Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman rekayasa
"Jadi penasaran siapa papa lo," cuit Aditama dengan nada penuh ejekan.
Wanda diam saja karena hatinya masih sakit dengan perkataan mamanya Aditama. Papanya sudah meninggal. Mamanya dulu sering mengajaknya ziarah. Sekarang dia tidak bisa lagi mengunjungi makamnya karena sangat jauh. Dulu mereka naek kereta tiap mau ke sana. Hampir setengah hari.
Hanya makam mamanya yang masih bisa dia kunjungi. Itu pun terakhir dua bulan yang lalu saat neneknya mengajaknya.
"Beneran yang mama bilang, papamu suami orang?" ejek Aditama lagi.
Wanda masih diam. Enggan membuka mulut. Dia juga ngga akan mengatakan apa apa walaupun kali ini dia ingin membela harga diri mamanya. Buat apa. Tidak akan dipercaya. Malah Aditama akan makin menindasnya.
"Heh.... Kalo ditanya jangan planga plongo. Dijawab," sewot Aditama kesal karena dicuekin.
"Mau gue laporin ke mama biar ditampar, haah!" Aditama sampai menolehkan wajahnya yang penuh ancaman ke arah Wanda yang duduk di belakangnya.
Wanda mendongak menatapnya. Aditama agak tersentak melihat mata Wanda yang berkaca kaca.
"Cengeng lo." Dia membuang tatapannya ke arah di depannya. Tidak bertanya lagi.
"Papanya mba Wanda sudah meninggal, tuan." Pak Supri yang menjawab. Dia merasa kasian sejak kedatangan Wanda ke rumah, nyonya-nya selalu marah marah pada Wanda, juga perlakuan kasar nyonya-nya. Anehnya hanya terhadap Wanda saja beliau begitu. Dengan art yang lain, nyonya selalu baik dan sabar.
Apalagi tuan mudanya. Kelakuannya sama saja dengan nyonya-nya.
"Hemm....," dengus Aditama ngga ramah. Dia ngga butuh jawaban supirnya.
Mobil terus melaju ke arah sekolah tanpa Aditama mengoceh lagi.
*
*
*
Kian memperhatikan lagi Wanda yang sedang berjalan bersama Aditama dengan tas si lemah itu di punggungnya.
Dia menghela nafas.
"Sabar, bentar lagi Wanda jadi asisten lo." Azka yang berdiri di samping Kian berucap, seakan tau yang dipikirkan kembarannya.
"Kita jangan cari masalah dengan dia dulu. Bu Elia lagi garang," komen Alen walau tangannya sudah geram mau memukul Aditama yang menyebabkan mereka harus membersihkan kamar mandi.
"Tenang, aku udah bayar Pak Aji. Nanti dia.yang akan bersihin seperti biasa. Kita nongkrong aja di depan kamar mandi setelah pulang sekolah." Naresh berkata kalem.
"Syukurlah." Senyum senyum mereka menyeruak lebar.
"Ngga bakal ketahuan, kan?" Zio bertanya dengan nada khawatir.
"Enggak. Santai aja." Denish menyahut.
"Suruh anak anak yang pake toilet aja jangan jorok," sergah Gio.
"Lagian kapan mereka jorok," sanggah Reyhan kemudian tertawa pelan.
"Sebal aku dengan Bu Elia. Kalo dia jadian sama Om Ezra, dia bakal ngatur ngatur kita, nggak?" omel Alen.
"Paling dia ngatur Dylan," kekeh Emil. Dylan terkekwh pelan.
Sebentar lagi Aditama akan melewati mereka.
"Kantin aja, yuk. Males aku lihat mukanya." Setelah berkata begitu Denish melangkah lebih dulu diikuti yang lainnya.
"Mau mukul, ya?" tawa Alen disahuti yang lain juga. Itu yang ingin dia lakukan.
Sebelum pergi Kian melirik Wanda yang ternyata sedang menatapnya juga. Hanya sesaat karena Wanda dengan cepat memalingkan tatapannya. Mungkin takut ketahuan Aditama. Hati Kian terenyuh lagi melihat wajah murung itu.
*
*
*
Siapa pun yang menggunakan kamar mandi, wajib ikut membersihkan. Itu aturan mereka. Kedua kelompok itu selain memiliki aturan yang sama juga ternyata menghired Pak Aji juga.
Untungnya Bu Elia tidak terlalu mengawasi kerjaan mereka. Mungkin Bu Elia hanya ingin memberikan shock terapi saja.
Sayangnya trik itu baru diketahui Azula dan ketiga temannya.
"Kurang ajar mereka," maki Azula kesal. Dia sudah ngga tahan lagi dengan seragamnya yang basah oleh keringat. Begitu juga ketiga temannya. Bahkan tadi mereka sempat mual dan muntah muntah. Padahal kamar mandi dan toilet juga bersih. Jejak sepatu pun tidak terlalu terlihat.
"Harusnya tadi kita lihat cara kerja mereka," omel Raya.
