NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Hutan

​Sejak Ekspedisi Pamalayu dilancarkan oleh Singasari pada tahun 1275, cengkeraman kekuasaan Jawa atas tanah-tanah Melayu semakin mengeras seperti jerat besi.

Bukan hanya ke Dharmasraya. Bahkan sekarang, hanya dalam enam tahun seluruh kerajaan kecil termasuk Dharmapuri telah jatuh secara administratif.

Panji-panji Singasari berkibar di pos-pos garnisun tiap desa, dan hukum dari tanah jawa diterapkan tanpa kompromi. Namun, di balik ketundukan yang dipaksakan itu, ruh perlawanan tak pernah benar-benar padam.

Di rimbunnya hutan dan lembah, para jawara Silek Harimau bergerak bagai hantu kelaparan.

Mereka tidak mengangkat panji.

Mereka menyergap dalam semak belukar.

Kerambit melengkung mereka menyambar, merobek kulit dan daging dengan ganas.

Beberapa patroli kecil Singasari lenyap tanpa jejak, hanya menyisakan darah yang diserap tanah. Hal itu memaksa prajurit Singasari mengubah taktik.

Tak ada lagi patroli dua orang. Kini mereka bergerak dalam regu besar, bersenjata lengkap, dengan perintah tunggal, tangkap atau bunuh bagi siapa pun yang berani menentang.

Di tengah ketegangan itu…

Hattori yang kini menggunakan tubuh dan nama Sena mengasingkan diri.

Tiga bulan lebih di Puncak Harau telah mengubahnya secara menyeluruh. Tubuhnya yang dulu kurus dan dipenuhi luka kerja rodi kini liat dan padat, seperti rotan tua yang direndam minyak.

Otot-ototnya tidak membesar berlebihan, tetapi mengeras di tempat yang tepat. Kulitnya menjadi gelap terbakar matahari dan angin gunung.

Sementara matanya---mata itu---kini telah kehilangan sisa-sisa kepolosan seorang remaja desa, berganti dengan mata seorang Jonin, dan… Hattori kini benar-benar telah selaras dengan tubuh barunya, tubuh Sena Sanjaya.

Pagi-pagi perutnya berbunyi pelan, sebuah isyarat yang tak bisa diabaikan. Persediaan umbi dan buah hutan menipis.

Ini saatnya menguji satu teknik yang selama ini hanya ia latih secara teoritis: Shinobi Iri, seni melangkah tanpa jejak dan tanpa niat mendekati target, teknik lanjutan dari Shinobi Aruki.

Sena merendahkan pusat gravitasinya, membiarkan tubuhnya condong mengikuti kontur tanah. Seluruh berat badannya bertumpu pada ujung luar telapak kaki, sementara jari-jari kakinya mencengkeram tanah seperti akar.

Tak jauh dihadapannya, seekor kelinci hutan menyesap embun di dedaunan pakis. Telinga hewan itu tegak, bergetar, menangkap setiap anomali di udara.

Sena mematung tak bergerak, namun matanya tak berkedip mengunci mangsanya.

"TOH," batinnya memerintah.

Ia membentuk segel tangan Harmoni, jari-jarinya bergerak dengan presisi yang kini terasa alami, menekan saraf-saraf di tangannya dengan tekanan paling ringan.

Perlahan, ritme tubuhnya melambat. Napasnya menipis hingga nyaris tak ada, detak jantungnya turun ke batas paling rendah yang bisa dicapai manusia tanpa pingsan.

Dalam persepsi alam, Sena bukan lagi makhluk hidup. Ia hanyalah seonggok gundukan tanah, atau mungkin hanya sebongkah batu.

Sang kelinci kembali tenang, tertipu oleh keheningan semu itu.

Sena beralih ke segel RETSU. Jarinya menekan saraf-saraf yang lain, pupil matanya mengecil, pandangannya terfokus, persepsinya menajam drastis. Dunia seakan terbelah menjadi garis-garis vektor dan sudut.

Ia menghitung jarak, kemiringan tanah, arah angin, hingga kemungkinan lintasan lompatan mangsanya. Ia memprediksi gerakan sang kelinci.

Saat kaki kelinci itu bergeser sedikit, hanya sepersekian detik, nalurinya seolah berteriak dan bersiap melompat kapan saja.

Tap—!

Dalam satu ledakan gerakan yang hampir tak kasatmata, Sena sudah berada di titik target. Tangannya menyambar cepat, memegang tengkuk mangsanya dengan tekanan yang tepat.

Kelinci itu meronta sejenak, lalu lunglai. Tidak ada jeritan. Tidak ada penderitaan berlebihan.

"Berhasil," gumamnya, senyum tipis terlintas di wajahnya, meski kepalanya sedikit pening sejenak.

Namun kegembiraan kecil itu lenyap seketika. Tatkala indera pendengarannya menangkap suara asing. Bukan gesekan dahan oleh angin, melainkan patahan ranting kering yang terinjak ceroboh di lereng bukit. Langkah manusia.

Sena segera merunduk, memadamkan keberadaannya di balik semak tinggi.

