itu menusuk, memicu rasa penasaran yang amat sangat.
Gaby menarik napas dalam-dalam, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit. Benar. Apa yang dikatakan wanita tua itu adalah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Gaby memang telah sah menyandang status sebagai Nyonya Addison. Ia memegang cincin berlian di jarinya, memiliki kekuasaan atas divisi audit, dan mendiami rumah bak istana. Namun, jika ia menilik ke dalam dirinya sendiri, apa yang sebenarnya ia ketahui tentang Edgar Emiliano Addison?
Hampir tidak ada.
Bagi Gaby, Edgar adalah sosok penyelamat yang datang di titik terendah hidupnya. Pria matang yang berwibawa, penuh perlindungan, kejam kepada musuh, namun teramat lembut dan memanjakannya. Gaby tahu Edgar adalah penguasa absolut Addison Group, pria berdarah dingin yang disegani di dunia bisnis internasional. Tapi di luar itu? Tentang bagaimana silsilah keluarga besarnya, mengapa Edgar tampak begitu terisolasi dari kerabatnya yang lain, atau mengapa pernikahan masa lalunya dengan ibunya Gavin bisa menjadi neraka bisnis yang dipenuhi jebakan Gaby benar-benar buta.
"Siapa sebenarnya keluarga yang Mas Edgar sembunyikan dariku?" bisik Gaby pada kegelapan ruangannya yang mulai pekat.
Cklek.
Pintu ruang kerja ganda itu terbuka perlahan tanpa ketukan. Gaby tersentak kecil dari lamunannya, langsung membetulkan posisi duduknya. Dari balik remang cahaya lobi luar, sosok tinggi tegap Edgar melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja hitam pekat yang tiga kancing teratasnya sengaja dibuka, memberikan kesan maskulin yang matang dan santai.
"Sudah malam, Sayang. Kenapa belum bersiap untuk pulang?" suara bariton Edgar memecah keheningan, mengalun rendah dan hangat.
Edgar berjalan mendekat, lalu duduk di tepi meja kerja Gaby, menatap istrinya dengan binar mata elang yang penuh perhatian. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut pucuk kepala Gaby yang tampak lesu. "Miranda bilang kau melewatkan makan siangmu setelah mengusir Gavin. Ada apa? Apakah berkas-berkas korupsi itu membuat kepalamu sakit?"
Gaby menatap wajah tampan suaminya. Garis rahang yang tegas, tatapan mata yang dalam, dan aura dominan yang selalu melingkupi Edgar. Ada rasa bersalah yang menggelitik nurani Gaby karena menyimpan keraguan, namun rasa penasarannya jauh lebih besar.
"Tidak, Mas. Pekerjaan auditnya sudah selesai dan semuanya berjalan lancar," Gaby tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan badai di dalam kepalanya. Ia meraih tangan besar Edgar yang ada di atas meja, menggenggamnya dengan kedua tangan kecilnya. "Aku hanya... sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa?" Edgar menyipitkan matanya sedikit, menangkap ada riak kegelisahan yang tidak biasa dari sepasang manik mata istrinya. Ia memajukan tubuhnya, menangkup dagu Gaby agar wanita itu menatapnya lurus. "Katakan padaku, Gaby. Antara kau dan aku, tidak boleh ada rahasia yang mengganjal. Apakah ini masih soal Gavin?"
Gaby menggeleng perlahan. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Ini bukan tentang Gavin, Mas. Ini tentang... ucapan Nyonya Eleanor tadi pagi di meja sarapan."
Seketika, tubuh Edgar menegang kecil. Meski gerakannya sangat samar, Gaby yang memiliki ketelitian tinggi dapat merasakannya dengan jelas melalui genggaman tangan mereka. Sorot mata Edgar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedalam lautan malam dingin, misterius dan sulit ditebak.
"Apa yang dikatakan wanita tua itu hingga membuat istriku melamun di kegelapan seperti ini?" tanya Edgar, nadanya datar namun ada penekanan yang berat di setiap suku katanya.
"Dia bilang... aku belum mengenal siapa keluarga suamiku yang sebenarnya. Dia bilang aku masuk ke rumah ini sebagai orang asing yang buta sejarah," Gaby berbisik jujur, menatap langsung ke dalam manik mata Edgar dengan tatapan memohon penjelasan. "Dan setelah kupikirkan kembali, apa yang dia katakan ada benarnya, Mas. Aku sudah menjadi istrimu, aku menyandang namamu, tapi aku bahkan tidak tahu siapa saja sisa keluarga Addison yang dia maksud. Mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang hadir di pernikahan kita? Mengapa Mas seolah menjauhkan aku dari mereka?"