"Besok kita cuma ngawasin aja. Aku udah bayar ke Pak Aji," sungut Donna nyesal karena Pak Aji ternyata bisa diso-gok.
Azula mendengus kesal
"Sudahlah, yang penting besok kita sudah ngga ngerjain kerjaan ini," lerai Richi. Tubuhnya pegal pegal karena mengepel lantai tadi.
*
*
*
Pak.Aji menemui Bu Elia di ruagannya. Wajahnya tampak senang saat menceritakan kejadian hari ini.
Elia tersenyum mendengarnya.
"Nanti Pak Joko dan Pak Timo akan membantu saya, bu. Sama seperti hari hari biasa." Pak Aji menyebutkan rekan rekan sesama cleaning service di sekolah ini. Dia akan membagi uang yang anak anak itu berikan pada mereka juga.
Elia mengambil sebuah amplop yang cukup tebal dari dalam tasnya.
"Ini buat bapak dan yang lainnya."
"Ngga usah, bu. Anak anak sudah memberikan saya sangat banyak," tolak Pak Aji sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngga apa apa, pak. Anggap aja bonus."
"Terimakasih banyak, bu."
"Sama sama, pak." Bagi Elia yang penting anak anak itu merasa terhukum dan kapok melakukan perkelahian lagi.
Baru saja Pak Aji meninggalkan ruangannya yang pintunya memang dibiarkan terbuka, Elia agak terkejut melihat siapa yang barusan masuk. Laki laki yang sulit dihubungi sejak kemarin.
"Aku salut dengan rencanamu." Ezra yang tidak sengaja mendengar menyunggingkan senyum lebarnya.
Elia hanya menatapnya dengan sorot kesal. Kenapa dia malah datang?
"Maaf tidak angkat telpon atau balas pesannya. Aku lupa.kalo ponselnya lowbat." Ezra mengerti dengan tatap kesal Elia. Bukan hanya gurunya ini yang kesal, maminya juga marah karena menelponnya juga kemarin dan tidak dia terima.
Kemarin dia terlalu sibuk sampai lupa untuk mencharge ponsel yang dikhususkan untuk keluarganya saja.
"Ya, tidak apa apa." Elia mengeluarkan amplop dengan warna yang berbeda untuk diberikan pada Ezra. Dia sudah menyiapkan kelebihan uangnya kemarin karena bermaksud menitipkan saja pada salah satu siswinya.
Ezra menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik diberikan untuk cleaning servis atau sekuriti saja," saran Ezra.
"Baiklah kalo begitu."
Elia.mengacuhkan laki laki ini setelah menyimpan amplop itu ke dalam tas. Maksudnya mengusirnya secara halus.
"Tadi saya ada meeting di dekat sini. Bagaimana kalo.saya traktir makan siang? Sebagai permintaan maaf," tawar Ezra santai dengan sikap pengabaian guru bp itu terhadapnya.
"Saya---" Elia bermaksud menolak tapi ucapannya dipotong Ezra.
"Ada yang mau saya bicarakan juga tentang keponakan keponakan saya. Ini dari mami mami mereka."
Kalo alasan begini, Elia sulit menolak.
"Saya tentukan tempatnya, ya." Ezra merasa menang karena guru bp ini tidak punya alasan untuk tidak menerima ajakannya.
Dalam hati dia beruntung punya keponakan keponakan yang bermasalah.
*
*
*
"Es teh buat Tama dan teman temannya, ya?" tegur Kian. Dia yang juga berada di kantin bersama csnya langsung mendekati Wanda ketika melihat cewe itu kerepotan membawa dua kantong plastik besar yang berisi banyaknya cup es teh.
"Iya."
Kian tersenyum. Pertemuan pertama mereka juga begini, saat Kian membantu Wanda membawakan gelas gelas plastik yang berisi es teh.
Saat Kian akan membantunya lagi dengan mengambil satu kantong plastik besar dari salah satu tangannya, Wanda menolak.
"Jangan. Aku masih bisa." Wanda ingat, setelah itu tiap kebaikan Kian yang diketahui Aditama malah membuat anak majikannya marah besar. Hukuman untuknya malah lebih banyak.
Kian tidak memaksa. Dia akhirnya tau Wanda tambah disiksa Aditama karena pertolongannya.
Dia geram tapi mencoba bersabar karena menunggu kabar dari daddynya.
Tapi baru satu langkah, Wanda menghentikannya dan berpaling pada Kian.
"Kian, jangan bantu aku lagi. Kamu jadi ikutan susah, kan."
Kian tersenyum.
"Ngga apa apa."
Wanda menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk dan bermaksud pergi.
"Wanda, tunggulah sebentar lagi."
Wanda menatapnya ngga mengerti mendengar ucapan Kian.
Kian masih tersenyum menatapnya.
"Tehnya... Jangan sampai esnya mencair."
Wanda tersenyum.
"Ya." Wanda melangkah pergi dengan pikirannya sibuk menduga duga apa yang akan dilakukan Kian lagi untuknya.
Jantungnya berdegup keras, teringat makian nyonya-nya yang menyebutkan nama Kian.