Di jalur setapak tersembunyi di bawah sana, tiga sosok muncul dari balik kabut tipis. Balun berdiri paling depan, tubuh gempalnya tampak menyusut oleh ketakutan. Wajahnya pucat, matanya cekung. Di belakangnya, bersama kedua rekan setianya, Jagu dan Danta. Mereka menggenggam parang dan memotong ranting-ranting yang menghalangi jalan mereka.

"Aku yakin melihat asap api kecil dari arah sini kemarin malam," bisik Jagu.

Balun menyeka keringat dingin di dahi. Matanya menyapu sekeliling dengan ambisi bercampur takut. "Cari dengan teliti. Kalau kita bisa menyerahkan Sena ke Tuan Purwa, kita bebas dari upeti bulan depan. Paham?"

Jagu dan Danta mengangguk. Mereka terus bergerak naik. Balun melangkah tepat ke arah area latihan Sena. Tangannya menyibak semak terakhir. Membuat mata Balun membelalak.

Sisa api unggun yang masih hangat. Jejak kaki yang tampak jelas. Ia mendongak ke atas, ke arah rimbunan pohon meranti raksasa yang menjulang tinggi.

"Sena... kau dimana, keluar..." suaranya sedikit bergetar.

Di atas mereka, di dahan meranti tua, Sena berjongkok tanpa bergerak. Matanya mengunci leher Balun, menilai jarak dan sudut dengan dingin.

Terlihat Balun melangkah ragu. Kakinya menginjak abu hangat. "Sena! Keluar kau!... Jangan jadi pengecut!" teriaknya tegas, namun lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sena membentuk segel SHA. Kendali atas saraf motorik dan pita suaranya meningkat. Dihadapan jiwa Hattori Zen, ketiganya sama sekali bukan ancaman. Mereka adalah sarana uji.

"Tempat ini... tidak beres," bisik Danta, "Jejaknya... kenapa hilang begitu saja disini?"

KRIETT.…

Terdengar derit dahan bergeser di sisi kanan mereka. Ketiganya serentak menoleh, parang mereka terangkat. Namun tak ada apa-apa.

Lalu tawa lirih tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka.

“kik kik.. Kik kik…kik kik...”

"Siapa itu?!" Balun spontan berputar. Kabut Harau mulai merayap naik.

Sena berpindah posisi. Dari dahan ke dahan. Nyaris tanpa suara. Rongga pohon dan tebing menjadi pemantul suara, menambah suasana semakin mencekam.

"Pergiii... dariii... siniiii..." Suara berat itu bergema seolah datang dari bawah kaki Balun dan kawan-kawannya.

"Si.. Si.. Siapa itu!" Bibir Jagu bergetar dan tergagap.

"Sepertimya itu… penunggu hutan!" teriak Danta menimpali. Dadanya naik turun, napasnya terasa sesak. Membuat mental mereka bertiga semakin tertekan.

Sena menyentil buah keras ke semak kiri.

SREK.…

"Di sana!" Balun menunjuk. Mengacungkan padangnya dengan gemetaran.

Saat mereka menoleh, Sena sudah melompat ke dahan lain dan berpindah tempat dan menjatuhkan segumpal tanah yang lembab ke pundak Balun.

Sontak Balun menjerit. Tanah lembab itu terasa dingin seperti tangan mayat.

"Tumbal... butuh... tumbal..." Lagi-lagi Sena menggunakan teknik suara yang mengguncang psikologi mereka bertiga.

"AAAAAAKH! ADA HANTU!"

“SIAMPA…”

Balun lari terbirit-birit. Kedua temannya menyusul dengan langkah terponting panting, menabrak semak berduri tanpa mempedulikan luka-luka di tubuh mereka.

Hingga suara teriakan dan langkah kaki mereka yang gaduh perlahan lenyap di kejauhan lereng bukit.

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti Puncak Harau. Kabut seolah menutup kembali tirainya, merahasiakan apa yang baru saja terjadi.

Sena turun dari pohon dengan pendaratan yang kokoh dan nyaris tanpa suara sama sekali. Ia berdiri tegak, menatap jalur setapak yang kini kosong.

Napasnya kembali normal, detak jantungnya kembali ke ritme manusia biasa.

"Kadang, rasa takut adalah senjata yang jauh lebih tajam dan efisien daripada sebilah pedang." gumam Sena datar.

Ia memungut kembali kelinci buruannya yang sempat ia letakkan di semak. Namun, raut wajahnya kembali mengeras. Matanya menatap ke arah desa di bawah sana.

Balun kini sudah tahu bahwa ada seseorang di puncak Harau. Jika Balun melaporkan bahwa tempat ini hanya "berhantu", mungkin orang-orang desa yang percaya takhayul akan menjauh dan memberinya waktu lebih banyak untuk berlatih.

Tapi Sena tidak bodoh. Bagaimana jika prajurit Singasari yang dipimpin oleh orang-orang skeptis dan haus darah seperti Purwa mendengar laporan tentang hantu? Apa mereka akan menghindari tempat ini?

Sepertinya tidak, Kemungkinan besar mereka justru akan mengirim regu pembersih untuk membakar hutan ini sampai rata dengan tanah.

“Purwa!” gumam Sena dalam hati. Nama itu seperti racun di lidahnya. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Niat membunuhnya yang selama ini ditekan kini membuncah, memberikan energi panas yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!