Edgar diam. Keheningan yang mendadak tercipta di antara mereka terasa begitu pekat dan menekan udara di sekitar. Edgar menarik tangannya dari dagu Gaby, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju dinding kaca, membelakangi istrinya. Punggung tegapnya yang luas tampak seperti tembok raksasa yang menyimpan ribuan rahasia kelam.
Gaby ikut bangkit dari kursinya. Ia melangkah perlahan mendekati punggung Edgar, tidak ingin menyerah begitu saja. "Mas... aku tidak bermaksud mencampuri urusan masa lalumu yang menyakitkan. Tapi aku adalah istrimu sekarang. Jika di masa depan keluarga besar Addison datang menyerangku seperti yang dilakukan Eleanor tadi pagi, aku tidak ingin berdiri sebagai orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Aku ingin tahu siapa musuhku, dan siapa yang harus kuhadapi di sampingmu."
Mendengar kalimat terakhir Gaby, bahu Edgar perlahan melunak. Pria matang itu membalikkan tubuhnya, menatap Gaby dengan tatapan yang bercampur antara rasa kagum dan kepedihan yang teramat dalam yang selama puluhan tahun ini selalu ia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya.
Edgar menghela napas panjang, sebuah suara helaan yang sarat akan beban masa lalu yang teramat berat. Ia mengulurkan kedua tangannya, menarik Gaby ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu erat-erat di dadanya yang bidang.
"Kamu benar, Gaby. Maafkan aku," bisik Edgar tepat di sisi kepala Gaby, mengecup rambut istrinya dengan sayang. "Aku menjauhkanmu dari mereka bukan karena aku tidak mempercayaimu. Justru sebaliknya... aku melakukan ini karena aku terlalu mencintaimu dan ingin melindungimu dari kegilaan keluarga Addison."
Edgar melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap memegang kedua bahu Gaby, menatapnya dengan keseriusan yang mutlak. "Keluarga Addison yang kamu lihat sekarang dinasti bisnis yang megah ini bukanlah sebuah keluarga yang dipenuhi oleh kasih sayang, Gaby. Tempat ini adalah sebuah labirin berdarah yang dipenuhi oleh manusia-manusia gila harta, kekuasaan dan ambisi."
Edgar berjalan kembali menuju sofa kulit di sudut ruangan, memberi isyarat agar Gaby ikut duduk di sampingnya. Gaby menurut, duduk dengan posisi tubuh yang condong ke arah Edgar, siap mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Ayahku adalah seorang pria yang tidak pernah memandang anak-anaknya sebagai manusia, melainkan sebagai aset bisnis," Edgar memulai ceritanya dengan suara bariton yang dingin. Matanya menatap lurus ke depan, menerawang garis waktu dua puluh lima tahun yang lalu. "Aku memiliki dua saudara laki-laki tiri dan satu saudara perempuan kandung. Di dalam keluarga kami, sejak kecil kami diajarkan untuk saling menjatuhkan. Siapa yang paling kuat, dialah yang berhak memegang takhta Addison Group."
Gaby mendengarkan dengan napas yang tertahan. Konsep keluarga seperti itu terasa begitu asing dan mengerikan bagi dirinya yang tumbuh di lingkungan biasa.
"Dua puluh lima tahun yang lalu, saat aku mulai mendominasi perusahaan dan bersiap merebut posisi pimpinan tertinggi, saudara-saudara tiriku merasa terancam," lanjut Edgar, seringai sinis dan kejam muncul di bibirnya. "Mereka bersekongkol dengan keluarga Cavanaugh keluarga Eleanor. Mereka tahu aku adalah pria yang sangat menjaga integritas dan sulit dijatuhkan melalui jalur bisnis. Karena itulah, mereka menggunakan cara yang paling menjijikkan."
"Jebakan malam itu..." cicit Gaby, teringat ucapan Edgar di meja sarapan pagi tadi.
"Ya," Edgar mengangguk, rahangnya kembali mengeras. "Eleanor dan anak perempuannya, dibantu oleh saudara tiriku, menjebakku di sebuah acara perjamuan bisnis. Mereka mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku hingga aku kehilangan kesadaran penuh. Saat aku terbangun keesokan paginya, ibunya Gavin sudah ada di ranjangku, dan seluruh media cetak serta dewan direksi sudah bersiap di depan pintu."
Edgar mengepalkan tangannya di atas lutut hingga urat-urat birunya menonjol kasar. "Ayahku yang gila reputasi langsung memaksaku untuk menikahi wanita itu demi menjaga nama baik saham Addison Group. Pernikahan itu adalah awal dari neraka. Saudara-saudara tiriku mengira dengan mengikatku pada wanita serakah dari keluarga Cavanaugh, mereka bisa mengendalikan jalannya perusahaan lewat mertuaku. Dan sembilan bulan kemudian, Gavin lahir ke dunia sebagai alat politik mereka untuk merebut takhta masa depan."
Gaby merasakan hatinya mencelos, dirayapi oleh rasa simpati dan kepedihan yang luar biasa untuk suaminya. Ia bisa membayangkan betapa kesepian dan tertekannya Edgar muda saat itu harus hidup dalam pernikahan tanpa cinta, dikelilingi oleh musuh yang berkedok sebagai keluarga, dan memiliki anak yang kehadirannya murni didasari oleh sebuah konspirasi jahat untuk menghancurkannya.
Gaby mengulurkan tangannya, mengusap kepalan tangan Edgar dengan kelembutan yang menenangkan. "Lalu... di mana mereka semua sekarang, Mas?"
Edgar menatap tangan Gaby yang mengusap jemarinya, dan perlahan kepalan tangannya mengendur. Ia membalik tangannya, ganti menggenggam jemari Gaby dengan erat.
"Setelah ibunya Gavin meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, aku tidak lagi menahan diri, Gaby," ucap Edgar, kilat mata elangnya memancarkan kekejaman seorang penguasa sejati. "Aku melakukan pembersihan besar-besaran di dalam dinasti Addison. Aku mendepak kedua saudara tiriku dari jajaran pemegang saham, menyita seluruh aset mereka yang terindikasi hasil korupsi, dan mengasingkan mereka ke luar negeri dengan pengawasan ketat. Siapa pun dari keluarga besar Addison yang berani memprotes keputusanku, aku hancurkan bisnis pribadi mereka hingga tidak tersisa sepeser pun."
Edgar menyunggingkan senyuman dingin yang penuh kemenangan. "Itulah alasan mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang hadir di pernikahan kita kemarin. Mereka tidak berani menampakkan wajah di depanku karena mereka tahu, sekali saja mereka membuat kesalahan atau mengusik ketenanganku... aku tidak akan ragu untuk melenyapkan apa yang tersisa dari hidup mereka."
Edgar menangkup wajah Gaby dengan kedua tangannya, menatap langsung ke dalam manik mata istrinya dengan tatapan yang sangat posesif namun dipenuhi komitmen mutlak.
"Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan ucapan Eleanor, Sayang. Sisa keluarga Addison yang dia maksud hanyalah sekumpulan pecundang yang saat ini sedang merangkak di luar negeri, terlalu takut bahkan untuk sekadar menyebut namaku. Di dalam dinasti ini, akulah hukumnya. Dan sebagai istri dari seorang pria mahal, posisimu di sampingku tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh sejarah busuk mereka."
Mendengar seluruh penjelasan yang begitu jujur, telanjang, dan sarat akan perlindungan dari Edgar, seluruh rasa penasaran dan keraguan di hati Gaby menguap tanpa sisa. Labirin hitam di balik nama Addison yang sempat membuatnya cemas kini terasa terang benderang. Gaby menyunggingkan senyuman terbaiknya, senyuman seorang ratu yang siap mendampingi rajanya memimpin sebuah kekaisaran yang megah namun dingin.
"Aku paham sekarang, Mas," ucap Gaby lembut, menyandarkan keningnya pada kening Edgar, menikmati keintiman mereka yang semakin dalam. "Terima kasih karena sudah membagikan bagian tergelap dari hidupmu bersamaku. Mulai hari ini, aku tidak akan lagi mendengarkan perkataan orang lain. Aku hanya akan mempercayai suamiku."
Edgar terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang sarat akan kepuasan maskulin. Ia mengecup bibir Gaby dengan sekilas namun penuh penekanan yang manis.
"Itu jawaban yang ingin kudengar dari ratuku. Sekarang, mari kita pulang. Nyonya Addison sudah bekerja terlalu keras hari ini."
Gaby mengangguk mantap, menggandeng lengan kokoh Edgar saat mereka melangkah keluar dari ruang kerja yang megah itu. Bersama Edgar Emiliano Addison, Gaby tahu bahwa di balik setiap dinding marmer yang menyimpan rahasia kelam, ia akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang memegang kunci tertinggi atas hati sang penguasa.